24:2

Aku merasa tak kalah hebatnya dari seseorang hebat yang menemaniku meniti waktu sejak puluhan hari yang lalu. Sayangnya, otakku belum cukup menyimpan banyak kosa kata untuk dapat mendeskripsikan perasaan itu melalui barisan kalimat, menjadi susunan paragraf. Semua itu terlalu indah untuk dituliskan dengan biasa. Aku hanya dapat merasakannya. Sebuah kesenangan yang belum aku temukan satuan ukurnya. Kesenangan yang dibawa oleh setiap hal kecil yang terjadi. Setiap hal kecil yang terjadi tanpa sebuah realisasi.

Ya, untuk bisa mencintaimu, butuh imajinasi.

Imajinasi untuk membayangkan setiap detail adegan yang sebagian besarnya hanya bisa kita ciptakan dalam bentuk skenario. Atau mungkin, sugesti? Sugesti bahwa kesenangan itu selalu dapat kita rasakan meskipun hanya berupa imajinasi? Entahlah.

Aku hanya mengingatkanmu, barangkali kamu lupa. Aku ingin meyakinkanmu, mungkin kamu masih ragu. Selama kamu bersedia membagi air untukku yang kehausan, selama kamu bersedia memayungiku dari derasnya hujan dan teriknya panas, selama kamu bersedia membagi kebahagiaan itu untukku, aku akan selalu berusaha mencapainya. Mencapaimu ketika kesenangan itu tidak lagi dapat tercipta hanya melalui sebuah imajinasi atau sugesti. Menciptakan kesenangan-kesenangan baru untuk melengkapi kumpulan kesenangan terdahulu yang tidak lagi terasa begitu istimewa karena digulir waktu.

Sama halnya seperti bunga yang tidak hanya membutuhkan pupuk dan air, tapi juga sinar matahari, untuk dapat merekahkan kelopaknya. Aku, sesuatu dalam diriku, juga butuh fisikmu ketika segelas kopi dingin dan hujan yang turun itu tidak lagi menenangkanku yang gelisah saat berjauhan darimu.

Terimakasih.

Atas waktu tak terbatas yang telah kamu luangkan untuk menciptakan kesenangan itu bersamaku,
tanpa merisaukan siapa dan bagaimana aku kemarin.
Atas kesenanganmu yang melulu, setiap aku mengutarakan kesenanganku terhadap sesuatu hal yang kamu ciptakan.
Karena telah menjadi kamu, dengan segala hal tidak terduga yang kamu lakukan semaumu, dan membiarkanku bahagia karenanya.

Sesuatu dalam diriku, untukmu, kuciptakan sesederhana sepotong kuku yang tidak ada sebesarnya hatiku, yang terus tumbuh setiap harinya betapapun seringnya kuku itu dipotong. Namun meski kini aku tidak menemukan di mana letak kesalahanku hingga sesuatu itu tidak lagi sekecil kuku–tumbuh tak terkendali, aku tetap tidak merisaukannya. Selama waktu masih ada dan tidak terbatas untuk kita, untuk dapat menciptakan sebanyak-banyaknya kesenangan dengan cara yang entah, aku, kamu, kita, memiliki sepenuhnya kesempatan untuk menikmatinya. Untuk merawat bibit bunga yang kita tanam, hingga tumbuh berkembang, dan menjaganya agar tetap hidup. Untuk membiarkan telur itu melewati semua prosesnya secara sempurna agar kelak menjadi kupu-kupu yang cantik, meski buruk harus dilewati. Untuk setia menikmati hujan, agar dapat mengagumi pelangi setelahnya.

Kesenanganku, bersamamu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s