Something I Never Did

Memutuskan mundur diri sejenak dari dunia kerja adalah puncak dari kecarutmarutan yang saya rasakan beberapa waktu belakangan. Singgungan energi negatif yang intens merusak fokus saya akan hidup yang seimbang. Pekerjaan yang sudah jadi rutinitas seharusnya terasa lebih ringan karena pasti lebih dipahami seluk-beluknya, namun yang terjadi adalah sebaliknya.

Saya menyerap banyak energi negatif yang tak mampu saya olah dan akhirnya menularkan pada sekitar, khususnya… suami.

Waktu itu, saya merasa sibuk dengan diri saya sendiri hingga berujung merasa saya mengabaikan dia. And it’s not good for me. Di antara sekian banyak hal yang harus saya jaga dengan integritas di umur segini, buat saya hubungan dengan suami tidak boleh dinomorsekiankan. Ia harus jadi prioritas dan saya harus pastikan bahwa dia merasa diprioritaskan oleh saya. Ini bagian dari upaya saya menjaga a lifetime commitment yang kami ikrarkan dalam pernikahan.

Bucin? Bukan, buat saya itu caranya bertanggung jawab atas komitmen yang dibuat. Ketika saya merasa tidak dapat memenuhinya, ya gagal lah saya. Makanya, saya memilih berhenti sejenak dari pekerjaan dan memperbaiki kondisi ini sebelum semuanya terlampau kacau untuk diperbaiki.

Kehidupan Baru Sebagai Fulltime Ibu Rumah Tangga

Salah satu PR besar yang saya buat untuk diri saya sendiri di waktu rehat ini adalah; to make our house feels like home. Caranya? Paling utama, saya membuatnya nyaman dengan selalu memastikan keadaan rumah selalu rapi dan bersih. Tentunya saya jadi punya banyak waktu untuk menyelesaikan urusan domestik seperti ini. Beda dengan sewaktu kerja yang rasanya terlalu malas untuk menyapu dan mengepel. Barang-barang tercecer, menumpuk, tergeletak di tempat yang tidak semestinya. Rumah ini jadi sekadar tempat singgah untuk tidur.

Dalam masa-masa istirahat bekerja kantoran sekarang, alhamdulillah semua teratasi. Perlahan rumahnya terasa lebih homey. Cuma satu cita-cita yang belum terlaksana selama berumah tangg; mau punya tanaman yang bikin hijau rumah!

Saya juga lebih sering masak tentunya. Makan malam dan sarapan hampir setiap hari di rumah, Cami juga bisa bawa bekal makan siang; mengurangi kekhawatiran saya dia makan ‘seadanya’ karena lauk katering kantor bukan menu yang bisa dia makan. Kalau lagi kelewat rajin, saya bikin camilan. Kadang dinikmati sendiri, kadang dibagi-bagi.

Di sela-sela waktu antara kegiatan-kegiatan itu, saya ‘me time’. Ya main hp sambil tiduran, nonton series favorit, blog walking, nulis seperti ini, sesekali juga cek lowongan kerjaan sambil melamar-lamar. Yang jelas ketika Cami pulang, saya sudah selesai dengan semuanya jadi kami bisa spending quality time berdua.

Itu semua adalah hal-hal yang tak pernah mendapatkan fokus saya secara utuh, terutama saat saya lagi feeling drained sama urusan kantor kemarin. Now that i am here, saya merasa jauh lebih baik dalam keadaan seperti ini; jika dibandingkan dengan sebelumnya. Saya merasa pulih, dan perlahan saya kembali utuh.

Yang penting bisa membuktikan ke diri sendiri, kalau selama ini saya abai bukan karena tidak mampu; cuma butuh waktu. Dari sini, semoga saya bisa terus meningkatkan kualitas diri dalam peran apapun yang akan saya jalani.

 

 

***

Depok, Oktober 2019

Catatan kecil.

Kado Nikahan yang Sering Disepelekan tapi Ternyata Berguna

designecologist-csVPdj60E1A-unsplash
ilustrasi perlengkapan rumah tangga sebagai kado nikahan. Photo by DESIGNECOLOGIST on Unsplash

Kamu pasti pernah ngalamin satu momen di mana ada teman yang akan menikah, lalu kamu bingung mau kasih kado berupa barang, atau uang amplopan aja? Kalau barang, terus beli apa? Apa yang bagus? Apa yang berguna? Apa yang cocok dengan budget?

Saya sih mengalami kebingungan itu, dan emang lumayan bikin mikir. Penginnya kasih sesuatu yang pasti berguna, tapi apa ya? Baru setelah menikah dan berumahtangga, saya jadi tahu kalau banyak banget barang yang bisa-bisa aja jadi kado untuk pasangan yang baru nikah. Apalagi kalau mereka berencana untuk langsung tinggal terpisah dari orang tua. Ngisi barang di rumah itu kelihatannya dikit, padahal segambreng. (wow, tsurhats)

Based on my experience, saya ngerangkum barang-barang rumah tangga yang bisa kamu jadikan kado nikahan untuk teman, kerabat, ataupun saudara. Biar enak, saya bagi ke dalam beberapa bagian sesuai ruangan penempatannya. Cekidot!

1. Kamar tidur

Bedding Set

Hayo ngaku, pasti kamu pernah kan mikir kalau kado bedding set (seprei, selimut/bedcover) ini kado nikahan yang apeuuu banget!? Kayak basi aja gitu, ngapain kasih ginian. Ya, kan? Saya juga. Baru setelah berumah tangga aja nih jadi sadar kalau ternyata kado itu juga berharga. Lumayan, buat ganti-ganti.

Harga; start from 300 ribu untuk seprei aja, plus bedcover bisa jadi 700 ribu++. Eh, kalau mau selimutnya aja, bisa juga tuh!

Lampu tidur

Lampu tidur bagus lho buat kado! Bentuknya juga banyak yang lucu. Saya punya satu lampu tidur dari kado nikahan, modelnya standing lamp. Unik, dan masih kepake sampe sekarang.

Harga: start from 150 ribu.

2. Dapur/Ruang makan

Perlengkapan dapur

Coba cari info atau sekadar tanya jika memang bisa, setelah menikah mereka akan langsung tinggal di rumah sendiri, nggak? Kalau iya, panci, wajan, spatula, pisau set, rak piring, set toples bumbu, magic jar dan alat-alat masak lainnya ini penting banget dan akan kepake banget. Lagipula, peralatan masak itu nggak ‘murahan’ lho, yang bermerek dan berkualitas cocok banget buat kado. Kalaupun mahal bisa jadi opsi untuk kasih kado bareng se-gank! Teman dekat saya pernah request kado nikahan microwave, berhubung harganya nggak murah, saya koordinir deh teman-teman satu circle untuk beli kado itu secara urunan. Hahaha.

Harga: start from 200 ribu untuk barang-barang yang saya sebut di atas.

Perlengkapan makan/minum

Ini juga sebenarnya umum jadi kado nikahan tapi juga sering disepelekan karena “yaelah, ntar nggak kepake”. Saya juga suka gitu, padahal ya sebenarnya mah dipake-dipake aja. Set piring-gelas, sendok-sendok, mug atau tea set bagus kok buat kado. Pasangan muda biasanya lagi lenjeh-lenjehnya ngumpulin perabotan rumah tangga, dengan ngasih kado ginian sebenarnya kita bisa kontribusi juga buat mereka.

Harga: start from 150 ribu untuk set gelas dan/atau mug. Untuk piring, gelas atau tea set memang lebih mahal, bisa di atas 400 ribu. Tapi yang di bawah itu juga banyak, terutama saat diskonan~

3. Kamar mandi

Perlengkapan mandi

Eits, jangan salah. Kado peralatan mandi pun kepake juga, lho! Di tempat macam Ace Hardware, Informa, JYSK, IKEA atau apapun you name it lah, itu dikemas dalam satu kotak cantik. Cocok banget buat kado. Saya bilang gini karena belum lama habis beli satu set peralatan kamar mandi, isinya ada botol sabun dan wadah sikat gigi. Harganya setelah diskon jadi sekitar 100 ribu kalau nggak salah, apa kurang, ya? Lupa, pokoknya nggak mahal, dan packagingnya pun nggak murahan. Selain itu, handuk juga bisa kamu jadikan pilihan. Di online shop banyak handuk custom yang bisa diukir inisial pasangan. Lucu, kan?

Harga: start from 100 ribu.

Bath mop

Tahu kan, keset kamar mandi yang tebal dan lembut? Nah, itu! Memang nggak umum jadi kado nikahan, sih. Padahal kalau yang bagus ya harganya juga lumayan. Biar cocok jadi kado, kamu cari yang ‘bermerek’ macam Ace Hardware, Informa, JYSK, IKEA aja. Biasanya desainnya juga lucu-lucu, jadi nggak akan malu-maluin.

Harga: start from 100 ribu.

5. Pernik dekorasi living room

Karpet

Kenapa karpet penting? Karena di awal-awal pindah rumah mungkin belum langsung akan tersedia kursi atau sofa tamu, jadi karpet adalah penyelamat. Lagi pula karpet pasti kepake dan bisa disimpan untuk jangka waktu lama.

Harga: start from 150 ribu untuk ukuran kecil/sedang.

Frame foto

Basi? Nggak! Habis nikahan tuh banyak foto-foto bagus yang mau dicetak dan dipajang, jadi frame foto ini pasti akan kepake. Kamu bisa beli yang satu set terdiri dari beberapa frame dalam berbagai ukuran, atau yang udah berbentuk kompilasi gitu lho, paham lah ya?

Harga: start from 100 ribu per set.

Jam dinding

Jam dinding itu mahal, lho. Kalau kamu nemu satu yang sekiranya unik dan cocok untuk dipajang di rumah pasangan muda yang baru menikah, nggak ada salahnya kamu jadikan jam dinding sebagai kado pilihan. Dulu saya mikir, “ah, masa ngado jam dinding..” nyatanya sekarang saya cuma punya satu jam dinding di rumah dan itupun souvenir liputan, karena beli jam dinding nggak masuk dalam prioritas. Hahaha.

Harga: start from 150 ribu. Terakhir liat di MR. DIY (please pada tau dong MR. DIY, murah-murah lho!) harganya segituan buat jam dinding ukuran sedang tapi desainnya unik. Yaa, meski bahannya plastik, sih.

***

Barang-barang rumah tangga itu sih yang sejauh ini terlintas di kepala, tapi balik lagi ini based on my experience dengan banyak sudut pandang ‘penerima’, jadi memang subyektif. Walau saya bilang berguna, bisa jadi buat beberapa orang di luar sana tetap ‘apeuuu’ banget. Ya terserah aja~ hihi.

Tips tambahan:

– Nggak ada salahnya banget kalau kamu nanya sama ybs, “mau kado nikahan apa?” terutama sama teman dekat. Ini jelas bakal jadi kado yang berguna. Waktu dekat-dekat saya nikah, teman-teman mulai nanya “mau kado apa?”, berhubung saya pun akan langsung berumahtangga mandiri setelah ijab, ya saya jawab aja tuh dengan apa-apa yang saya butuh buat di rumah, mulai dari karpet, dispenser, meja, rak piring, jemuran, bahkan sampe kulkas aja hasil kado! Hahaha. Di awal-awal nikah perabotan rumah tangga saya banyak berasal dari kado nikahan teman-teman, baik yang di-request maupun nggak di-request.

– Kalau yang di-request harganya rada mahal, kamu bisa kumpulin beberapa teman lain untuk urunan. Dari situ budget per orangan bisa ditekan tapi kado bagus dan bermanfaat tetap tersalurkan.

Semoga bermanfaat! Kalau ada ide lain boleh tulisin di kolom komentar, lho.

 

***

Depok, Oktober 2019

Ini berdasarkan pengalaman pribadi sih, iseng aja nulisin. Harga yang ditulis referensinya dari web resminya Ace Hardware dan Informa.

Film Be With You yang Mengubah Pandangan Hidup

Saya pernah bilang kalau saya menulis tentang film di blog ini, asalannya cuma dua; filmnya bagus banget atau filmnya berkesan banget. Hari ini, saya habis nyelesain film dengan kriteria kedua dari yang disebut tadi; filmnya berkesan banget.

Be With You

K-movie 2018. (Disclaimer: bukan review, bersifat pribadi, dan full spoiler but ain’t sorry karena ini film 2018)

Pada awalnya Be With You ini adalah cerita tentang seorang anak kecil yang percaya bahwa kisah dalam buku dongengnya akan jadi nyata. Buku dongeng itu pemberian mendiang sang ibu yang sudah meninggal. Di dalamnya tertulis ibu pinguin di negeri awan yang selalu mengawasi anaknya di bumi. Suatu waktu, Ibu pinguin bisa turun dan menemui sang anak jika musim hujan datang, dan itulah yang dipercaya bocah laki-laki kelas 1 SD tersebut, namanya Ji-ho.

Ajaibnya, suatu waktu sang ibu benar-benar datang kembali ke kehidupan mereka. Ya, genre ceritanya memang drama fiksi. Harap jangan ada yang protes, “YAKALI DAH BISA BEGITU,” ya! Sayangnya, sang ibu datang dalam kondisi hilang ingatan sebagian, ia nggak ingat tentang anak dan suaminya. Tapi, nggak butuh waktu lama buatnya menikmati kehangatan keluarga kecilnya di rumah.

Ternyata Be With You lebih dari sekadar kisah dongeng yang jadi nyata..

Ji-ho dan ayahnya menikmati waktu-waktu di mana sang ibu ada. Meanwhile, ada scene-scene flashback dari point of view ayah, tentang bagaimana mereka mulai menjalin asmara dari yang naksir tapi ga berani ngungkapin di sekolah sampai sempat putus nyambung pas kuliah. Dia putus karena si ayah yang perenang, tiba-tiba divonis sakit dan akhirnya dia meninggalkan kehidupan sebagai perenang yang amat dicintainya, merasa nggak punya masa depan, sampai akhirnya milih putus sepihak.

Bagian flashback ini sebenarnya bisa dibilang plot-plot sederhana yang ceritanya ya begitu-gitu aja, tapi bikin senyam-senyum dan sedih sendiri karena dibungkus apik.

Long story short, si ibu menemukan buku diary yang dia simpan di ruangan khususnya di rumah. Di situ banyak cerita dari waktu ke waktu tentang dia dan suaminya dari awal dulu, kayak yang sebelumnya diceritain dari sudut pandang ayah. Akhirnya, dia tahu apa yang sedang terjadi, kenapa dia ada di sini, dan bagaimana kehidupan yang dia lupakan itu.

Si ibu mulai melatih Ji-ho banyak hal dalam urusan rumah tangga, mulai dari mandi, cuci dan jemur pakaian, masak, sampai bersih-bersih rumah. She did it because she wants her son to guard his father, her husband.

Musim hujan berakhir, Ji-ho dan ayahnya sedih bukan main mengetahui sang ibu akan segera pergi lagi. Saya yang nonton juga nangis kejer! Huh. Si ibu tetap pergi, Ji-ho dan ayahnya melanjutkan kehidupan seperti biasa. Suatu waktu, ayahnya menemukan petunjuk untuk menuju buku diary si ibu! Dia membacanya, dan scene-scene flashback pun muncul lagi. Kali ini, dari point of view si ibu.

Setahun setelah putus sepihak karena divonis sakit sewaktu kuliah dulu, si ayah mengunjungi ibu di kampusnya. Sayang waktu itu dia melihat ibu naik ke mobil teman lelakinya, dan ayah pun pergi mengetahui ibu sudah bahagia dengan yang lain. Yang ayahnya nggak tahu–baru diceritain di scene flashback ibu–waktu itu si ibu ngelihat dia datang, dan berusaha mengejar, namun dia kecelakaan parah sampai koma selama 7 minggu.

Di dalam komanya, ibu memimpikan kehidupan yang dia jalani saat kembali dari negeri awan untuk menemui anaknya ini. Padahal waktu itu dia berumur 25 tahun, dan di mimpi ini usianya 33 tahun, dan dia sudah meninggal 1 tahun. Dia menikah dengan si ayah, yang dulu masih pacarnya, lalu punya satu anak lelaki bernama Ji-ho. Persis seperti yang terjadi saat ini.

Dia bangun dari koma dengan perasaan linglung. Apa maksud dari itu semua? Dia mau mengejar cintanya tapi kalau iya, dia tahu dia akan mati di umur 32 tahun. Kalaupun dia ‘kabur’ dengan yang lain, mungkin hidupnya jadi lebih lama, tapi apa dia bahagia?

Si ibu kemudian sadar, dia bangun dari koma, selamat dari kecelakaan itu karena si ayah dan anak di mimpi itu menunggunya untuk dijadikan nyata. Itulah kenapa, dia memutuskan untuk meninggalkan segalanya demi bersama pacarnya, ayah Ji-ho.

***

Tadi setelah nonton dan sebelum menulis ini, rasanya hati saya berat sekali. Tapi sampai paragraf ini semuanya mulai ringan. Writing is always be my remedy.

So, why i wrote this film?

Bagi saya film ini cukup menohok dan berhasil mengubah sudut pandang saya. This is about the wound that i got the day my dad passed away. I love him so much i often thinking about death. Saya nggak takut mati lagi karena berpikir itulah satu-satunya hal yang bisa mempertemukan saya dengannya. Di sisi lain, di sini ada ibu yang juga sangat mencintai saya sejak saya masih berupa janin di rahimnya. Ibu yang banyak berkorban, dan banyak berdoa untuk kebaikan saya. Saya ingin membahagiakannya sekuat tenaga; and that keeps me alive.

I thought the only reason i still alive is my mother. Even my husband is not enough.

TAPI KOK NONTON INI PANDANGANKU JADI BERUBAH. KU MENYADARI SESUATUUUU. *nangis*

I love my father and my mother so much. And i also love my husband with all my heart. On top of that, he choose me over anyone. He sacrifice so much for me. Kenapa saya sebrengsek itu mikir kalau suatu hari kedua orang tua saya mati, lalu saya kehilangan semangat hidup dan memilih mati ninggalin dia itu semuanya akan baik-baik aja?

Habis nonton ini rasanya menyesal pernah punya pikiran begitu. Saya cinta sekali sama dia. Saya mau hidup sehat selama mungkin supaya bisa terus sama dia. Setelah ini, anak-anak kami juga akan jadi alasan kenapa kami ingin hidup sehat berdua. Selamanya.

Maaf ya, Camiii aku pernah punya pikiran begitu. Semoga aku (kita berdua tentunya) sehat teruuus sampai tua. Bisa nikmatin waktu kayak gini terus, jatuh cinta terus walau udah punya anak cucu. Insya Allah, aamiin.

***

Depok, Oktober 2019

Kebaperan nonton film didukung hormon berantakan.

BJ Habibie Meninggal Dunia

Kematian bapak BJ Habibie membuat senegara berduka. Orang-orang yang mengenalnya maupun yang tidak mengenalnya, semua merasakan sedih yang sama.

Bapak BJ Habibie, sebentar jadi kepala negara tapi membuka banyak pintu bagi Indonesia dahulu, menuju perubahan yang baik. Itu kata mereka.

Saya kurang khatam kebijakan apa saja yang pernah Pak Habibie buat. Saya cuma tau, beliau orang hebat. Selebihnya dari beliau yang saya kagumi adalah ketulusannya dalam mencinta. Baik cinta pekerjaan, negaranya, maupun kekasih hatinya, belahan jiwanya.

Kematian Pak Habibie, entah mengapa di mata saya jadi kematian yang begitu puitis. Jiwanya yang menghampa ketika istrinya pergi, kini bisa terpenuhi kembali dengan kematian ini.

Dirinya yang dulu takut mati, menjadi tidak lagi karena berpikir sang istri akan jadi orang pertama yang menyambutnya di surga.

Ah, ketika orang yang kita cinta mati terlebih dahulu, maka kematian kita boleh jadi ditunggu-tunggu. Sebab di kehidupan sekarang mungkin kita tak lagi bersama, tapi janji yang kita ucap dan jaga sepenuh hati untuk saling mencinta, dan bersama dunia akhirat, mungkin masih bisa mempertemukan kita di surga.

Selamat melanjutkan perjalanan, Pak. Selamat bersatu kembali dengan kekasihmu. Terima kasih atas contoh luar biasa mengenai kesetiaan.



***
Depok, September 2019
Memandang kematian yang indah.

Vendor Dekorasi Outdoor Wedding #MpitAmiAgainstTheWorld

wp dekor wedding
Dekor wedding #MpitAmiAgainstTheWorld (Foto by: IG @voltapictura_)

Ada beberapa hal yang harus dikedepankan dalam perencanaan outdoor wedding; 1) waktu acara, 2) kelayakan tempat, 3) dekor.

Di acara #MpitAmiAgainstTheWorld dekor memang jadi top priority sih, jadi buat milih vendor ini bener-bener tricky. Soalnya tempat udah antimainstream nih, udah dapet murah, makanya dekornya harus bagus. Lagian kalau tempat tapi dekornya kurang bagus, ya B aja jadinya. Tapi tempat yang B aja kalau didekor bagus, jadinya cantik!

***

Tips Pilah-Pilih Vendor

Menurut saya, dekor untuk acara outdoor itu buedaaaaa banget sama dekor untuk di dalam gedung. Nggak bisa cuma mindahin properti indoor ke outdoor aja, harus bener-bener bisa nyesuaiin tema dan tempat, juga ngerti konsep.

Saya ngontak beberapa vendor yang dari visi misi dan taste-nya sama kayak saya dan Cami. Screeningnya gampang, cek aja di instagram. Mereka kan pasti upload foto hasil dekornya, terus pilih deh yang seleranya paling mirip sama yang dipengin; baru hubungin.

Setelah kontakan langsung biasanya akan kelihatan tuh, taste-nya sama nggak kita sama mereka, mereka bisa menuhin keinginan kita nggak, budgetnya masuk nggak, ENAK DIAJAK NGOBROL NGGAK? Jangan lupa, itu penting. Karena nantinya kita akan banyak tektokan sama mereka, dan lewat mereka juga kita mewujudkan pernikahan impian kita. AZEK!

Review Vendor

Jadi tiap vendor biasanya menawarkan paket default di range harga yang udah ditentuin sama mereka. Misal; 20 juta untuk pelaminan, meja akad, area penerima tamu, kotak angpao, blablabla. Semua detail dengan jenis properti yang dipakai. Nah kalau mau custom sesuai keinginan kita, bisa, tapi harga juga menyesuaikan. Di titik inilah biasanya kami mundur teratur. Ya kalau dari yang awalnya 25 juta terus setelah adjusment jadi 40 juta, gimana yaaaaaa. Dekor (((( doang )))). Belum yang lain itu.

Sebelum pilihan jatuh ke vendor yang jadi jodoh acara pernikahan kami, sebetulnya ada satu kandidat lain yang juga saya incar. Dari segi taste; cocok. Ngobrolin visi misi; cocok. Nuangin ide; nyambung. Pas ngitung budget; ASSALAMUALAIKUM! Bye.

Singkat cerita, pencarian kami berlabuh pada satu vendor yang berbasis di kota Bogor. Waktu saya lihat di IG-nya, saya udah ‘klik’ karena dekor mereka di foto-foto yang ada mirip dengan yang kami pengin. Akhirnya saya hubungin mereka, dan seperti biasa; dikirim pricelist dengan detail A B C D di harga sekian. Saya lalu janjian untuk lihat dekor mereka di acara nikahan di sebuah villa tjakep di daerah Parung.

Nah, berhubung saya perlu adjusment di beberapa hal, akhirnya saya kasih gambaran deh detail yang kami mau di acara kami tuh gimana; dalam bentuk moodboard. (Contoh moodboard silahkan lihat di sini: Mood Board Wedding Decoration #MpitAmiAgainstTheWorld) Lengkap tuh pake foto dari ujung ke ujung. Deg-degan juga ngeri dilempar harga segunung, huhu.

Oiya, mood board ini penting banget untuk nyamain keinginan kamu dengan si vendor! Jadi coba disempatkan untuk bikin, ya. Sampai ke detail. Di mood board dekor #MpitAmiAgainstTheWorld kami sampai buat acuan model kursi dan dekorasi.

Balik lagi ke request adjusment, TAUNYA NGGAK DIMAHALIN DOOOOOONG. Setelah dihitung-hitung, harganya jadi nggak beda jauh sama harga awal. Penambahan harga cuma karena memang kami minta yang nggak ada di defaultnya mereka, dan itu amat sangat wajar. Harganya juga bikin lega. :’)

Penawaran Dekor Standar

Jadi list dekor standarnya kurang lebih gini ya:

  • Entrance gate dan area penerima tamuArea akad dan resepsi
  • Photo area (buat majang foto-foto pengantinnya gitu biasanya. Cuma berhubung saya sama Cami nggak prewed, kami bongkar file foto dari awal pacaran aja deh terus milihin. Kemudian di-print ala polaroid, lalu digantung. Cakep juga kok!)
  • Backdrop (yang buat tamu-tamu pada foto ceritanya)
  • Entertainment stag

PS: udah termasuk pernak-pernik tetek bengek macam sign board nama pengantin dan/atau quotes, kotak angpao, bunga-bungaan, meja kursi tenda yang dibutuhin dll. Kecuali buku tamu, ya! Tapi kalau mau buku yang unik dari kayu atau apa gitu ala pinterest, mereka bisa siapin (dengan adjusment harga, tentunya).

Lalu additional request kami:

  • VIP Area (tenda dan table set)
  • Area prasmanan (Inget kan, vendor acara ini ala carte? Jadi area prasmanan minta sekalian didekor sama vendor ini, biar semua dekor se-tema nggak belang-belang)
  • Booth untuk makanan gubukan (alasan sama dengan di atas)
  • Lampu dekorasi
  • Hand bouquet  & corsage
  • Transport (karena mereka dari Bogor, dan acara saya di Depok)

Harganya berapa? MURSIDA DEH BUAT PASANGAN YANG BANYAK MAU MACAM W DAN CAMI! WK

Kenapa saya bilang itu (ehem) murah? Karena saya udah tanya beberapa vendor lainnya, dan setelah adjusment kebutuhan ya itu tadi; harganya jadi melambung tinggi. Coba aja cek ombak kalau nggak percaya.

Bonus Owner yang Super Asik!

Untuk ngurusin ini itunya, saya sama Cami ngobrol langsung dengan owner; namanya Mbak Ranky dan Mas Panji. Mereka pasangan suami istri muda dengan anak dua. Mereka pernah bilang kalau mereka masih inget gimana pusingnya ngurusin nikahan, jadi ketika mereka punya usaha ini, sebisa mungkin mereka bener-bener bantu, termasuk dengan ngasih harga yang sangat masuk akal. Kualitas? Memuaskan!

Mbak Ranky sama Mas Panji sangat terbuka dengan ide-ide liar calon pengantin, mereka ngebantu ngarahin, gampang banget nyamain keinginan dengan mereka berdua dan menjadikannya realistis. Asli lah, mereka ini welcome banget ditanya ini itu. Responsif pun. Nggak ada tuh mereka bikin kami nunggu kabar kayak orang di-PHP-in. Percaya deh, di tengah masa genting saat nyiapin pernikahan, dapet vendor yang kayak gini tuh rezekiiiiiiiiiiiii banget. Sama mereka jatohnya kayak ngobrol sama konsultan lho.

Oh iya, setelah kami deal, kami meeting untuk bahas moodboard. Di meeting itu kami bener-bener nyamain apa yang kami mau sama properti yang mereka punya dan akan dipake. Terus kami juga survey ke venue bareng buat ngukur luas, sama bikin apasih tuh namanya tuh, pokoknya ada gambarannya deh nanti letak A di sini, B di sini, C di sini. Jadi nggak ngayal tuh dan bener-bener semuanya terkonsep rapi sesuai kesepakatan, nggak pake drama di hari-H kok tempatnya gini atau barangnya gini blablabla.

PENASARAN NGGAK NEEEEH VENDORNYA APAAA? HAHAHA. *disorakin* 

Untuk foto-foto lebih banyak (dan nama vendornya), intip di instagram, ya!

 

 

 

***

Depok, Agustus 2019

HUAAA UDAH MAU SETAHUN AJA! 

 

 

Rehat

Dalam perjalanan panjang hidup, kita seringkali terbebani oleh harapan, impian, dan ambisi. Padahal, hidup itu sendiri sudah memiliki kerumitan yang belum tentu bisa dengan mudah kita hadapi.

Butuh kaki, kepala, juga hati yang ringan untuk melangkah. Sayangnya kita sering kelimpungan sendiri, tenggelam dalam asumsi, dan pada akhirnya merasa hilang arah.

Padahal untuk mencapai itu semua, tak jarang yang dibutuhkan cuma ikhlas.

***

Ada masanya saya begitu menghayati peran sebagai makhluk duniawi. Merasa punya kendali sepenuhnya atas apa yang terjadi di hidup saya. Seakan hidup hanya hitam dan putih. Kalau tidak baik, ya berarti buruk. Kalau tidak benar, ya berarti salah. Kalau tidak bisa mengubah, ya pergi.

Saya lupa untuk menerima, mengambil sari baiknya, dan mengikhlaskan yang terjadi sebagai bagian dari pelajaran hidup.

Dengan penuh amarah, dendam, dan kebencian saya memaksa pergi. Tidak punya tujuan, hanya semata untuk menghindari apa yang menurut saya tidak layak saya terima.

Tanpa sadar saya terbebani dengan isi kepala serta perasaan saya sendiri, namun pada akhirnya itu semua tidak membawa saya ke mana-mana. Hanya di sana, terjebak dengan segala hal buruk yang–mungkin–sebenarnya lebih banyak berasal dari dalam diri saya.

***

Melalui tulisan ini saya berusaha mengurai kata-kata rumit yang ada di kepala. Saya juga berharap dengan tulisan ini saya bisa menjabarkan perasaan saya. Saya butuh memilah mana yang perlu saya buang jauh-jauh, mana yang perlu saya dekap sebagai bekal saya melanjutkan pelajaran.

Semoga setelah ini saya dapat melihat alur perjalanan saya ke depan dengan lebih jelas. Lebih dari itu, saya ingin bisa memaafkan, bisa mengikhlaskan; bahwa ada hal-hal yang bisa terjadi di luar kendali. Semoga saya–dan kita semua yang selama ini terbebani dengan pikiran serta hati sendiri–benar bisa melanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih ringan.

***

Jakarta, penghujung Juli 2019

Tulisan ini dibuat di perjalanan sambil mendengarkan alunan lagu Rehat dari Kunto Aji.

“Biarkanlah semesta bekerja untukmu

Tenangkan hati, semua ini bukan salahmu

Jangan berhenti, yang kau takutkan takkan terjadi”

Kadang kita memang butuh rehat untuk melihat semua dengan lebih jelas.