Our Baby Journey

Blog ini dibuat saat usia kandungan sekitar 32 minggu, 8 bulan, kurang lebih satu bulan lagi menuju pertemuan yang kami nantikan. Masa-masa mengandung ini jadi waktu paling panjang sekaligus paling singkat, dan namanya kehamilan pertama; bener-bener banyak banget hal baru yang dihadapi dan dipelajari. Inipun baru awal dari segalanya. :)))

Karena saya pelupa dan senang mengabadikan momen lewat tulisan, blog ini adalah salah satu yang saya buat untuk mengenang perjalanan kehamilan pertama kami yang insyaAllah sebentar lagi sampai ke ujungnya alias WOAAAAHHHH BENTAR LAGI LAHIRAN BROOOO!

Sebuah Catatan Perjalanan

Syukur

Pastinya ini adalah hal pertama yang harus selalu saya dan Cami ingat dari kehamilan ini. Kalau sedikit flashback, berkah ini diberikan saat memasuki tahun kedua pernikahan. Setahun pertama? Banyak mikir, banyak menimbang-nimbang, dan banyak berdoa. :)))

Di awal menikah saya dan Cami memang berencana untuk nggak langsung hamil dan punya anak. Walau waktu itu kami udah bersama selama hampir 8 tahun, kami nggak naif dan jumawa bahwa kehidupan pernikahan bakalan gampang dijalanin, jadi kami merasa butuh waktu beradaptasi dalam dunia baru kami. Alasan lain adalah finansial. Kami juga butuh memastikan bahwa cashflow rumah tangga kami bagus dulu. Kebutuhan utama terpenuhi, bersenang-senang bisa, tabungan ada. Begitu kami ngerasa “oke, kami bisa” kami mulai menyebutnya dalam doa, mulai melakukan usaha-usaha konkret, dan alhamdulillah doanya dijawab Allah di awal tahun kemarin. Makanya, serunyam-runyamnya 2020, saya nggak pernah bisa memaki. Karena ini. ❤

Quarantine baby!

Pandemi terjadi di bulan ketiga, memasuki bulan keempat kehamilan. Kondisi carut marut dan banyak banget hal yang bikin khawatir. Dalam kondisi hamil, kekhawatirannya jadi berlipat ganda. Selain berdoa supaya selalu dalam lindungan Allah, saya juga berusaha patuh dengan protokol kesehatan untuk menekan risiko penularan. Ruang gerak jadi sangat terbatas nggak jadi masalah buat saya walau kadang bosan juga. Dari Maret sampai tulisan ini dibuat, sebagian besar waktu kehamilan saya dijalani di rumah aja dalam rangka karantina. Alhamdulillahnya, karena hampir semua perusahaan menerapkan sistem WFH, begitu juga dengan bapak Cami. Jadi kami banyak waktu bareng di rumah deh selama hamil ini. Yay!

Sekarang sih kegiatan perkantoran berangsur normal, tapi saya tetap masih berusaha menghindari keramaian. Cami udah mulai balik ngantor, saya masih kerja dari rumah setelah diizinkan untuk lanjut WFH di tengah kondisi ini. Kayaknya sampai nanti ngelahirin. So yeah, i’m carrying a quarantine baby in my belly.

Easy pregnancy

Sungguh anak bageeeeurrrr! Alhamdulillah banget sejauh ini semuanya sehat walafiat, setiap bulan dikontrol Prof Dokter katanya perkembangan si bayi bagus dan sesuai timeline. Dari awal hamil nggak pernah ada keluhan yang berarti. *terharu*

Sebagai orang yang nggak pernah terlalu pikir panjang dan cenderung jalanin yang ada di depan mata, saya nggak pernah ambil pusing meski menjalani kehamilan di tengah pandemi–meski di sisi lain ini juga jadi kekhawatiran terbesar. As long as i could make a safe space for me and this baby, saya masih bisa tenang dan fokus sama hal-hal penting aja.

Lebih mindful

Mindful bagi saya salah satunya yaitu tentang pinter-pinter milih mana yang harus difokusin, mana yang baiknya dijalani sambil berpasrah dan berserah. Ini termasuk soal “mau proses melahirkan yang bagaimana” nantinya; vaginal birth (saya lebih suka pake istilah ini, karena kalo pake istilah ‘normal’, seakan menganggap proses lainnya nggak normal hehe) atau caesarean section. Sebagai seseorang yang nggak pernah membedakan gimana cara ibu melahirkan anaknya, saya bener-bener nggak musingin soal ini. Saya olahraga, sering jalan pagi, stretching, main gymball, atau latihan pernapasan, yang di pikiran saya tujuannya supaya sehat aja sih. Lagian saya juga nggak mengalami keluhan berarti selama hamil, jadi ‘tetap bergerak’ itu jadi salah satu cara buat mensyukurinya.

Saya juga banyak makan! Makan apa aja selayaknya manusia sehat yang napsu makannya lagi tinggi. Ibu sampe ketawa-ketawa kalo liat saya bolak-balik makan melulu. Mungkin terakhir dia liat saya makan kayak gini, waktu saya masih batita. Waktu belum bisa nolak dan protes kalo dikasih makan sampe ibu pusing sendiri. 😦

Soal makanan ini nggak ada yang saya pantang. Pak prof dokter pun nggak pernah memberikan pantangan. Prinsipnya; ibu hamil bukan orang sakit. Mau soal makan, soal posisi tidur, soal aktivitas, mau gimana aja ya go ahead, seamannya dan senyamannya.

Mood swing

Memasuki trimester 2 baru mulai berasa mood swingnya. Saya sering merasa gelisah–yang kemudian saya atasi dengan aromaterapi hahahaha, mulai mellow juga. Di trimester 2 badan bener-bener beda banget rasanya. Berubah blas! Bukan bentuk, ya. Tapi…. rasanya gitu lho. Tidur mulai susah, napas mulai pengap, pinggang sering sakit. Awal-awal nyadarin hal ini saya sering mengeluh, lalu ujungnya nangis sendiri terus ngomong dengan nada menyesal sama Cami “padahal kan dia anak bayik, nggak pernah nyusahin, dia cuma lagi butuh badan aku buat tumbuh”.

Banyak hal yang bikin emosi dan kepancing bereaksi, ujungnya nyesel sendiri dan minta maaf sama perut, “maaf ya jadi nangis terus..”, “maaf ya udah ngasih emosi negatif”, gitu-gitu lah. Asli ini bisa sampe meledak-ledak dan sesenggukan banget udah kayak apa tau. :)))

Thank you baby daddy alias bapak Cami ❤

Yang kadang jadi sumber emosi, kadang jadi pelampiasan, tapi juga yang selalu jadi penenang. Selalu berusaha suportif dan involved di tiap langkah perjalanan ini, selalu sekuat tenaga memenuhi kebutuhan kami lahir batin, selalu siap belajar lagi dan lagi, dan belakangan selalu siap sedia jadi ganjelan punggung saya baik dengan tangannya atau dengan pelukannya sewaktu bantal nggak bisa lagi menyangga dan ujungnya saya kebangun engap-engapan karena nggak sengaja tidur celentang pas udah pules. HAHAHA. We love you.

Siap-siap!

Di penghujung trimester 2 udah mulai diskusi berdua Cami, “nanti habis lahiran pulang ke mana? Mau langsung ke rumah urus bayi berduaan, atau ke rumah orang tua biar selama proses adaptasi ada yang bantu?” dan segala pertimbangannya. Jujur masih galau sih ini kayak belum final gitu mutusinnya. Hahaha.

Yang nggak kalah penting adalah dana persalinan. Saya sama Cami bener-bener nyiapin dan nyisihin dana nggak tersentuh buat ini, lalu nyoba ngitung-ngitung dengan rinci berapa kira-kira biaya yang kami butuh untuk opsi yang kami pilih. Berbarengan dengan itu, kami juga nyiapin dana (terpisah) buat persiapan nyambut kehadiran bayi alias belanja berbagai perlengkapan.

Nyiapin perlengkapan bayi mungkin jadi momen paling nyenengin selain saat USG dan liat perkembangannya. Hihi.

Sekarang kami lagi menjalani poin terakhir ini dalam perjalanan kehamilan kami. Siap-siap secara finansial sih masih terus dilanjutkan karena memenuhi kebutuhan materi untuk anak nggak berhenti di biaya persalinan, tapi perlengkapan bayi di awal-awal nanti insyaallah udah beres! Alhamdulillah bangeeeet.

Last but not least, mohon doanya ya biar kami diberi kesehatan dan perlindungan, doain juga supaya proses persalinan nanti lancar, pertemuan kami terwujud, dan kami mulai perjalanan baru dengan personel baru dalam keluarga kami, bertumbuh bertiga. 🙂 ❤

***

Depok, Juli 2020

Sebentar lagi insyaAllah!

Klinik Spesialis Kandungan Murah di Depok

Setelah ketemu dan cocok dengan dokter Assangga, rasanya males nyoba dokter lain lagi. Udahlah, kalo udah nyaman tuh susah pindah ke lain hati. Iya apa iya?

Di bulan ke sekian (kalo nggak salah dari bulan ketiga menuju 4), pandemi datang. Sempet ada kekhawatiran dan pertimbangan untuk skip kontrol dulu buat meminimalisir interaksi sama keramaian, cuma akhirnya tetep kontrol sesuai jadwal. Waktu itu pertimbangannya; 1) lagi masa transisi dari trimester pertama ke trimester kedua, denger-denger tiap semester ada anjuran cek lab buat periksa ini itu, jadi ya waktu itu tetep dateng barangkali kandungan saya udah butuh pemeriksaan tsb, 2) pertimbangan pribadi, merasa ada urgensi buat terus mantau perkembangan si bayik. Apalagi kondisi dia di perut ini cuma bisa ketauan jelas dengan bantuan pemeriksaan medis, bismillah deh dengan proteksi yang dianjurkan, dateng ke dokter Assangga sesuai jadwal, 3) saat itu kabarnya pandemi belum sampe puncaknya, puncaknya masih Juni. Berdasar pertimbangan nomor 1 tadi, saya sama Cami milih untuk tetap dateng di bulan-bulan itu dan maybe baru akan skip satu dua bulan selanjutnya, 4) KESEMPATAN KETEMU ANAK CUMA SEBULAN SEKALI MASA DISKIIIP 😭

Alhamdulillah sih waktu datang ke RS Bunda Margonda buat kontrol kandungan sama dokter Assangga, lingkungan RS cukup kondusif. Pasien jauh lebih sepi dari biasanya, semua orang pake masker, physical distancing diterapkan, dan di depan ruang praktik pun nggak banyak orang. Pasien dokter Assangga juga sedikit, mungkin diatur ya, jadi ngerasa aman. 😄

Pemeriksaan memasuki bulan keempat waktu itu semuanya bagus, bayi berkembang sesuai timelinenya, sehat juga. Jadi dokter bilang, kalau mau nunda periksa juga gapapa selagi nggak ada kondisi urgent.

Oke baique, Prof. Jadi pulang dari RS dalam keadaan tenang.

Skip skip skip ke bulan selanjutnya.

Rencana mau skip kontrol di bulan ini, jadi nggak jadi karena sebuah kondisi.

Waktu itu kerjaan lagi banyak-banyaknya. Tiap hari dari jam 9 pagi buka laptop bisa baru tutup pas ketemu jam 9 malam. Kadang lebih. Ditambah stresnya, sama capeknya komunikasi (via telp dan video call) sama banyak orang. Dua tiga hari kayak gitu kok ngerasa ini anak banyak diemnya, padahal biasanya aktif banget seharian. Ya khawatir dong, bingung antara saya nggak ngeh sama pergerakan dia saking sibuknya, atau emang dia lagi pundung ibunya sibuk sendiri terus ngerasa dicuekin, haha.

Nyoba stimulasi dengan berbagai cara hasil googling juga nggak ngaruh. In paralel, waktu itu juga lagi nyari info soal klinik khusus ibu hamil yang direkomendasiin temen buat USG 4D. Kebetulan kliniknya di deket rumah. Pas ketemu kontaknya, nyoba hubungin dan ternyata bisa langsung daftat buat konsul hari itu. Berhubung deket yaudah deh disempetin padahal sore-sore dan masih jam kerja. Nama kliniknya HaiBumil.

Pengalaman Periksa Kandungan di Klinik HaiBumil Sentosa Depok

“Duh, males banget ketemu dokter baru lagi. Males kalo nggak cocok, nggak informatif, dan ujungnya tetep nggak dapet jawaban yang ngilangin kekhawatiran pas dateng,” begitulah kira-kira pikirannya pas awal mau ke klinik tsb. Tapiiiii yaudaaah, cuma buat ngecek kondisi si bayik yang belakangan lebih kalem, idealisme orang tuanya dibelakangin dulu deh yang penting keliatan bayinya baik-baik aja.

Pas sampe klinik, ternyata cukup rame. Standar kebersihan kayak cuci tangan, pake masker, dan physical distancing diterapin. Saya dapet nomor antrean belasan sedangkan pas itu masih di urutan awal, akhirnya saya tinggal dulu. Hahaha. Khawatir juga sih ngeri kelewat. Tapi kayaknya saya ninggal klinik lebih dari 30 menit dan pas balik masih ada beberapa lagi ke nomor antrean saya. Kesimpulannya; ternyata pemeriksaan per pasien cukup lama. Berarti bukan tipe dokter yang meriksa buru-buru nih. Hmm good signal.

Pas kebagian masuk, disambut sama dokternya dengan ramah. Dokternya cewek, sayang banget lupa nanya siapa namanya. Kayaknya masih muda, nggak keliatan jelas karena beliau pake APD lengkap nutupin muka. Hehe. Terus langsung dipersilakan naik ke ranjang pasien buat siap-siap periksa. Sambil ngobrol tipis-tipis dokter ngarahin alat ke perut. Pertama USG 4D. Nggak butuh waktu lama buat “nangkep” muka si calon bayi sampe keliatan di layar. Aaaaaaak seneng banget! Hati langsung berbunga-bunga kayak pertama kali ketemu bapaknya pas dijemput di stasiun zaman-zaman LDRan. 🤣

Waktu itu cerita ke dokter kalo saya ngerasa si bayi lagi nggak seaktif biasanya. Eh pas diperiksa, dia baik-baik ajaa. Emang lagi anteng. Mungkin posisinya lagi nyaman jadi nggak banyak bergerak. Hihi. Alhamdulillah.

Pengalaman sekali dateng itu cukup berkesan buat saya yang picky banget soal dokter kandungan. Dokternya cenderung informatif tanpa ditanya-tanya alias belum ditanya dia udah ngasih tau duluan. Hahahaha. Enaaak. Yang paling mengejutkan adalah; BIAYANYA MURAH BANGET COY.

Emang sih, pas saya dateng itu mereka lagi ada promo. Cuma ya sepromo-promonya, masa USG 2D dan 4D (plus cetak dan dapet softcopy dalam dvd), sama biaya konsul cuma 200 ribu aja??? Huhu. Kalo nggak terlanjur nyaman sama dokter Assangga, mungkin saya akan memilih ke situ aja karena murahnya. :))) tapi yaa, susah deh kalo udah nyaman.

Oiya 200 rb tadi itu belum sama vitamin. Waktu saya konsul juga kayaknya nggak diresepin, atau kelewat ya? Duh maaf agak skip part ini. Berhubung dokternya asik, masih ada kemungkinan saya balik konsul ke sana sih. Sekalian nanya-nanya soal persalinan, biaya, dll–buat opsi cadangan~

Anyway, boleh lah ya kalo saya bilang si klinik ini recommended dan terhitung nyaman buat periksa kehamilan. Saya periksa di klinik HaiBumil Sentosa Depok yang deket banget dari rumah, tapi dia banyak cabangnya kok. Cus cek di IG!

Jangan Sombong!

Dulu sering ribut sama orang tua perihal apa-apa yang tidak sesuai di antara kami, entah itu keinginan atau cara. Dulu saya melihatnya sebagai sebuah perbedaan; antara yang modern dengan yang tradisional, antara yang tepat dan yang kurang tepat–sehitamputih itu.

Semakin dewasa, perlahan terbuka pandangan baru bahwa ternyata bukan ketidaksesuaian ataupun perbedaan antara anak dan orang tua yang bikin ribut melulu. Sumber keributan itu justru, timbul dari proses membanding-bandingkannya.

Sebetulnya bebas aja, mau terus mengedepankan idealisme demi membuktikan bahwa orang tua kita itu salah–tidak tepat, atau justru belajar berdamai dengan perbedaan yang ada. Saya memilih berdamai.

Tidak dengan mengalah sepenuhnya dan mengubur idealisme yang saya punya, tapi dengan mengerti kalau dalam kondisi saya ini–yang diinginkan orang tua saya adalah yang terbaik untuk saya. Cara kami berbeda? Jelas. Tapi saya rasa saya tidak perlu memperdebatkannya, toh dalam hal keinginan, milik saya selalu diutamakan–orang tua saya selalu mengalah, membiarkan saya memilih keinginan saya sendiri.

Jika dalam jalan mewujudkan keinginan saya, saya merasa kesulitan atau menghadapi rintangan, tidak lantas jalan yang saya pilih salah dan kebenaran mutlak milik orang tua saya. Itu hanya sebuah kewajaran dalam hidup, kita harus berjuang untuk mendapat apa yang diinginkan–dan kesulitan serta rintangan yang dihadapi itu sebuah niscaya. Beruntung, orang tua saya juga menyadari hal ini. Membuat mereka jadi orang tua paling suportif di dunia saya

Menyadari keleluasaan yang saya miliki dan melihat apa-apa saja yang bisa saya raih karenanya, membuat rasa terima kasih saya pada orang tua jadi tak terhingga. Saya amat bersyukur atas itu semua, dan karena itu pula saya merasa kerdil. Apapun yang saya bisa beri untuk mereka tidak akan pernah menyamai pemberian mereka untuk saya sampai detik ini. Di setiap napas mereka. Di sepanjang hidup saya.

Saya berdoa, agar jangan sampai kesuksesan macam apapun yang saya raih menjadikan saya sombong pada mereka. Karena sesungguhnya andil mereka dalam itu semua nyata. Banyak mimpi mereka yang mereka kubur agar mimpi saya bisa tumbuh. Mereka memilih saya dan menutup pilihan lainnya, agar saya bisa bebas memilih seperti sekarang.

Tidak sewajarnya saya merasa telah memberi banyak dan menuntut mereka memberi lebih lagi. Karena tidak sebanding semua pemberian mereka, dengan apapun yang bisa saya beri untuk mereka.

***

Depok, Juni 2020

“Jangan sombong pada ibu”, ujarku pada diriku sendiri. Selalu.

Perjalanan Memilih Obgyn Part 2

Setelah bedrest seminggu abis dibilang perdarahan, atau sebulan setelah saya ketauan positif hamil, saya cek lagi ke dokter. Alasannya tentu aja buat mantau gimana kondisi perdarahan kemarin, tapi saya ke dokter yang beda lagi kali ini. Asli lah dalam sebulan tiga kali ganti dokter, dan kayak capcipcup aja milihnya yang ada. Sempet ada dokter pilihan tapi jadwalnya nggak pas, mau ke dokter Selly yang pernah saya kunjungin sebelumnya pun beliau lagi nggak praktik.

Kontrol ketiga saya balik ke RS Bunda Margonda. Waktu itu dokter yang available di hari dan jam saya dateng adalah dokter Assangga. Nggak banyak yang nyebut nama beliau kalo saya googling rekomendasi obgyn Depok, seinget saya cuma 1-2 blog yang nyebut, tapi komentarnya bagus. So let’s give it a try!

Dokter Assangga ini seorang profesor, dokter obgyn senior dengan subspesialis fertilitas (ini bahasa awam macam saya ya, cmiiw). Para petugas administrasi dan perawat di sana manggilnya, ‘Prof’. Pertama saya dateng dan ngasal pilih, beliau udah mulai jam praktiknya. Petugas administrasi sampe harus lebih dulu konfirmasi ke ruangan ada pasien satu lagi mau terima nggak. Hamdallah waktu itu diterima. Tapi kirain nelepon dulu tuh karena pasien udah banyak, ternyata nggak lho. Saya paling pasien ke 6 atau 7, tapi emang satu pasien masuk aja tuh bisa 20-30 menitan. Hmmm, menarik.

Pertemuan Pertama dengan Dokter Assangga di RS Bunda Margonda

Giliran saya masuk. Dokter bertanya-tanya kondisi umum, lalu saya cerita kalau seminggu sebelum itu saya dibilang mengalami perdarahan tanpa ada gejala atau tanda di luar. Setelah nyatet-nyatet di komputernya, saya dipersiapkan buat USG.

Dokter Assangga memulai USG dengan nyari detak jantung bayi. Lalu diperdengarkan ke saya. Buat pertama kalinyaa, saya denger ada denyut lain di dalam tubuh ini. Terharu banget! Lanjut ke pemeriksaan selanjutnya, dokter ini bener-bener teliti ngecek banyak hal. Ibarat foto-foto mah, beliau ngambil banyak angle. Satu persatu dijelasin ke saya dan Cami. Beliau juga bilang kalau nggak ada apa-apa, semuanya baik-baik aja. Bayinya berkembang, normal dan sehat. Huah! Legaaaaaaa banget rasanya. Buat pertama kalinya, konsul sama dokter terus dapet yang menenangkan kayak gitu.

Di meja juga beliau menjelaskan ini itu, bahkan soal perdarahan yang *wajar* terjadi di usia awal kehamilan–sesuatu yang nggak dijelaskan oleh dokter yang bilang kalau saya mengalami perdarahan. Tapi melihat kondisi rahim saya dan si bayi saat USG, juga menengok saya nggak ada riwayat keluar flek, beliau bilang nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Dokter Assangga juga ngasih saya saran-saran yang pengin saya denger seputar menjaga kehamilan. Ih seneng banget!

Keluar dari ruang praktik beliau, saya sama Cami senyam-senyum kegirangan akhirnya ketemu obgyn yang pas di hati. Ngasih insight yang bagus buat calon orang tua baru kayak kami, dan bicaranya menenangkan. Sejak saat itu, kami memutuskan buat memilih dokter Assangga sebagai obgyn kehamilan pertama kami. :3

Dokter Assangga di RS Bunda Margonda: dokter senior, super teliti, nggak pernah buru-buru meriksanya, pembawaannya enak, informatif, menenangkan. Beliau keliatan perfeksionis dan disegani para suster, tapi ramah banget! Saya ngerekomendasiin beliau sih kalau bumil-bumil memprioritaskan kenyamanan berkomunikasi kayak saya saat memilih obgyn.

Biaya: Jasa konsul dokternya lebih mahal, mungkin karena beliau senior dan bertitle subspesialis. Lain-lainnya sama. Sekali konsul bisa kena sekitar Rp1 jutaan.

***

Depok, Mei 2020

Hamil di tengah pandemi, tentu agak ekstra khawatirnya. Tapi kalo ketemu dokter yang bisa menenangkan semua rasanya lebih ringan~

Perjalanan Memilih Obgyn Part 1

Udah testpack hasilnya positif, then what?

Jawabannya tentu cari obgyn! Selain buat kenang-kenangan perjalanan sendiri, saya mau tulis salah satu bagian esensial dalam kehamilan saya di sini; proses memilih obgyn. Tapi disclaimer ya: pendapat tentang para obgyn yang akan saya tulis bersifat subyektif, murni berdasar pengalaman pribadi. Kamu mungkin akan ngerasain hal yang beda kalau nyoba konsul sama mereka.

Awal ke Obgyn

Saya nggak baru pertama kali ke obgyn pas lagi hamil. Sebelumnya saya pernah dua kali ke obgyn untuk check up karena siklus mens saya aneh. Setelah seminggu atau dua minggu berhenti mens, saya mens lagi. Itu terjadi dua kali dalam selang beberapa bulan. Sebelumnya saya nggak pernah begitu jadi saya memutuskan untuk periksa, buat mastiin aja kalau nggak ada apa-apa.

Obgyn pertama yang saya datengin di RS Bunda Margonda, namanya dokter Selly. Jujur itu cuma nyari dokter yang available di jadwal kosong yang saya dan cami punya aja, turns out dokter Selly ini menyenangkan. Enak berkomunikasinya, nggak buru-buru, mau jelasin dengan detail, mau dengar dan mau ditanya.

Pas kejadian kedua, saya datang ke RS HGA dan konsul dengan dokter Dewi. Dokter Dewi ini banyak direkomendasiin sama (((( bunda-bunda )))) se-Depok. Kalau googling rekomendasi obgyn Depok, nama beliau banyak disebut. Jadwal beliau di RS HGA lumayan banyak, makanya saya nyoba ke sana. Nah, pas ketemu dokter Dewi, beliau juga cukup komunikatif. Aktif ngejelasin and the bra and the bre and the bro.

TAPI, ada perbedaan harga yang sangat signifikan antara konsul dengan dua dokter di dua RS berbeda itu. Nah, buat saya, komunikasi saat konsul sama dokter itu nomer satu. Jadi as long as saya bisa dapetin kenyamanan berkomunikasi sama dokternya, okelah. Concern saya di sini komunikasi.

Pilih Obgyn saat Hamil

Nggak ada bedanya dengan kriteria milih obgyn sebelumnya. Malah concern soal komunikasi itu tetep harus dikedepankan karena saya akan terus ketemu dokter tersebut selama 9 bulan sampai melahirkan. Hahaha. Waktu udah testpack dan positif hamil, saya langsung cari jadwal obgyn terdekat. Tujuannya buat asal cek aja dulu. Dua dokter tadi tentu yang pertama saya tuju. Sayang dokter Dewi waktu itu nggak ada dan saya langsung milih RS Bunda.

Karena pengin buru-buru cek dan mastiin, saya “ketemu” jadwal konsul hamil pertama yang pas sama dokter Reni di RS Bunda Margonda. Pasien dokter Reni buanyaaaak banget! Saya nunggu cukup lama sampai dapet giliran masuk. Eh pas masuk, dokternya buru-buru karena beliau ditunggu pasien lain untuk tindakan di klinik Morula. Sempet ditawarin, “mau nunggu saya selesai tindakan atau sekarang aja?” berhubung udah nunggu lama jadi yaudalah konsul aja daripada nunggu sejam dua jam lagi.

Bener aja dong, pas konsul super buru-buru. Karena itu cek pertama, saya masih USG Transvaginal. Dokter cuma memastikan kalau ada kantung kehamilan di rahim saya dan letaknya normal. Setelah itu, udah. Nggak ada sesi ngobrol yang informatif padahal saya ngerasa butuh banget waktu itu. Secara hamil pertama, biasa berangkat kerja naik kereta di rush hour, naik ojek, dll. Kasih wejangan apakeeeeek. Huft. Dari sana saya udah bertekad untuk cari dokter lain, hehehe.

USG pertama di RS Bunda Margonda. Baru kantung kehamilan aja.

Selang tiga minggu, saya udah kepengin kontrol lagi. Di satu sisi karena nggak puas dengan hasil kontrol pertama, di sisi lain masih belum tenang dan ingin segera mastiin, si kantung rahim ini berkembang jadi janin nggak, bagus nggak perkembangannya. Nah karena udah ngantongin pengalaman konsul kehamilan sama satu dokter di RS Bunda Margonda yaitu sama dokter Reni, yang kedua saya lari ke RS HGA, ngejar dokter Dewi.

Pas mau konsul ke dokter Dewi, saya mulai ngerasain tuh, jadwal di-reschedule reschedule. Harusnya bisa hari A, jadi pindah hari B. Harusnya jam sekian, eh jadi jam sekian. Belum dokternya bisa ngaret sampai sejam, dan antreannya supeeeeeeer panjang. Hadeeeh.

Di konsul kehamilan kedua sama dokter Dewi, saya yang masih terharu-terharunya hamil ini dibilang mengalami perdarahan. Beliau nunjuk area hitam di luar dinding rahim pas lagi USG. Jujur nggak paham sih, karena saya nggak ngerasain apa-apa juga. Nggak ada sakit, nggak ada mules, nggak ada bercak darah sama sekali, eh kok perdarahan. Dari yang tadinya excited sampe nangis di ruangan pas periksa. Terlebih karena dokter Dewi menyarankan saya banyak berdoa biar bayinya kuat, istirahat supaya perdarahan cepet berhenti jadi nggak mutus plasenta dan keguguran–seakan dia sebagai dokter nggak bisa ngasih informasi dengan kapasitas ilmunya buat menenangkan, seakan dia nggak bisa berempati at least sebagai sesama perempuan.

hasil USG di RS HGA yang dibilang ada perdarahan.

Saya nurutin dokter Dewi buat bedrest, tapi saya kapok dateng ke dia lagi. Karena seperti yang saya bilang di awal tadi, kenyamanan komunikasi saat konsul sama dokter itu nomer satu. Saya mempercayakan kehamilan dan calon bayi saya sama dia, dan itu nggak untuk disepelekan apapun keadaannya.

Biaya

Dari pengalaman konsul yang saya ceritain di atas tadi, secara garis besar konsul di RS Bunda Margonda memakan biaya sekitar Rp1 juta rupiah untuk USG, konsul dokter, dan vitamin. Sementara di RS HGA sekitar Rp300 ribu untuk detail yang sama.

***

Depok, Mei 2020

You choose lah, kriteria yang jadi prioritas utama dalam memilih obgyn apa. Bisa biaya jangka pendek maupun jangka panjang, bisa kenyamanan, bisa yang lain-lain.