Kereta, Ibu Tua, dan Setia

FYUUUH. Aku menghela nafas panjang sembari melemparkan badan ke bangku bernomor 14A di gerbong dua yang tidak terlalu empuk itu. Aku memerhatikan kursi-kursi di sekitarku. Kosong. Dari empat bangku yang berjajar hanya ada aku sendiri. Baguslah, pikirku. Tak lama kemudian kereta Senja Utama YK yang kutumpangi berangkat. Padahal baru jam setengah sembilan, tapi mataku yang memang sedari tadi terasa berat perlahan menutup. Bangku-bangku di sekelilingku masih sepi.
Pertengahan malam aku terbangun. Entah kereta ini ada di mana. Tak ada yang dapat kulihat. Semuanya hitam. Jam digital di smartphoneku menunjukan pukul 00:42. Masih belum ada penumpang lain di dekatku. Aku menatap pemandangan kosong di balik jendela, hanya sesekali terlihat samar lampu dari kejauhan. Pikiranku menerawang jauh. Tetiba melesat begitu saja di sana, aku memertanyakan mengapa aku di sini sekarang? Mengapa aku masih saja berani datang menemuinya? Untuk apa? Otakku seperti berputar keras untuk menemukan jawaban atas semua pertanyaan dari diriku sendiri. Tapi buntu. Entahlah. Mungkin untuk melepas rindu, meski nantinya itu hanya akan membuat diriku terperosok ke dalam sebuah kolam berisi rindu yang lebih dalam. Mungkin juga untuk melarikan diri dari kekhawatiran yang selalu membuntutiku selama kami berjauhan. Kekhawatiran yang ada karena keegoisanku yang ingin menikmati manisnya sendiri. Kehawatiran yang menjalar subur di hati karena aku begitu tak ingin manisnya terbagi. Aku butuh kehadirannya. Aku ingin tertidur di dadanya dan mendapati diriku bangun dalam pelukannya. Hanya kenyamanan itu yang bisa membunuh semua khawatirku. Meski semu. Meski hanya sementara waktu. Tanpa sadar bulir-bulir airmata berjatuhan.

“Mbaknya gapapa toh?” Tiba-tiba ada suara, aku tersentak kaget sambil menghapus air mataku.

“Iya, gapapa kok bu.” Aku menjawabnya dengan senyuman. Si ibu tersenyum memerlihatkan keriput-keriput di matanya. Sepertinya ibu ini sudah cukup tua, mungkin usianya sekitar 70 tahun. Tapi badannya segar. Ia mengenakan kebaya tradisional dan kain batik. Rambut tipisnya yang didominasi warna putih dikonde kecil. Ah, aku terlalu memerhatikannya.

“Mau kemana, mbak?” Tanya si ibu lagi. Basa-basi sekali, pikirku. Jelas ini kereta ke Jogjakarta.

“Ke Jogja, bu” jawabku tanpa balik bertanya.

“Walah, sendirian? Dalam rangka apa ke Jogja?” Uh, aku malas sebenarnya menanggapi percakapan basa-basi macam ini.

“Mau ketemu pacar.” Aku menjawab seperlunya. Berharap si ibu tak lagi bertanya.

“Mbaknya pacaran jarak jauh?” Wajah tua itu terlihat kaget. “Hebat!” Serunya.

“Iya, Jakarta-Jogja. Jauh ya bu.”

“Yang penting hatinya deket mbak.” Jawaban klise. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Si ibu mungkin tidak tau bagaimana susahnya mendekatkan dua hati yang terhalang lebih dari sekedar jarak.

“Ibu dulu juga begitu. Almarhum suami ibu tentara. Jangankan ketemu, berkomunikasi aja susah. Mbaknya enak, jaman sekarang semuanya serba canggih. Pasti apa-apanya mudah ya mbak.”

Suasana mulai mencair, aku mulai tertarik menanggapi si ibu. Lumayan juga untuk menemani perjalanan yang masih sekitar lima jam lagi. “Untungnya sih gitu bu, tapi tetep aja. Hehe”

“Kenapa? Takut pacarnya nggak setia ya?” Aku kaget, ibu ini seperti membaca pikiranku. Lalu tertawa saja mendengar jawabannya. “Wajar kok mbak. Pikiran seperti itu pasti ada di setiap hati yang memiliki cinta.” Hmmm, obrolannya sepertinya mulai serius. Aku hanya berusaha menanggapinya dengan santai. Terlalu canggung rasanya untuk menceritakan persoalan pribadi kepada orang asing. “Mbaknya sendiri, setia nggak di sana?” Lanjutnya setengah meledek.

“Haha, si ibu. Ya Alhamdulillah masih bisa jaga hati kok bu.”

“Mbaknya tau ga, kehidupan tentara itu gimana? Di asramanya sana pasti ada aja wanita-wanita yang sengaja didatangkan untuk menghibur tentara-tentara yang jauh dari keluarga, pacar, istri. Ibu juga was-was, rasanya kok nggak rela kalo dia ditemani wanita-wanita penghibur itu. Tapi ya mau gimana, ibu mau nemenin pun nggak bisa.” Si ibu tersenyum. Matanya kosong saat menceritakan itu, tak menatapku, ingatannya merangkak jauh sekali ke masa lalu.

“Mungkin semua perempuan begitu ya bu. Saya pun.” Jawabku getir. “Ibu kenapa ga pacaran sama yang lain? Memangnya ibu yakin pacar ibu waktu itu ga ada main sama wanita lain? Ibu udah tua begini aja cantik, apalagi waktu muda ya? Pasti banyak yang naksir.” Tanyaku hati-hati. Takut-takut menyinggung.

Si ibu tertawa, “mbaknya sendiri, kenapa ga cari pacar lain yang deket aja? Mbaknya kan juga cantik.” Aku kemudian ikut tertawa. “Gimana bisa toh mbak, sebelum dia berangkat tugas pertama kali kan kita udah jadian. Walaupun belum ada ikatan resmi, tapi buat ibu itu tanggung jawab. Dia aja bisa ngasih kepercayaan ke ibu selama dia pergi tugas, kenapa ibu ga bisa?”

“Tapi kan ibu ga tau dia di sana gimana? Mungkin aja dia punya pacar lagi?”

“Ibu nggak tau soal itu, mungkin baiknya juga ibu nggak tau. Ibu cuma berdoa aja sama Gusti Allah tiap shalat. Ibu minta Gusti Allah jaga dia selama dia jauh dari ibu, dia pergi untuk tujuan baik. Ibu percaya Gusti Allah pasti ngasih penjagaan terbaik buat dirinya, buat hatinya, sampe dia balik lagi ke kampung.”

“Untung dia balik lagi ya bu. Jadi nikah pula. Setia ibu ga sia-sia deh.” Jawabku asal.

Si ibu tertawa kecil. “Mbaknya ini lucu, setia nggak akan sia-sia. Nggak akan ada yang sia-sia kalo kitanya ikhlas. Pacar si mbak ini pasti orangnya baik, buktinya mbak berani ngejalanin hubungan yang banyak resikonya macem ini.”

“Hehehe. Iya bu, Alhamdulillah dia emang laki-laki baik, lembut, sopan, dan bertanggung jawab.” Tiba-tiba aku membayangkan wajahnya. Alam bawah sadarku menarik kedua sudut bibir, aku tersenyum.

“Kalo mbak tau dia orang yang bertanggung jawab, ya harusnya mbak juga tau kalo dia akan bertanggung jawab sama komitmen yang mbak sama si masnya buat dong. Kenapa terus tanya soal setia?”

“Pacar saya baik sekali. Saya tau dia selalu berusaha membahagiakan saya selama ini. Yang saya ragukan, apa dia cuma membagi kebahagiaan itu kepada saya atau tidak.”

“Kalo dia bener cinta sama mbak, hatinya nggak akan kebagi. Nggak akan sempet dia mikir gimana caranya ngebahagiain perempuan lain, karena di pikirannya, dia selalu mencari cara untuk ngebahagiain mbaknya ini.”

Aku menghela nafas panjang. Khawatirku menyumbat paru-paru, kadang membuat sesak. “Semoga dia juga cinta sama saya ya bu.”

“Iya mbak. Anggap saja setia itu bonus. Kalopun nantinya hubungan kalian rusak ditengah jalan, setidaknya jangan sampe pengkhianatan mbak ini yang jadi penyebabnya. Percaya saja kesetiaan mbaknya akan ngebawa mbak ke kebaikan.”

Aku tertegun.

“Jadi ikhlas itu susah mbak. Tapi penting. Ikhlas bisa ngelapangin hati kita. Ngeringanin langkah kita.” Lanjutnya. “Semua yang ada di bumi kan titipan Gusti Allah, cuma aja kita sering terlalu merasa milikin.”

“Daripada mbaknya pusing mikirin dia setia atau nggak, mending mbak ini memantaskan diri, agar kelak bisa menjadi pendamping yang baik, bagi hati yang baik pula.”

Aku tak mampu menjawab. Aku hanya bergumam dalam hati. Ya, benar. Segalanya memang milik Tuhan. Aku tak semestinya mencap dirinya sebagai milikku. Hatinya, milik dia sendiri. Aku hanya tamu yang sewaktu-waktu bisa dia usir. Kepada siapa dia ingin memberikan ketulusan, itu sepenuhnya tergantung dia. Atas nama cinta selama ini aku menggenggamnya. Padahal semestinya cinta membebaskan, sebebas keinginan sang cinta menjatuhkan diri di hati yang mana. Sebebas dia memilih setia atau membiarkan cinta terbagi, sebebas itu pula aku berhak memutuskan untuk menetap atau pergi. Dan aku di sini, hendak menghampiri sesuatu yang kuanggap rumah bagi hati; kamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s