24:14

Ketika hari itu datang, doaku kepada Tuhan adalah agar Ia menurunkan hujan. Aku ingin merasakan hadirmu melalui rintiknya. Aku ingin menghirup wangimu melalui tetesannya yang menyentuh tanah. Aku ingin dinginnya memelukku dengan nyaman sepertimu. Aku ingin menangkap sekelebat suaramu melalui gemercik airnya.

Seperti biasa, aku ingin hari istimewa itu diawali dan diakhiri dengan kamu meski kebersamaan kita hanya berupa virtual. Aku memaksa mataku untuk tetap hidup hingga tanggal berganti. Sayangnya kamu lupa, aku yang mengingatkanmu tanggal itu, kan? Bukan masalah besar memang, tapi akhirnya aku meninggalkanmu tidur dalam keadaan kesal.
Ketika aku terbangun, matahari menunjukan sinarnya dengan angkuh. Panasnya memanggang rinduku hingga kering. Masih ada waktu beberapa belas jam lagi untuk menunggu Tuhan mengabulkan doaku. Lalu aku menyapamu. Kamu bilang sedang dalam perjalanan ke pantai ketika itu.

Pantai.

Pikiranku mengawang ketika kamu menyebut pantai, terbang ke satu frame peristiwa indah setahun lalu. Aku, kamu, dan pantai itu. Kamu pasti tau apa yang aku maksud. Aku lupa apa yang kita bicarakan saat kita duduk berdua di pantai malam itu, yang aku ingat, ketika itu kamu bertanya aku mau jadi pacarmu atau tidak. Tapi aku tidak menjawabnya. Lalu kita berciuman. Aku senyum-senyum sendiri mengingatnya.

Hari itu, aku mengingatnya lagi. Aku mulai bermain dengan imajiku. Membayangkan aku ada di sana, lalu kamu membawaku ke pantai itu lagi untuk merayakan hari jadi kita yang ke-sekian. Kita menyusuri pantai hingga entah. Aku akan memintamu menggendongku jika aku lelah. Kamu pasti mau, kan? Lalu kita tertawa, membicarakan apa saja sesuka kita. Rambutku akan berantakan tertiup angin, dan tangan lembutmu yang akan rajin merapikannya. Menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi wajahku. Lalu kamu menciumku seperti ketika itu. Bibirku akan melengkungkan senyum ketika tersentuh bibirmu. Aku akan melepaskannya untuk kemudian memelukmu, erat, sangat erat. Tidak ada sedikitpun celah hingga kita merindukan jarak yang biasanya memisahkan. Setelah itu mungkin kita harus menempuh perjalanan pulang yang melelahkan, tapi perasaan senang dalam hati yang akan menggantikan.

Andai itu benar, kamu pasti tau seberapa bahagianya aku. Dan bukankah kamupun bahagia jika aku bahagia? Setidaknya itu yang dulu sering kamu ucapkan. Sayangnya, bahagiaku itu hanya ada dalam imajinasi. Tuhan membahagiakanmu dengan cara yang berbeda hari itu, tidak melalui bahagiaku. Melainkan keberadaannya di dekatmu.

Dia. Bukan aku.

Tuhan tau betul seberapa dalam luka yang timbul di hatiku karena itu, tapi Ia juga tau pasti seberapa besar keinginanku untuk belajar mencintaimu dengan tulus. Sekali itu aku mencoba sepertimu, aku mencoba berbahagia dengan kebahagiaanmu–bagaimanapun caranya.

Hingga hari itu kembali berganti, tak setetespun langit menitikan air. Mungkin terik matahari mengeringkan airnya di awan. Mataku pun. Sepertinya sakitku mengubah air mata itu menjadi kristal-kristal tajam. Tidak ada rasa cemburu yang keluar melalui tangisan. Semuanya terpendam.

Hari itu, adamu tidak dapat kurasakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s