Hebohnya Lamar-lamaran!

Habis pacar-pacaran, terbitlah lamar-lamaran. Bagaimana akhirnya saya dan Cami menjajaki fase lamar-lamaran ini sudah diceritakan di postingan sebelumnya. Silahkan baca: Halo, Bride-to-be!

Saya nggak catat kapan tepatnya, pokoknya Cami ngomong sama ibu di rumah tentang rencananya untuk melamar saya secara resmi dengan keluarganya. Dari pembicaraan tersebut terucap lah; Februari. Baik. Setelah diskusi-diskusi antar keluarga yang dijembatani oleh saya dan Cami, namun pada akhirnya ditetapkan karena ibu ngegas ngundang saudara sampe nyebut tanggal, akhirnya acara lamaran kami dilakukan tanggal 4 Februari 2018.

Pertanyaan selanjutnya adalah; mau bikin acara di mana?

Acara lamaran zaman sekarang tuh macam-macam. Nggak cuma di rumah tapi juga di restoran, bahkan di hotel. Mungkin yang dicari adalah faktor praktis dan tempat yang memadai, ya. Kalau budgetnya ada, dua tempat itu pilihan yang bagus. Kalau kami dari awal maunya nggak spending too much money buat acara lamaran ini kekeluargaan aja, di rumah. Ngundang-ngundang, tapi nggak banyak. Saran seorang teman mengenai acara lamaran ini; undang orang-orang yang bahagia liat lo bahagia aja.

Baik.

Acara sudah dipastikan berlangsung di rumah. Persiapannya kami lakukan kurang lebih selama sebulan. Nggak banyak sih, tapi tetep lumayan stressful. Haha. Coba saya rangkum, ya. Begini kira-kira persiapan acara lamaran di rumah *versi kami*.

  1. Cincin. Pasangan yang mau lamaran pasti bertanya-tanya, cincin pas lamaran (pertunangan) ini sama nggak sih sama cincin kawin? Jawabannya; bisa sama, bisa beda. Tergantung keinginan pasangannya aja. Di tunangan ini juga nggak mesti kedua belah pihak sama-sama pakai cincin, ada kok yang cuma ceweknya aja. Malah ada juga yang nggak pakai cincin, tapi kalung atau gelang. Ya, intinya cincin itu simbol “ikatan” antara pasangan aja, terserah kalau ada yang mau pakai simbol lain.
  2. Tenda. Rumah saya nggak terlalu besar dan nggak mungkin bisa menampung semua tamu di dalam rumah, jadi tenda itu harus. Acaranya mengambil tempat di teras sampai jalanan depan rumah, pakai tenda tertutup biar lebih privat aja.
  3. Catering. Makanan yang tersedia di acara lamaran ini home-made alias masak sendiri dengan bala bantuan dari keluarga. Menunya menyesuaikan dengan prakiraan selera *ehem* calon besan. Haha. Pokoknya dilengkapi ajalah dari menu pembuka sampai penutup.
  4. Dekorasi. Bukan dekor-dekor banget kok, cuma backdrop di satu sisi tenda sebagai latar buat acara utama dan foto-foto aja. Nah, sebenarnya backdrop ini buanyaaaakk banget yang sewain kalau kamu mau. Untuk backdrop lengkap (kayu palet, bunga-bunga, dedaunan, barel, sign board, etc) itu rata-rata harganya mulai dari 1 juta. Kalau sewa bunga-bungaan kertasnya aja, start from 200 ribu juga ada. Kebetulan saya nggak terlalu suka bunga-bungaan besar warna-warni gitu, saya mau daun aja. Jadilah saya sotoy untuk ngedekor sendiri. Lagian, referensi saya sederhana, makanya saya optimis bisa menirunya. Beli dedaunan artifisial begitu, di e-commerce harganya belasan ribu per helai, panjangnya rata-rata 2 meter. Untuk dekor seperti contoh, paling banyak butuh 20 helai lah ya. Lainnya bisa pakai yang ada di rumah. Kalau ada. Hahaha. Tapi ternyata waktunya terlalu mepet kalau mau beli dedaunan itu secara online dan kalau beli di toko, harganya beda sama perkiraan. Akhirnya, saya minta dibuatin backdrop sama tempat saya sewa tenda aja. Eh dikasih gratis. *Rezekiiiii*
  5. Pakaian. Kayaknya wajib hukumnya ya pakai pakaian dengan warna yang senada dengan pasangan, biar kalau di foto bagus aja sih. Saya juga menghindari kebaya. Waktu saya cari, kebetulan saya dapat model baju kurung gitu, cocok dipasangkan dengan kain biasa atau songket buat tampilan formal. Warnanya pun senada sama baju yang mau dipakai Cami. Sip. Bungkus!
  6. Makeup. Kalau biasa dandan sendiri, nggak ada salahnya dandan sendiri. Kalau ada teman yang bisa dandanin, mintalah temannya dandanin~ Karena saya lagi jerawatan banget pas menjelang acara itu, saya mantap lah pakai jasa teman makeup artist biar jerewi-jerewinya tertutup sempurna.
  7. Ring bearer! Masa-masa ring bearer berbentuk hati dari toko emas sudah lewat! Ring bearer masa kini lucu-lucu banget, asli. Nah, buat ring bearer, nggak ada salahnya kamu beli yang bagus dan udah didekor, karena bakal kepakai untuk akad nanti. Di instagram/e-commerce banyak dijual dengan harga 300ribuan, tapi jangan lupa teliti barangnya harus pre-order atau ready stock, ya. Banyakan sih pre-order. TAPIIIIII, buat yang di daerah Jakarta dan sekitarnya, coba cari di tempat saya beli ring bearer kemarin; Cikini Gold Center. Harganya miring banget, shay! Terus bisa didekor sesuai kemauan. Kemarin saya nungguin ring bearer saya didekor, milih sendiri hiasan apa yang mau dipakai. Jadinya bagus banget karena sesuai dengan yang diidam-idamkan. *terharu*

    IMG20180125220911
    Ring bearer yang mirip kebon, tinggal tambahin jangkrik.
  8. Dokumentasi. Nggak harus pakai jasa profesional, kalau memang ada teman yang punya gear OK dan bersedia membantu, why not? Tapi jangan sampai nggak. Setidaknya harus ada foto yang proper untuk mengabadikan acara ini. Saya sendiri tadinya mau pakai jasa pro dari teman kenalan Cami, tapi karena satu dan lain hal ujung-ujungnya minta tolong teman sendiri aja. Thanks banget nih, Yob!

Oh ya, berdasar pengalaman kemarin, saya jadi pengin kasih notes khusus mengenai dokumentasi di acara lamaran ini;

  • Baiknya direncanakan bagaimana proses foto-foto setelah acara. Kemarin begitu selesai tukar cincin, saya sibuk foto-foto sama teman dan sedikit sekali foto sama keluarga.
  • Saya juga lupa menginstruksikan supaya yang pegang kamera ini juga mengabadikan suasana/tamu-tamu lain selama acara. Jadinya memang setelah selesai, ya banyakan foto saya. Tapi berhubung dia juga pegang kamera sendiri—wajar kalau dia nggak bisa menangkap semua momennya. Intinya sih “yang penting ada”, kalau mau lebih proper bisa pakai jasa fotografer pro atau minta tolong lebih dari satu teman dan brief mereka dengan jelas apa-apa saja yang harus mereka abadikan.

Tambahan:

  • Kami nggak ada seserahan/hantaran di acara lamaran ini. Kami sepakat itu nanti di hari-H aja. Tapi ada juga yang seserahannya dibawa pas lamaran, jadi pas mau akad & resepsi tinggal prosesinya aja.
  • Walau makanan dibuat sendiri di rumah, peralatan makan dan prasmanan tetap sewa biar seragam.
  • Jangan lupa percayakan pada satu-dua orang teman untuk finishing persiapan saat kamu mungkin sibuk dandan, misal menyusun kursi-kursi tamu dan mengatur posisi duduk tamu di spot acara, jaga-jaga kalau kamu harus mengurus yang lain saat persiapan itu berlangsung. Kemarin di acara kami, kursi yang posisinya berhadapan untuk pihak keluarga, susunannya nggak proporsional. Yang dudukin juga bukan keluarga. Hiks.

 

***

Saya pernah diingatkan sama seorang teman untuk nggak terlalu ngotot mengejar kesempurnaan dalam acara-acara penting yang akan berlangsung ini. Alhamdulillah, saya ngerasa nggak muluk-muluk, saya cuma berusaha supaya acaranya berjalan sebaik mungkin biar meninggalkan kesan dan kenang-kenangan yang baik juga buat kami, keluarga, dan teman-teman yang hadir.

Kemarin di acara lamaran kami hujan deras, acara yang berlangsung di luar ketolong sama kain penutup di semua sisi tenda walau beceknya nggak terhindarkan. Untung saya suka hujan. :))) Lagipula, dinginnya udara terhalau sama kehangatan acara itu kok. *SHAELAH*

Terus, nggak nyangka juga ternyata teman-teman yang datang banyak. Padahal seingat saya pas saya mau ngundang-ngundang itu, saya membuat daftar di kepala, mengingat siapa aja teman-teman yang biasanya berbahagia kalau saya bahagia. EH TERNYATA BANYAK. Alhamdulillah.

Terlepas dari segala kekurangannya, acara berjalan dengan lancar. Per tanggal 4 Februari kemarin saya dan Cami sudah resmi bertunangan. Hahaha! Lucu, ada cincin di jari manisnya walau masih sebelah kiri. x))

Terima kasih semua yang sudah hadir dan membantu kelangsungan acara ini, ya. *Kecup satu persatu*

Terima kasih juga Camiiiiiii yang sangat kooperatif diajak riweuh.

 

Next: PERSIAPAN PERNIKAHAN! *kencangkan ikat kepala*

 

***

Depok, Februari 2018

Advertisements

The Right One; Diperjuangkan atau Datang Sendiri?

Pagi ini saat iseng nelusurin linimasa twitter di perjalanan menuju kantor, saya terhenti pada sebuah twit pic yang diunggah seorang temnh. “Ini debatable sih,” katanya. Ini foto yang dia unggah:

DUbxkPFVMAAmfsB

Saya cuma reply twitnya dengan “hmm,” udah kayak cewek-cewek kalau lagi ngambek sama pacarnya, terus males ngomong, tapi mau ngobrol, tapi ngambek, tapi.. yaudah lah ya nggak usah dibahas.

Saat saya balas begitu, sebenarnya saya sedang meramu kata-kata dalam benak saya. Banyak yang tersirat dan rasanya ingin saya utarakan, tapi ujung-ujungnya ya itu tadi, balas “hmm” doang. Bhahak. Teman saya balas lagi, “Menurut ngana gmn? Apakah the right one tinggal ongkang-ongkang kaki menjalani hubungan? Atau status the right one itu juga harus di raih dan di gapai? Mohon penjelasannya.”

KOK BERASA MAMAH DEDEH LAGI DICURHATIN YA.

Saya punya jawaban yang menyertakan cerita-cerita, tapi saya sungkan menjawabnya lewat medium twitter. Jadi, saya cuma balas dengan gif yang menyertakan penggalan lirik lagu Fix You.

But if you never try, you’ll never know.

Harus coba dulu untuk tahu dia orang yang tepat atau bukan, dan di antara mulai mencoba sampai tahu dia orang yang tepat atau bukan ada lagi proses panjang. Proses yang mungkin, pasti, berbeda-beda pada setiap pasangan.

Kalau pertanyaan itu ditujukan ke saya, tentu jawaban saya adalah “dicari”, atau lebih tepatnya; diciptakan sendiri.

Saya nggak ketemu pasangan saya saat ini dalam kondisi yang benar-benar layak untuk disimpulkan sebagai “the right one”. Kami bertemu dalam kondisi yang masih sama-sama kacau, sama-sama liar. Kamu menjalin hubungan yang panjang dengan cacat di sana-sini, baik sengaja maupun nggak sengaja. Sampai saat ini, kami melalui waktu 7 tahun dengan naik turun, dengan duka dan bahagia, dengan tangis dan dengan tawa. Kami penuh amarah, tapi kami juga berbagi kasih.

Ada kalanya kami saling menyakiti. Tapi di samping semua gengsi, kami selalu berusaha mengedepankan hubungan kami, dan dukungan terhadap satu sama lain sebagai individu pun mengikuti di belakangnya.

Apa proses itu semua berlangsung cepat? Apakah mengenai dia the right one atau bukan itu hasilnya bisa diketahui secara instan? Tentu saja nggak. Sampai saat ini mungkin bisa dibilang kami masih berproses.

Jadi, pasangan saya sekarang ini sudah bisa dibilang the right one atau bukan?

Dia bisa jadi the right one buat saya kalau saya mau membuat dia jadi the right one, dan saya mau. So, yes, he’s the right one for me.

The right one yang nggak datang dengan sendirinya. The right one yang nggak datang di saat kami sudah sama-sama sempurna. The right one yang saya ciptakan dan saya perjuangkan, bersama-sama dengan dia.

Tapi…

Nggak bisa dipungkiri juga kalau di luar sana mungkin ada orang yang faktor keberuntungannya luber-luber, khususnya dalam hal cinta. Dipertemukan dengan orang yang tepat, effortlessly.

Tapi juga…

Buat saya the right one itu bukan awal sekaligus akhir titik pertemuan. Menjadi the right one adalah tentang cara menjalani. The right one itu soal kemauan untuk menjadi tepat bagi satu sama lain, bagaimana setiap pasangan berusaha menjelma jadi segala yang dibutuhkan bagi satu sama lain sepanjang perjalanan.

Kita bisa aja menganggap orang yang baru bertemu dengan kita kemarin sore sebagai “the right one”, tapi kalau pada kenyataannya dia nggak mau diajak berjuang bersama dan nggak mau diajak berusaha memantaskan diri untuk jadi tepat bagi satu sama lain, bagaimana dia bisa membuktikan kalau dia adalah the right one?

Jadi, the right one itu bakal ditemukan effortlessly, atau harus dicari?

Kalau kamu nggak seberuntung itu untuk langsung menemukan seseorang yang tepat buatmu, setidaknya perkuatlah kemauan untuk belajar dan berjuang bersama sampai sama-sama menjadi tepat bagi satu sama lain.

 

 

***

Depok, Februari 2018

 

Halo, Bride-to-be!

Yak, akhirnya bikin satu kategori khusus di blog seperti calon pengantin lainnya! AHAHAHA. Halo, Bride-to-be!

Sebelumnya sudah ada sedikit teaser di postingan ini tentang Cami yang tiba-tiba nanya, “kalau aku mau lamar kamu, aku bawa uang berapa ya?” pada suatu malam. Nggak paham juga sih kenapa dia nggak nanya dulu “kamu mau nggak nikah sama aku?” gitu, mungkin karena dia udah tahu jawabannya pasti “YA MAUK LAH YANG BONENG AJA YOU!” kali, yaaa. Well, lewat blog ini saya ingin mengabadikan momen-momen menuju our big day. Biar lucu aja kalau dibaca-baca nanti. Soal informasi, sih, pasti banyak yang kasih info serupa.

***

Kelanjutan dari pertanyaan itu adalah Cami mulai kasih teaser ke orang tuanya soal niat dia melamar. Waktu Cami nyampein itu, mamah dan bapaknya Alhamdulillah ngizinin (sebelumnya kalau nggak salah sempat bilang  “nanti dulu..”, kayaknya itu pas baru-baru kerja). YEAY! Dapat angin segar~ Tapi waktu itu saya masih belum langsung bilang ke ibu. Sempat ibu ‘nagih’ kami untuk nikah tapi saya nggak bilang kalau kami sudah punya rencana perihal tersebut. Alasannya cuma menjaga keadaan tetap tenang kok, biar kami juga bisa siap-siap dan mantapin hati dalam keadaan tenang. Soalnya ibu sudah sering nagih, nggak kebayang kalau dijawab “Iya, bu, ini udah rencanain kok”. Pasti langsung heboh! :)))

Setelah pembicaraan singkat-singkat soal rencana itu sama Cami, hal pertama yang kami lakukan adalah beli cincin. Bulan Oktober 2017, saya dan Cami pesan cincinnya. Kenapa pesan? Tadinya karena kami memang mau cincin dengan model yang agak unik, terutama Cami, sih. Sayangnya setelah cari informasi dan tanya-tanya langsung di toko yang mudah kami jangkau di sini, tokonya nggak bisa buat cincin seperti yang kami mau. Akhirnya kami tetap pesan namun dengan model yang nggak istimewa-istimewa banget.

Pasangan lain yang mau nikah tuh cincin belakangan nggak, sih? :))) Niat saya mah beli cincin waktu itu supaya kami semangat nyiapin hal-hal selanjutnya. Hehehe. Tapi jadinya lumayan lho, pasangan lain yang sedang menuju tahap ini mungkin bisa menirunya. Beli cincin dulu, biar kalau mau nagih nikah ke pacar, gampang; “Sayang, cincin yang kita beli mau didiemin lama-lama nih?” #sebuahprotip.

Proses pembuatan cincin itu dari pertama kami pesan sampai kami ambil, pas banget sebulan. Tadinya setelah cincin jadi, saya mau minta Cami langsung sounding ke keluarga. Pertama ke makam bapak, lalu bilang ke ibu. Eh jadinya tertunda 2-3 minggu karena ternyata dia harus berangkat ke Vietnam.

Baru sekitar pertengahan Desember 2017 Cami bilang ke ibu, dan di situlah kehebohan yang sebenarnya dimulai…..

*menerima kalung penobatan bridezilla dengan senyum cemerlang dan hati lapang*

 

Mohon doanya semoga perjalanan ini lancar dan menyenangkan ya, teman-teman!

 

 

Cheers!

***

Jakarta, Januari 2018

PS: Jauh sebelum ada rencana soal pernikahan, saya sudah sebut si patjar dengan nama Cami, jadi tulisan Cami di sini nggak bermaksud untuk nyebut Calon Suami. #dijelasin

2017 dan Hal-hal Berarti di Dalamnya

2017-11-02-11-39-23-02[1]

Alhamdulillah penghujung tahun ini bisa libur cukup panjang. Alhamdulillah juga tulisan ini diawali dengan ‘Alhamdulillah’, muahahaha. Tujuan saya membuat tulisan ini, selain untuk membuat catatan kecil seperti tahun-tahun sebelumnya, memang untuk membuat pengingat agar saya selalu bersyukur.

Alhamdulillah~

Sedikit flashback ke penghujung tahun sebelumnya

Di ujung 2016 lalu saya baru kembali menulis catatan seperti ini setelah absen satu tahun karena kondisi yang terlalu buruk. Syukurnya, saya nggak berlama-lama stuck dalam keterpurukan itu. Pertengahan tahun 2016 saya kembali ke rumah, lalu mulai bekerja di satu tempat yang bikin saya ngerasain punya kartu pers. :)))

Itu salah satu rencana saya sepulangnya dari Jogja dan resign jadi anak ahensi, sih. Berhubung kuliah lanjutan saya di jurusan jurnalistik, rasanya belum afdol kalau belum ngerasain kerja di media. Eh, kesampaian. Hehe. Sejujurnya itupun belum cukup memulihkan optimisme hidup saya ketika itu, sampai akhirnya di penghujung tahun, saya officially berkesempatan untuk nonton konser Coldplay.

Sebagai rakyat jelita yang baru merintis karier di ibukota, saya nggak memaksakan diri untuk ngikutin #AHFODTour di Eropa, Amerika, atau Australia. Eh entah gimana ceritanya tahu-tahu band kesayangan saya mengumumkan bahwa mereka akan memperluas turnya sampai ke Asia.

Tahu nggak sih, rasanya tuh kayak lagi naksir kakak kelas terus ternyata kakak kelasnya juga naksir kita! Beda level tapi ya gitu deh euforianya. Saya pun tergerak untuk mengupayakan segala cara supaya saya bisa nonton.

Saat menulis ini saya baru sadar, sepertinya momen itu yang membangkitkan gairah hidup saya setelah ditinggal bapak. DAN YAAMPUN PAS BANGET INI PLAYLISTNYA LAGI MUTERIN UP&UP! We’re goin to get it, get it together i know~

Karena Coldplay konser di Asia saya jadi punya sesuatu untuk dikejar dengan semangat. Lagi. Konser Coldplay di awal tahun 2017 jadi bahan bakar saya untuk kembali melaju dan mengejar ketertinggalan oleh sekitar selama saya menangisi kehilangan yang saya rasa.

So, highlight tahun ini pastilah NONTON KONSER COLDPLAY. Yeay!

IMG_6729[1]
A Head Full Of Dreams Tour, Singapore 2017.
2017 juga tahunnya drama tentang karier. Profesionalitas sungguh diuji sepanjang tahun sampai berdampak ke ranah pribadi. Berkali-kali saya jadi seperti anak kecil yang pulang ke rumah nangis-nangis karena di luar dijahili temannya saat main. Minta piknik ke Jogja dialemin. Ah, ya! Pertengahan tahun ini juga rasa kangen ke kota itu mulai nggak terbendung! Sudah berusaha nahan untuk nggak ke Jogja karena lagi nabung untuk sesuatu *uhuk*, tapi akhirnya ke Jogja juga. Alhamduuuu? Lillah. Harus nangis-nangis sepulang kerja dulu, harus mutung dulu, biar punya alasan kuat untuk impulsif. Thanks to partner keimpulsifanku yang sudah acc proposal piknik singkat ke Jogjanya. Percaya nggak percaya, piknik singkat ke Jogja itu sungguh memulihkan mood kerja. *fiuuh*

Last quarter tahun ini juga dimeriahkan oleh pertanyaan Cami pada suatu malam, “kalo aku mau ngelamar kamu, aku bawa uang berapa ya?”

EAAAAAAA.

Yhaa, nggak usah banyak-banyak, bae. Sejumlah 20% dari seluruh saham Tony Stark aja akumah.

Pengin sok kaget, tapi ya gimana. Udah ngarep banget ditanyain begitu jadinya nggak kaget, malah rasanya pengin jawab “YAUDALAH DI KANTONG KAMU SEKARANG ADA BERAPA AYOK KITA NIKAH SEKARANG JUGA!” *mureeee*

>>>> SKIP <<<<

Pelajaran yang perlu saya garis bawahi di 2017 ini adalah tentang focus on what’s matter. Setiap orang punya lika-liku dan euforianya sendiri dalam hidup, begitu juga dengan teman-teman kita. Kita nggak bisa maksa mereka untuk terlibat dalam euforia kehidupan kita kalau mereka nggak ingin.

Kita punya mimpi, orang yang paling bertanggung jawab untuk menghidupi mimpi tersebut ya kita sendiri. Orang lain nggak harus ikut bersusah-susah mewujudkannya. Saat kita sudah berhasil mewujudkannya pun, belum tentu mereka bakal sama bersukacitanya dengan kita. Jadi ya sebisa mungkin nikmatin aja sendiri. Kalau ada yang mau ‘terlibat’ dengan suka rela, tanpa diminta, hargai dia. Jaga baik-baik. Kepadanya lah kita perlu mencurahkan perhatian lebih.

Bukan berarti harus mengurangi perhatian ke yang lain sih, cuma yang begitu-begitu nggak usah terlalu dipikirin. *ngomong sama diri sendiri*

Kalo kata @soyidiyos di twitter; “Ada kalanya kita hilang kontak dengan teman dan sahabat. Bukan karena sombong, tapi karena kita sedang sibuk dengan peperangan kita masing-masing.” Sungguh sebuah petuah yang bijaque.

Saya paham banget tumbuh dewasa itu menumbuhkan tanggung jawab yang lebih banyak pula. Banyak yang harus dipikirin. Meski hanya kecil-kecil, tapi banyak. Mungkin hal itu yang kadang, bikin kita abai dengan orang-orang terdekat kita.

Kita sibuk dengan peperangan kita masing-masing.

And it’s all fine! Mungkin itu salah satu bagian dari kehidupan orang dewasa, dan saya belajar menerimanya sebagai perubahan yang dibawa hidup. Perubahan yang pasti ada dan terjadi setiap waktu bergulir.

***

2017 adalah tentang menguatkan kaki untuk berdiri tegap dan berlari lagi, tentang self confidence, juga tentang mencintai dengan tidak egois–baik ke pasangan, keluarga, maupun teman-teman.

Saya nggak tahu apa yang akan terjadi di 2017 nanti, tentu saja. Saya cuma berharap apa yang saya dapat di 2017 ini bisa jadi perbekalan cukup untuk menjalani tahun 2018 dengan dagu kembali terangkat dan senyum yang mengembang.

Kecup saya untuk kita semua yang berhasil meniti tiap langkah di 2017 dengan berani.

 

Cheers, to survive 2017 and the years to come!

 

 

***

Depok, Desember 2017

Film Posesif dan Pelajaran Tentang Toxic Relationship

Disclaimer: Saya nggak punya kapasitas untuk mereview sebuah film. Kalau saya menuliskannya di blog ini, kemungkinan besar karena film itu bagus banget dan/atau berkesan banget. Bagi saya film Posesif memenuhi keduanya; bagus dan berkesan.

film posesif halompito
film posesif.

Sejak awal gembar-gembor filmnya, sejujurnya saya nggak terlalu berharap banyak apalagi punya niatan menggebu-gebu untuk nonton. Saya pikir film ini film cinta-cintaan biasa yang cheesy banget gitu, apalagi karakternya dua anak SMA. Yah, kalau mau nonton film cinta-cintaan anak SMA mah, saya nonton FTV aja. Kemudian saya lupa siapa yang pertama kali “teriak” di timeline twitter saya kalau Posesif ini film bagus, layak ditonton, super keren, dan lain-lainnya yang kemudian mengundang rasa penasaran saya. Puncaknya, kata ‘toxic relationship’ mulai berdengung dari review-review yang seliweran. Baiklah.

Selain karena review yang bagus dari orang-orang, saya pengin nonton film ini karena keyword ‘toxic relationship’ relate ke diri saya. Saya pernah terlibat dalam toxic relationship. Di masa SMA juga. Terus bilang ke Cami mau nonton, dia juga senapsarman. Baiklah! Lesgow~

***

Dua tokoh utama yang digambarkan terlibat dalam film ini adalah Yudhis dan Lala, anak SMA kelas 3, Yudhis anak baru di sekolah Lala yang nggak tahu apa kelebihannya selain ganteng dan tajir, sementara Lala adalah seorang atlet loncat indah. Dua-duanya digambarkan hidup dengan orang tua tunggal. Lala bersama ayahnya yang juga merupakan pelatihnya, ibunya diceritakan udah meninggal kalau nggak salah. Yudhis tinggal bersama ibunya, kedua orang tuanya berpisah dengan nggak baik-baik. Lala punya dua sahabat di sekolah, Ega dan Rino. Sementara Yudhis, di hari pertamanya masuk sekolah, langsung ketemu Lala karena sebuah insiden.

Sepatunya Yudhis disita guru karena berwarna putih, saat dia mau ngambil ke tempat penyimpanannya di perpustakaan, dia ketemu Lala yang lagi ikut ujian susulan. >> forward >> forward >>forward >> Yudhis pun mengajak Lala kencan dan Lala mengiyakan.

Yudhis ini manis. Manis banget buat seukuran anak SMA. Gombal-gombalnya, sepik-sepiknya, penampilannya juga sik. Pokoknya kalau saya masih SMA terus di sekolah saya ketemu cowok kayak Yudhis, saya juga pasti naksir! Naksir aja dulu, ditaksir balik apa nggak mah liat gimana ntar aja.

Mereka pun jadian. Semua terasa indah. Yudhis adalah cowok ideal yang bisa ngasih perhatian, cinta, dan “perlindungan” seperti yang dibutuhin cewek-cewek pada umumnya Lala. Antar jemput sekolah, nemenin latihan, kencan; sempurna. Ngeliat sikapnya Yudhis ke Lala di film itu, saya senyam-senyum sendiri. Tapi berhubung umur saya sekarang 24 tahun, udah bekerja, punya tanggungan ini itu, lagi menjalin hubungan yang serius, dan udah lumayan banyak menghadapi pait-paitnya idup, selain senyum-senyum, ngeliat sikapnya Yudhis saya juga mau noyor terus nyorakin; WOELAH, DEEEEK. :)))

Konflik dimulai ketika Yudhis mulai menunjukkan sikap posesifnya. Pertama, ngelarang Lala main sama teman-temannya—terutama kalau ada Rino. Ha. Ha. Ha. *ketawa pedih*

Lalu berikutnya, ketika Lala merasa dianaktirikan sama ayahnya sendiri yang lebih mementingkan atlet lain. Di situ, Yudhis mulai tampil sebagai superhero bagi Lala. Dia berusaha melindungi Lala, meyakinkan Lala kalau dia bisa memilih jalan hidupnya sendiri, bukan jadi atlet karena obsesi ayahnya ini. Dia juga seperti ingin meyakinkan Lala bahwa dia bisa memberikan Lala segalanya, dan bersama-sama, mereka bisa menaklukan dunia.

*Me, dalam hati: halah, dek, segala pengin menaklukan dunia bersama, ngerasain nabung buat membangun rumah tangga bersama juga empot-empotan lu palingan*

Awalnya, Lala percaya, meski dia juga belum bisa menerima sepenuhnya. Terbukti dengan satu adegan di mana Lala main bareng Ega dan satu teman cewek lainnya, tapi bilang ke Yudhis kalau di situ nggak ada Rino padahal ada. Barangkali itu adalah reaksi alamiah yang muncul ketika kita dilarang pacar main sama teman dekat kita sendiri; bilang aja iya, kalau mau main jangan bilang-bilang. Pacar aman, main bareng tetap jalan. Meski risikonya kalau ketahuan yaa, gitu deh.

Scene demi scene nunjukkin betapa manipulatifnya mereka ke satu sama lain. Yudhis makin nggak ketolong kasar dan posesifnya, sampai nggak segan nyakitin Lala secara fisik, bahkan ngelibatin orang-orang terdekat Lala yang sebenarnya nggak salah apa-apa.

Belakangan kelihatan, kalau sifat kasarnya Yudhis itu ternyata perpanjangan dari kekerasan yang dilakukan ibunya ke dia di rumah. Lala, dengan naifnya merasa cuma dialah yang bisa menolong Yudhis. Buat berubah, buat lari dari kekerasan yang dia dapat di rumah, buat jadi pacar yang lebih baik. Sementara Yudhis sendiri nggak bisa menjanjikan apa-apa. Dia cuma terus nyakitin Lala, sadar ataupun nggak sadar.

***

film posesif halompito 2
film posesif.

Waktu nonton, saya banyak tercekat, nahan nangis. Adegan-adegan di film Posesif bener-bener sederhana, sangat relatable dengan kehidupan anak SMA. Konfliknya pun. Tapi mungkin itulah yang kemudian menyentil luka lama yang sudah saya tutup rapat-rapat, tentang satu kisah yang bisa saya bilang… persis mereka.

Well, menonton film Posesif ini menyadarkan saya satu hal, kalau toxic relationship itu ternyata meninggalkan jejak yang lebih bahaya dari “cerita masa lalu”, at some point, you never really heal, bahkan bertahun-tahun setelah masa itu berlalu.

Saya suka banget cara film Posesif menunjukkan sisi gelap dari romansa anak SMA. Ketika kita mulai merasa sok dewasa, sok serius soal cinta dan ternyata malah tersesat saking nggak tau apa-apanya. Dipikir cinta itu selalu tentang memiliki. On the other hand, saya suka dengan sisi manis dari hubungan Yudhis dan Lala yang terasa real. Nggak lebay dan menyebabkan kenyinyiran di kepala, “buset, anak SMA bisa ya ngasih begitu ke pacarnya” karena terasa too good to be true. Nggak, manisnya Yudhis dan Lala ini digambarin dengan pas!

Kisah Yudhis dan Lala di film Posesif adalah pelajaran bagus untuk kita semua, tentang memaknai sebuah hubungan dan konsep kepemilikan yang usang.

Memutuskan menjalin sebuah hubungan bukan berarti kita menyerahkan seluruh hidup kita untuk berada dalam kendali mereka. Kita tetap berkuasa atas diri dan hidup kita sendiri. Kita bebas menentukan ke mana kaki kita akan melangkah. Kita yang tahu kapasitas diri kita, kita pula yang bisa mengukurnya. Pasangan kita mungkin bisa mengukur kualitas kita dengan indikator yang dia buat sendiri, tapi kita nggak punya kewajiban untuk memenuhinya apabila itu memang bersebrangan dengan hati nurani kita.

Hubungan seperti Yudhis dan Lala itu hubungan beracun. Toxic relationship.

Saya pernah terlibat dalam toxic relationship. Saya pernah permisif terhadap perlakuan pasangan saya ketika itu, menganggap bahwa dilarang-larang main sama teman, dimaki ketika dia marah meski saya nggak melakukan kesalahan, atau ketika apapun nggak terjadi sesuai maunya, itu adalah hal yang wajar ketika dua orang menjalin sebuah hubungan dan saling mencintai. Padahal itulah yang membuat hubungan saya bukannya makin baik tapi malah makin teracuni oleh konsep kepemilikan yang nggak bisa dicerna akal sehat. Hubungan tersebut bukan cuma menyakiti saya secara psikis, tapi juga, seperti namanya, hubungan itu meracuni saya untuk jadi bersikap dan berpikir seperti cara dia.

Menerima diperlakukan seperti itu artinya saya membiarkan orang lain menilai diri saya serendah itu. Saya berusaha susah payah untuk keluar ketika saya menyadari kekacauan yang terjadi. Saya berhasil menyelamatkan diri.

Kamu juga mungkin pernah, atau sedang, terlibat dalam toxic relationship. Ketahuilah, nggak ada yang bisa menyelamatkan kamu dari hubungan tersebut kalau bukan kamu sendiri yang bertindak. Jangan bertahan karena kamu merasa bisa mengubahnya, sebab nggak ada yang bisa mengubah siapapun kecuali orang itu sendiri punya keinginan dalam hatinya untuk berubah.

Menjadi motivasi, mungkin iya. Tapi ingin mengubah pacar yang posesif jadi nggak posesif itu sama bullshitnya dengan meminta pacar meninggalkan kehidupannya yang lain demi bersama kita.

Jadi, tolong, hargai dirimu sendiri. Cintai dirimu agar kamu bisa belajar mencintai orang lain serta memaknai cinta, hubungan dan komitmen dengan cara yang tepat.

Jangan biarkan pasanganmu mendikte apa yang harus kamu lakukan dan apa yang nggak boleh kamu lakukan. Jangan biarkan dia mengurungmu dari apa-apa yang ingin kamu capai. Jangan biarkan dia menahanmu saat kamu ingin berlari mengejar impianmu, sekecil apapun itu menurutnya. Jangan permisif terhadap sedikit saja tanda keposesifan. Jangan biarkan rasa saling percaya yang seharusnya ada tergantikan oleh konsep kepemilikan yang absurd.

Kamu berkuasa atas dirimu sendiri. Lakukanlah apa yang menurutmu baik. Lakukan meski itu nggak sesuai dengan keinginannya. Kalau dia cinta kamu, dia akan mendukung, he will always have your back. Kalau dia cinta kamu, dia akan membiarkan kamu terbang tinggi-tinggi jika dengan begitu kamu bisa mencapai cita-citamu, dan dia akan setia menunggumu di bawah, atau bahkan ikut terbang.

Don’t let your boyfriend define your own happiness.

Pasangan yang baik akan jadi partner-mu dalam menghadapi apapun yang disediakan semesta di jalan kalian berdua. Bersama orang yang tepat, kamu bisa jadi apapun yang kamu ingin dan dia akan tetap memandangmu seolah-olah kamu adalah hal terbaik yang pernah ditemuinya.

Kalau setelah baca ini kamu jadi sadar bahwa kamu ada dalam toxic relationship, go away, seek for help if it’s needed. Go. Away. And never turn back.

At the end, yes, film Posesif ini bagus banget! Saya kasih rating 90/100, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Tapi plus 20 lagi deh, soalnya ada Sheila On 7 dan Banda Neira di soundtracknya.

Lah, jadi 110/100 dong ya ratingnya?

Yaudah deh, nggak apa-apa jadi 110/100 gitu, anggap aja sisanya bonus buat ending scene-nya yang buaaangcat bener. *elus-elus dada* *dada Adipati Dolken*

 
***

Depok, November 2017

Tulisan saya tentang film Posesif dan toxic relationship juga ada di bintang.com, klik aja untuk baca, ya.

Menanggapi Sinisnya Orang yang Pernah Pacaran Lama Tapi Gagal

matt-popovich-66522
Ilustrasi pasangan pacaran. (Foto: unsplash.com/Matt Popovich)

Suatu sore, saat lagi jalan-jalan di home facebook saya nggak sengaja nemu video ini. Judul dari yang nge-share pertama di timeline saya, “ALASAN MENIKAH MUDA”, lalu dishare oleh pihak kedua dengan komentar, “Setuju banget! Ga perlu “PACARAN” untuk saling mengenal. Hanya perlu berdoa sama Allah untuk memantapkan hati.” Ya, reaksi semacam ini sih udah ketaker buat segala jenis konten yang bau-baunya pro nikah muda. Biasanya juga, konten yang begini-gini adalah bahan kode para cewek untuk disebar ke pacar mereka.

Tapi saya nggak termasuk, kok, sumpah.

Waktu lihat tambahan komentar dari orang kedua yang nges-hare, mata saya otomatis menggarisbawahi “Ga perlu pacaran untuk saling mengenal. Hanya perlu berdoa sama Allah untuk memantapkan hati,” sambil mengerutkan dahi. Like, whaaat? Karena itu, saya memutuskan untuk menyimak videonya sampai habis. Penasaran, video ini ada apanya sih sampai bikin orang seyakin ini kalau Allah bakal ngasih sesuatu hanya dengan doa tanpa usaha?

Silahkan klik link ini untuk menonton videonya.

Tentang pemilik video dan isi videonya

Si pemilik video ini rupanya tergolong aktif di youtube. Namanya Ema. Dia merupakan seorang (calon) dokter kelahiran tahun 1994, status sudah menikah, dan saat saya kepoin akun youtubenya dia punya 28,142 subscriber di youtube. Sebelum saya “kuliti” isi videonya, saya mau buat sedikit resumenya.

***

Katanya, banyak yang curhat sama Ema tentang masalah percintaan, dan juga bertanya kenapa dia memutuskan menikah muda. Selanjutnya dia menyangkal, “sebetulnya nggak muda juga ya, aku kelahiran ’94, usiaku udah termasuk legal dalam UU Pernikahan. Cuma masalahnya karena aku tinggal di lingkungan yang temen-temenku nikah di atas usia 25 tahun, jadi mereka menganggap keputusanku itu agak aneh,” katanya dalam video.

Dulu, Ema pernah pacaran 5 tahun tapi diputusin. Beberapa bulan kemudian mantannya itu nikah sama cewek lain. On the other hand, sama suaminya ini dia baru kenal 3 bulan saat memutuskan menikah. Ema pun mulai menjabarkan beberapa respon orang yang ia terima seiring dengan keputusannya menikah tempo hari, di antaranya: “Kamu kok mau diajak nikah? Kan belum kenal?” dan juga dikira depresi karena pacaran 5 tahun, putus, lalu beberapa bulan setelahnya si mantan nikah duluan.

Terus katanya, sebenarnya bukan gitu. Dia melanjutkannya dengan pertanyaan, “sebenarnya tujuan kalian pacaran dari awal itu apa sih?” yang diikuti dengan jawaban, “untuk mengenal satu sama lain, dan saling mengisi kekurangan masing-masing, kan? Kalimat selanjutnya dilontarkan dengan menggebu-gebu. Entah semangat, entah emosi.

Kata dia, intinya kalau dari awal pacaran sudah berpikir nggak cocok dan nggak mau berubah buat pasangannya, ya nggak usah pacaran. Jadi kalau ada yang nanya (mengenai pernikahannya dengan cowok yang baru dikenal tiga bulan ini) “kan belum saling kenal?” dia ngebalikin, buktinya kemarin pacaran 5 tahun, ujung-ujungnya diputusin juga. Yang penting bukan tentang berapa lama pasangan saling kenal, tapi seberapa keras pasangan itu memperjuangkan hubungannya. Banyak yang pacaran bertahun-tahun terus diputusin begitu aja, terus kenapa kalau ada laki-laki yang berniat baik dalam waktu singkat malah ditolak? Begitulah kira-kira.

Poin selanjutnya mengenai restu orang tua. Sejujurnya saya nggak paham kenapa pembahasan ini ada. Dia bilang sih, based on true story, banyak teman-temannya yang nggak kunjung nikah karena nggak direstui orang tua. Tapi apa hubungannya sama Ema? Apakah dia pernah nggak direstui orang tuanya? Hmm. Nggak ada penjelasan tentang direstui atau nggaknya dia sama pacarnya (yang mutusin dia itu) dulu direstuin atau nggak.

Tentang restu orang tua ini dia bilang, banyak teman-temannya yang begitu. Belum memutuskan menikah karena nggak direstui orang tua. Alasan utamanya karena beda agama. Terus ketika si cewek sudah cinta mati, rela belajar agamanya si cowok, eh si cowok ketemu cewek lain yang seagama dan jelas direstui, cowok itu punya hak untuk putusin si cewek. Again, Ema bilang kalau cowok itu adalah cowok yang baik, dia pasti akan perjuangkan ceweknya sekuat tenaga di hadapan orang tua sampai dapat restu. Kalau nggak direstui karena belum kerja, dia bakalan berusaha supaya cepat dapat kerja. Kalau nggak direstui karena belum lulus, dia bakalan berusaha cepat lulus. Jadi kalau ada alasan, “belum nikah karena belum direstui,” Ema menyarankan untuk tanyakan lagi pada hati kecil masing-masing, berapa besar kemungkinan kalian untuk putus.

Next, menurut Ema, pacaran adalah pemborosan. Di sini, dia menghitung kerugian yang dideritanya selama pacaran 5 tahun dulu. Ada self disclaimer; dia bukan cewek yang maunya dibayarin terus-terusan. Ema dan si pacar-lima-tahun-lalu-putus-nya itu menerapkan sistim 50:50 dalam menanggung biaya pacarannya. Begini gambarannya; biaya sekali nonton = 100,000. Lalu setelah nonton dilanjut makan = 200,000. Nah, dalam sebulan kegiatan itu dilakukan dua kali, jadi untuk nonton dan makan = 300,000 dikali 2 = 600,000. Belum lagi bensin = 200,000. Pulsa perbulan bagi dia dan pacarnya = 200,000. Total biaya pacaran mereka sebulan 1,000,000. Dikalikan 12 = 12,000,000. Ditambah lagi kalau ada yang ulang tahun, 1,000,000 dikalikan 2 (untuk dia dan pacarnya) = 2,000,000. Belum lagi yang lain-lain seperti anniversary, monthyversarry, kado buat anggota keluarganya yang ulang tahun, nikahan temannya, itu 1,000,000. Keseluruhannya 15,000,000 menurut perhitungan Ema. Dikalikan waktu pacarannya 5 tahun, kerugian yang dia derita mencapai 75,000,000. “Kalau dari awal ditabung buat nikah, udah lebih dari cukup,” tutupnya di sesi ini.

Poin selanjutnya; belum punya biaya. Kata Ema, kalau sejak awal kalian sudah memutuskan untuk menikah, dengan sendirinya pola pikir akan berubah. Dari yang tadinya bersenang-senang, jadi nabung biaya nikah. Si abang–suaminya Ema–sendiri langsung menyisihkan 40% gajinya untuk disimpan Ema sebagai biaya nikah mereka, sejak mereka memutuskan untuk nikah. “Ketika cewek lain dikasih uang sama pacarnya dihabisin buat nonton, belanja baju, foya-foya, saat kalian memutuskan nikah, pikiran itu nggak ada sama sekali.”

Poin terakhir, kata Ema, cewek mudah percaya.

Kalimat pembuka di poin ini, “cewek adalah makhluk yang lemah. Ketika dia jatuh cinta, apapun pasti akan dia berikan. Apapun. Dan ini akan dimanfaatkan oleh si cowok untuk dapatin apa yang dia mau. You know what i mean lah, ya.”

Dia bilang sih, teman-temannya kebanyakan cowok. Terus dia pernah nanya sama teman-teman cowoknya itu, “kenapa sih cowok itu gampang banget merayu cewek cuma buat memuaskan hasrat mereka?” lalu jawaban teman cowoknya Ema adalah, “Rayuan dan kado kan tiket masuk di awal doang. Kalau udah dapet tiket masuk, selebihnya gratis. Buat apa dong kita susah-susah dapat yang bayar tiap saat kalau bisa dapat yang sekali bayar doang, selanjutnya gratis?”

Nggak lupa, Ema juga menjelaskan tentang “test drive” yang katanya sering dipakai para cowok. “Test drive” ini menurut Ema, kalau ceweknya udah hamil, baru bakalan dinikahi. Dia nggak habis pikir soal ide ini. Katanya, “Ya kalau ceweknya hamil, sukur. Kalau nggak hamil? Yang rugi cewek, bro”

Kata Ema, cowok ini hobi cerita. Setelah putus dia bakalan cerita semua hal yang dia lakukan sama pacarnya ini ke temen-temennya

Dia pun menerima lamaran si abang dengan pertimbangan mumpung belum dimabuk cinta dan sebelum si abangnya punya pemikiran soal test drive. Kebahagiaan nggak boleh ditunda, kata Ema mengutip ceritanya Najwa Shihab. Ironinya, dari nadanya, konteks bicara Ema dan Najwa soal ini terlihat berbeda.

***

AKHIRNYA SELESAI JUGA VIDEONYA.

Capek banget dengerin dia ngomong sejak awal. Menggebu-gebu banget tapi yang diomongin, hhhh, ya gitulah.

***

“Orang-orang yang pernah pacaran lama-lama terus gagal, kenapa jadi bitter dan cenderung meng-underestimate hubungan pasangan lain yang udah lama pacaran, ya?” Itulah yang ada di benak saya begitu videonya si Ema ini selesai.

Iya, Ema ini bukan orang pertama yang punya pendapat sinis mengenai pasangan yang pacaran lama-lama. Saya udah bertemu Ema Ema yang lain sebelumnya, dan kebanyakan alasan mereka jadi se-bitter itu adalah; karena sudah pacaran lama, tapi gagal ke pelaminan bersama. Selanjutnya mereka jadi berpikir jelek tentang “pacaran lama-lama”. Parahnya lagi, pikiran jelek itu seakan berusaha mereka tularkan ke orang.

Saya yang pacarannya sudah hampir memasuki tahun ke-7 ini sering banget jadi korbannya. Dua dari tiga orang yang-pernah-pacaran-lama-tapi-ujungnya-nggak-nikah-juga, kalau ketemu saya dan ngomongin soal relationship pasti nadanya negatif. “Buruan nikah, ngapain sih pacaran lama-lama?” “Pacaran jangan lama-lama, ntar keburu putus lho.” Ya, kurang lebih sama lah dengan si Ema ini. Tapi, bedanya dengan orang-orang sejenis lainnya yang saya temuin adalah, Ema ini muncul sebagai “publik figur”, dia punya pengikut lumayan banyak di instagram dan di channel youtubenya, dan bagi saya itu meresahkan. Kenapa meresahkan? Karena omongan-omongan si Ema dalam video ini, menurut saya, menggebu-gebu karena dorongan dendam, sakit hati, atau apalah yang tersisa dari masa lalunya. Sepenangkapan saya, di video itu dia nggak sedang berusaha membagikan pandangan positif tentang menikah muda.

Dari sisi yang bersebrangan, saya mau membagi pandangan dari kacamata yang berbeda tentang pacaran lama. Tapi supaya apa yang saya sampaikan ini nggak ngalor ngidul kayak omongannya Ema di video tadi, opini yang saya tuliskan di sini akan mengacu pada poin-poin yang disampaikan si Ema.

Kenapa sih saya mau repot-repot menanggapi? Merasa tersindir atau gimana?

Nggak, saya nggak merasa tersindir. Saya berusaha mengimbangi opininya Ema dengan fakta-fakta lain dari sisi yang berbeda aja. Biar orang-orang yang nonton videonya nggak menelan mentah-mentah dan mempercayai kalau pacaran lama-lama tuh pasti akan seperti yang dia bilang. Jangan cuma karena dia pernah pacaran lama dan terbukti gagal, lantas yang lain juga pasti begitu, dan pada akhirnya membenarkan nikah muda *cuma* karena takut merasakan patah hati. Cemen.

Tentang “pacaran lama” dari sudut pandang yang bersebrangan dengan Ema

Poin pertama, tentang pacaran dan saling mengenal.

Iya, pacaran memang untuk saling mengenal. Tapi sejauh yang saya jalani ini, proses mengenal nggak bisa dikasih patokan waktu. Sekarang, tentu saja saya mengenal pacar saya jauh lebih baik dari pertama kali kami pacaran dulu. Dia pun sebaliknya. Tapi apakah itu cukup? Apakah proses mengenal itu sudah bisa diselesaikan? Belum. Selalu ada celah yang membuat saya merasa perlu terus mempelajari pasangan saya dari waktu ke waktu, dan mengingat proses ini sudah berlangsung hampir 7 tahun, which is selama kami pacaran, saya yakin sih ke depannya setelah kami menikah pun proses itu masih akan terus terjadi. Masih perlu terjadi.

Kalau mau mengaitkan antara pacaran, saling mengenal, dan menikah, saya rasa itu tentang pilihan dan kemampuan. Kalau kamu memilih mengenal pasangan kamu lebih jauh dalam kondisi sudah jadi suami istri, dan kebetulan masalah keluarga, biaya, kesiapan mental dan lain-lain sebagainya juga memungkinkan, ya why not? Tapi kalaupun harus pacaran lama dulu, nabung biaya nikah dulu, belajar saling mengenal dalam waktu yang lama pula, apa salahnya?

Keyakinan untuk menikah juga nggak bisa timbul begitu saja di hati semua orang. Ada yang harus mencari, memperjuangkan, bahkan membentuknya sendiri seiring berjalannya waktu. Jadi menurut saya, “nggak perlu pacaran lama-lama buat saling mengenal” itu nggak bisa diterima mentah-mentah. Ada banyak pertimbangan, dan setiap pasangan perlu menyesuaikan “proses mengenal” ini dengan kondisi mereka sendiri. Menjadikan hubungan nya Ema orang lain sebagai acuan murni itu malah bisa bikin kacau.

 

Poin kedua, tentang pacaran lama nggak nikah-nikah karena nggak direstui orang tua.

Kalau udah bicara soal restu memang agak susah. Balik ke hati masing-masing, kamu rela mengabaikan perasaan orang tua, nggak? Mau mengabaikan dari awal sampai seterusnya, atau mau coba abaikan dulu sampai batas waktu tertentu sambil berusaha merebut restunya? Itu sepenuhnya pilihanmu.

Saran saya sih, berjuang itu perlu. Tapi realistis juga harus. It’s fine kalau dari awal udah nggak direstui tapi mau berusaha dulu. Kalau nantinya menyerah karena restu nggak cair-cair, nggak apa-apa juga. Manusiawi. Sebagai anak, perasaan orang tua pasti jadi bahan pertimbangan berat, kan? Yang penting tahu dan pahami risikonya sejak awal. Kedua belah pihak yang menjalani sama-sama punya pilihan untuk pergi kok. Kalau akhirnya salah satunya menyerah lebih dulu, ya berarti dia yang lebih dulu realistis mengambil keputusan. Gitu aja sih. Harus diingat bahwa antara pihak cowok dan pihak cewek punya hak yang sama besarnya untuk mengambil keputusan berhenti atau lanjut, tinggal siapa yang berani mengambil keputusan lebih dulu aja. Jadi kalau yang satu terus pilih lanjut dan ternyata yang satunya pilih berhenti, nggak perlu playing victim.

 

Poin ketiga, tentang hitung-hitungan materi saat pacaran.

Duh rasanya mau skip aja deh soal ini. Saya sama pacar juga gitu kok, nanggung keperluan senang-senang atau apapun berkaitan dengan materi sama-sama. Masa pacaran saya lebih lama, pernah LDR pula 4 tahun. Tapi saya malas ngitung-ngitung. Nggak mau saya perhitungkan juga sih. Biasa aja. Keluar uang buat biaya senang-senang selama pacaran itu bukan sesuatu hal yang aneh. Bagi saya yang aneh itu, kalau ada yang perhitungan sampai segitunya selama pacaran ngeluarin biaya berapa.

 

Poin keempat, belum punya biaya nikah.

Nggak semua orang ketemu jodohnya dalam keadaan udah mapan. Kalau ketemunya dari SMA, yaelah, anak SMA yang punya uang kalau dikasih orang tua doang, itu juga dipake buat jajan sama teman-teman atau pacaran ke mall sesekali, bisa punya uang berapa sih buat nabung? Sampai bisa punya penghasilan sendiri–katakanlah, saat sudah lulus dan dapat pekerjaan tetap–wajar aja kalau belum punya biaya nikah. Setelah punya pekerjaan tetap, perlu nabung setahun sampai tiga tahun lagi buat ngumpulin biaya nikah. Itu juga biasanya kebagi sama jatah nyenengin orang tua dan keluarga. Jadi, belum punya modal nikah itu bukan semata uangnya dipakai foya-foya, tapi karena memang uangnya belum ada, karena ada kebutuhan lain, atau simply belum cukup aja.

 

Poin kelima, tentang cewek yang mudah terpedaya.

Let me make it clear. Maksud Ema, cewek gampang dibodohi buat ngasih keperawanannya, gitu? Hmmm, soal ini, saya menyerahkan ke individu masing-masing. Ema sendiri harusnya nggak memiliki kapasitas buat ngomongin begini soal cewek. Ya ngasih keperawanan lah, ya test drive lah, untung rugi lah. Apaan, sih? Most of all, kayaknya Ema salah gaul deh. Teman-teman cowoknya kok pikirannya gitu banget soal cewek? Ema sendiri juga kok sampai hati banget buat ngomongin soal begini di media sosialnya, tanpa ada poin edukasi atau dorongan positifnya. Sigh.

 

Poin keenam, soal menunda kebahagiaan.

Siapa sih yang mau nunda-nunda pernikahan sama orang yang diyakininya tepat, kalau dia emang udah siap di segala aspek? Saya tau kok, menikah itu niat baik. Saya sama pacar juga punya niat itu. Tapi kami juga mengukur kemampuan kami, menyesuaikan waktu sampai kami benar-benar siap, memperhitungkan langkah untuk menuju ke sana. Nggak semata karena kami ingin, karena ada niat baik, lalu segera mewujudkannya. Lalu, selama kami mempersiapkan diri, kami berusaha melakukan apapun yang menurut kami baik untuk kami, yang bisa terus menjaga perasaan kami terhadap satu sama lain, yang bisa membuat kami terus saling mengenal, yang bisa membuat komitmen serta keyakinan kami semakin kuat untuk melanjutkan hidup bersama seterusnya. Jadi kelak, ketika kami benar-benar sudah terikat dalam pernikahan, kamu bisa memastikan bahwa kami memiliki fondasi yang kuat untuk membangun sebuah rumah tangga, karena kami sudah melatih kekuatan kami dalam waktu pacaran yang panjang itu.

Kami kuat karena kami terbukti bertahan menghadapi berbagai ujian yang datang seiring berjalannya waktu, bukan karena hubungan kami baru lantas kami menyegerakan menikah sebelum ujian itu datang dan berusaha menjegal langkah kami menuju ke sana. Lagipula, menikah itu bukan penyelesaian atas semua masalah.

***

Dalam konteks pacaran lama-lama ini, khususnya dalam hubungan saya dan pasangan saya sendiri, saya nggak membicarakan soal cinta, tapi kemampuan kami dalam saling mendampingi, mendukung, membahagiakan, menjadi tempat ‘pulang’ yang nyaman bagi satu sama lain, juga bagaimana kami punya ruang gerak yang cukup untuk mengembangkan diri kami masing-masing di dalam kebersamaan kami. Bagi saya, pacaran makin lama tuh bukan makin dimabuk cinta, tapi justru makin realistis soal cinta. That’s the best kind of love, for me. Cinta yang bertahan dengan segala kurang lebih dan baik buruk yang ada dan pernah menempanya. Bukan cinta yang belum pernah menghadapi ujian apa-apa.

Yang baru kenal pasangannya sebentar lalu memutuskan untuk menikah, pasti masih butuh banyak waktu untuk belajar hingga mencapai level ini. Beda pasangan yang sudah pacaran bertahun-tahun seperti kami yang sudah menari-nari di titik ini dan bersiap menyambut yang lain lagi.

***

Saya pribadi, turut berduka cita atas luka orang-orang yang sudah menjalin hubungan bertahun-tahun tapi akhirnya gagal. Saya turut senang buat orang-orang yang sudah menjalin hubungan bertahun-tahun tapi gagal namun akhirnya menemukan kisah cinta ala fairytale-nya setelah melewati masa-masa patah hati yang luar biasa tersebut.

Silahkan berbahagia dengan kisah cinta barunya, nggak perlu memandang rendah kami, para pasangan yang sudah pacaran lama ini, cuma karena kalian pernah ada di posisi yang serupa tapi gagal mempertahankannya.

 

 

Salam,

Dari kami yang berbahagia dengan kisah cinta ala negeri dongeng yang kami ciptakan sendiri. :p

 

 

 

***

Depok, Oktober 2017

Semoga bisa mewakili para pasangan yang sudah pacaran lama. Cheers!

Ribetnya Ngerawat Kulit Berjerawat, tapi Selalu Layak Dicoba!

Punya kulit wajah dengan tipe acne prone alias berjerawat itu emang nggak enak banget. Masalahnya bukan cuma bentol-bentol merah jelek di muka, tapi bisa sampe berpengaruh ke psikologis lho. Serius, cewek-cewek yang bernasib demikian (seperti saya tentu saja, makanya tulisan ini ada), pasti pernah ngerasain capeeeeek banget ngurusin jerawat tapi kok ya jerawatan terus. Semacam nggak udah-udah gitu. Hih. Belum lagi kalau lagi ditanya orang, “itu kenapa sih kok bisa begitu?” atau ada yang berbaik hati ngerekomendasiin coba pake ini itu ina anu sementara kita pun udah mencoba berbagai cara biar sembuh total. Nggak percaya diri? Pasti.

Tipe kulit wajah saya sendiri cenderung berminyak, dan mulai timbul jerawat itu dari kelas 2 atau 3 SMP gitu lah, lupa. Awalnya didiemin karena dulu dianggap “jerawat puber” *hyakelah* tapi nggak tahan lalu akhirnya menyerah di tangan dokter kecantikan waktu kelas 1 SMA. Kelas 1 SMA zaman saya, tjoy, yang lain masih buluk dekil pasrah dengan muka apa adanya, saya udah mainan dokter dan skin care yang sekali berobat bisa ngabisin biaya setengah juta.

Sembuh, kambuh, sembuh, kambuh, sembuh lagi. Gitu-gitu aja terus prosesnya dari dulu. Saya merasa semacam ketergantungan. Kalau nggak lagi pake skin care dokter pasti kambuh. Alhasil jadi balik terus, balik terus, ngikutin dokter disuruh treatment ini itu sampe capek, apalagi yang biayainnya. Hahaha. Kata ibu & bapak tentang rutinitas merawat wajah ke skin care ini, “kalo uang ngobatin mukanya si mpit dikumpulin, udah bisa beli rumah baru kita di (sebuah komplek mewah).” Lebay sih, tapi ya itu karena saking banyaknya. :))))

Ganti dokter udah berkali-kali. Nyobain skin care juga udah macem-macem dari produk drug store sampe racikan dokter, tapi jerawat tetap aja ada.

Dari hasil konsultasi sama dokter sana sini, saya jadi banyak “ilmu” tentang kulit berjerawat. Dari waktu ke waktu saya belajar memahami kondisi kulit sendiri, menerapkan do & don’ts yang pernah dikasih tau dokter, lalu menyesuaikan itu dengan produk-produk yang saya pilih untuk saya pake, khususnya untuk skin care drug store atau kosmetik. Kalau obat dokter sih, ya pasrah aja ya.

Klinik kecantikan terakhir yang saya kunjungi untuk berkonsultasi itu namanya Larissa, alhamdulillah cocok. Cocok banget! Sayang itu adanya wilayah Jogja dan Jawa Tengah, jadi setelah saya kembali ke rumah, susah untuk kontrol ke dokternya lagi supaya bisa update skin care (waktu konsul pertama kan masalahnya acne prone, jadi dikasih obat-obatan untuk itu). Pernah sekali waktu saya pulang ke rumah dan orang-orang rumah sampe takjub, “KOK MUKANYA BERSIH? PAKE APA?” segitu kotornya muka hamba selama ini ya Allah. TT_____TT

Nah, setelah jerawatnya bersih (lagi–karena kalau ke dokter pasti bersih, tapi rutinitas nge-dokter untuk ngurusin jerawat itu sempat berhenti) itu juga baru berani coba-coba pake produk drug store.

Intinya sih, saya sudah mulai paham kalau buat ngatasin jerawat itu bukan cuma perlu obat jerawat. Tapi perlu merawat aspek lainnya juga untuk tindakan preventif. Soal ini juga sedikit-sedikit saya pahami ketika sempat megang sebuah brand kecantikan khusus kulit sih. Bahahak.

Saya melakukan hal-hal dan beli-beli skin care yang saya tahu bisa menunjang perawatan wajah berjerawat itu, sampai ke hal terkecil seperti pentingnya double cleansing dan/atau deep cleansing.

Baca juga: A Basic Trip For Your Never Ending Acne Problem

Sekarang, jerawat sih ada-ada juga terutama kalau menjelang menstruasi. Tapi udah banyak banget berkurang seiring timbulnya kesadaran buat merawat yang nggak ala kadarnya doang. “Alat tempur” saya juga nggak istimewa-istimewa banget, masih sederhana; micellar water, milk cleanser, facial wash, scrub, toner, serum, dan pelembap. Bukan produk mahal pun, tapi yaa cukup lah. :))

acne
skin care dari Larissa yang masih saya pake untuk sehari-hari.

Pengalaman Jerawatan (parah) Terbaru

Sejak muka nggak jerawatan saya mulai berani makeup-makeup, ya walaupun cuma bb cream dan blush on aja sih yang nempel di muka sehari-hari, tapi tetep aja ya kan.

Sekitar 3 mingguan lalu, muka tiba-tiba jerawatan parah, ada jerawat gede-gede yang ngeradang gitu dan ada yang kecil-kecil masih ada mata putihnya. Gemes banget! Walau bukan baru pertama kali kayak gini, tapi tetep aja panik. Soalnya udah lama juga nggak jerawatan sampe begitu, dan itu kayak tiba-tiba gitu lho… hiks.

Nah, waktu itu saya emang lagi mau nambah skincare cosrx, tapi masih nimbang-nimbang pake apa. Sebelum jerawatan itu cuma pengin meratakan tekstur kulit sama cerahin aja sih, tapi karena jerawatan, belok lagi deh ke acne treatment.

Buat yang belum tau (serius nih ada yang belum tau?) Cosrx itu adalah skin care dari Korea. Tahun ini skin care Korea lagi hits banget kan, ya. Saya pun tergoda dan mulai pake sejak awal tahun 2017 lalu. Produk yang saya pake awalnya cuma Acne Pore Minish-serum. Alhamdulillah cocok, muka enak banget! Untuk jerawatnya pake produk lain sih, acne lotion dan krim racikan dokter dari Larissa itu. Jadi si Cosrx ini ibaratnya cuma finishing. Setelah itu pake Oil-free Ultra Moisturizing-nya, ini juga enak (udah, gitu aja).

Naaaah, pas jerawatan 3 minggu lalu, saya beli lah Cosrx lagi. Cosrx itu kan harganya kisaran 200 ribuan ya, walau gede-gede dan sebotol bisa habis 3 bulanan (bahkan lebih) sih, cuma karena ini untuk treatment jerawat jadi saya memutuskan untuk “nyoba” dulu dengan beli yang versi shared in bottle di online shop.

Produk yang saya beli adalah Natural BHA Skin Returning A-Sol (toner) dan Galactomyces 95 Whitening Power Essence. Dua-duanya di botol kecil ukuran 20 ml, harganya sekitar 50-60 ribuan gitulah.

april_2017-09-12-18-28-24-524[1]
penampakan sharing bottle cosrx yang beli di olshop, andalanquuuw~

Ngobatin jerawat kan nggak bisa dalam sekejap, jadi walau gemasssss banget liat muka ya saya pasrah aja, sabar, telaten “ngurusin” muka. Cuci muka (paling banyak 3 kali doang sih sehari, kan nggak boleh terlalu sering juga). Pertama pake micellar water, lalu dilanjut dengan milk cleanser, scrubbing, facial wash, toner, essence (Cosrx Galactomyces 95 Whitening Power Essence), toner (cosrx Natural BHA Skin Returning A-Sol) di bagian yang berjerawat, sampai terakhir pelembap. Nah, karena ini lumayan bikin muka oily jadi saya pake bedak tabur tipis-tipis. Gitu aja sih selama tiga mingguan, bener-bener menghindari makeup.

Alhamdulillah setelah tiga mingguan saya nggak malas lagi liat muka sendiri seperti tiga minggu lalu. Hahahaha! Jerawat gede-gede kempes tinggal merah-merahnya doang (of course, ini adalah bagian paling lain yang menyebalkan dari memiliki kulit acne prone). Tapi enaknya tuh jerawatnya bener-bener nggak meninggalkan bekas lain selain merah-merah tadi. Nggak jadi kering terus mengelupas sama sekali. Ditambah lagi karena pake essence-nya, pelan-pelan wajah mulai cerah dan halus. Wuihihiii ku happy~

Produk Cosrx yang beli versi sharing bottle itu belum habis sampe sekarang, jadi buat yang baru mau nyoba cukup banget lah segitu. Di samping itu, harga per botolnya Cosrx ini sekitaran 200 ribu, jadi kalau kamu mau nyoba 4 jenis produknya dan beli full sebotol, lumayan juga yaa buat yang budget skin care-nya pas-pasan kayak saya. Sungguh metode shared in bottle ini sangat membantu.

Home Treatment buat Wajah Jerawatan

Beberapa hal yang saya selipkan dalam skin care routine antara lain;

  1. Cuci muka dengan air hangat. Mungkin ini suggest saya aja sih, tapi air hangat itu kan bisa me-release stress, ya. Nah, kalau malam menjelang tidur, saya suka cuci muka pake air hangat tuh. Tujuannya? Biar muka rileks aja, hahahahaha. Terus juga air hangat bisa membuka pori-pori, bikin wajah lebih gampang dibersihin. Jangan lupa, setelahnya cuci lagi atau basuh saja dengan air biasa biar pori-porinya ketutup lagi. Asli, ini suggest aja sih, tapi worth to try nggak sih? Nggak susah juga kan. Oiya, hati-hati juga karena air hangat bisa bikin kulit kering. Jangan lupa setelahnya pakai pelembap.
  2. Maskeran dari bahan dapur. Waktu ke salah satu dokter dulu sih kalau nggak salah pernah dibilangin, kalau lagi jerawatan jangan masker-maskeran sembarangan. Nah, “sembarangan” di sini saya artikan ke masker-masker dari drug store terutama yang nggak diperuntukan bagi satu masalah kulit tertentu secara spesifik. Jadi emang saya hampir nggak pernah maskeran pake masker gituan. NAAAH, kalau mau maskeran saya pake bahan yang ada di dapur, misal; kopi hitam (beli yang sasetan OK tapi yang murni tanpa campuran), kopi juga bisa jadi scrub. Terus pake oats, putih telur, atau kalau lagi jerawatan banget pakenya air jeruk lemon dicampur madu. Lemon itu bisa bikin jerawatnya cepat kering, tapi kalau lagi jerawatan ditempel air lemon itu bakalan perih cenut-cenut, nah, sebagai penawar, saya campur air lemonnya pake madu. Madu juga punya zat antiinflamasi juga antibakteri yang bisa mencegah tumbuh kembang jerawat. (((( TUMBUH KEMBANG )))) bayi kali, ah.

Udah sih, gitu aja. Ngurusin muka berjerawat emang ribet. Harus telateeeeeeeeen banget karena nggak bisa sekali beres. Harus dirawat berkelanjutan bahkan sekalipun jerawatnya udah hilang. Demi muka bersih konclong bebas jerawat, apa sih yang nggak dilakukan sama kita-kita ini si pemilik wajah acne prone? :)))

PS:

  • Cosrx Natural BHA Skin Returning A-Sol ini recommended banget buat ngatasin jerawat!
  • Setelah diingat-ingat, kayaknya waktu awal jerawatan tiga mingguan lalu sebabnya karena saya makeup-an tapi bersihinnya nggak maksimal, selama beberapa hari sebelumnya saya melewatkan pakai micellar water sebagai pembersih makeup. Perkara males beli ke minimarket doang jadi jerawatan. Kezel!

 

 

***

Jakarta, September 2017