Mengingat Arti

Pelan-pelan,

ulur,

urai,

bernapas sebentar, nikmati sekitar.

Rencanakan lagi,

sambung lagi,

Telusuri lagi.

Hidup selalu punya arti, hanya kita yang sering lupa

Karena terlalu tergesa

Mengejar entah apa.

***

Depok, Agustus 2019

Advertisements

Rehat

Dalam perjalanan panjang hidup, kita seringkali terbebani oleh harapan, impian, dan ambisi. Padahal, hidup itu sendiri sudah memiliki kerumitan yang belum tentu bisa dengan mudah kita hadapi.

Butuh kaki, kepala, juga hati yang ringan untuk melangkah. Sayangnya kita sering kelimpungan sendiri, tenggelam dalam asumsi, dan pada akhirnya merasa hilang arah.

Padahal untuk mencapai itu semua, tak jarang yang dibutuhkan cuma ikhlas.

***

Ada masanya saya begitu menghayati peran sebagai makhluk duniawi. Merasa punya kendali sepenuhnya atas apa yang terjadi di hidup saya. Seakan hidup hanya hitam dan putih. Kalau tidak baik, ya berarti buruk. Kalau tidak benar, ya berarti salah. Kalau tidak bisa mengubah, ya pergi.

Saya lupa untuk menerima, mengambil sari baiknya, dan mengikhlaskan yang terjadi sebagai bagian dari pelajaran hidup.

Dengan penuh amarah, dendam, dan kebencian saya memaksa pergi. Tidak punya tujuan, hanya semata untuk menghindari apa yang menurut saya tidak layak saya terima.

Tanpa sadar saya terbebani dengan isi kepala serta perasaan saya sendiri, namun pada akhirnya itu semua tidak membawa saya ke mana-mana. Hanya di sana, terjebak dengan segala hal buruk yang–mungkin–sebenarnya lebih banyak berasal dari dalam diri saya.

***

Melalui tulisan ini saya berusaha mengurai kata-kata rumit yang ada di kepala. Saya juga berharap dengan tulisan ini saya bisa menjabarkan perasaan saya. Saya butuh memilah mana yang perlu saya buang jauh-jauh, mana yang perlu saya dekap sebagai bekal saya melanjutkan pelajaran.

Semoga setelah ini saya dapat melihat alur perjalanan saya ke depan dengan lebih jelas. Lebih dari itu, saya ingin bisa memaafkan, bisa mengikhlaskan; bahwa ada hal-hal yang bisa terjadi di luar kendali. Semoga saya–dan kita semua yang selama ini terbebani dengan pikiran serta hati sendiri–benar bisa melanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih ringan.

***

Jakarta, penghujung Juli 2019

Tulisan ini dibuat di perjalanan sambil mendengarkan alunan lagu Rehat dari Kunto Aji.

“Biarkanlah semesta bekerja untukmu

Tenangkan hati, semua ini bukan salahmu

Jangan berhenti, yang kau takutkan takkan terjadi”

Kadang kita memang butuh rehat untuk melihat semua dengan lebih jelas.

BaliSpirit Festival: The Positive Energy is True!

Meliput event BaliSpirit Festival 2019 mungkin salah satu kesempatan menyenangkan yang saya dapat selama mengemban tugas sebagai reporter. Sewaktu pertama baca undangannya, saya bertanya-tanya, “Apaan sih, BaliSpirit Festival?” kemudian cari tahu dan baru ngerti kalau ini event yoga, and the event is all about yoga, dance, and music.

Not interested, at first.

Semakin mendekati acara informasi semakin banyak, mulai dari line-up sampai susunan acara. Saya sih tetap nggak ngerti. Dari sekian banyak yang disebut, nggak satu pun yang saya kenal. Sempat terpikir kalau saya bakal awkward banget di lokasi, tapi ya, saya kan bukan sengaja beli tiket terus dateng, tapi bertugas. So i’m going anyway.

Hari pertama tiba di Bali, saya dijemput driver kiriman panitia. Kami berkendara ke Ubud, tempat di mana saya menginap dan acara akan berlangsung. Sepanjang jalan saya masih meraba-raba apa yang mesti saya lakuin di sana, nanti ketemu siapa, harus gimana, dll. Ini mesti gimana, yaa?

Sampai di hotel, saya cuma sedikit berkemas lalu pergi lagi ke acara pembukaan di Yoga Barn. Di sana sudah banyak banget orang memenuhi area yang nggak besar itu. Most of them is foreigner. Saya sendirian di tengah mereka, sambil berusaha nyimak speech dari para petinggi yang datang untuk membuka acara secara resmi.

Nggak lama, acara dilanjutkan dengan performance band lokal yang saya agak missed itu siapa, tapi kayaknya familiar face di BaliSpirit Festival. Penonton sing along bareng lagu yang mereka bawain, hawanya adeeeeem banget meski di sana padat orang. Lalu, ada salsa dance. Penonton masih anteng basian nonton live perform band sebelumnya, tapi semakin lincah gerakan si penari, makin triggered juga satu persatu dari mereka, sampai akhirnya saya melihat semua orang menari.

Sungguh hentakan irama lagu salsa itu sulit banget ditepis. Everybody get high without even drunk! Di situ, positive vibes-nya mulai berasa. Saya jadi nggak ngerasa asing walau nggak satupun di sana yang saya kenal.

***

Hari-hari Menyenangkan di Lokasi Festival

Area makan di lokasi BaliSpirit Festival 2019, ada stage besar dan lounge santainya juga!

Di hari pertama, since i don’t know what to do and siapa yang bisa saya temui, saya memutuskan untuk datang siang hari setelah menyelesaikan beberapa tulisan. Lokasi BaliSpirit Festival 2019 di Yayasan Bali Purnati, coba googling. Kalau saya bilang tempatnya ini memang camp area atau tempat beraktivitas outdoor. Luaaaaas banget. Tipe-tipe tempat LDO gitu deh. Hahaha.

Untungnya saya nyasar saat nyari media center, saya jadi–mau nggak mau–berkeliling dan lihat-lihat setiap sudut di area itu. Asli, pegel banget rasanya. Luas banget. Ada banyak spot tempat “kelas” berlangsung, ada market place tempat barang kerajinan/produk lokal dijajakan (yang mana keren-keren banget terutama aksesorisnya), ada banyak karung sampah yang masing-masing karung dipisah berdasar jenis sampah, ada banyak dispenser untuk merefill botol minuman yang dibawa, ada lounge tempat bersantai para pemegang tiket “abundance”, dan bagian paling keren tapi juga mengejutkan adalah toiletnya! See..

GA ADA AIR, COY. Kalau habis buang hajat, cuma bisa cebok pake tisu terus disiram pake tanah yang sudah disediakan. Itu kloset bolong blas, bawahnya cuma kayak ruang penampungan yang udah banyak tumpukan tanah dan tisu. Tapi toiletnya bersih, karena tiap habis dipakai petugasnya langsung bersihin. Perilaku orang-orang yang pake toiletnya juga sepertinya amat beradab sih. :)))

Di tempat makan, makanan yang disediakan semuanya makanan vegan. Alat makan nggak ada yang sekali pakai.

Di BaliSpirit Festival, kita diajak untuk menyelaraskan diri dengan bumi, dengan diri sendiri, dengan sesama manusia. Bagusnya, mereka pun memfasilitasi dengan baik. Sebagai acara tahunan yang sudah berlangsung ke-13 kali, BaliSpirit Festival ini menurut saya sudah menunjukkan kualitasnya. Semua terorganisir, dan saya yakin apa yang dimaksudkan dari acara itu tercapai.

Menyenangkan sekali ada di sana, di tengah orang-orang yang punya aura positif dan nggak segan membaginya, simply dengan melempar senyuman saat berpapasan di jalan atau saat sama-sama sedang antre minuman di kedai kopi.

BaliSpirit Festival benar-benar memberikan asupan energi positif, mengembalikan kedamaian dalam diri, dan menuntun kita untuk mendefinisikan ulang arti kebahagiaan dan cara menjalani hidup.

BaliSpirit Festival tahun 2019 ini berakhir di akhir Maret, tapi tahun depan akan ada lagi di sekitar bulan Maret-April. Setidaknya cobalah untuk datang ke sini sekali. Percayalah, it worth every penny!

Terima kasih BaliSpirit Festival 2019 atas kesempatannya, saya senang bisa berbagi energi baik dan merasakan tujuan baik ketiga founder yang jadi awal mula diadakannya festival ini. Long live, good vibe!

***

Depok, April 2019

Catatan kenang-kenangan dari meliput BaliSpirit Festival 2019.

Dilema Pekerja Media Online

Akhir pekan ini berita penangkapan seleb Vanessa Angel dalam kasus prostitusi jadi perbincangan hangat. Di media massa maupun media sosial, kasus itu ramai. Tapi tentu aja saya nulis ini bukan untuk membahas kasusnya. Yes river. Bhahahak.

Anyhow, semua pemberitaan tersebut merujuk pada pertanyaan: kenapa cuma nama si perempuan yang diekspos? Kenapa nama si laki-laki nggak?

Pertanyaan itu juga saya temukan di timeline saya.

Narasi di mana laki-laki lebih terekspos dibanding perempuan tidak menarik, katanya. Di dunia patriarki menyalahkan perempuan lebih menarik, katanya.

Lalu saya mencoba menjawab. Bukan untuk menyalahkan apa yang dia bilang, karena faktanya memang demikian. Saya cuma mencoba untuk memberi perspektif lain dalam hal ini.

***

Saya berkecimpung di redaksi sebuah portal media online selama dua tahun belakangan. Jadi expert soal media online sih nggak, tapi sedikit banyak saya paham cara kerjanya.

*Sejujurnya saya jadi nulis ini karena tadi sempat ngebahas sama cami, lalu terjadi adu argumen cukup sengit wkwk*

Dari twit tadi saya jawab, “Menurutku di sini pilihannya lebih ke etika atau bisnis. kalo terkait cara pemberitaan di media online, tbh, keyword si nama perempuan yang kebetulan seleb ini tentu bisa mendatangkan lebih banyak page view, jelas menguntungkan.”

Di media online, apalagi kalau dipandang dari kacamata bisnis, mungkin page view itu semacam dewa. Derajatnya satu tingkat di bawah tuhan, dan tuhannya adalah uang. Apapun yang bisa mendatangkan page view pasti dikejar, demi mendekatkan diri pada tuhan alias biar cuan.

Emang nyebelin.

Saya nggak nulis straight news atau berita-berita yang sifatnya aktual (Thank, God!) tapi saya tau gimana teman-teman divisi sebelah di redaksi terkadang dipaksa mengesampingkan “INI HARUSNYA NGGAK GINI, DONG” demi “YANG BEGINI BANYAK YANG CARI DI GOOGLE.”

Soal etika menulis, kaidah jurnalistik, dan keberimbangan berita tuh kan basic banget, ya. Waktu kuliah saya dan teman-teman yang ambil jurusan jurnalistik lainnya mungkin dengan naifnya menyimak penjelasan dosen akan hal ini, lalu dari situ terpupuklah idealisme sebagai jurnalis,

yang kemudian terkikis seiring praktik di lapangan.

Hahaha. Damn it’s true!

Mengenai pemberitaan kasus seleb tadi, tentu exposure terhadap namanya akan memberi efek negatif. Mungkin ini juga akan semakin menyuburkan budaya patriarki di masyarakat kita, di mana perempuan seringkali dipersalahkan terlepas dari bagaimanapun konteks kasusnya. Sedihnya, sedikit banyak pemberitaan media turut ambil peran dalam hal ini. Saya sebagai pekerja media nggak tutup mata, kok. Kalau dibahas lebih dalam, ya panjaaaaang banget kerugian yang bisa dijabarkan. Tapi sebelum sampai ke sana, selagi pembahasan masih di permukaan, coba blik ke pertanyaan tadi. kenapa si perempuan diekspos?

Jawabannya sesederhana karena dia seleb, publik figur, terkenal. Sekali berita tersebar, orang jadi ngeh, “ooohh, dia???” dan pasti banyak yang cari kelanjutannya sampai akhirnya namanya muncul di google trend: kiblat para buruh page view.

Kenapa si cowok nggak diekspos? Karena yang nyari nggak sebanyak itu. Bitter truth.

Again, saya nggak membenarkan pemberitaan seperti ini. Lagipula kalau dipikir-pikir berita peristiwa ini bisa diseimbangkan dengan turut menuliskan siapa yang mengeluarkan uang 80 juta dan sedang bersama si artis saat diciduk polisi.

Saya cuma mau bilang kalau hal semacam ini bisa terjadi bukan semata-mata karena kami para pekerja media berupaya menyuburkan budaya patriarki yang mendiskreditkan perempuan. Ada faktor lain, seperti yang saya jabarkan di atas.

Kaidah jurnalistik kadang kalah penting dari pageview.

Sejujurnya, hal ini juga kadang bikin saya gelisah.

***

Depok, Januari 2018

Sesekali curhat yang (agak) serius. Btw, kenapa foto twit ybs yang diunggah, karena twit itu yang awalnya bikin saya mikir gini. Wk.

2018: Tahun Transisi!

Huwow, semacam ingin melewatkan ritual menuliskan (((( personal kaleidoskop )))) di pergantian tahun, karena belum kunjung menemukan momen buat menyepi since SEKARANG UDAH PUNYA SUAMI. Bhahahak.

Suami..

Well, highlight tahun 2018 sepertinya memang pernikahan yang berlangsung pada tanggal 15 September kemarin (baca di sini). Alhamdulillah acara kami berjalan lancar seperti yang ada di kepala kami saat membayangkan pesta pernikahan idaman, dan yang membuat kami lebih lega lagi adalah karena we don’t spent money that we don’t even have alias nggak maksain pengin begini begitu di luar batas kemampuan secara finansial. Mungkin itu adalah keberhasilan pertama kami sebagai suami istri. :))

Setelah resmi menikah, kami juga sudah tinggal sendiri. Tentu pilihan itu diambil dengan berbagai pertimbangan yang mengerucutkan kami pada keputusan untuk keluar dari rumah orang tua dan pindah ke rumah yang kami sewa. Bermodalkan isi kamar yang kami cicil sebelum menikah, isi dapur hibahan orang tua, dan perlengkapan lain yang kami request dikadoin temen-temen, kami bisa memulai kehidupan baru kami dengan cukup di rumah kontrakan sederhana ini.

Alhamdulillah juga sejauh ini saya nggak mengalami kaget karena apa-apa yang beda dari Cami antara sebelum dan sesudah menikah. Gitu-gitu aja, perasaan. Mungkin karena, meski kami baru menikah tanggal 15 September 2018, tapi kami udah mulai mempersiapkan pernikahannya sejak tanggal 24 Januari 2011, jadi ya udah siap banget.

Cami juga suami yang kooperatif. Saya nggak pernah merasa terbebani dengan urusan domestik di rumah karena dia selalu mau ikut ambil peran. Misal saya masak, dia nyuci piring. Atau kalau saya nggak masak dan kami beli makan di luar, dia tetap nyuci piring (lah, nyuci piring mulu, pak). Wkwk.

Sekali waktu kami pergi untuk urusan penting lalu menyempatkan diri main sebentar setelah selesai, padahal itu hari jatah saya kerja di akhir pekan. Alhasil sampai rumah saya nulis sambil tiduran, dia beberes. Pernah juga kami berdua pulang kerja larut malam, saya kelaparan tapi terlalu malas untuk menyiapkan makanan; dia masakin saya makan malam. Mantul lah Cami. :*

Ada yang bilang, “itu mah awal-awalnya ajaa, nanti lama-kelamaan juga nggak begitu.”

Hehehehe, nggak tahu, yaa. Liat gimana nanti aja. Tapi saya sama cami udah bareng-bareng selama hampir delapan tahun, dan itulah yang selalu dia lakukan. Kami selalu bisa berbagi tugas, berbagi peran, menyesuaikan diri dengan keadaan. Itu adalah modal kami melangkah dengan yakin menuju pernikahan. Ke depannya nggak ada yang tahu, tapi setidaknya kami nggak terlambat membangun fondasi yang dibutuhkan, dan seiring berjalannya waktu, dengan izin Allah kami juga akan terus belajar mengembangkannya lagi.

Selain pernikahan, yang berbeda tahun ini adalah status saya sebagai pekerja. Setelah drama dua tahun, untuk pertama kalinya saya merasa nyaman dengan apa yang saya kerjakan. Secara personal, posisi saya juga berubah. Secara harfiah posisi saya turun dari editor jadi reporter. Saya merasa kesulitan beradaptasi, dari yang awalnya cuma datang ke kantor dan menghadap laptop dari siang sampai malam, sekarang saya harus keluar, bertemu banyak orang baru, ada di tengah keramaian, bahkan harus berhadapan langsung dengan orang-orang yang saya nggak tahu siapa dia. Huhu. Ini sempat saya keluhkan, tapi akhirnya saya bisa syukuri. Ternyata itu kesempatan saya untuk bereksplorasi, terbebas dari zona nyaman yang mematikan kreativitas.

Juga, di tengah tim dan di bawah leader yang sekarang, I finally found the reason to stay a bit longer. 🙂

Di sisi lain, Cami akhirnya bisa keluar dari kantornya yang sekarang dan pindah ke tempat lain. Masih di bidang yang serupa, tapi mudah-mudahan lebih baik. Tahun baru ini dunia kerjanya bakalan benar-benar baru, dia juga bakalan nyoba mobilisasi pakai angkutan umum untuk berangkat kerja. Yay!

Hmm, apalagi ya..

Oh, awal tahun kemarin, tepatnya setelah kami selesai lamaran, ibu juga sempat sakit lamaaa banget. Hampir dua bulan kayaknya keluar masuk rumah sakit karena lambungnya bermasalah. Berat badan ibu sampe turun drastis, kami sempat stres tapi alhamdulillah sekarang udah sembuh, udah segeeer. Udah balik jalan-jalan melulu lagi kayak sebelum sakit. Semoga ibu sehat selalu dan kami nggak lalai menjaga serta membahagiakan ibu. :’)

Drama-drama yang menyulitkan, yang bikin sesak napas karena terpaksa menahan amarah di dada dan berujung sakit kepala, tentu juga ada. Tapi saya nggak akan membahasnya di sini. Biar saya pelajarin dalam hati dan serap hikmahnya aja, jadi nanti-nanti ketika saya baca tulisan ini lagi—semoga dalam keadaan sudah benar-benar memaafkan—saya nggak ingat; “OH IYA, DULU TUH BEGITU YA..” tapi dalam konteks negatif. Bhahak.

Alhamdulillah buat semua yang tercapai dan tidak tercapai di 2018 kemarin. Alhamdulillah buat semua yang terjadi dan yang tidak terjadi. Alhamdulillah buat sehat dan bahagianya. Semoga semua kebaikan setahun kemarin jadi semangat positif serta optimisme menyambut tahun baru. Semoga saya dan Cami nggak putus bersyukur dan berdoa agar tiap rencana dan langkah kami teriring ridho dari Allah yang Maha Baik.

Happy New Year!

***

Depok, Januari 2018 2019

Menulis ini kala sedang cuti bersama. Bersama suami. Lalu memisahkan diri dan mengirim pesan penting lewat whatsapp: “aku mau nge-blog, nggak boleh diganggu.” Hahahaha. (–,)

Film A Head Full of Dreams: A Personal Note

Siang ini, di sela-sela perjalanan menembus kemacetan Jakarta, saya mencoba kembali menuangkan perasaan yang meletup-letup indah. Sepertinya saya kembali diingatkan akan perasaan cinta saya yang begitu besar. Untuk Coldplay.

And yes, ini adalah catatan kecil dari saya mengenai film dokumenter A Head Full of Dreams yang tayang serentak di seluruh dunia tanggal 14 November 2018.

Belakangan ini saya nggak banyak mendengarkan lagu-lagu Coldplay. Bukan bosan, tapi karena efek samping yang bikin saya sedikit nggak nyaman. Hahaha. Jadi ceritanya, kalau denger Coldplay itu saya kangen, kangen sama konsernya, kangen mereka. Sementara di masa-masa ini mereka lagi “istirahat”–mungkin mempersiapkan album baru, karya baru, atau entah apa untuk mengejutkan kita. Rasanya tuh, ya gitu deh. Kangen lah pokoknya. Tapi kalau sayang sih, teteup.

Begitu dapat kabar kalau mereka mau rilis film, seneng banget berasa lagi kangen terus dikangenin balik. :)))

Singkat cerita, saya dapat tiket show yang cuma hadir semalam dan terbatas itu untuk ditonton bareng Cami. Alhamdulillah..

Sebelum nonton saya ngebayangin akan nangis terharu banget kayak pas pertama kali nonton Coldplay Live 2012 di era Mylo Xyloto. Tapi ternyata nggak. Mungkin karena secara umum, konsepnya sama dengan film sebelumnya–ya namanya juga dokumenter, ibuuuk. Bisa juga karena tangisan histeris itu udah habis terkuras waktu nonton konser A Head Full of Dreams di Singapore tahun lalu. Hahaha. Nggak seharu itu, tapi… Ada perasaan hangat yang tinggal di hati waktu nonton.

Banyak footage lama yang diangkat dan bikin film ini bener-bener menggambarkan perjalanan Coldplay selama 20 tahun terakhir. Twenty fucking years, dan mereka tetap bersahabat, kayak masih temen sekolah yang ketemu dan ngabisin banyak waktu bareng setiap hari gara-gara sekolahnya full day. Sesolid itu.

Saya lagi berusaha mengingat-ingat dan merunut scene demi scene dari film semalam, tapi gagal. Kayaknya waktu kecil saya kurang minum minyak ikan. Yang jelas saya terenyuuuhhhh banget karena di sini, Chris mengutarakan secara implisit mengenai hubungannya sama Gwyneth yang kandas. Hiks.

Chris & Gwyneth pisah tahun 2014, setelah #MXTour selesai. Lalu dalam rentang waktu yang sebentar, Ghost Stories lahir. Sebenarnya ketebak banget kalau Ghost Stories ini isi hati Chris soal hubungannya sama Gwyneth, tapi ya kan seperti biasa, apapun tentang kehidupan pribadi mereka nggak pernah diekspos ke publik.

Di #AHFODFilm akhirnya hal itu diungkap. Chris menyinggung tentang bagaimana MXtour–terlepas dari kesuksesannya–membuat dia terkurung dalam gelembung yang bikin susah menikmati keindahan di sekitar. Lalu dia kehilangan istrinya. Lalu yang lain cerita bagaimana proses Ghost Stories dari sudut pandang mereka.

Katanya, Ghost Stories adalah “obat” buat Chris di masa-masa terpuruknya. Mereka sangat menduking Chris untuk bertahan dan bangkit, lewat musik. Kemudian, lanjut ke A Head Full of Dreams. Album yang banyak bercerita tentang perjuangan, harapan, patah hati, jatuh cinta, terpuruk dan bangkit. Lengkap.

Masih soal hubungan Chris dan Gwyneth. Saat bicara soal album ini dan satu persatu lagunya, Chris juga ngomongin tentang bagaimana dia ingin banyak orang terlibat dalam album mereka, mulai dari Beyonce, Noel Gallagher yang notabene salty banget Coldplay, dan orang-orang tercinta bagi Chris, Jonny, Guy, dan Will.

Terus, saat dia ngomong tentang melibatkan orang-orang tercinta, footagenya Gwyneth lagi take vocal untuk lagu Everglow.

Everglow, saudara-saudara..

*Throwback ke AHFODSG Maret 2016 lalu*

Saya nyanyi dengan air mata berderai-derai waktu Coldplay bawain lagu Everglow. Di awal lagu, dia minta kami semua membayangkan sesuatu atau seseorang yang dicinta, di manapun adanya. Kirimkan energi positif biar dia merasakan cinta itu dari lagu ini.

Lagunya memang tentang cinta dan kehilangan, AND IT WAS ABOUT CHRIS LOOSING GWYNETH ALL THE TIME. My heart breaks again.

Pulang dari situ, dengerin Everglow rasanya hati nyut-nyutan lagi.

Saya juga suka part ketika Coldplay–or Starfish?–akan mengisi sebuah gig kecil di kampusnya. Ada Chris so close to the camera, bilang empat tahun dari sekarang, mereka akan terkenal. Seluruh dunia akan kenal mereka. Kemudian disambung dengan video mereka jadi salah satu line up di Glastonbury Festival.

Di sini juga banyak terlihat kalau Chris, seringkali, jadi otak di balik karya-karya mereka. Hebatnya adalah mereka selalu berhasil membagi peran dan berkontribusi sama rata, sehingga Coldplay selalu jadi Coldplay. Nggak pernah Chris Martin dan kawan-kawan.

Ah, gitulah. Sekeren itu emang mereka. Terbaik.

Ngomongin Coldplay nggak akan ada habisnya. Kalau ngobrol sama orang malah kayaknya saya harus nahan biar orangnya nggak ilfil karena saya banyak bacot hahahaha.

Satu pesan yang saya tangkap dari A Head Full of Dreams film ini: ngomonglah yang baik-baik tentang hidup sendiri, karena akan seperti itulah yang akan terjadi di masa depan–persis seperti apa yang kita selalu omongin.

GILEEEE. Omongan emang doa. Hahaha.

GUE BAKALAN NONTON KONSER COLDPLAY SELANJUTNYA. SETIAP TUR ALBUM MEREKA. BECAUSE I CAAAAAN. *berdoa*

Eh tapi kalau dipikir-pikir, saya juga selalu ngomong bakal nonton konser Coldplay seakan-akan itu akan terjadi esok hari sih, sewaktu belum kesampaian. :)))

Baiklah kalau begitu.. *tetep berdoa*

Terakhir,

waktu habis nonton saya sempetin foto di depan poster film AHFOD di bioskop, sama Laras. Lalu foto itu saya unggah ke twitter seraya mention akun @coldplay. EH DIRETWEET DONG. YA ALLAAAAH…. GIRANGNYA KEK APA TAUUUUKKK.

SAHIH SUDAH KU JADI FANGIRL-NYA. BHAHAHAK.

Udah, gitu aja ceritanya. Nggak pake review. Pokoknya Coldplay bikin apa aja, Mpit suka. Mwah!

***

Depok, November 2018

Untuk Segera Dilayangkan ke Surga

Kerinduanku tumpah ruah dari pelupuk mata semenjak kata pertama dalam surat ini ditulis. Dalam anganku, aku langsung membayangkan wajahmu terlipat masam membacanya. “Kok baru ngontak bapak, emang nggak kangen ya?,” begitu yang akan kau bilang. Persis seperti sepotong kalimat dalam obrolan teks yang kuabadikan dan masih kusimpan di ponselku hingga hari ini.

Aku merindumu selalu, Pak. Hanya saja aku semakin pandai menyembunyikannya. Aku bersembunyi di balik segala aktivitasku. Aku bersembunyi di balik kalimat-kalimat pembangkit semangat yang kudengungkan sendiri tiap kali merasa hampir menangis karena mengingatmu. Aku juga bersembunyi di balik doa yang mereka bilang merupakan satu-satunya jalan untuk menyampaikan rindu itu padamu.

Hari ini, Hari Ayah Nasional, katanya. Semua orang sibuk mengunggah foto-foto dirinya bersama ayah mereka. Beramai-ramai mengucap terima kasih, mengungkapkan sayang, dan mendoakan agar ayahnya panjang umur. Aku memilih untuk tidak menjerumuskan diri dalam momentum ini. Aku tidak butuh momentum. Lagi pula angka-angka penghitung usiamu telah terhenti dan aku bingung, fotoku dengan batu nisanmu yang mana yang harus kuungah?

Bapak, ayahku, pahlawanku, pelindungku, segalaku, selalu ada dalam hati dan pikiranku, selalu hadir dalam setiap langkahku. Setiap keberuntungan dan keberhasilanku, aku meyakini masih ada campur tanganmu di sana yang merayu-rayu Tuhan untuk memberi apa yang kuingini.

Aku masih merindukanmu dengan tangisan, tapi percayalah aku sudah jauh lebih kuat menerima perpisahan ini sebagai takdir kita di dunia. Tidak ada yang berbeda dan istimewa hari ini, semua di antara kita tetap sama setiap harinya. Tapi, malam ini aku memiliki keleluasaan untuk menuliskan kerinduanku padamu, membiarkan air mataku berderai-derai mengiringi gerak jari-jariku menulis surat ini, untuk segera dilayangkan ke surga..

***

Pak, bungsumu yang kau panggil Tuan Putri ini, telah memilih hidup bersama seorang lelaki. Akhirnya yang kita berdua takuti selama ini benar-benar terjadi; aku menikah dan kau tak di sana mendampingi. Dalam tangisanku hari itu, aku merasakan sakitmu. Aku pun tak bisa memaksakan diri untuk menutupi kekosongan itu meski bahagiaku juga melimpah ruah. Tak apa, ya, Pak. Biar kita berdua terus mengingat cinta kita yang besar terhadap satu sama lain di tengah ketiadaan ini.

Aku ingat betul rasanya mendengar deru knalpot mobilmu tiba di depan rumah sepulang kerja. Hampir tak ada bedanya dengan mobil lain yang lalu lalang, tapi aku selalu tahu ketika kau datang. Kalau aku pesan dibawakan camilan, aku akan membukakan pintu dan menyambutmu dengan girang.

Andai kau datang sekarang, dengan tangan kosong pun aku akan tetap menyambut dan berhambur memelukmu erat.

Perasaan yang sama kurasakan dengan suamiku, Pak. Aku selalu tahu kapan dia datang. Aku selalu membukakan pintu dan menyambutnya di depan rumah. Aku merasakan kesenangan yang sama seperti ketika menunggumu pulang, dulu.

Suamiku takkan pernah menggantikanmu. Aku pun tak berharap kau akan terganti, aku hanya berharap kisah cinta putri kami dengan ayahnya nanti bisa seindah cerita kita, bahkan lebih dari yang kita mampu bina. Bersamanya juga aku akan terus mencintai, menjaga, dan membahagiakan ibu.

Tolong jangan ke mana-mana, terus di dekatku. Di hari yang tiada beda dengan hari-hari lainnya ini, rindu dan cintaku padamu juga tetap sama. Selamat hari ayah, Pak.

 

Al-fathihah..

 

 

***

November 2018

Mpit udah jadi istri orang, tapi tetep anak bapak.