Untuk Segera Dilayangkan ke Surga

Kerinduanku tumpah ruah dari pelupuk mata semenjak kata pertama dalam surat ini ditulis. Dalam anganku, aku langsung membayangkan wajahmu terlipat masam membacanya. “Kok baru ngontak bapak, emang nggak kangen ya?,” begitu yang akan kau bilang. Persis seperti sepotong kalimat dalam obrolan teks yang kuabadikan dan masih kusimpan di ponselku hingga hari ini.

Aku merindumu selalu, Pak. Hanya saja aku semakin pandai menyembunyikannya. Aku bersembunyi di balik segala aktivitasku. Aku bersembunyi di balik kalimat-kalimat pembangkit semangat yang kudengungkan sendiri tiap kali merasa hampir menangis karena mengingatmu. Aku juga bersembunyi di balik doa yang mereka bilang merupakan satu-satunya jalan untuk menyampaikan rindu itu padamu.

Hari ini, Hari Ayah Nasional, katanya. Semua orang sibuk mengunggah foto-foto dirinya bersama ayah mereka. Beramai-ramai mengucap terima kasih, mengungkapkan sayang, dan mendoakan agar ayahnya panjang umur. Aku memilih untuk tidak menjerumuskan diri dalam momentum ini. Aku tidak butuh momentum. Lagi pula angka-angka penghitung usiamu telah terhenti dan aku bingung, fotoku dengan batu nisanmu yang mana yang harus kuungah?

Bapak, ayahku, pahlawanku, pelindungku, segalaku, selalu ada dalam hati dan pikiranku, selalu hadir dalam setiap langkahku. Setiap keberuntungan dan keberhasilanku, aku meyakini masih ada campur tanganmu di sana yang merayu-rayu Tuhan untuk memberi apa yang kuingini.

Aku masih merindukanmu dengan tangisan, tapi percayalah aku sudah jauh lebih kuat menerima perpisahan ini sebagai takdir kita di dunia. Tidak ada yang berbeda dan istimewa hari ini, semua di antara kita tetap sama setiap harinya. Tapi, malam ini aku memiliki keleluasaan untuk menuliskan kerinduanku padamu, membiarkan air mataku berderai-derai mengiringi gerak jari-jariku menulis surat ini, untuk segera dilayangkan ke surga..

***

Pak, bungsumu yang kau panggil Tuan Putri ini, telah memilih hidup bersama seorang lelaki. Akhirnya yang kita berdua takuti selama ini benar-benar terjadi; aku menikah dan kau tak di sana mendampingi. Dalam tangisanku hari itu, aku merasakan sakitmu. Aku pun tak bisa memaksakan diri untuk menutupi kekosongan itu meski bahagiaku juga melimpah ruah. Tak apa, ya, Pak. Biar kita berdua terus mengingat cinta kita yang besar terhadap satu sama lain di tengah ketiadaan ini.

Aku ingat betul rasanya mendengar deru knalpot mobilmu tiba di depan rumah sepulang kerja. Hampir tak ada bedanya dengan mobil lain yang lalu lalang, tapi aku selalu tahu ketika kau datang. Kalau aku pesan dibawakan camilan, aku akan membukakan pintu dan menyambutmu dengan girang.

Andai kau datang sekarang, dengan tangan kosong pun aku akan tetap menyambut dan berhambur memelukmu erat.

Perasaan yang sama kurasakan dengan suamiku, Pak. Aku selalu tahu kapan dia datang. Aku selalu membukakan pintu dan menyambutnya di depan rumah. Aku merasakan kesenangan yang sama seperti ketika menunggumu pulang, dulu.

Suamiku takkan pernah menggantikanmu. Aku pun tak berharap kau akan terganti, aku hanya berharap kisah cinta putri kami dengan ayahnya nanti bisa seindah cerita kita, bahkan lebih dari yang kita mampu bina. Bersamanya juga aku akan terus mencintai, menjaga, dan membahagiakan ibu.

Tolong jangan ke mana-mana, terus di dekatku. Di hari yang tiada beda dengan hari-hari lainnya ini, rindu dan cintaku padamu juga tetap sama. Selamat hari ayah, Pak.

 

Al-fathihah..

 

 

***

November 2018

Mpit udah jadi istri orang, tapi tetep anak bapak.

Advertisements

#MpitAmiAgainstTheWorld Katering Murah adalah Kunci!

Tau nggak sih, kalau sebagian besar dana pernikahan itu habis untuk katering? Saya nggak punya data ilmiah soal ini sih, tapi sepengalaman saya mempersiapkan #MpitAmiAgainstTheWorld kemarin, iya. Biaya katering itu mahal.

Coba bayangkan harga katering standarnya sekitar 80 ribu per porsi, dikali jumlah tamu, katakanlah 600 orang. Maka buat katering sendiri udah menghabiskan 48 juta rupiah. Itu juga kalau harga kateringnya 80 ribu dan kalau jumlah tamunya *cuma* 600 orang.

Nah, untuk biaya katering ini biasanya sepaket dengan dekor standar seperti pelaminan, meja penerima tamu, hiasan sepanjang aisle, dan apa sih itu namanya yang semacam gapura di pintu masuk? Itu lah ya pokoknya. Dekor dari katering ini biasanya udah default juga, jadi kalau mau ada request khusus, pasti ada adjusment di harga. Endingnya ya kalau nggak pakai dekor standar, nambah biaya.

Buat calon pengantin yang biaya pernikahannya pas-pasan kayak kami waktu itu hal-hal kayak gini sih sebisa mungkin harus dihindari. Jangan sampai niatnya berhemat tapi malah ambyaarrr banyak bocornya sana sini gara-gara “biaya adjusment” model begini. Sejak awal harus memegang teguh prinsip: pakai default aja nggak usah banyak adjusment sama kemauan kalau nggak mau tambah biaya.

ATAU…

ya cari katering dan dekor terpisah, tinggal hitung deh total biaya dari keduanya berapa. Jadi misal emang concern banget sama dekor, ya tetap bisa ngontrol. OK kalau dekornya mahal, berarti cari katering yang lebih murah supaya perhitungan biayanya tetap on track. Seperti yang kami terapkan di #MpitAmiAgainstTheWorld kemarin.

***

Di pernikahan kami kemarin, 80% vendornya adalah teman dan/atau rekomendasi teman. Sejak awal kami memutuskan untuk nggak pakai WO, alhasil nyari vendor pun kami ngecer. Vendor katering dan dekor kami juga berbeda. Jujur ini bikin pusing karena kami harus berjalan sesuai perhitungan hahaha. Super muter otak gimana caranya dapet katering dan dekor yang harganya pas tapi wujudnya sesuai keinginan gitu lho, terutama di dekor, ya. Concern kami terletak pada di dekor.

Jadi awal kami cari, kami kumpulin tuh vendor-vendor beserta pricelistnya, kami jadi dapat gambaran dong kalau dekor harganya sekian berarti katering kami paling nggak ya harganya sekian.

Beruntungnya, selain berjodoh dengan pacar yang udah 7 tahun lebih kami juga berjodoh dengan katering murah! Hahaha. Saya nggak akan sebutin dengan gamblang, cuma mau memberi gambaran tentang biaya yang saya keluarkan untuk katering kemarin.

Saya pesan katering utama untuk 600 porsi dengan tujuh menu. Lalu ada tiga gubukan masing-masing 200 porsi. Berarti saya punya 1200 porsi makanan di acara pernikahan kemarin. Nah, berapa biaya yang saya keluarkan untuk makanan tersebut? Tebaaak..

tebak..

tebaaaaakkkk….

Jengjeeeenggggg.. 24 juta rupiah. BIG DEAL banget nggak sih? :)))

Tapi, itu cuma untuk makanan ya. Saya nggak ngitung biaya servis dan peralatan makan, apalagi sama dekor. Nah, buat acara nikahan, yang kayak gini termasuk “nggak biasa” sih kayaknya, karena ya mereka jual katering udah sepaket sama dekor, nggak ada yang jual makanannya doang. Dekor pun belum tentu mau ngurusin kebutuhan katering.

Nah lho, gimana tuh? Bhahahk.

Soal menu, saya, Cami, dan keluarga kami termasuk yang nggak neko-neko sih soal makanan. Nggak pakai menu western karena dari keluarga kami sendiri juga nggak gitu suka, gubukan juga nggak banyak karena kami pikir menu utama udah banyak, jadi sebagai pelengkap aja. Bagi kami yang penting makanan enak (enak versi kami itu, nggak bikin tamu mengeluh hingga mengakibatkan selera makannya hilang apalagi sampai jadi omongan di luar venue) dan cukup sampai acara selesai.

Buat kami, itu semua udah cukup.

Nah, cukup ini yang bakalan berbeda bagi tiap orang. Cukup versi kami itu mungkin “nggak banget” buat beberapa orang. Tapi kembali lagi, kami cuma ingin berbagi kebahagiaan kami, lalu menjamu mereka yang kami undang dengan baik.

Kami nggak mungkin bisa memuaskan semua orang, meski sebelum terlaksana jelas banyak banget kekhawatiran, “takut kurang”, “takut diomongin tamu”, “takut jelek”, “takut lalala”, “takut yeyeye”. Banyak takutnya karena mikirin apa kata orang. Eh terus inget, lah ini kan acara gue, kenapa harus menuhin standar orang lain yang belum tentu sesuai kemampuan kita?

(Bocoran, porsi makanan pun awalnya cuma 500. Lalu keluarga takut tamu kekurangan makanan alhasil ditambah 100 porsi jadi total 600. Yaa, meski end up setelah acara makanan sisa banyak banget).

Sampai mendekati hari-H, kami merasa udah melakukan yang terbaik untuk mempersiapkan acara pernikahan kami. Sisanya mohon doa aja sama Gusti Allah semoga lancar dan diridhoi untuk terlaksana sesuai keinginan kami. Soal “gimana tamu”, itu sesuatu yang nggak bisa kami kontrol. Kami relakan. Kami udah melakukan yang terbaik untuk menjamu mereka. Terima kasih aja buat yang udah datang, semoga kebagian bahagia yang kami rasa. Terima kasih juga udah menerima dan menikmati apa yang kami siapkan sebagaimana adanya.

Gitu aja sih.

He.. he.. jadi, di mana saya dapat katering murah ini? Dm me through my instagram account: @anfiditriani i’ll give the contact. Bisa sharing juga kalau mau, yuk!

***

Depok, Oktober 2018

lanjutan cerita mempersiapkan pernikahan impian dengan biaya pas-pasan. #MpitAmiAgainstTheWorld

#MpitAmiAgainstTheWorld Lokasi Wedding Outdoor Depok

Dear teman-teman yang bacain blog ini tapi nggak ninggalin komen, I’M WATCHING YOU! Huh, sebal. Hehe nggak deng. Kenapa juga harus nunggu diapresiasi untuk terus menulis? Toh dari awal ngeblog, saya cuma ingin tenang dan ingin senang–sendirian. Bahkan saya sempat merahasiakan blog saya. Jadi benar-benar saya tulis dan saya baca sendiri. Aneh ya? Biarin deh. *ngomong sendiri*

Jadi, cerita apa dari #MpitAmiAgainstTheWorld yang mau dilanjut di sini? Hmm, berdasar kekepoan netizen yang saya terima baik secara langsung ataupun nggak langsung, topik berikutnya jatuh kepada lokasi.

Lokasi pernikahan saya dan Cami adalah di Studio Alam TVRI, Depok.

Kok bisa?

Kalau dirunut-runut, ya sebenarnya karena kami saya kekeuh mau acara outdoor. Acara outdoor itu kan kental dengan nuansa yang casual, pengantin lebih santai dan nggak cuma terpajang di pelaminan selama 2 jam untuk salaman dan memberi senyum ke orang-orang yang belum tentu semuanya dikenal.

Idealis, mungkin. Egois, bisa jadi juga. Tapi ya intinya sih kami nggak mau aja cuma jadi pajangan di hari pernikahan kami sendiri. Kami ingin menikmati bersama tamu lainnya, maka konsep outdoor dirasa tepat.

Pilihan pertama sebenarnya jatuh ke Museum Prangko, TMII. Ada sekelebat impian yang menuntut diwujudkan, pada awalnya. Mau nikah di halaman museum. Cocok kan tuh, halaman museum, outdoor, ntap lah.

Sebenarnya cocok sih dengan tempatnya. Namun ketika persiapan udah masuk tahap cek dekor, cek catering, makeup, and the bra and the bre and the bro, LAH MAYAN MAHAL UGA YHA SEGITU TEMPAT DOANG. Buat yang budgetnya pas-pasan kayak kami mah mikir-mikir lagi lah. Akhirnya, rumus ikhlas dan nggak maksain kehendak (apalagi gengsi) mulai harus diterapkan di sini.

Plus, orang tua kami maunya di Depok aja. Baik. Di manakah saya bisa melangsungkan outdoor wedding, di Depok? Puyeng banget mikirinnya.

Sudah cek beberapa lokasi, nggak ada yang cocok. Sebelum nemu lokasi ini sempat pasrah sama Sasono Mulyo, itupun lebih memilih area parkir dibanding pendoponya yang notabene semi outdoor. Tapi ya, namanya hati belum klik, bawaannya masih nyari terus aja. Sampai suatu hari saya ketik di kolom pencarian google: lokasi aktivitas outdoor depok, lalu keluarlah si Studio Alam TVRI itu.

Tanya kakak, pernah nggak ke situ. Katanya pernah. Enak buat main, bawa anak, banyak yang piknik juga. Nah, berhubung dekat dari rumah, saya langsung cek ke sana hari itu juga.

Tempatnya kayak apa?

Bagus, jujur nggak nyangka. Dari pintu masuk, kita lewat jembatan yang ada danau di sisi kirinya. Lalu lepas dari jembatan, ada hutan pinus mini! Hutan pinus ini, sih, yang bikin tempatnya jadi cantik. Yang jelas pas pertama kali ke sana, saya naksir. Langsung videoin, fotoin, terus kirim ke Cami. Dia juga suka! Yaudalah, pas. Kami pun sepakat memilih tempat ini sebagai lokasi pernikahan kami.

IMG20180222162625
lapangan yang jadi spot wedding #MpitAmiAgainstTheWorld kemarin, liat kan, ada kuda di sana? :)))
IMG20180222165316
dipake main bola sama akamsi.
IMG20180222162628
ini hutan pinus yang dimaksud, masih di dekat pintu masuk dan ada di jalur menuju spot acara.

>>> skip bagian meyakinkan orang tua untuk memilih tempat ini <<<

Di sana banyak area lapangan yang bisa dipakai, tinggal tunjuk aja mau yang mana. Nah, sebelum diceritain gimana sistem penyewaan dan harga sewanya, saya kasih tahu dulu plus minusnya, ya.

Nilai plus dari sewa lokasi di Studio Alam TVRI Depok

  • Area sangat luas. Lebih luas dari yang beberapa bulan ini saya jajaki sih kayaknya. Saya nggak mengeksplor sampai jauh karena lokasi yang saya pilih ada di depan dekat pintu masuk. Bagusnya, jadi nggak perlu khawatir soal area parkir kendaraan tamu.
  • Kalau sewa, kita bebas pakai seharian. Jadi nggak kayak wedding venue lain yang biasanya harga per 5 jam atau 7 jam. Di Studio Alam TVRI ini kita bisa pakai seharian, tanpa ada biaya tambahan kalaupun acaranya mundur atau maju dari yang dijadwalkan. Ini cukup bikin lega, lho!
  • Loading in and out? Bisa H-1 dan H+1 bahkan. Walau soal ini akan dikembalikan ke pihak vendor, yang mana mereka pasti pilih waktu senyamannya, setidaknya kita nggak perlu khawatirin soal cukup atau nggaknya waktu si vendor buat siap-siap lah. Fleksibel banget.
  • Listrik unlimited. Nah, ini juga lumayan membantu banget. Sepengalaman saya dengan beberapa wedding venue, daya listrik mereka kan terbatas. Jadi misal kebutuhan kita melebihi daya yang tersedia, misal untuk soundsystem, untuk lighting di acara outdoor, dsb, kita kena charge untuk listrik tambahan, dan itu harganya lumayan. Di sini sih bebas, karena Studio Alam TVRI ini sering jadi lokaso syuting kali, ya.
  • Hutan pinus jadi pemandangan indah tersendiri. Nggak bohong, hutan pinus ini fotojenik banget. Ya, seperti hutan pinus pada umumnya lah. Kemarin tamu-tamu kami banyak yang “mendadak piknik” di sana, sekadar foto-foto atau ngaso. Hihi.

Nilai minus Studio Alam TVRI Depok

  • Untuk spot acara, pemandangan, dan area parkir, Studio Alam TVRI Depok ini oke lah. Tapi soal pelayanan, kita mesti lebih agresif untuk nanya dan mastiin ini itunya. Mereka nggak biasa nanganin wedding soalnya.
  • Fasilitas MCK banyak dan dekat, tapi karena nggak sering dipakai ya harus dipastikan sendiri itu bersih sebelum hari-H. Kalau bisa malah bawa orang sendiri untuk bersihih toilet yang akan dipakai, pengalaman kami kemarin toilet dibersihkan seadanya.
  • Banyak ‘ranjau’ darat! Haha. FYI aja, di hari-hari biasa, banyak hewan keliaran di area Studio Alam TVRI Depok. Ada kambing, ayam, anjing, bahkan kuda yang dibiarin bebas gitu aja. :))) Kotorannya bakalan banyak ditemuin di mana-mana. Tapi tenang aja, menjelang acara sih area pasti udah bersih dari gitu-gituan.
  • Ruang makeup seadanya. Perlu diingat, Studio Alam TVRI Depok bukan wedding venue pada umumnya. Jadi sebetulnya bukan salah mereka kalau mereka nggak punya ruang makeup yang proper. Terus makeupnya di mana? Di sana ada banyak macam ‘rumah adat’ kayak di TMII gitu. Nggak besar, tapi cukup. Terawat sih terawat, ya. Bisa request minta dibersihkan juga kalau mau pake. Cuma ya, gitu, tipikal rumah jarang dipake.
  • Ruang makeup seadanya ini juga berbarengan dengan alat perlengkapan seadanya macam kursi dan meja buat ngeletakin alat makeup. Kemarin saya lupa nyiapin, alhasil pagi-pagi datang bukannya langsung dandan malah sibuk gotong meja dulu. Hahaha. Jangan harap ada kipas angin/AC juga.

Laluu.. mungkin ini yang paling penting.

Kalau kamu ketik “Studio Alam TVRI Depok” di kolom pencarian google, suggestionnya pasti “Studio Alam TVRI Depok angker” :)))))

Gimana? Masih mau?

Saya sih nggak tau ya angkernya gimana, kebetulan saya bukan orang yang sensitif sama gitu-gituan. Pas pertama cari pun, saya udah liat suggestion itu, tapi saya cuekin. Saya memilih untuk fokus sama kelayakan tempat sebagai wedding venue, dan mikirin gimana caranya supaya tempat itu beneran terlihat layak seperti yang saya pikirkan waktu pertama kali saya lihat ke sana.

Alhamdulillah, sampai saya nulis ini saya nggak dengar ada cerita yang kenapa-kenapa setelah hadir di nikahan #MpitAmiAgainstTheWorld kemarin. Mudah-mudahan nggak ada juga. Bhahahak. Intinya saya nggak fokus ke situ, deh. Mungkin karena kami bersugesti positif juga kali ya jadi kami nggak ngerasa ada yang aneh-aneh, indah aja gitu.

Nah, kalau kamu berdomisili di Depok, punya cita-cita untuk menikah dengan konsep outdoor, dan nggak sensitif–cenderung nggak peduli–sama yang (((( gitu-gituan )))), Studio Alam TVRI Depok bisa banget jadi opsi. Dengan satu dua catatan, tentunya.

 

Tambahan:

Setelah melalui momen kemarin, ternyata banyak banget hal yang jadi concern kalau mau bikin outdoor wedding. Selain cuaca, dekor juga! Next bahas dekor kali, yaa.

Wedding Day! #MpitAmiAgainstTheWorld

Hari ini tepat banget seminggu setelah (((( perhelatan )))) #MpitAmiAgainstTheWorld. Hmm, sebenernya euforia acara tersebut udah nggak segitunya sih. Cuma merasa punya banyak hutang cerita aja nih di blog ini. Kanal Halo Bride-to-be (sekarang langsung di-rename jadi MpitAmiAgainstTheWorld) jarang keisi karena asliiiiiiiiiiiiii, ribetnya nyiapin nikahan tuh bukan cuma mitos ya ternyata. Alhamdulillah-nya semua berhasil dilewati dengan baik oleh saya, Cami, keluarga kami, juga teman-teman yang terlibat dan membantu baik secara langsung maupun nggak langsung.

Di beberapa postingan sebelumnya udah diceritain kalau saya merencanakan pesta pernikahan tanpa bantuan wedding organizer sama sekali. Jadi semuanya benar-benar diurus sendiri. Mana pesta yang saya dan Cami mau cenderung rumit karena kami ngotot mau konsep outdoor, mau casual, mau ini, itu ina anu. Blah! Mengingat kemauan kami yang begitu dan bagaimana yang terjadi seminggu lalu, jadi geleng-geleng kepala sendiri nih sekarang. “Bisa ya ternyata, jago juga..” Hahaha.

Perasaan khawatir pestanya nggak berjalan sesuai yang diharapkan pasti ada. Apalagi respon pertama orang-orang begitu tahu acara kami berlangsung di luar ruangan pasti, “pake pawang, dong?”, “Nggak takut hujan? Ini udah bulan September, lho, udah musim hujan..” Meski belum intens, tapi memasuki bulan September ini memang hujan mulai turun dan membuat kepercayaan diri kami bahwa di hari pernikahan kami cuacanya akan cerah jadi lumayan goyah. Syukurnya kami mampu menjaga pikiran tetap positif sambil terus berdoa semoga semuanya lancar. Namun perlu digarisbawahi, hujan memang akan selalu jadi kekhawatiran ketika ingin menyelenggarakan acara di luar ruangan, terutama ketika memasuki penghujung tahun.

Kami juga cukup ketar-ketir mikirin gimana acaranya bisa berlangsung seperti yang kami rencanakan tanpa bantuan wedding organizer di hari-H. Soal ini kayaknya saya dan Cami mesti banyak-banyak bersyukur karena punya teman-teman baik yang super care dan siap membantu.

Long story short, acara berlangsung lancar meski nggak sesempurna yang direncanakan di atas kertas rundown. Kekacauan kecil pasti ada di balik semua keriaan ini, tapi menurut saya itu nggak harus disoroti karena setiap pesta pernikahan mungkin punya minusnya tersendiri meski bentuknya berbeda-beda. Yang harus dijadikan highlight justru kenyataan bahwa banyak tamu yang senang datang ke acara kami. Bahkan yang nggak ada di sana pun banyak yang ikut senang dan terinspirasi. Nggak nyangkaaaaaaaaa, banyak yang nanya dan konsul soal persiapan pernikahan ini lewat whatsapp maupun dm instagram. :)))

I am beyond happy!

Hal yang bikin kami pusing beberapa bulan belakangan, ternyata bukan cuma membahagiakan kami tapi juga banyak orang. Semua energi dan emosi yang kami curahkan bisa jadi manfaat untuk orang lain. Kebahagiaan kami berlipat ganda! Alhamdulillah..

Oiya, karena banyak yang nanya soal acara #MpitAmiAgainstTheWorld kemarin, saya jadi semangat mau kupas tuntas semuanya di sini. Hitung-hitung berbagi pengalaman dan memberi bantuan. Hehe. Tapi bingung juga mau bahas apanya dulu. Jadi, anggap aja ini intro, lalu bantu saya tentukan tema untuk dibahas di postingan selanjutnya dengan tulis di kolom komentar, ya.

Buat ‘teaser’, nih saya kasih beberapa foto dari acara kemarin yang sudah tersimpan manis di ponsel. Biar sekalian liat, siapa yang fotoin momen ini. Hihi.

 

This slideshow requires JavaScript.

FYI, acara #MpitAmiAgainstTheWorld ini berkonsep outdoor dan berlokasi di Depok, tepatnya di Studio Alam TVRI. Nggak nyangka kan tempat itu bisa jadi lokasi nikahan? Muahaha, siapa dulu yang bikin acara~~~ Tema yang diangkat Sunda saat akad dan semi-semi casual internasional gitu lah saat resepsi, nggak ada organ tunggal atau wedding band, adanya DJ. Total biaya di bawah 100 juta tentunya. Hayoooo, apa yang mau ditanya?

 

 

***

Depok, September 2018

Mpit nih, udah jadi istri. Bhahahahk!

Persiapan Pernikahan Tanpa WO: Bagaimana Memilih Vendor?

box-business-celebrate-296878

Memilih mempersiapkan pernikahan tanpa bantuan vendor demi menghemat biaya punya pro dan kontranya sendiri. Salah satunya dari segi keribetan dan membagi waktu. “Kalau dua-duanya kerja, sibuk, nggak bakal sempat deh ngurus sendiri,” begitu yang ditakut-takutin sejak awal. Kami juga tentunya sempat khawatir soal itu, tapi balik lagi soal budget hemat, ya siap nggak siap harus siap ngurus sendiri.

Nyatanya sejauh ini kami berhasil ngurus semuanya tanpa bantuan wedding organizer. Yay! Capek, pasti. Tapi nggak seribet yang dibayangkan kok walau kami sama-sama kerja. Apalagi kami juga kadang mesti masuk di weekend, tapi kan kita nggak harus keliling tiap waktu. Kalau sudah dapat kontak kandidat vendor yang diincar, bisa hubungi nomor teleponnya dulu.

Untuk tahap awal, banyak kok vendor yang siap diajak ngobrol bahkan diskusi via whatsapp. Setelah sekiranya klik dari segi harga dan detail yang kita pinta, baru deh atur waktu ketemuan. Nah, weekend-weekend lengang yang kami punya biasanya dipakai untuk ini. Nemuin vendor yang udah klik saat ngobrol di whatsapp.

TERUS GIMANA NIH RUNUTANNYAAA?

Urus yang Besar-besar Dulu

Begitu masuk dalam tahap persiapan, bakalan kerasa banget sih kalau nikahan ternyata banyak banget perintilannya. Sama satu vendor aja tuh bisa bercabang-cabang, belum yang lain-lain. Tapi intinya sih beresin satu-satu, mulai dari yang besar-besar; venue – catering – dekor – rias – dokumentasi (lah, emang cuma itu nggak, sih intinya?). Karena kami nggak pakai WO, tentu saja kelima vendor utama itu kami jelajahi satu-satu. Pertama, venue. Wah, kami sih cari-cari sampai menetapkan venue aja banyak dramanya. Hahaha.

Cari venue pastinya sesuai dengan konsep. Kalau udah punya incaran vendor masing-masing, baiknya cari venue yang bebas charge kalau bawa vendor luar, atau ya siapin aja budget ekstra buat bayar charge—tapi kalau kami sih, sayang. Karena sudah jelas mau ngecer cari vendornya, jadi sejak awal menekankan cari yang free charge aja. Hahaha.

Umumnya juga catering dan dekorasi itu dari satu vendor biar dekorasinya in line tiap sudut. Tapi aries dan gemini emang pasangan adventurous, sukanya nyari tantangan. Kami pilih vendor catering dan dekor yang terpisah karena dapat catering dengan harga bersahabat. Biarin deh pusing, yang penting lebih murah. #prinsip

Dengan begitu otomatis dekorasi di area buffet pun akan kami bebankan ke vendor dekor—nah ini ada yang bersedia, ada yang nggak. Tinggal nego-nego aja deh tuh.

Untuk rias, bagi beberapa pengantin pilih perias yang “punya nama” itu penting banget demi menjamin kualitas. Tapi ya rupa dan harga kan pastinya berbanding lurus. Buat saya; yang penting pas di kantong dan gaya makeupnya cocok aja.

Dokumentasi, ini memang agak penting nggak penting dan sayang nggak sayang. Mau pilih vendor asal-asalan atau minta tolong teman yang punya kamera aja sekalian, tapi di tangan merekalah nanti wujud kenang-kenangan dari momen sekali seumur hidup kita bergantung. Jadi gapapa deh yang ini nggak pake nawar. Yang penting gaya dan tone foto mereka sesuai sama yang kita suka! Continue reading “Persiapan Pernikahan Tanpa WO: Bagaimana Memilih Vendor?”

Menikah Sebagai Pilihan

Pertanyaan “Kapan nikah?” hampir pasti menghampiri setiap orang di satu fase dalam hidupnya. Saya udah menghadapi fase itu, dan saya punya jawabannya. Jawaban yang kalau boleh saya bilang sebenarnya nggak didasari oleh kedatangan pertanyaan tersebut dalam hidup saya, tapi sepertinya jawaban ini sesuai dengan harapan banyak orang.

Siapa sih yang nggak pengin menikah?

Ada. Ada banyak orang yang bahkan don’t give a single fuck about marriage di luar sana.

Salah satunya, kakak perempuan saya.

***

Kakak perempuan saya ini anak kedua dari 4 bersaudara, saya anak terakhir. Usianya sekitar satu dekade lebih tua dari saya, and she isn’t married, yet. Kakak pertama saya (laki-laki) udah menikah dan punya dua anak. Kakak yang di atas saya (juga laki-laki) udah menikah dan punya dua anak. Itu berarti dia udah ‘dilangkahi’ oleh adiknya satu kali, dan akan segera ‘dilangkahi’ oleh saya sebentar lagi.

Dia seorang perawat berstatus PNS di sebuah RSUD di Jakarta. Melihat langkah-langkah yang dia ambil, saya bisa bilang kalau bidang keperawatan adalah passion-nya. Sejak tingkat menengah, dia ambil sekolah keperawatan—saya lupa namanya, di RSPAD—dan tinggal di asrama. Lulus dari sana, dia lanjut kuliah AKPER, lalu masih lanjut lagi, lanjut lagi, sampai dia ada di posisi sekarang ini.

Dia pernah terpilih jadi petugas Tenaga Kesehatan Haji Indonesia, mendampingi para jamaah yang berangkat ibadah haji ke Tanah Suci. Kalau jadi PNS itu memang salah satu jenjang karier yang ia damba, tentunya juga keinginan Ibu dan Bapak.

Seingat saya dia ikut tes CPNS lebih dari sekali dan sempat gagal. Tapi dia nggak menyerah sampai usahanya berbuah manis. Setelah perjuangan panjang dan proses bertahun-tahun, akhirnya dia mendapat apa yang dicita-citakan.

Ibu saya bangga. Bapak pun pasti bangga di sana.

Ah, ya, waktu Bapak sakit dan saya memilih pergi sembari menyembunyikan kesedihan, di antara kami berempat dia yang paling banyak mencurahkan waktu, tenaga, bahkan materi untuk mendampingi proses penyembuhan Bapak bersama ibu. Sampai saya merasa harus mengucapkan terima kasih saat memeluknya di hari Bapak meninggal, “makasih udah bantu ngerawat Bapak..” kata saya di tengah tangis kami yang pecah.

Di antara semua kehebatannya sebagai individu, masalah kapan nikah dan masalah jodoh nggak absen jadi bumbu-bumbu perjalanannya. Ibu sama Bapak tentu saja jadi yang paling khawatir. Usia mereka semakin tua, anak perempuan tertuanya belum juga menikah. Bapak juga mungkin meninggal dunia dengan sedikit perasaan sedih karena belum mengantarkan anak perempuannya menikah—sama sekali.

Gimana dengan kakak saya sendiri?

Saya nggak tahu apa yang ada dalam hatinya. Kedekatan kami nggak menjangkau masalah percintaan. Paling dia cuma cerita sepintas-sepintas ke Ibu. Ada pacar ke rumah pun *seingat saya* nggak. Atau mungkin pernah, tapi barengan dengan teman-teman lainnya jadi kami nggak sadar. Dia emang nggak se-terbuka itu.

Tapi, saya nggak pernah sekalipun ngeliat dia galau karena nggak ada pacar, karena belum nikah, karena teman-temannya pada menikah, atau karena adiknya menikah. Nggak pernah sekalipun. Nggak tahu gimana isi hatinya, tapi dia nggak menunjukkan kesedihan karena hal itu.

Status Facebooknya? Nggak ada tuh galauin jodoh.

Ibu-Bapak juga udah ikhtiar dengan menjodohkan kakak saya sama kenalan-kenalan dari kerabat mereka, nggak sekali tapi berkali-kali. Nggak ada yang ‘nyantol’. Kalau kata Ibu-Bapak (dan mungkin orang-orang di luar sana) dia banyak memilih soal jodoh. Kalau menurut saya; dia memilih untuk nggak memusingkan apa yang nggak ada.

Pilihan Caranya Merayakan Cinta

Kecemasan Ibu belakangan cuma satu, kalau adik-adiknya udah nikah, Bapak Ibu udah nggak ada, nanti dia sama siapa? Kecemasan itu juga dirasakan kakak saya, tapi sepertinya “suami” tetap bukan solusi utama buat dia.

Sebagai solusi dari kecemasan tadi, dia mengambil sebuah keputusan yang sangat berani. Jujur, sebagai adik dan sebagai perempuan, saya kagum. Instead of memaksakan diri untuk menikah dengan orang yang nggak dia yakini, dia memilih untuk… mengadopsi anak.

Dengan adanya seorang anak, dia berharap bisa berbagi kasih sayang, berbagi waktu-waktu berharga dengan ‘orang spesial’ lainnya, berbagi bahagia, dan mungkin juga berbagi kesedihan. Dengan adanya seorang anak juga dia jadi termotivasi untuk bekerja keras, karena selain Ibu—dan adiknya yang masih suka minta dijajanin ini—ada satu manusia lagi yang bergantung padanya dan menanti dibahagiakan.

Dengan adanya seorang anak, ‘pulang’ baginya jadi lebih berarti. Dengan adanya seorang anak pula dia akan belajar sesuatu yang baru, belajar jadi ibu.

Saya ingat masa-masa ketika wacana adopsi itu didengungkan. Saya malah nggak nyangka kalau rencana itu serius, sampai akhirnya seorang bayi perempuan mungil hadir sebagai kebahagiaan yang lahir di antara kepungan harapan dan keputusasaan.

Somehow saya yakin keinginannya untuk dipertemukan dengan anak ini turut dia bawa saat pergi Umroh sama ibu. Di Jabal Rahma yang kata orang bukit kasih sayang, tempat orang-orang berdoa memohon jodohnya; kakak saya mungkin berdoa meminta teman hidup, maka nggak lama pulang dari Tanah Suci, terjadilah pertemuan yang ditunggu-tunggu. Bukan dengan jodoh yang berupa suami, tapi seorang anak perempuan.

Yes, my sister have an adopted daughter. She choose a baby daughter to be the love of her life.

Anaknya diberi nama seperti sebuah nama yang dia temukan di Jabal Rahma dan begitu meninggalkan kesan di hatinya.

Saya bangga sekali dengan kakak perempuan saya, sungguh. Saya ngomong gini bukan karena saya akan segera menikah dan ‘melangkahi’ dia, saya ngomong gini karena saya yakin menikah itu pilihan, dan saya amat menghormati pilihan setiap orang. Kalaupun bukan kakak saya yang memilih jalan lain selain menikah seperti ini, saya akan tetap menghormatinya. Karena, ya kenapa juga saya nggak hormati? Hidup, hidup dia. Pilihan dia. Dia yang menjalani.

Saya memilih menikah dengan laki-laki yang saya cintai dan saya yakini sebagai partner berjuang nan sepadan. Kakak saya memilih berkarier dan berbagi cinta dengan seorang anak perempuan yang diadopsinya. Nggak ada yang salah dengan itu semua.

Orang-orang di luar sana mungkin akan banyak yang menyayangkan, atau bahkan mengasihani kakak saya ketika saya benar-benar udah menikah nanti. “Yah, dilangkahin lagi..” Tapi saya yakin kakak saya nggak sama sekali menangisi pilihannya. Saya pun.

Saya akan jadi orang pertama yang mengangkat gelas andai kami punya kesempatan untuk bersulang nanti, untuk kakak saya, dan pilihan cara kami yang berbeda dalam merayakan cinta. 🙂

***

Depok, Juli 2018

Menyalurkan energi sendu untuk mengungkapkan kekaguman yang terpendam.

Suka Duka Mempersiapkan Pernikahan Tanpa Bantuan Wedding Organizer

arm-desk-hand-58457
Suka duka mempersiapkan pernikahan tanpa bantuan wedding organizer. (Foto: pexels.com)

Disclaimer: postingan ini mungkin akan berbau curhat dan ditujukan untuk sharing pengalaman baik sama yang sedang merasakan, baru akan merasakan, atau sudah merasakan

YA AMPUUUUN, TERAKHIR UPDATE BLOG 3 BULAN YANG LALU, COBA! HUHUHU.

Ya, dari selesai acara lamaran sampai ke sini agenda kegiatan memang padat sih. Kerjaan lagi heboh-hebohnya, belum lagi jadwal kondangan yang ada aja tiap bulan, plus menyiapkan keperluan atau mengunjungi vendor sana sini semacam udah jadi rutinitas akhir pekan.

PLEASE WELCOME ME TO THE BRIDEZILLA CLUB.

Kami memulai persiapan pernikahan setelah acara lamaran selesai. Hal yang pertama dilakukan adalah merinci pernikahan impian dalam angan-angan ke dalam rencana yang serealistis mungkin. Indikator realistis atau nggaknya cukup dua aja; 1) kemampuan membiayai, 2) approval keluarga.

Sejauh ini, saya dan Cami merasa masih berada dalam batas realistis. Soal keinginan, kami cukup vokal memperjuangkannya di hadapan keluarga—dengan syarat; dari segi apapun nggak menyusahkan.

Well, ngomongin persiapan pernikahan tuh nggak akan jauh-jauh dari soal biaya. Itu juga sebabnya sejak awal kami mutusin untuk nggak pakai jasa wedding organizer, in the name of menghemat biaya. Beberapa teman sih menganjurkan untuk pakai, karena ngurus pernikahan sendiri itu ribet. Pakai jasa WO bisa mengurangi sampai 50% keribetan karena kita bisa menyerahkan hampir seluruhnya ke mereka, dan kita tinggal ribet ke mereka. Bagian ribet ke vendor dan segala perintilannya, biar urusan WO. Tapi ya balik lagi, kami mau mewujudkan pernikahan kami dengan biaya sehemat mungkin. Jadi, bismillah aja dari awal; semuanya diurus berdua, tanpa bantuan WO.

Susah?

Jangan ditanya! Susah banget. Saking banyak yang harus diurus, sampe nggak kerasa itu tenaga dan waktu segitu banyak tuh habisnya ke mana. Mana yang paling bikin pusing, mana yang paling ngeribetin. Hhhh. Mungkin ini yang bikin banyak pasangan akhirnya jadi cranky. Sejujurnya saya juga, apalagi waktu sekitar 2 bulan pertama setelah lamaran, Cami tiap weekend ada kerjaan ke luar kota, ke luar negeri, ndilalah, KAPAN MAU SIAP-SIAPNYAAAAA. Tapi ya tapi, alhamdulillah dia nggak ngelepas saya untuk pusing sendiri. Saya juga nggak terlalu memforsir diri untuk pusingin persiapan pernikahan ini saat dia lagi benar-benar nggak bisa bantu, jadi saya nggak pernah ngerasa “dia mah enak-enak aja, gue yang pusing!” sama sekali. Alhamdulillah kami bener-bener nyiapin semuanya bareng, daaaan… ini penting banget terutama buat calon pengantin yang milih untuk nggak pakai jasa WO kayak kami.

Modal penting selain uang harus dipunya pasangan dalam masa persiapan pernikahan adalah dukungan bagi satu sama lain. Jangan biarin pasangannya ngerasa sendiri. Selalu luangkan waktu saat ada yang membuka diskusi, saling ngingetin apa yang perlu dikejar, apa yang belum, apa yang udah. Pastikan juga kamu dan pasangan sudah satu suara, jadi ketika presentasi di depan keluarga lalu diperdebatkan; kalian bisa saling bela.

Continue reading “Suka Duka Mempersiapkan Pernikahan Tanpa Bantuan Wedding Organizer”