Dilema Pekerja Media Online

Akhir pekan ini berita penangkapan seleb Vanessa Angel dalam kasus prostitusi jadi perbincangan hangat. Di media massa maupun media sosial, kasus itu ramai. Tapi tentu aja saya nulis ini bukan untuk membahas kasusnya. Yes river. Bhahahak.

Anyhow, semua pemberitaan tersebut merujuk pada pertanyaan: kenapa cuma nama si perempuan yang diekspos? Kenapa nama si laki-laki nggak?

Pertanyaan itu juga saya temukan di timeline saya.

Narasi di mana laki-laki lebih terekspos dibanding perempuan tidak menarik, katanya. Di dunia patriarki menyalahkan perempuan lebih menarik, katanya.

Lalu saya mencoba menjawab. Bukan untuk menyalahkan apa yang dia bilang, karena faktanya memang demikian. Saya cuma mencoba untuk memberi perspektif lain dalam hal ini.

***

Saya berkecimpung di redaksi sebuah portal media online selama dua tahun belakangan. Jadi expert soal media online sih nggak, tapi sedikit banyak saya paham cara kerjanya.

*Sejujurnya saya jadi nulis ini karena tadi sempat ngebahas sama cami, lalu terjadi adu argumen cukup sengit wkwk*

Dari twit tadi saya jawab, “Menurutku di sini pilihannya lebih ke etika atau bisnis. kalo terkait cara pemberitaan di media online, tbh, keyword si nama perempuan yang kebetulan seleb ini tentu bisa mendatangkan lebih banyak page view, jelas menguntungkan.”

Di media online, apalagi kalau dipandang dari kacamata bisnis, mungkin page view itu semacam dewa. Derajatnya satu tingkat di bawah tuhan, dan tuhannya adalah uang. Apapun yang bisa mendatangkan page view pasti dikejar, demi mendekatkan diri pada tuhan alias biar cuan.

Emang nyebelin.

Saya nggak nulis straight news atau berita-berita yang sifatnya aktual (Thank, God!) tapi saya tau gimana teman-teman divisi sebelah di redaksi terkadang dipaksa mengesampingkan “INI HARUSNYA NGGAK GINI, DONG” demi “YANG BEGINI BANYAK YANG CARI DI GOOGLE.”

Soal etika menulis, kaidah jurnalistik, dan keberimbangan berita tuh kan basic banget, ya. Waktu kuliah saya dan teman-teman yang ambil jurusan jurnalistik lainnya mungkin dengan naifnya menyimak penjelasan dosen akan hal ini, lalu dari situ terpupuklah idealisme sebagai jurnalis,

yang kemudian terkikis seiring praktik di lapangan.

Hahaha. Damn it’s true!

Mengenai pemberitaan kasus seleb tadi, tentu exposure terhadap namanya akan memberi efek negatif. Mungkin ini juga akan semakin menyuburkan budaya patriarki di masyarakat kita, di mana perempuan seringkali dipersalahkan terlepas dari bagaimanapun konteks kasusnya. Sedihnya, sedikit banyak pemberitaan media turut ambil peran dalam hal ini. Saya sebagai pekerja media nggak tutup mata, kok. Kalau dibahas lebih dalam, ya panjaaaaang banget kerugian yang bisa dijabarkan. Tapi sebelum sampai ke sana, selagi pembahasan masih di permukaan, coba blik ke pertanyaan tadi. kenapa si perempuan diekspos?

Jawabannya sesederhana karena dia seleb, publik figur, terkenal. Sekali berita tersebar, orang jadi ngeh, “ooohh, dia???” dan pasti banyak yang cari kelanjutannya sampai akhirnya namanya muncul di google trend: kiblat para buruh page view.

Kenapa si cowok nggak diekspos? Karena yang nyari nggak sebanyak itu. Bitter truth.

Again, saya nggak membenarkan pemberitaan seperti ini. Lagipula kalau dipikir-pikir berita peristiwa ini bisa diseimbangkan dengan turut menuliskan siapa yang mengeluarkan uang 80 juta dan sedang bersama si artis saat diciduk polisi.

Saya cuma mau bilang kalau hal semacam ini bisa terjadi bukan semata-mata karena kami para pekerja media berupaya menyuburkan budaya patriarki yang mendiskreditkan perempuan. Ada faktor lain, seperti yang saya jabarkan di atas.

Kaidah jurnalistik kadang kalah penting dari pageview.

Sejujurnya, hal ini juga kadang bikin saya gelisah.

***

Depok, Januari 2018

Sesekali curhat yang (agak) serius. Btw, kenapa foto twit ybs yang diunggah, karena twit itu yang awalnya bikin saya mikir gini. Wk.

Advertisements

2018: Tahun Transisi!

Huwow, semacam ingin melewatkan ritual menuliskan (((( personal kaleidoskop )))) di pergantian tahun, karena belum kunjung menemukan momen buat menyepi since SEKARANG UDAH PUNYA SUAMI. Bhahahak.

Suami..

Well, highlight tahun 2018 sepertinya memang pernikahan yang berlangsung pada tanggal 15 September kemarin (baca di sini). Alhamdulillah acara kami berjalan lancar seperti yang ada di kepala kami saat membayangkan pesta pernikahan idaman, dan yang membuat kami lebih lega lagi adalah karena we don’t spent money that we don’t even have alias nggak maksain pengin begini begitu di luar batas kemampuan secara finansial. Mungkin itu adalah keberhasilan pertama kami sebagai suami istri. :))

Setelah resmi menikah, kami juga sudah tinggal sendiri. Tentu pilihan itu diambil dengan berbagai pertimbangan yang mengerucutkan kami pada keputusan untuk keluar dari rumah orang tua dan pindah ke rumah yang kami sewa. Bermodalkan isi kamar yang kami cicil sebelum menikah, isi dapur hibahan orang tua, dan perlengkapan lain yang kami request dikadoin temen-temen, kami bisa memulai kehidupan baru kami dengan cukup di rumah kontrakan sederhana ini.

Alhamdulillah juga sejauh ini saya nggak mengalami kaget karena apa-apa yang beda dari Cami antara sebelum dan sesudah menikah. Gitu-gitu aja, perasaan. Mungkin karena, meski kami baru menikah tanggal 15 September 2018, tapi kami udah mulai mempersiapkan pernikahannya sejak tanggal 24 Januari 2011, jadi ya udah siap banget.

Cami juga suami yang kooperatif. Saya nggak pernah merasa terbebani dengan urusan domestik di rumah karena dia selalu mau ikut ambil peran. Misal saya masak, dia nyuci piring. Atau kalau saya nggak masak dan kami beli makan di luar, dia tetap nyuci piring (lah, nyuci piring mulu, pak). Wkwk.

Sekali waktu kami pergi untuk urusan penting lalu menyempatkan diri main sebentar setelah selesai, padahal itu hari jatah saya kerja di akhir pekan. Alhasil sampai rumah saya nulis sambil tiduran, dia beberes. Pernah juga kami berdua pulang kerja larut malam, saya kelaparan tapi terlalu malas untuk menyiapkan makanan; dia masakin saya makan malam. Mantul lah Cami. :*

Ada yang bilang, “itu mah awal-awalnya ajaa, nanti lama-kelamaan juga nggak begitu.”

Hehehehe, nggak tahu, yaa. Liat gimana nanti aja. Tapi saya sama cami udah bareng-bareng selama hampir delapan tahun, dan itulah yang selalu dia lakukan. Kami selalu bisa berbagi tugas, berbagi peran, menyesuaikan diri dengan keadaan. Itu adalah modal kami melangkah dengan yakin menuju pernikahan. Ke depannya nggak ada yang tahu, tapi setidaknya kami nggak terlambat membangun fondasi yang dibutuhkan, dan seiring berjalannya waktu, dengan izin Allah kami juga akan terus belajar mengembangkannya lagi.

Selain pernikahan, yang berbeda tahun ini adalah status saya sebagai pekerja. Setelah drama dua tahun, untuk pertama kalinya saya merasa nyaman dengan apa yang saya kerjakan. Secara personal, posisi saya juga berubah. Secara harfiah posisi saya turun dari editor jadi reporter. Saya merasa kesulitan beradaptasi, dari yang awalnya cuma datang ke kantor dan menghadap laptop dari siang sampai malam, sekarang saya harus keluar, bertemu banyak orang baru, ada di tengah keramaian, bahkan harus berhadapan langsung dengan orang-orang yang saya nggak tahu siapa dia. Huhu. Ini sempat saya keluhkan, tapi akhirnya saya bisa syukuri. Ternyata itu kesempatan saya untuk bereksplorasi, terbebas dari zona nyaman yang mematikan kreativitas.

Juga, di tengah tim dan di bawah leader yang sekarang, I finally found the reason to stay a bit longer. 🙂

Di sisi lain, Cami akhirnya bisa keluar dari kantornya yang sekarang dan pindah ke tempat lain. Masih di bidang yang serupa, tapi mudah-mudahan lebih baik. Tahun baru ini dunia kerjanya bakalan benar-benar baru, dia juga bakalan nyoba mobilisasi pakai angkutan umum untuk berangkat kerja. Yay!

Hmm, apalagi ya..

Oh, awal tahun kemarin, tepatnya setelah kami selesai lamaran, ibu juga sempat sakit lamaaa banget. Hampir dua bulan kayaknya keluar masuk rumah sakit karena lambungnya bermasalah. Berat badan ibu sampe turun drastis, kami sempat stres tapi alhamdulillah sekarang udah sembuh, udah segeeer. Udah balik jalan-jalan melulu lagi kayak sebelum sakit. Semoga ibu sehat selalu dan kami nggak lalai menjaga serta membahagiakan ibu. :’)

Drama-drama yang menyulitkan, yang bikin sesak napas karena terpaksa menahan amarah di dada dan berujung sakit kepala, tentu juga ada. Tapi saya nggak akan membahasnya di sini. Biar saya pelajarin dalam hati dan serap hikmahnya aja, jadi nanti-nanti ketika saya baca tulisan ini lagi—semoga dalam keadaan sudah benar-benar memaafkan—saya nggak ingat; “OH IYA, DULU TUH BEGITU YA..” tapi dalam konteks negatif. Bhahak.

Alhamdulillah buat semua yang tercapai dan tidak tercapai di 2018 kemarin. Alhamdulillah buat semua yang terjadi dan yang tidak terjadi. Alhamdulillah buat sehat dan bahagianya. Semoga semua kebaikan setahun kemarin jadi semangat positif serta optimisme menyambut tahun baru. Semoga saya dan Cami nggak putus bersyukur dan berdoa agar tiap rencana dan langkah kami teriring ridho dari Allah yang Maha Baik.

Happy New Year!

***

Depok, Januari 2018 2019

Menulis ini kala sedang cuti bersama. Bersama suami. Lalu memisahkan diri dan mengirim pesan penting lewat whatsapp: “aku mau nge-blog, nggak boleh diganggu.” Hahahaha. (–,)

Film A Head Full of Dreams: A Personal Note

Siang ini, di sela-sela perjalanan menembus kemacetan Jakarta, saya mencoba kembali menuangkan perasaan yang meletup-letup indah. Sepertinya saya kembali diingatkan akan perasaan cinta saya yang begitu besar. Untuk Coldplay.

And yes, ini adalah catatan kecil dari saya mengenai film dokumenter A Head Full of Dreams yang tayang serentak di seluruh dunia tanggal 14 November 2018.

Belakangan ini saya nggak banyak mendengarkan lagu-lagu Coldplay. Bukan bosan, tapi karena efek samping yang bikin saya sedikit nggak nyaman. Hahaha. Jadi ceritanya, kalau denger Coldplay itu saya kangen, kangen sama konsernya, kangen mereka. Sementara di masa-masa ini mereka lagi “istirahat”–mungkin mempersiapkan album baru, karya baru, atau entah apa untuk mengejutkan kita. Rasanya tuh, ya gitu deh. Kangen lah pokoknya. Tapi kalau sayang sih, teteup.

Begitu dapat kabar kalau mereka mau rilis film, seneng banget berasa lagi kangen terus dikangenin balik. :)))

Singkat cerita, saya dapat tiket show yang cuma hadir semalam dan terbatas itu untuk ditonton bareng Cami. Alhamdulillah..

Sebelum nonton saya ngebayangin akan nangis terharu banget kayak pas pertama kali nonton Coldplay Live 2012 di era Mylo Xyloto. Tapi ternyata nggak. Mungkin karena secara umum, konsepnya sama dengan film sebelumnya–ya namanya juga dokumenter, ibuuuk. Bisa juga karena tangisan histeris itu udah habis terkuras waktu nonton konser A Head Full of Dreams di Singapore tahun lalu. Hahaha. Nggak seharu itu, tapi… Ada perasaan hangat yang tinggal di hati waktu nonton.

Banyak footage lama yang diangkat dan bikin film ini bener-bener menggambarkan perjalanan Coldplay selama 20 tahun terakhir. Twenty fucking years, dan mereka tetap bersahabat, kayak masih temen sekolah yang ketemu dan ngabisin banyak waktu bareng setiap hari gara-gara sekolahnya full day. Sesolid itu.

Saya lagi berusaha mengingat-ingat dan merunut scene demi scene dari film semalam, tapi gagal. Kayaknya waktu kecil saya kurang minum minyak ikan. Yang jelas saya terenyuuuhhhh banget karena di sini, Chris mengutarakan secara implisit mengenai hubungannya sama Gwyneth yang kandas. Hiks.

Chris & Gwyneth pisah tahun 2014, setelah #MXTour selesai. Lalu dalam rentang waktu yang sebentar, Ghost Stories lahir. Sebenarnya ketebak banget kalau Ghost Stories ini isi hati Chris soal hubungannya sama Gwyneth, tapi ya kan seperti biasa, apapun tentang kehidupan pribadi mereka nggak pernah diekspos ke publik.

Di #AHFODFilm akhirnya hal itu diungkap. Chris menyinggung tentang bagaimana MXtour–terlepas dari kesuksesannya–membuat dia terkurung dalam gelembung yang bikin susah menikmati keindahan di sekitar. Lalu dia kehilangan istrinya. Lalu yang lain cerita bagaimana proses Ghost Stories dari sudut pandang mereka.

Katanya, Ghost Stories adalah “obat” buat Chris di masa-masa terpuruknya. Mereka sangat menduking Chris untuk bertahan dan bangkit, lewat musik. Kemudian, lanjut ke A Head Full of Dreams. Album yang banyak bercerita tentang perjuangan, harapan, patah hati, jatuh cinta, terpuruk dan bangkit. Lengkap.

Masih soal hubungan Chris dan Gwyneth. Saat bicara soal album ini dan satu persatu lagunya, Chris juga ngomongin tentang bagaimana dia ingin banyak orang terlibat dalam album mereka, mulai dari Beyonce, Noel Gallagher yang notabene salty banget Coldplay, dan orang-orang tercinta bagi Chris, Jonny, Guy, dan Will.

Terus, saat dia ngomong tentang melibatkan orang-orang tercinta, footagenya Gwyneth lagi take vocal untuk lagu Everglow.

Everglow, saudara-saudara..

*Throwback ke AHFODSG Maret 2016 lalu*

Saya nyanyi dengan air mata berderai-derai waktu Coldplay bawain lagu Everglow. Di awal lagu, dia minta kami semua membayangkan sesuatu atau seseorang yang dicinta, di manapun adanya. Kirimkan energi positif biar dia merasakan cinta itu dari lagu ini.

Lagunya memang tentang cinta dan kehilangan, AND IT WAS ABOUT CHRIS LOOSING GWYNETH ALL THE TIME. My heart breaks again.

Pulang dari situ, dengerin Everglow rasanya hati nyut-nyutan lagi.

Saya juga suka part ketika Coldplay–or Starfish?–akan mengisi sebuah gig kecil di kampusnya. Ada Chris so close to the camera, bilang empat tahun dari sekarang, mereka akan terkenal. Seluruh dunia akan kenal mereka. Kemudian disambung dengan video mereka jadi salah satu line up di Glastonbury Festival.

Di sini juga banyak terlihat kalau Chris, seringkali, jadi otak di balik karya-karya mereka. Hebatnya adalah mereka selalu berhasil membagi peran dan berkontribusi sama rata, sehingga Coldplay selalu jadi Coldplay. Nggak pernah Chris Martin dan kawan-kawan.

Ah, gitulah. Sekeren itu emang mereka. Terbaik.

Ngomongin Coldplay nggak akan ada habisnya. Kalau ngobrol sama orang malah kayaknya saya harus nahan biar orangnya nggak ilfil karena saya banyak bacot hahahaha.

Satu pesan yang saya tangkap dari A Head Full of Dreams film ini: ngomonglah yang baik-baik tentang hidup sendiri, karena akan seperti itulah yang akan terjadi di masa depan–persis seperti apa yang kita selalu omongin.

GILEEEE. Omongan emang doa. Hahaha.

GUE BAKALAN NONTON KONSER COLDPLAY SELANJUTNYA. SETIAP TUR ALBUM MEREKA. BECAUSE I CAAAAAN. *berdoa*

Eh tapi kalau dipikir-pikir, saya juga selalu ngomong bakal nonton konser Coldplay seakan-akan itu akan terjadi esok hari sih, sewaktu belum kesampaian. :)))

Baiklah kalau begitu.. *tetep berdoa*

Terakhir,

waktu habis nonton saya sempetin foto di depan poster film AHFOD di bioskop, sama Laras. Lalu foto itu saya unggah ke twitter seraya mention akun @coldplay. EH DIRETWEET DONG. YA ALLAAAAH…. GIRANGNYA KEK APA TAUUUUKKK.

SAHIH SUDAH KU JADI FANGIRL-NYA. BHAHAHAK.

Udah, gitu aja ceritanya. Nggak pake review. Pokoknya Coldplay bikin apa aja, Mpit suka. Mwah!

***

Depok, November 2018

Untuk Segera Dilayangkan ke Surga

Kerinduanku tumpah ruah dari pelupuk mata semenjak kata pertama dalam surat ini ditulis. Dalam anganku, aku langsung membayangkan wajahmu terlipat masam membacanya. “Kok baru ngontak bapak, emang nggak kangen ya?,” begitu yang akan kau bilang. Persis seperti sepotong kalimat dalam obrolan teks yang kuabadikan dan masih kusimpan di ponselku hingga hari ini.

Aku merindumu selalu, Pak. Hanya saja aku semakin pandai menyembunyikannya. Aku bersembunyi di balik segala aktivitasku. Aku bersembunyi di balik kalimat-kalimat pembangkit semangat yang kudengungkan sendiri tiap kali merasa hampir menangis karena mengingatmu. Aku juga bersembunyi di balik doa yang mereka bilang merupakan satu-satunya jalan untuk menyampaikan rindu itu padamu.

Hari ini, Hari Ayah Nasional, katanya. Semua orang sibuk mengunggah foto-foto dirinya bersama ayah mereka. Beramai-ramai mengucap terima kasih, mengungkapkan sayang, dan mendoakan agar ayahnya panjang umur. Aku memilih untuk tidak menjerumuskan diri dalam momentum ini. Aku tidak butuh momentum. Lagi pula angka-angka penghitung usiamu telah terhenti dan aku bingung, fotoku dengan batu nisanmu yang mana yang harus kuungah?

Bapak, ayahku, pahlawanku, pelindungku, segalaku, selalu ada dalam hati dan pikiranku, selalu hadir dalam setiap langkahku. Setiap keberuntungan dan keberhasilanku, aku meyakini masih ada campur tanganmu di sana yang merayu-rayu Tuhan untuk memberi apa yang kuingini.

Aku masih merindukanmu dengan tangisan, tapi percayalah aku sudah jauh lebih kuat menerima perpisahan ini sebagai takdir kita di dunia. Tidak ada yang berbeda dan istimewa hari ini, semua di antara kita tetap sama setiap harinya. Tapi, malam ini aku memiliki keleluasaan untuk menuliskan kerinduanku padamu, membiarkan air mataku berderai-derai mengiringi gerak jari-jariku menulis surat ini, untuk segera dilayangkan ke surga..

***

Pak, bungsumu yang kau panggil Tuan Putri ini, telah memilih hidup bersama seorang lelaki. Akhirnya yang kita berdua takuti selama ini benar-benar terjadi; aku menikah dan kau tak di sana mendampingi. Dalam tangisanku hari itu, aku merasakan sakitmu. Aku pun tak bisa memaksakan diri untuk menutupi kekosongan itu meski bahagiaku juga melimpah ruah. Tak apa, ya, Pak. Biar kita berdua terus mengingat cinta kita yang besar terhadap satu sama lain di tengah ketiadaan ini.

Aku ingat betul rasanya mendengar deru knalpot mobilmu tiba di depan rumah sepulang kerja. Hampir tak ada bedanya dengan mobil lain yang lalu lalang, tapi aku selalu tahu ketika kau datang. Kalau aku pesan dibawakan camilan, aku akan membukakan pintu dan menyambutmu dengan girang.

Andai kau datang sekarang, dengan tangan kosong pun aku akan tetap menyambut dan berhambur memelukmu erat.

Perasaan yang sama kurasakan dengan suamiku, Pak. Aku selalu tahu kapan dia datang. Aku selalu membukakan pintu dan menyambutnya di depan rumah. Aku merasakan kesenangan yang sama seperti ketika menunggumu pulang, dulu.

Suamiku takkan pernah menggantikanmu. Aku pun tak berharap kau akan terganti, aku hanya berharap kisah cinta putri kami dengan ayahnya nanti bisa seindah cerita kita, bahkan lebih dari yang kita mampu bina. Bersamanya juga aku akan terus mencintai, menjaga, dan membahagiakan ibu.

Tolong jangan ke mana-mana, terus di dekatku. Di hari yang tiada beda dengan hari-hari lainnya ini, rindu dan cintaku padamu juga tetap sama. Selamat hari ayah, Pak.

 

Al-fathihah..

 

 

***

November 2018

Mpit udah jadi istri orang, tapi tetep anak bapak.

#MpitAmiAgainstTheWorld Katering Murah adalah Kunci!

Tau nggak sih, kalau sebagian besar dana pernikahan itu habis untuk katering? Saya nggak punya data ilmiah soal ini sih, tapi sepengalaman saya mempersiapkan #MpitAmiAgainstTheWorld kemarin, iya. Biaya katering itu mahal.

Coba bayangkan harga katering standarnya sekitar 80 ribu per porsi, dikali jumlah tamu, katakanlah 600 orang. Maka buat katering sendiri udah menghabiskan 48 juta rupiah. Itu juga kalau harga kateringnya 80 ribu dan kalau jumlah tamunya *cuma* 600 orang.

Nah, untuk biaya katering ini biasanya sepaket dengan dekor standar seperti pelaminan, meja penerima tamu, hiasan sepanjang aisle, dan apa sih itu namanya yang semacam gapura di pintu masuk? Itu lah ya pokoknya. Dekor dari katering ini biasanya udah default juga, jadi kalau mau ada request khusus, pasti ada adjusment di harga. Endingnya ya kalau nggak pakai dekor standar, nambah biaya.

Buat calon pengantin yang biaya pernikahannya pas-pasan kayak kami waktu itu hal-hal kayak gini sih sebisa mungkin harus dihindari. Jangan sampai niatnya berhemat tapi malah ambyaarrr banyak bocornya sana sini gara-gara “biaya adjusment” model begini. Sejak awal harus memegang teguh prinsip: pakai default aja nggak usah banyak adjusment sama kemauan kalau nggak mau tambah biaya.

ATAU…

ya cari katering dan dekor terpisah, tinggal hitung deh total biaya dari keduanya berapa. Jadi misal emang concern banget sama dekor, ya tetap bisa ngontrol. OK kalau dekornya mahal, berarti cari katering yang lebih murah supaya perhitungan biayanya tetap on track. Seperti yang kami terapkan di #MpitAmiAgainstTheWorld kemarin.

***

Di pernikahan kami kemarin, 80% vendornya adalah teman dan/atau rekomendasi teman. Sejak awal kami memutuskan untuk nggak pakai WO, alhasil nyari vendor pun kami ngecer. Vendor katering dan dekor kami juga berbeda. Jujur ini bikin pusing karena kami harus berjalan sesuai perhitungan hahaha. Super muter otak gimana caranya dapet katering dan dekor yang harganya pas tapi wujudnya sesuai keinginan gitu lho, terutama di dekor, ya. Concern kami terletak pada di dekor.

Jadi awal kami cari, kami kumpulin tuh vendor-vendor beserta pricelistnya, kami jadi dapat gambaran dong kalau dekor harganya sekian berarti katering kami paling nggak ya harganya sekian.

Beruntungnya, selain berjodoh dengan pacar yang udah 7 tahun lebih kami juga berjodoh dengan katering murah! Hahaha. Saya nggak akan sebutin dengan gamblang, cuma mau memberi gambaran tentang biaya yang saya keluarkan untuk katering kemarin.

Saya pesan katering utama untuk 600 porsi dengan tujuh menu. Lalu ada tiga gubukan masing-masing 200 porsi. Berarti saya punya 1200 porsi makanan di acara pernikahan kemarin. Nah, berapa biaya yang saya keluarkan untuk makanan tersebut? Tebaaak..

tebak..

tebaaaaakkkk….

Jengjeeeenggggg.. 24 juta rupiah. BIG DEAL banget nggak sih? :)))

Tapi, itu cuma untuk makanan ya. Saya nggak ngitung biaya servis dan peralatan makan, apalagi sama dekor. Nah, buat acara nikahan, yang kayak gini termasuk “nggak biasa” sih kayaknya, karena ya mereka jual katering udah sepaket sama dekor, nggak ada yang jual makanannya doang. Dekor pun belum tentu mau ngurusin kebutuhan katering.

Nah lho, gimana tuh? Bhahahk.

Soal menu, saya, Cami, dan keluarga kami termasuk yang nggak neko-neko sih soal makanan. Nggak pakai menu western karena dari keluarga kami sendiri juga nggak gitu suka, gubukan juga nggak banyak karena kami pikir menu utama udah banyak, jadi sebagai pelengkap aja. Bagi kami yang penting makanan enak (enak versi kami itu, nggak bikin tamu mengeluh hingga mengakibatkan selera makannya hilang apalagi sampai jadi omongan di luar venue) dan cukup sampai acara selesai.

Buat kami, itu semua udah cukup.

Nah, cukup ini yang bakalan berbeda bagi tiap orang. Cukup versi kami itu mungkin “nggak banget” buat beberapa orang. Tapi kembali lagi, kami cuma ingin berbagi kebahagiaan kami, lalu menjamu mereka yang kami undang dengan baik.

Kami nggak mungkin bisa memuaskan semua orang, meski sebelum terlaksana jelas banyak banget kekhawatiran, “takut kurang”, “takut diomongin tamu”, “takut jelek”, “takut lalala”, “takut yeyeye”. Banyak takutnya karena mikirin apa kata orang. Eh terus inget, lah ini kan acara gue, kenapa harus menuhin standar orang lain yang belum tentu sesuai kemampuan kita?

(Bocoran, porsi makanan pun awalnya cuma 500. Lalu keluarga takut tamu kekurangan makanan alhasil ditambah 100 porsi jadi total 600. Yaa, meski end up setelah acara makanan sisa banyak banget).

Sampai mendekati hari-H, kami merasa udah melakukan yang terbaik untuk mempersiapkan acara pernikahan kami. Sisanya mohon doa aja sama Gusti Allah semoga lancar dan diridhoi untuk terlaksana sesuai keinginan kami. Soal “gimana tamu”, itu sesuatu yang nggak bisa kami kontrol. Kami relakan. Kami udah melakukan yang terbaik untuk menjamu mereka. Terima kasih aja buat yang udah datang, semoga kebagian bahagia yang kami rasa. Terima kasih juga udah menerima dan menikmati apa yang kami siapkan sebagaimana adanya.

Gitu aja sih.

He.. he.. jadi, di mana saya dapat katering murah ini? Dm me through my instagram account: @anfiditriani i’ll give the contact. Bisa sharing juga kalau mau, yuk!

***

Depok, Oktober 2018

lanjutan cerita mempersiapkan pernikahan impian dengan biaya pas-pasan. #MpitAmiAgainstTheWorld

#MpitAmiAgainstTheWorld Lokasi Wedding Outdoor Depok

Dear teman-teman yang bacain blog ini tapi nggak ninggalin komen, I’M WATCHING YOU! Huh, sebal. Hehe nggak deng. Kenapa juga harus nunggu diapresiasi untuk terus menulis? Toh dari awal ngeblog, saya cuma ingin tenang dan ingin senang–sendirian. Bahkan saya sempat merahasiakan blog saya. Jadi benar-benar saya tulis dan saya baca sendiri. Aneh ya? Biarin deh. *ngomong sendiri*

Jadi, cerita apa dari #MpitAmiAgainstTheWorld yang mau dilanjut di sini? Hmm, berdasar kekepoan netizen yang saya terima baik secara langsung ataupun nggak langsung, topik berikutnya jatuh kepada lokasi.

Lokasi pernikahan saya dan Cami adalah di Studio Alam TVRI, Depok.

Kok bisa?

Kalau dirunut-runut, ya sebenarnya karena kami saya kekeuh mau acara outdoor. Acara outdoor itu kan kental dengan nuansa yang casual, pengantin lebih santai dan nggak cuma terpajang di pelaminan selama 2 jam untuk salaman dan memberi senyum ke orang-orang yang belum tentu semuanya dikenal.

Idealis, mungkin. Egois, bisa jadi juga. Tapi ya intinya sih kami nggak mau aja cuma jadi pajangan di hari pernikahan kami sendiri. Kami ingin menikmati bersama tamu lainnya, maka konsep outdoor dirasa tepat.

Pilihan pertama sebenarnya jatuh ke Museum Prangko, TMII. Ada sekelebat impian yang menuntut diwujudkan, pada awalnya. Mau nikah di halaman museum. Cocok kan tuh, halaman museum, outdoor, ntap lah.

Sebenarnya cocok sih dengan tempatnya. Namun ketika persiapan udah masuk tahap cek dekor, cek catering, makeup, and the bra and the bre and the bro, LAH MAYAN MAHAL UGA YHA SEGITU TEMPAT DOANG. Buat yang budgetnya pas-pasan kayak kami mah mikir-mikir lagi lah. Akhirnya, rumus ikhlas dan nggak maksain kehendak (apalagi gengsi) mulai harus diterapkan di sini.

Plus, orang tua kami maunya di Depok aja. Baik. Di manakah saya bisa melangsungkan outdoor wedding, di Depok? Puyeng banget mikirinnya.

Sudah cek beberapa lokasi, nggak ada yang cocok. Sebelum nemu lokasi ini sempat pasrah sama Sasono Mulyo, itupun lebih memilih area parkir dibanding pendoponya yang notabene semi outdoor. Tapi ya, namanya hati belum klik, bawaannya masih nyari terus aja. Sampai suatu hari saya ketik di kolom pencarian google: lokasi aktivitas outdoor depok, lalu keluarlah si Studio Alam TVRI itu.

Tanya kakak, pernah nggak ke situ. Katanya pernah. Enak buat main, bawa anak, banyak yang piknik juga. Nah, berhubung dekat dari rumah, saya langsung cek ke sana hari itu juga.

Tempatnya kayak apa?

Bagus, jujur nggak nyangka. Dari pintu masuk, kita lewat jembatan yang ada danau di sisi kirinya. Lalu lepas dari jembatan, ada hutan pinus mini! Hutan pinus ini, sih, yang bikin tempatnya jadi cantik. Yang jelas pas pertama kali ke sana, saya naksir. Langsung videoin, fotoin, terus kirim ke Cami. Dia juga suka! Yaudalah, pas. Kami pun sepakat memilih tempat ini sebagai lokasi pernikahan kami.

IMG20180222162625
lapangan yang jadi spot wedding #MpitAmiAgainstTheWorld kemarin, liat kan, ada kuda di sana? :)))
IMG20180222165316
dipake main bola sama akamsi.
IMG20180222162628
ini hutan pinus yang dimaksud, masih di dekat pintu masuk dan ada di jalur menuju spot acara.

>>> skip bagian meyakinkan orang tua untuk memilih tempat ini <<<

Di sana banyak area lapangan yang bisa dipakai, tinggal tunjuk aja mau yang mana. Nah, sebelum diceritain gimana sistem penyewaan dan harga sewanya, saya kasih tahu dulu plus minusnya, ya.

Nilai plus dari sewa lokasi di Studio Alam TVRI Depok

  • Area sangat luas. Lebih luas dari yang beberapa bulan ini saya jajaki sih kayaknya. Saya nggak mengeksplor sampai jauh karena lokasi yang saya pilih ada di depan dekat pintu masuk. Bagusnya, jadi nggak perlu khawatir soal area parkir kendaraan tamu.
  • Kalau sewa, kita bebas pakai seharian. Jadi nggak kayak wedding venue lain yang biasanya harga per 5 jam atau 7 jam. Di Studio Alam TVRI ini kita bisa pakai seharian, tanpa ada biaya tambahan kalaupun acaranya mundur atau maju dari yang dijadwalkan. Ini cukup bikin lega, lho!
  • Loading in and out? Bisa H-1 dan H+1 bahkan. Walau soal ini akan dikembalikan ke pihak vendor, yang mana mereka pasti pilih waktu senyamannya, setidaknya kita nggak perlu khawatirin soal cukup atau nggaknya waktu si vendor buat siap-siap lah. Fleksibel banget.
  • Listrik unlimited. Nah, ini juga lumayan membantu banget. Sepengalaman saya dengan beberapa wedding venue, daya listrik mereka kan terbatas. Jadi misal kebutuhan kita melebihi daya yang tersedia, misal untuk soundsystem, untuk lighting di acara outdoor, dsb, kita kena charge untuk listrik tambahan, dan itu harganya lumayan. Di sini sih bebas, karena Studio Alam TVRI ini sering jadi lokaso syuting kali, ya.
  • Hutan pinus jadi pemandangan indah tersendiri. Nggak bohong, hutan pinus ini fotojenik banget. Ya, seperti hutan pinus pada umumnya lah. Kemarin tamu-tamu kami banyak yang “mendadak piknik” di sana, sekadar foto-foto atau ngaso. Hihi.

Nilai minus Studio Alam TVRI Depok

  • Untuk spot acara, pemandangan, dan area parkir, Studio Alam TVRI Depok ini oke lah. Tapi soal pelayanan, kita mesti lebih agresif untuk nanya dan mastiin ini itunya. Mereka nggak biasa nanganin wedding soalnya.
  • Fasilitas MCK banyak dan dekat, tapi karena nggak sering dipakai ya harus dipastikan sendiri itu bersih sebelum hari-H. Kalau bisa malah bawa orang sendiri untuk bersihih toilet yang akan dipakai, pengalaman kami kemarin toilet dibersihkan seadanya.
  • Banyak ‘ranjau’ darat! Haha. FYI aja, di hari-hari biasa, banyak hewan keliaran di area Studio Alam TVRI Depok. Ada kambing, ayam, anjing, bahkan kuda yang dibiarin bebas gitu aja. :))) Kotorannya bakalan banyak ditemuin di mana-mana. Tapi tenang aja, menjelang acara sih area pasti udah bersih dari gitu-gituan.
  • Ruang makeup seadanya. Perlu diingat, Studio Alam TVRI Depok bukan wedding venue pada umumnya. Jadi sebetulnya bukan salah mereka kalau mereka nggak punya ruang makeup yang proper. Terus makeupnya di mana? Di sana ada banyak macam ‘rumah adat’ kayak di TMII gitu. Nggak besar, tapi cukup. Terawat sih terawat, ya. Bisa request minta dibersihkan juga kalau mau pake. Cuma ya, gitu, tipikal rumah jarang dipake.
  • Ruang makeup seadanya ini juga berbarengan dengan alat perlengkapan seadanya macam kursi dan meja buat ngeletakin alat makeup. Kemarin saya lupa nyiapin, alhasil pagi-pagi datang bukannya langsung dandan malah sibuk gotong meja dulu. Hahaha. Jangan harap ada kipas angin/AC juga.

Laluu.. mungkin ini yang paling penting.

Kalau kamu ketik “Studio Alam TVRI Depok” di kolom pencarian google, suggestionnya pasti “Studio Alam TVRI Depok angker” :)))))

Gimana? Masih mau?

Saya sih nggak tau ya angkernya gimana, kebetulan saya bukan orang yang sensitif sama gitu-gituan. Pas pertama cari pun, saya udah liat suggestion itu, tapi saya cuekin. Saya memilih untuk fokus sama kelayakan tempat sebagai wedding venue, dan mikirin gimana caranya supaya tempat itu beneran terlihat layak seperti yang saya pikirkan waktu pertama kali saya lihat ke sana.

Alhamdulillah, sampai saya nulis ini saya nggak dengar ada cerita yang kenapa-kenapa setelah hadir di nikahan #MpitAmiAgainstTheWorld kemarin. Mudah-mudahan nggak ada juga. Bhahahak. Intinya saya nggak fokus ke situ, deh. Mungkin karena kami bersugesti positif juga kali ya jadi kami nggak ngerasa ada yang aneh-aneh, indah aja gitu.

Nah, kalau kamu berdomisili di Depok, punya cita-cita untuk menikah dengan konsep outdoor, dan nggak sensitif–cenderung nggak peduli–sama yang (((( gitu-gituan )))), Studio Alam TVRI Depok bisa banget jadi opsi. Dengan satu dua catatan, tentunya.

 

Tambahan:

Setelah melalui momen kemarin, ternyata banyak banget hal yang jadi concern kalau mau bikin outdoor wedding. Selain cuaca, dekor juga! Next bahas dekor kali, yaa.

Wedding Day! #MpitAmiAgainstTheWorld

Hari ini tepat banget seminggu setelah (((( perhelatan )))) #MpitAmiAgainstTheWorld. Hmm, sebenernya euforia acara tersebut udah nggak segitunya sih. Cuma merasa punya banyak hutang cerita aja nih di blog ini. Kanal Halo Bride-to-be (sekarang langsung di-rename jadi MpitAmiAgainstTheWorld) jarang keisi karena asliiiiiiiiiiiiii, ribetnya nyiapin nikahan tuh bukan cuma mitos ya ternyata. Alhamdulillah-nya semua berhasil dilewati dengan baik oleh saya, Cami, keluarga kami, juga teman-teman yang terlibat dan membantu baik secara langsung maupun nggak langsung.

Di beberapa postingan sebelumnya udah diceritain kalau saya merencanakan pesta pernikahan tanpa bantuan wedding organizer sama sekali. Jadi semuanya benar-benar diurus sendiri. Mana pesta yang saya dan Cami mau cenderung rumit karena kami ngotot mau konsep outdoor, mau casual, mau ini, itu ina anu. Blah! Mengingat kemauan kami yang begitu dan bagaimana yang terjadi seminggu lalu, jadi geleng-geleng kepala sendiri nih sekarang. “Bisa ya ternyata, jago juga..” Hahaha.

Perasaan khawatir pestanya nggak berjalan sesuai yang diharapkan pasti ada. Apalagi respon pertama orang-orang begitu tahu acara kami berlangsung di luar ruangan pasti, “pake pawang, dong?”, “Nggak takut hujan? Ini udah bulan September, lho, udah musim hujan..” Meski belum intens, tapi memasuki bulan September ini memang hujan mulai turun dan membuat kepercayaan diri kami bahwa di hari pernikahan kami cuacanya akan cerah jadi lumayan goyah. Syukurnya kami mampu menjaga pikiran tetap positif sambil terus berdoa semoga semuanya lancar. Namun perlu digarisbawahi, hujan memang akan selalu jadi kekhawatiran ketika ingin menyelenggarakan acara di luar ruangan, terutama ketika memasuki penghujung tahun.

Kami juga cukup ketar-ketir mikirin gimana acaranya bisa berlangsung seperti yang kami rencanakan tanpa bantuan wedding organizer di hari-H. Soal ini kayaknya saya dan Cami mesti banyak-banyak bersyukur karena punya teman-teman baik yang super care dan siap membantu.

Long story short, acara berlangsung lancar meski nggak sesempurna yang direncanakan di atas kertas rundown. Kekacauan kecil pasti ada di balik semua keriaan ini, tapi menurut saya itu nggak harus disoroti karena setiap pesta pernikahan mungkin punya minusnya tersendiri meski bentuknya berbeda-beda. Yang harus dijadikan highlight justru kenyataan bahwa banyak tamu yang senang datang ke acara kami. Bahkan yang nggak ada di sana pun banyak yang ikut senang dan terinspirasi. Nggak nyangkaaaaaaaaa, banyak yang nanya dan konsul soal persiapan pernikahan ini lewat whatsapp maupun dm instagram. :)))

I am beyond happy!

Hal yang bikin kami pusing beberapa bulan belakangan, ternyata bukan cuma membahagiakan kami tapi juga banyak orang. Semua energi dan emosi yang kami curahkan bisa jadi manfaat untuk orang lain. Kebahagiaan kami berlipat ganda! Alhamdulillah..

Oiya, karena banyak yang nanya soal acara #MpitAmiAgainstTheWorld kemarin, saya jadi semangat mau kupas tuntas semuanya di sini. Hitung-hitung berbagi pengalaman dan memberi bantuan. Hehe. Tapi bingung juga mau bahas apanya dulu. Jadi, anggap aja ini intro, lalu bantu saya tentukan tema untuk dibahas di postingan selanjutnya dengan tulis di kolom komentar, ya.

Buat ‘teaser’, nih saya kasih beberapa foto dari acara kemarin yang sudah tersimpan manis di ponsel. Biar sekalian liat, siapa yang fotoin momen ini. Hihi.

 

This slideshow requires JavaScript.

FYI, acara #MpitAmiAgainstTheWorld ini berkonsep outdoor dan berlokasi di Depok, tepatnya di Studio Alam TVRI. Nggak nyangka kan tempat itu bisa jadi lokasi nikahan? Muahaha, siapa dulu yang bikin acara~~~ Tema yang diangkat Sunda saat akad dan semi-semi casual internasional gitu lah saat resepsi, nggak ada organ tunggal atau wedding band, adanya DJ. Total biaya di bawah 100 juta tentunya. Hayoooo, apa yang mau ditanya?

 

 

***

Depok, September 2018

Mpit nih, udah jadi istri. Bhahahahk!