Mengingat Kamu sambil Mendengarkan Radiohead

Mei, 2012

Malam itu, Pukul 20.24

Di luar gerimis tak henti-hentinya mengecup permukaan bumi sejak sore tadi. Dingin memenuhi seisi ruangan. Gigiku gemeletuk kedinginan. “Kemari, biar kupeluk,” katamu. Lalu hangatmu mulai merambat melalui kulit kita yang bersentuhan.

Masih malam itu, pukul 23.24

Gelap. Kosong. Aku ketakutan. Aku sendirian. Entah kamu di mana, tapi hangatmu masih ada. Aku tak melihatmu di sana, tapi aku yakin kamu ada. Pelukanmu kembali terasa.

Di sisa malam itu, pukul 01.24

Semuanya masih seperti terakhir aku mengenalinya. Ruangan yang kosong, gelap, dan tetap tak ada kamu di sana, hanya hangat itu masih terus ada. Kamu di mana?

Di penghujung malam itu, ketika malam bergegas undur diri berganti pagi, pukul 04.00

“a heart that’s full up like a landfill, a job that slowly kills you, bruises that won’t heal”

Aku gelagapan mendengar suara asing itu. Aku masih tak melihat apapun kecuali gelap, tak merasakan apapun selain hangatmu yang sepertinya menjauh.

Entah pukul berapa itu, aku tak lagi memedulikan waktu

“you look so tired, unhappy, bring down the government. They don’t, they don’t speak for us”

“Hey, sebenarnya kamu di mana? Jangan pergi. Aku takut gelap. Aku takut dingin.” Aku mulai resah.

“I’ll take a quiet life, a handshake of carbon monoxide, and no alarms and no surprises, no alarms and no surprises, no alarms and no surprises, silent, silent..”

Lantunan lirik itu yang terakhir kudengar. Aku masih sendirian. Masih di ruangan kosong dan gelap. Masih kedinginan. Aku gelisah.

Sunyi.

Sesuatu kembali datang mendekati. Aku tak lagi melihat kekosongan. Tak lagi melihat kegelapan. Ada tirai dan pendar cahaya di baliknya yang bias tak beraturan. Ada tanganmu melingkari badan. Ada kita yang sedang berpelukan.

Rupanya tadi aku tertidur dalam pelukanmu lalu bermimpi. Kemudian di bangunkan oleh lagu itu dan mendapati diriku masih berada dalam pelukanmu.

Januari, 2013

 Sambil mendengarkan lagu yang sama.

“Jangan cemberut, nanti gantengnya ilang.”

“Iyaa.”

“Senyumnyaaaa?”

“Besok aja.”

“:)) masa nyusul gitu.”

“Yaudah sekarang deh nih buat cintaku. :)”

Aku jatuh cinta.

“Kayak nyium bau kamu deh daritadi.”

“Iya? Emang kayak gimana?”

“Gitu, bukan bau kamu kalo abis mandi, tapi bau kamu yang abis beraktivitas, keringetan, segala macem. Biasanya aku nyium bau gini dari kamu kalo lagi mau bobo nih.”

“Berarti aku lagi bobo di samping kamu.”

Aku menghela napas panjang.

Bolak-balik kubuka kalender ponselku. Menghitung-hitung seberapa lama lagi kita bertemu. Rasa-rasanya aku sudah terlalu rindu.

“Jadi, kapan kita lunasi hutang temu ini?” Tanyaku suatu waktu.

“Secepatnya, terlalu banyak hutang tidak baik.” Begitu jawabmu.

“This is my final fit my final bellyache with no alarms and no surprises, no alarms and no surprises, no alarms and no surprises, please”

Di pertengahan malam, sekitar pukul satu lewat beberapa menit

“Selamat tidur kesayangan aku, yang nyenyak ya.” Sebuah pesan sederhana untuk kamu yang tertidur lebih dulu dari aku. Lengkap dengan satu buah emoticon cium di akhir kalimat.

Sebentar lagi. Aku berjanji kepada diriku, dan mungkin juga kamu, untuk kita bertemu sebentar lagi. Tak akan lama lagi.

“Such a pretty houses, such a pretty garden, no alarms and no surprises, no alarms and no surprises, no alarms and no surprises, please..”

Selesai.

Kulanjutkan perjalananku menuju hari di mana ada kamu, hari di mana kita bertemu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s