Persiapan Pernikahan Tanpa WO: Bagaimana Memilih Vendor?

box-business-celebrate-296878

Memilih mempersiapkan pernikahan tanpa bantuan vendor demi menghemat biaya punya pro dan kontranya sendiri. Salah satunya dari segi keribetan dan membagi waktu. “Kalau dua-duanya kerja, sibuk, nggak bakal sempat deh ngurus sendiri,” begitu yang ditakut-takutin sejak awal. Kami juga tentunya sempat khawatir soal itu, tapi balik lagi soal budget hemat, ya siap nggak siap harus siap ngurus sendiri.

Nyatanya sejauh ini kami berhasil ngurus semuanya tanpa bantuan wedding organizer. Yay! Capek, pasti. Tapi nggak seribet yang dibayangkan kok walau kami sama-sama kerja. Apalagi kami juga kadang mesti masuk di weekend, tapi kan kita nggak harus keliling tiap waktu. Kalau sudah dapat kontak kandidat vendor yang diincar, bisa hubungi nomor teleponnya dulu.

Untuk tahap awal, banyak kok vendor yang siap diajak ngobrol bahkan diskusi via whatsapp. Setelah sekiranya klik dari segi harga dan detail yang kita pinta, baru deh atur waktu ketemuan. Nah, weekend-weekend lengang yang kami punya biasanya dipakai untuk ini. Nemuin vendor yang udah klik saat ngobrol di whatsapp.

TERUS GIMANA NIH RUNUTANNYAAA?

Urus yang Besar-besar Dulu

Begitu masuk dalam tahap persiapan, bakalan kerasa banget sih kalau nikahan ternyata banyak banget perintilannya. Sama satu vendor aja tuh bisa bercabang-cabang, belum yang lain-lain. Tapi intinya sih beresin satu-satu, mulai dari yang besar-besar; venue – catering – dekor – rias – dokumentasi (lah, emang cuma itu nggak, sih intinya?). Karena kami nggak pakai WO, tentu saja kelima vendor utama itu kami jelajahi satu-satu. Pertama, venue. Wah, kami sih cari-cari sampai menetapkan venue aja banyak dramanya. Hahaha.

Cari venue pastinya sesuai dengan konsep. Kalau udah punya incaran vendor masing-masing, baiknya cari venue yang bebas charge kalau bawa vendor luar, atau ya siapin aja budget ekstra buat bayar charge—tapi kalau kami sih, sayang. Karena sudah jelas mau ngecer cari vendornya, jadi sejak awal menekankan cari yang free charge aja. Hahaha.

Umumnya juga catering dan dekorasi itu dari satu vendor biar dekorasinya in line tiap sudut. Tapi aries dan gemini emang pasangan adventurous, sukanya nyari tantangan. Kami pilih vendor catering dan dekor yang terpisah karena dapat catering dengan harga bersahabat. Biarin deh pusing, yang penting lebih murah. #prinsip

Dengan begitu otomatis dekorasi di area buffet pun akan kami bebankan ke vendor dekor—nah ini ada yang bersedia, ada yang nggak. Tinggal nego-nego aja deh tuh.

Untuk rias, bagi beberapa pengantin pilih perias yang “punya nama” itu penting banget demi menjamin kualitas. Tapi ya rupa dan harga kan pastinya berbanding lurus. Buat saya; yang penting pas di kantong dan gaya makeupnya cocok aja.

Dokumentasi, ini memang agak penting nggak penting dan sayang nggak sayang. Mau pilih vendor asal-asalan atau minta tolong teman yang punya kamera aja sekalian, tapi di tangan merekalah nanti wujud kenang-kenangan dari momen sekali seumur hidup kita bergantung. Jadi gapapa deh yang ini nggak pake nawar. Yang penting gaya dan tone foto mereka sesuai sama yang kita suka! Continue reading “Persiapan Pernikahan Tanpa WO: Bagaimana Memilih Vendor?”

Advertisements

Menikah Sebagai Pilihan

Pertanyaan “Kapan nikah?” hampir pasti menghampiri setiap orang di satu fase dalam hidupnya. Saya udah menghadapi fase itu, dan saya punya jawabannya. Jawaban yang kalau boleh saya bilang sebenarnya nggak didasari oleh kedatangan pertanyaan tersebut dalam hidup saya, tapi sepertinya jawaban ini sesuai dengan harapan banyak orang.

Siapa sih yang nggak pengin menikah?

Ada. Ada banyak orang yang bahkan don’t give a single fuck about marriage di luar sana.

Salah satunya, kakak perempuan saya.

***

Kakak perempuan saya ini anak kedua dari 4 bersaudara, saya anak terakhir. Usianya sekitar satu dekade lebih tua dari saya, and she isn’t married, yet. Kakak pertama saya (laki-laki) udah menikah dan punya dua anak. Kakak yang di atas saya (juga laki-laki) udah menikah dan punya dua anak. Itu berarti dia udah ‘dilangkahi’ oleh adiknya satu kali, dan akan segera ‘dilangkahi’ oleh saya sebentar lagi.

Dia seorang perawat berstatus PNS di sebuah RSUD di Jakarta. Melihat langkah-langkah yang dia ambil, saya bisa bilang kalau bidang keperawatan adalah passion-nya. Sejak tingkat menengah, dia ambil sekolah keperawatan—saya lupa namanya, di RSPAD—dan tinggal di asrama. Lulus dari sana, dia lanjut kuliah AKPER, lalu masih lanjut lagi, lanjut lagi, sampai dia ada di posisi sekarang ini.

Dia pernah terpilih jadi petugas Tenaga Kesehatan Haji Indonesia, mendampingi para jamaah yang berangkat ibadah haji ke Tanah Suci. Kalau jadi PNS itu memang salah satu jenjang karier yang ia damba, tentunya juga keinginan Ibu dan Bapak.

Seingat saya dia ikut tes CPNS lebih dari sekali dan sempat gagal. Tapi dia nggak menyerah sampai usahanya berbuah manis. Setelah perjuangan panjang dan proses bertahun-tahun, akhirnya dia mendapat apa yang dicita-citakan.

Ibu saya bangga. Bapak pun pasti bangga di sana.

Ah, ya, waktu Bapak sakit dan saya memilih pergi sembari menyembunyikan kesedihan, di antara kami berempat dia yang paling banyak mencurahkan waktu, tenaga, bahkan materi untuk mendampingi proses penyembuhan Bapak bersama ibu. Sampai saya merasa harus mengucapkan terima kasih saat memeluknya di hari Bapak meninggal, “makasih udah bantu ngerawat Bapak..” kata saya di tengah tangis kami yang pecah.

Di antara semua kehebatannya sebagai individu, masalah kapan nikah dan masalah jodoh nggak absen jadi bumbu-bumbu perjalanannya. Ibu sama Bapak tentu saja jadi yang paling khawatir. Usia mereka semakin tua, anak perempuan tertuanya belum juga menikah. Bapak juga mungkin meninggal dunia dengan sedikit perasaan sedih karena belum mengantarkan anak perempuannya menikah—sama sekali.

Gimana dengan kakak saya sendiri?

Saya nggak tahu apa yang ada dalam hatinya. Kedekatan kami nggak menjangkau masalah percintaan. Paling dia cuma cerita sepintas-sepintas ke Ibu. Ada pacar ke rumah pun *seingat saya* nggak. Atau mungkin pernah, tapi barengan dengan teman-teman lainnya jadi kami nggak sadar. Dia emang nggak se-terbuka itu.

Tapi, saya nggak pernah sekalipun ngeliat dia galau karena nggak ada pacar, karena belum nikah, karena teman-temannya pada menikah, atau karena adiknya menikah. Nggak pernah sekalipun. Nggak tahu gimana isi hatinya, tapi dia nggak menunjukkan kesedihan karena hal itu.

Status Facebooknya? Nggak ada tuh galauin jodoh.

Ibu-Bapak juga udah ikhtiar dengan menjodohkan kakak saya sama kenalan-kenalan dari kerabat mereka, nggak sekali tapi berkali-kali. Nggak ada yang ‘nyantol’. Kalau kata Ibu-Bapak (dan mungkin orang-orang di luar sana) dia banyak memilih soal jodoh. Kalau menurut saya; dia memilih untuk nggak memusingkan apa yang nggak ada.

Pilihan Caranya Merayakan Cinta

Kecemasan Ibu belakangan cuma satu, kalau adik-adiknya udah nikah, Bapak Ibu udah nggak ada, nanti dia sama siapa? Kecemasan itu juga dirasakan kakak saya, tapi sepertinya “suami” tetap bukan solusi utama buat dia.

Sebagai solusi dari kecemasan tadi, dia mengambil sebuah keputusan yang sangat berani. Jujur, sebagai adik dan sebagai perempuan, saya kagum. Instead of memaksakan diri untuk menikah dengan orang yang nggak dia yakini, dia memilih untuk… mengadopsi anak.

Dengan adanya seorang anak, dia berharap bisa berbagi kasih sayang, berbagi waktu-waktu berharga dengan ‘orang spesial’ lainnya, berbagi bahagia, dan mungkin juga berbagi kesedihan. Dengan adanya seorang anak juga dia jadi termotivasi untuk bekerja keras, karena selain Ibu—dan adiknya yang masih suka minta dijajanin ini—ada satu manusia lagi yang bergantung padanya dan menanti dibahagiakan.

Dengan adanya seorang anak, ‘pulang’ baginya jadi lebih berarti. Dengan adanya seorang anak pula dia akan belajar sesuatu yang baru, belajar jadi ibu.

Saya ingat masa-masa ketika wacana adopsi itu didengungkan. Saya malah nggak nyangka kalau rencana itu serius, sampai akhirnya seorang bayi perempuan mungil hadir sebagai kebahagiaan yang lahir di antara kepungan harapan dan keputusasaan.

Somehow saya yakin keinginannya untuk dipertemukan dengan anak ini turut dia bawa saat pergi Umroh sama ibu. Di Jabal Rahma yang kata orang bukit kasih sayang, tempat orang-orang berdoa memohon jodohnya; kakak saya mungkin berdoa meminta teman hidup, maka nggak lama pulang dari Tanah Suci, terjadilah pertemuan yang ditunggu-tunggu. Bukan dengan jodoh yang berupa suami, tapi seorang anak perempuan.

Yes, my sister have an adopted daughter. She choose a baby daughter to be the love of her life.

Anaknya diberi nama seperti sebuah nama yang dia temukan di Jabal Rahma dan begitu meninggalkan kesan di hatinya.

Saya bangga sekali dengan kakak perempuan saya, sungguh. Saya ngomong gini bukan karena saya akan segera menikah dan ‘melangkahi’ dia, saya ngomong gini karena saya yakin menikah itu pilihan, dan saya amat menghormati pilihan setiap orang. Kalaupun bukan kakak saya yang memilih jalan lain selain menikah seperti ini, saya akan tetap menghormatinya. Karena, ya kenapa juga saya nggak hormati? Hidup, hidup dia. Pilihan dia. Dia yang menjalani.

Saya memilih menikah dengan laki-laki yang saya cintai dan saya yakini sebagai partner berjuang nan sepadan. Kakak saya memilih berkarier dan berbagi cinta dengan seorang anak perempuan yang diadopsinya. Nggak ada yang salah dengan itu semua.

Orang-orang di luar sana mungkin akan banyak yang menyayangkan, atau bahkan mengasihani kakak saya ketika saya benar-benar udah menikah nanti. “Yah, dilangkahin lagi..” Tapi saya yakin kakak saya nggak sama sekali menangisi pilihannya. Saya pun.

Saya akan jadi orang pertama yang mengangkat gelas andai kami punya kesempatan untuk bersulang nanti, untuk kakak saya, dan pilihan cara kami yang berbeda dalam merayakan cinta. 🙂

***

Depok, Juli 2018

Menyalurkan energi sendu untuk mengungkapkan kekaguman yang terpendam.

Suka Duka Mempersiapkan Pernikahan Tanpa Bantuan Wedding Organizer

arm-desk-hand-58457
Suka duka mempersiapkan pernikahan tanpa bantuan wedding organizer. (Foto: pexels.com)

Disclaimer: postingan ini mungkin akan berbau curhat dan ditujukan untuk sharing pengalaman baik sama yang sedang merasakan, baru akan merasakan, atau sudah merasakan

YA AMPUUUUN, TERAKHIR UPDATE BLOG 3 BULAN YANG LALU, COBA! HUHUHU.

Ya, dari selesai acara lamaran sampai ke sini agenda kegiatan memang padat sih. Kerjaan lagi heboh-hebohnya, belum lagi jadwal kondangan yang ada aja tiap bulan, plus menyiapkan keperluan atau mengunjungi vendor sana sini semacam udah jadi rutinitas akhir pekan.

PLEASE WELCOME ME TO THE BRIDEZILLA CLUB.

Kami memulai persiapan pernikahan setelah acara lamaran selesai. Hal yang pertama dilakukan adalah merinci pernikahan impian dalam angan-angan ke dalam rencana yang serealistis mungkin. Indikator realistis atau nggaknya cukup dua aja; 1) kemampuan membiayai, 2) approval keluarga.

Sejauh ini, saya dan Cami merasa masih berada dalam batas realistis. Soal keinginan, kami cukup vokal memperjuangkannya di hadapan keluarga—dengan syarat; dari segi apapun nggak menyusahkan.

Well, ngomongin persiapan pernikahan tuh nggak akan jauh-jauh dari soal biaya. Itu juga sebabnya sejak awal kami mutusin untuk nggak pakai jasa wedding organizer, in the name of menghemat biaya. Beberapa teman sih menganjurkan untuk pakai, karena ngurus pernikahan sendiri itu ribet. Pakai jasa WO bisa mengurangi sampai 50% keribetan karena kita bisa menyerahkan hampir seluruhnya ke mereka, dan kita tinggal ribet ke mereka. Bagian ribet ke vendor dan segala perintilannya, biar urusan WO. Tapi ya balik lagi, kami mau mewujudkan pernikahan kami dengan biaya sehemat mungkin. Jadi, bismillah aja dari awal; semuanya diurus berdua, tanpa bantuan WO.

Susah?

Jangan ditanya! Susah banget. Saking banyak yang harus diurus, sampe nggak kerasa itu tenaga dan waktu segitu banyak tuh habisnya ke mana. Mana yang paling bikin pusing, mana yang paling ngeribetin. Hhhh. Mungkin ini yang bikin banyak pasangan akhirnya jadi cranky. Sejujurnya saya juga, apalagi waktu sekitar 2 bulan pertama setelah lamaran, Cami tiap weekend ada kerjaan ke luar kota, ke luar negeri, ndilalah, KAPAN MAU SIAP-SIAPNYAAAAA. Tapi ya tapi, alhamdulillah dia nggak ngelepas saya untuk pusing sendiri. Saya juga nggak terlalu memforsir diri untuk pusingin persiapan pernikahan ini saat dia lagi benar-benar nggak bisa bantu, jadi saya nggak pernah ngerasa “dia mah enak-enak aja, gue yang pusing!” sama sekali. Alhamdulillah kami bener-bener nyiapin semuanya bareng, daaaan… ini penting banget terutama buat calon pengantin yang milih untuk nggak pakai jasa WO kayak kami.

Modal penting selain uang harus dipunya pasangan dalam masa persiapan pernikahan adalah dukungan bagi satu sama lain. Jangan biarin pasangannya ngerasa sendiri. Selalu luangkan waktu saat ada yang membuka diskusi, saling ngingetin apa yang perlu dikejar, apa yang belum, apa yang udah. Pastikan juga kamu dan pasangan sudah satu suara, jadi ketika presentasi di depan keluarga lalu diperdebatkan; kalian bisa saling bela.

Continue reading “Suka Duka Mempersiapkan Pernikahan Tanpa Bantuan Wedding Organizer”

Hebohnya Lamar-lamaran!

Habis pacar-pacaran, terbitlah lamar-lamaran. Bagaimana akhirnya saya dan Cami menjajaki fase lamar-lamaran ini sudah diceritakan di postingan sebelumnya. Silahkan baca: Halo, Bride-to-be!

Saya nggak catat kapan tepatnya, pokoknya Cami ngomong sama ibu di rumah tentang rencananya untuk melamar saya secara resmi dengan keluarganya. Dari pembicaraan tersebut terucap lah; Februari. Baik. Setelah diskusi-diskusi antar keluarga yang dijembatani oleh saya dan Cami, namun pada akhirnya ditetapkan karena ibu ngegas ngundang saudara sampe nyebut tanggal, akhirnya acara lamaran kami dilakukan tanggal 4 Februari 2018.

Pertanyaan selanjutnya adalah; mau bikin acara di mana?

Acara lamaran zaman sekarang tuh macam-macam. Nggak cuma di rumah tapi juga di restoran, bahkan di hotel. Mungkin yang dicari adalah faktor praktis dan tempat yang memadai, ya. Kalau budgetnya ada, dua tempat itu pilihan yang bagus. Kalau kami dari awal maunya nggak spending too much money buat acara lamaran ini kekeluargaan aja, di rumah. Ngundang-ngundang, tapi nggak banyak. Saran seorang teman mengenai acara lamaran ini; undang orang-orang yang bahagia liat lo bahagia aja.

Baik.

Acara sudah dipastikan berlangsung di rumah. Persiapannya kami lakukan kurang lebih selama sebulan. Nggak banyak sih, tapi tetep lumayan stressful. Haha. Coba saya rangkum, ya. Begini kira-kira persiapan acara lamaran di rumah *versi kami*.

  1. Cincin. Pasangan yang mau lamaran pasti bertanya-tanya, cincin pas lamaran (pertunangan) ini sama nggak sih sama cincin kawin? Jawabannya; bisa sama, bisa beda. Tergantung keinginan pasangannya aja. Di tunangan ini juga nggak mesti kedua belah pihak sama-sama pakai cincin, ada kok yang cuma ceweknya aja. Malah ada juga yang nggak pakai cincin, tapi kalung atau gelang. Ya, intinya cincin itu simbol “ikatan” antara pasangan aja, terserah kalau ada yang mau pakai simbol lain.
  2. Tenda. Rumah saya nggak terlalu besar dan nggak mungkin bisa menampung semua tamu di dalam rumah, jadi tenda itu harus. Acaranya mengambil tempat di teras sampai jalanan depan rumah, pakai tenda tertutup biar lebih privat aja.
  3. Catering. Makanan yang tersedia di acara lamaran ini home-made alias masak sendiri dengan bala bantuan dari keluarga. Menunya menyesuaikan dengan prakiraan selera *ehem* calon besan. Haha. Pokoknya dilengkapi ajalah dari menu pembuka sampai penutup.
  4. Dekorasi. Bukan dekor-dekor banget kok, cuma backdrop di satu sisi tenda sebagai latar buat acara utama dan foto-foto aja. Nah, sebenarnya backdrop ini buanyaaaakk banget yang sewain kalau kamu mau. Untuk backdrop lengkap (kayu palet, bunga-bunga, dedaunan, barel, sign board, etc) itu rata-rata harganya mulai dari 1 juta. Kalau sewa bunga-bungaan kertasnya aja, start from 200 ribu juga ada. Kebetulan saya nggak terlalu suka bunga-bungaan besar warna-warni gitu, saya mau daun aja. Jadilah saya sotoy untuk ngedekor sendiri. Lagian, referensi saya sederhana, makanya saya optimis bisa menirunya. Beli dedaunan artifisial begitu, di e-commerce harganya belasan ribu per helai, panjangnya rata-rata 2 meter. Untuk dekor seperti contoh, paling banyak butuh 20 helai lah ya. Lainnya bisa pakai yang ada di rumah. Kalau ada. Hahaha. Tapi ternyata waktunya terlalu mepet kalau mau beli dedaunan itu secara online dan kalau beli di toko, harganya beda sama perkiraan. Akhirnya, saya minta dibuatin backdrop sama tempat saya sewa tenda aja. Eh dikasih gratis. *Rezekiiiii*
  5. Pakaian. Kayaknya wajib hukumnya ya pakai pakaian dengan warna yang senada dengan pasangan, biar kalau di foto bagus aja sih. Saya juga menghindari kebaya. Waktu saya cari, kebetulan saya dapat model baju kurung gitu, cocok dipasangkan dengan kain biasa atau songket buat tampilan formal. Warnanya pun senada sama baju yang mau dipakai Cami. Sip. Bungkus!
  6. Makeup. Kalau biasa dandan sendiri, nggak ada salahnya dandan sendiri. Kalau ada teman yang bisa dandanin, mintalah temannya dandanin~ Karena saya lagi jerawatan banget pas menjelang acara itu, saya mantap lah pakai jasa teman makeup artist biar jerewi-jerewinya tertutup sempurna.
  7. Ring bearer! Masa-masa ring bearer berbentuk hati dari toko emas sudah lewat! Ring bearer masa kini lucu-lucu banget, asli. Nah, buat ring bearer, nggak ada salahnya kamu beli yang bagus dan udah didekor, karena bakal kepakai untuk akad nanti. Di instagram/e-commerce banyak dijual dengan harga 300ribuan, tapi jangan lupa teliti barangnya harus pre-order atau ready stock, ya. Banyakan sih pre-order. TAPIIIIII, buat yang di daerah Jakarta dan sekitarnya, coba cari di tempat saya beli ring bearer kemarin; Cikini Gold Center. Harganya miring banget, shay! Terus bisa didekor sesuai kemauan. Kemarin saya nungguin ring bearer saya didekor, milih sendiri hiasan apa yang mau dipakai. Jadinya bagus banget karena sesuai dengan yang diidam-idamkan. *terharu*

    IMG20180125220911
    Ring bearer yang mirip kebon, tinggal tambahin jangkrik.
  8. Dokumentasi. Nggak harus pakai jasa profesional, kalau memang ada teman yang punya gear OK dan bersedia membantu, why not? Tapi jangan sampai nggak. Setidaknya harus ada foto yang proper untuk mengabadikan acara ini. Saya sendiri tadinya mau pakai jasa pro dari teman kenalan Cami, tapi karena satu dan lain hal ujung-ujungnya minta tolong teman sendiri aja. Thanks banget nih, Yob!

Oh ya, berdasar pengalaman kemarin, saya jadi pengin kasih notes khusus mengenai dokumentasi di acara lamaran ini;

  • Baiknya direncanakan bagaimana proses foto-foto setelah acara. Kemarin begitu selesai tukar cincin, saya sibuk foto-foto sama teman dan sedikit sekali foto sama keluarga.
  • Saya juga lupa menginstruksikan supaya yang pegang kamera ini juga mengabadikan suasana/tamu-tamu lain selama acara. Jadinya memang setelah selesai, ya banyakan foto saya. Tapi berhubung dia juga pegang kamera sendiri—wajar kalau dia nggak bisa menangkap semua momennya. Intinya sih “yang penting ada”, kalau mau lebih proper bisa pakai jasa fotografer pro atau minta tolong lebih dari satu teman dan brief mereka dengan jelas apa-apa saja yang harus mereka abadikan.

Tambahan:

  • Kami nggak ada seserahan/hantaran di acara lamaran ini. Kami sepakat itu nanti di hari-H aja. Tapi ada juga yang seserahannya dibawa pas lamaran, jadi pas mau akad & resepsi tinggal prosesinya aja.
  • Walau makanan dibuat sendiri di rumah, peralatan makan dan prasmanan tetap sewa biar seragam.
  • Jangan lupa percayakan pada satu-dua orang teman untuk finishing persiapan saat kamu mungkin sibuk dandan, misal menyusun kursi-kursi tamu dan mengatur posisi duduk tamu di spot acara, jaga-jaga kalau kamu harus mengurus yang lain saat persiapan itu berlangsung. Kemarin di acara kami, kursi yang posisinya berhadapan untuk pihak keluarga, susunannya nggak proporsional. Yang dudukin juga bukan keluarga. Hiks.

 

***

Saya pernah diingatkan sama seorang teman untuk nggak terlalu ngotot mengejar kesempurnaan dalam acara-acara penting yang akan berlangsung ini. Alhamdulillah, saya ngerasa nggak muluk-muluk, saya cuma berusaha supaya acaranya berjalan sebaik mungkin biar meninggalkan kesan dan kenang-kenangan yang baik juga buat kami, keluarga, dan teman-teman yang hadir.

Kemarin di acara lamaran kami hujan deras, acara yang berlangsung di luar ketolong sama kain penutup di semua sisi tenda walau beceknya nggak terhindarkan. Untung saya suka hujan. :))) Lagipula, dinginnya udara terhalau sama kehangatan acara itu kok. *SHAELAH*

Terus, nggak nyangka juga ternyata teman-teman yang datang banyak. Padahal seingat saya pas saya mau ngundang-ngundang itu, saya membuat daftar di kepala, mengingat siapa aja teman-teman yang biasanya berbahagia kalau saya bahagia. EH TERNYATA BANYAK. Alhamdulillah.

Terlepas dari segala kekurangannya, acara berjalan dengan lancar. Per tanggal 4 Februari kemarin saya dan Cami sudah resmi bertunangan. Hahaha! Lucu, ada cincin di jari manisnya walau masih sebelah kiri. x))

Terima kasih semua yang sudah hadir dan membantu kelangsungan acara ini, ya. *Kecup satu persatu*

Terima kasih juga Camiiiiiii yang sangat kooperatif diajak riweuh.

 

Next: PERSIAPAN PERNIKAHAN! *kencangkan ikat kepala*

 

***

Depok, Februari 2018

The Right One; Diperjuangkan atau Datang Sendiri?

Pagi ini saat iseng nelusurin linimasa twitter di perjalanan menuju kantor, saya terhenti pada sebuah twit pic yang diunggah seorang temnh. “Ini debatable sih,” katanya. Ini foto yang dia unggah:

DUbxkPFVMAAmfsB

Saya cuma reply twitnya dengan “hmm,” udah kayak cewek-cewek kalau lagi ngambek sama pacarnya, terus males ngomong, tapi mau ngobrol, tapi ngambek, tapi.. yaudah lah ya nggak usah dibahas.

Saat saya balas begitu, sebenarnya saya sedang meramu kata-kata dalam benak saya. Banyak yang tersirat dan rasanya ingin saya utarakan, tapi ujung-ujungnya ya itu tadi, balas “hmm” doang. Bhahak. Teman saya balas lagi, “Menurut ngana gmn? Apakah the right one tinggal ongkang-ongkang kaki menjalani hubungan? Atau status the right one itu juga harus di raih dan di gapai? Mohon penjelasannya.”

KOK BERASA MAMAH DEDEH LAGI DICURHATIN YA.

Saya punya jawaban yang menyertakan cerita-cerita, tapi saya sungkan menjawabnya lewat medium twitter. Jadi, saya cuma balas dengan gif yang menyertakan penggalan lirik lagu Fix You.

But if you never try, you’ll never know.

Harus coba dulu untuk tahu dia orang yang tepat atau bukan, dan di antara mulai mencoba sampai tahu dia orang yang tepat atau bukan ada lagi proses panjang. Proses yang mungkin, pasti, berbeda-beda pada setiap pasangan.

Kalau pertanyaan itu ditujukan ke saya, tentu jawaban saya adalah “dicari”, atau lebih tepatnya; diciptakan sendiri.

Saya nggak ketemu pasangan saya saat ini dalam kondisi yang benar-benar layak untuk disimpulkan sebagai “the right one”. Kami bertemu dalam kondisi yang masih sama-sama kacau, sama-sama liar. Kamu menjalin hubungan yang panjang dengan cacat di sana-sini, baik sengaja maupun nggak sengaja. Sampai saat ini, kami melalui waktu 7 tahun dengan naik turun, dengan duka dan bahagia, dengan tangis dan dengan tawa. Kami penuh amarah, tapi kami juga berbagi kasih.

Ada kalanya kami saling menyakiti. Tapi di samping semua gengsi, kami selalu berusaha mengedepankan hubungan kami, dan dukungan terhadap satu sama lain sebagai individu pun mengikuti di belakangnya.

Apa proses itu semua berlangsung cepat? Apakah mengenai dia the right one atau bukan itu hasilnya bisa diketahui secara instan? Tentu saja nggak. Sampai saat ini mungkin bisa dibilang kami masih berproses.

Jadi, pasangan saya sekarang ini sudah bisa dibilang the right one atau bukan?

Dia bisa jadi the right one buat saya kalau saya mau membuat dia jadi the right one, dan saya mau. So, yes, he’s the right one for me.

The right one yang nggak datang dengan sendirinya. The right one yang nggak datang di saat kami sudah sama-sama sempurna. The right one yang saya ciptakan dan saya perjuangkan, bersama-sama dengan dia.

Tapi…

Nggak bisa dipungkiri juga kalau di luar sana mungkin ada orang yang faktor keberuntungannya luber-luber, khususnya dalam hal cinta. Dipertemukan dengan orang yang tepat, effortlessly.

Tapi juga…

Buat saya the right one itu bukan awal sekaligus akhir titik pertemuan. Menjadi the right one adalah tentang cara menjalani. The right one itu soal kemauan untuk menjadi tepat bagi satu sama lain, bagaimana setiap pasangan berusaha menjelma jadi segala yang dibutuhkan bagi satu sama lain sepanjang perjalanan.

Kita bisa aja menganggap orang yang baru bertemu dengan kita kemarin sore sebagai “the right one”, tapi kalau pada kenyataannya dia nggak mau diajak berjuang bersama dan nggak mau diajak berusaha memantaskan diri untuk jadi tepat bagi satu sama lain, bagaimana dia bisa membuktikan kalau dia adalah the right one?

Jadi, the right one itu bakal ditemukan effortlessly, atau harus dicari?

Kalau kamu nggak seberuntung itu untuk langsung menemukan seseorang yang tepat buatmu, setidaknya perkuatlah kemauan untuk belajar dan berjuang bersama sampai sama-sama menjadi tepat bagi satu sama lain.

***

Depok, Februari 2018

Halo, Bride-to-be!

Yak, akhirnya bikin satu kategori khusus di blog seperti calon pengantin lainnya! AHAHAHA. Halo, Bride-to-be!

Sebelumnya sudah ada sedikit teaser di postingan ini tentang Cami yang tiba-tiba nanya, “kalau aku mau lamar kamu, aku bawa uang berapa ya?” pada suatu malam. Nggak paham juga sih kenapa dia nggak nanya dulu “kamu mau nggak nikah sama aku?” gitu, mungkin karena dia udah tahu jawabannya pasti “YA MAUK LAH YANG BONENG AJA YOU!” kali, yaaa. Well, lewat blog ini saya ingin mengabadikan momen-momen menuju our big day. Biar lucu aja kalau dibaca-baca nanti. Soal informasi, sih, pasti banyak yang kasih info serupa.

***

Kelanjutan dari pertanyaan itu adalah Cami mulai kasih teaser ke orang tuanya soal niat dia melamar. Waktu Cami nyampein itu, mamah dan bapaknya Alhamdulillah ngizinin (sebelumnya kalau nggak salah sempat bilang  “nanti dulu..”, kayaknya itu pas baru-baru kerja). YEAY! Dapat angin segar~ Tapi waktu itu saya masih belum langsung bilang ke ibu. Sempat ibu ‘nagih’ kami untuk nikah tapi saya nggak bilang kalau kami sudah punya rencana perihal tersebut. Alasannya cuma menjaga keadaan tetap tenang kok, biar kami juga bisa siap-siap dan mantapin hati dalam keadaan tenang. Soalnya ibu sudah sering nagih, nggak kebayang kalau dijawab “Iya, bu, ini udah rencanain kok”. Pasti langsung heboh! :)))

Setelah pembicaraan singkat-singkat soal rencana itu sama Cami, hal pertama yang kami lakukan adalah beli cincin. Bulan Oktober 2017, saya dan Cami pesan cincinnya. Kenapa pesan? Tadinya karena kami memang mau cincin dengan model yang agak unik, terutama Cami, sih. Sayangnya setelah cari informasi dan tanya-tanya langsung di toko yang mudah kami jangkau di sini, tokonya nggak bisa buat cincin seperti yang kami mau. Akhirnya kami tetap pesan namun dengan model yang nggak istimewa-istimewa banget.

Pasangan lain yang mau nikah tuh cincin belakangan nggak, sih? :))) Niat saya mah beli cincin waktu itu supaya kami semangat nyiapin hal-hal selanjutnya. Hehehe. Tapi jadinya lumayan lho, pasangan lain yang sedang menuju tahap ini mungkin bisa menirunya. Beli cincin dulu, biar kalau mau nagih nikah ke pacar, gampang; “Sayang, cincin yang kita beli mau didiemin lama-lama nih?” #sebuahprotip.

Proses pembuatan cincin itu dari pertama kami pesan sampai kami ambil, pas banget sebulan. Tadinya setelah cincin jadi, saya mau minta Cami langsung sounding ke keluarga. Pertama ke makam bapak, lalu bilang ke ibu. Eh jadinya tertunda 2-3 minggu karena ternyata dia harus berangkat ke Vietnam.

Baru sekitar pertengahan Desember 2017 Cami bilang ke ibu, dan di situlah kehebohan yang sebenarnya dimulai…..

*menerima kalung penobatan bridezilla dengan senyum cemerlang dan hati lapang*

 

Mohon doanya semoga perjalanan ini lancar dan menyenangkan ya, teman-teman!

 

 

Cheers!

***

Jakarta, Januari 2018

PS: Jauh sebelum ada rencana soal pernikahan, saya sudah sebut si patjar dengan nama Cami, jadi tulisan Cami di sini nggak bermaksud untuk nyebut Calon Suami. #dijelasin

2017 dan Hal-hal Berarti di Dalamnya

2017-11-02-11-39-23-02[1]

Alhamdulillah penghujung tahun ini bisa libur cukup panjang. Alhamdulillah juga tulisan ini diawali dengan ‘Alhamdulillah’, muahahaha. Tujuan saya membuat tulisan ini, selain untuk membuat catatan kecil seperti tahun-tahun sebelumnya, memang untuk membuat pengingat agar saya selalu bersyukur.

Alhamdulillah~

Sedikit flashback ke penghujung tahun sebelumnya

Di ujung 2016 lalu saya baru kembali menulis catatan seperti ini setelah absen satu tahun karena kondisi yang terlalu buruk. Syukurnya, saya nggak berlama-lama stuck dalam keterpurukan itu. Pertengahan tahun 2016 saya kembali ke rumah, lalu mulai bekerja di satu tempat yang bikin saya ngerasain punya kartu pers. :)))

Itu salah satu rencana saya sepulangnya dari Jogja dan resign jadi anak ahensi, sih. Berhubung kuliah lanjutan saya di jurusan jurnalistik, rasanya belum afdol kalau belum ngerasain kerja di media. Eh, kesampaian. Hehe. Sejujurnya itupun belum cukup memulihkan optimisme hidup saya ketika itu, sampai akhirnya di penghujung tahun, saya officially berkesempatan untuk nonton konser Coldplay.

Sebagai rakyat jelita yang baru merintis karier di ibukota, saya nggak memaksakan diri untuk ngikutin #AHFODTour di Eropa, Amerika, atau Australia. Eh entah gimana ceritanya tahu-tahu band kesayangan saya mengumumkan bahwa mereka akan memperluas turnya sampai ke Asia.

Tahu nggak sih, rasanya tuh kayak lagi naksir kakak kelas terus ternyata kakak kelasnya juga naksir kita! Beda level tapi ya gitu deh euforianya. Saya pun tergerak untuk mengupayakan segala cara supaya saya bisa nonton.

Saat menulis ini saya baru sadar, sepertinya momen itu yang membangkitkan gairah hidup saya setelah ditinggal bapak. DAN YAAMPUN PAS BANGET INI PLAYLISTNYA LAGI MUTERIN UP&UP! We’re goin to get it, get it together i know~

Karena Coldplay konser di Asia saya jadi punya sesuatu untuk dikejar dengan semangat. Lagi. Konser Coldplay di awal tahun 2017 jadi bahan bakar saya untuk kembali melaju dan mengejar ketertinggalan oleh sekitar selama saya menangisi kehilangan yang saya rasa.

So, highlight tahun ini pastilah NONTON KONSER COLDPLAY. Yeay!

IMG_6729[1]
A Head Full Of Dreams Tour, Singapore 2017.
2017 juga tahunnya drama tentang karier. Profesionalitas sungguh diuji sepanjang tahun sampai berdampak ke ranah pribadi. Berkali-kali saya jadi seperti anak kecil yang pulang ke rumah nangis-nangis karena di luar dijahili temannya saat main. Minta piknik ke Jogja dialemin. Ah, ya! Pertengahan tahun ini juga rasa kangen ke kota itu mulai nggak terbendung! Sudah berusaha nahan untuk nggak ke Jogja karena lagi nabung untuk sesuatu *uhuk*, tapi akhirnya ke Jogja juga. Alhamduuuu? Lillah. Harus nangis-nangis sepulang kerja dulu, harus mutung dulu, biar punya alasan kuat untuk impulsif. Thanks to partner keimpulsifanku yang sudah acc proposal piknik singkat ke Jogjanya. Percaya nggak percaya, piknik singkat ke Jogja itu sungguh memulihkan mood kerja. *fiuuh*

Last quarter tahun ini juga dimeriahkan oleh pertanyaan Cami pada suatu malam, “kalo aku mau ngelamar kamu, aku bawa uang berapa ya?”

EAAAAAAA.

Yhaa, nggak usah banyak-banyak, bae. Sejumlah 20% dari seluruh saham Tony Stark aja akumah.

Pengin sok kaget, tapi ya gimana. Udah ngarep banget ditanyain begitu jadinya nggak kaget, malah rasanya pengin jawab “YAUDALAH DI KANTONG KAMU SEKARANG ADA BERAPA AYOK KITA NIKAH SEKARANG JUGA!” *mureeee*

>>>> SKIP <<<<

Pelajaran yang perlu saya garis bawahi di 2017 ini adalah tentang focus on what’s matter. Setiap orang punya lika-liku dan euforianya sendiri dalam hidup, begitu juga dengan teman-teman kita. Kita nggak bisa maksa mereka untuk terlibat dalam euforia kehidupan kita kalau mereka nggak ingin.

Kita punya mimpi, orang yang paling bertanggung jawab untuk menghidupi mimpi tersebut ya kita sendiri. Orang lain nggak harus ikut bersusah-susah mewujudkannya. Saat kita sudah berhasil mewujudkannya pun, belum tentu mereka bakal sama bersukacitanya dengan kita. Jadi ya sebisa mungkin nikmatin aja sendiri. Kalau ada yang mau ‘terlibat’ dengan suka rela, tanpa diminta, hargai dia. Jaga baik-baik. Kepadanya lah kita perlu mencurahkan perhatian lebih.

Bukan berarti harus mengurangi perhatian ke yang lain sih, cuma yang begitu-begitu nggak usah terlalu dipikirin. *ngomong sama diri sendiri*

Kalo kata @soyidiyos di twitter; “Ada kalanya kita hilang kontak dengan teman dan sahabat. Bukan karena sombong, tapi karena kita sedang sibuk dengan peperangan kita masing-masing.” Sungguh sebuah petuah yang bijaque.

Saya paham banget tumbuh dewasa itu menumbuhkan tanggung jawab yang lebih banyak pula. Banyak yang harus dipikirin. Meski hanya kecil-kecil, tapi banyak. Mungkin hal itu yang kadang, bikin kita abai dengan orang-orang terdekat kita.

Kita sibuk dengan peperangan kita masing-masing.

And it’s all fine! Mungkin itu salah satu bagian dari kehidupan orang dewasa, dan saya belajar menerimanya sebagai perubahan yang dibawa hidup. Perubahan yang pasti ada dan terjadi setiap waktu bergulir.

***

2017 adalah tentang menguatkan kaki untuk berdiri tegap dan berlari lagi, tentang self confidence, juga tentang mencintai dengan tidak egois–baik ke pasangan, keluarga, maupun teman-teman.

Saya nggak tahu apa yang akan terjadi di 2017 nanti, tentu saja. Saya cuma berharap apa yang saya dapat di 2017 ini bisa jadi perbekalan cukup untuk menjalani tahun 2018 dengan dagu kembali terangkat dan senyum yang mengembang.

Kecup saya untuk kita semua yang berhasil meniti tiap langkah di 2017 dengan berani.

 

Cheers, to survive 2017 and the years to come!

 

 

***

Depok, Desember 2017