Kamu

Jika kamu adalah hujan, maka aku adalah sebuah siang dengan terik matahari yang menyengat, yang selalu mendambakan kehadiran sang hujan untuk dapat segera menyejukkan segala yang kerontang karenanya, yang selalu merindukan hujan karna aku sendiri telah membuat diriku meranggas ketika ia tak kunjung datang menghapus panas. Meski tak selalu tanpa gemuruh, namun selalu menenangkan–walau kadang terasa gaduh.

Kamu pun membuatku terhanyut ketika aku terlalu menikmatimu, sama halnya ketika aku menikmati hujan. Kadang hujan menjadi alasan untukku menangis, ketika aku ingin menangis tanpa sebuah alasan.

Aku memang tidak memiliki keberanian yang utuh untuk menghadapi sang gemuruh, namun aku juga tidak akan menafikan kedatangan sang hujan hanya demi tidak mendengarnya.

Bentuk kecintaanku kepadamu, juga seperti itu. Seperti kecintaanku kepada hujan yang terlalu, dengan segala ketakutan yang juga kurasakan di saat yang bersamaan. Seperti kesediaanku untuk menghadapi gaduhnya gemuruh yang datang bersama turunnya hujan yang menyapa.

Kamu, adalah bentuk sederhana dari segala perasaan yang terasa menguat dan tercipta dikala hujan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s