Hujan

Entah siang atau malam, rasanya aku selalu menikmati hujan. Baik menguntungkan atau merugikan, buatku hujan tetap selalu memberi kesan.

Aku sendiri tidak mengerti pasti mengapa aku sangat menyukai hujan. Wangi tanah kering yang menjadi basah saat hujan turun, suara yang ditimbulkan oleh setiap tetesannya, udara yang menyejuk, semua tentang hujan, aku menyukainya tanpa dapat menyertakan alasan, karena aku hanya merasakan.

Hujan selalu menciptakan suasana yang menenangkan. Hujan, selalu romantis. Saat hujan turun, aku merasa seperti terbawa pergi bersama setiap tetesan airnya yang tertiup angin. Menerawang, menikmati gemericiknya. Hujan itu.. menghanyutkan. Kadang ketika aku terlalu menikmatinya, hujan membawaku pergi begitu jauh. Membuat hatiku terasa seperti langit kala itu, dan mataku seperti awan yang jadi perantara di antaranya untuk meneteskan sang air. Membuat suasana hatiku saat itu berkuasa atas segala sistem dalam otakku. Hujan pun dapat menyembunyikan air mata saat aku menangis di tengahnya.

Tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyukai semua tentang hujan. Hujan membuatku merasakan segalanya. Cinta, kerinduan, kebahagiaan, kegamangan.

Hujan itu klimaks. Klimaks dari siklus yang melewati beberapa proses. Klimaks dari perasaan yang tidak begitu saja ada, atau justru malah tercipta seiring dengan menetesnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s