Belajar tentang Hidup dari Candy Crush

Hampir setahun belakangan ini saya jadi salah satu dari sekian banyak orang yang kecanduan Candy Crush. Permainan ini sebenarnya hampir mirip dengan permainan lain yang sejenisnya, kita hanya diminta untuk menyusun minimal tiga permen dengan warna yang sama. Yang membuatnya sedikit lebih istimewa hanya, tantangan yang berbeda-beda di setiap levelnya. Mulai dari capaian minimum skor, batasan jumlah moves untuk membersihkan seluruh jelly, mengeluarkan bahan-bahan makanan semacam ceri dan bawang dari arena permainan, sampai menghancurkan permen-permen tertentu dalam jumlah tertentu. Bukan cuma itu, tantangan yang diberikan di setiap levelnya tak hanya sekedar tantangan. Kadang di dalam arena permainan juga tesedia rintangan yang menghambat bahkan menghalangi jalan kita. Ada besi-besi yang semakin tinggi levelnya semakin tebal hingga harus dihancurkan berkali-kali baru bisa hilang, belum lagi jelly-nya yang juga berlapis-lapis, lalu mesin cokelat yang terus menerus memproduksi cokelat yang akan menutupi jalan kita jika tidak lekas-lekas dihancurkan dan selesaikan tantangannya, lalu ada bungkusan-bungkusan misteri yang bila dipecahkan isinya bisa menguntungkan, bisa merugikan. Ada juga bom-bom waktu yang jika sampai jumlah moves tertentu belum berhasil dihancurkan bersama permen yang sewarna, maka permainan kita habis semuanya, hilang satu nyawa.

Nyawa yang tersedia dalam satu era permainan juga hanya lima, dan untuk mengumpulkan nyawa lagi, setiap satunya dibutuhkan waktu sekian menit. Itu menyebalkan.

Kadang kesal, gemasnya bukan main. Terutama jika dalam jumlah movesyang tersedia saya sudah hampir berhasil menyelesaikan tantangannya yang artinya saya juga bisa naik level, tapi gagal karena bomnya terlanjur meledak, atau cokelatnya terlanjur nutup jalan. Kalau udah begitu, saya bisa kepengin nyerah—males mainin itu dalam waktu yang cukup lama, lalu saat iseng main lagi, eh malah bisa lolos.

Persis seperti kehidupan. Kita akan lebih merasa bahwa sesungguhnya kita telah mendapatkan banyak hal, justru saat kita tidak sedang mengharapkan apa-apa. Selalu ada yang membuat kita terpacu untuk segera menyelesaikan sesuatu, atau perlu dikejar-kejar waktu terlebih dulu untuk mendorong kita bergerak maju. Akrab dengan kata “terlambat” dan “terlanjur”, dan diam kadang berarti masalah tak kunjung selesai atau bahkan membiarkan diri tenggelam.

Sebenarnya ada keistimewaan lain yang bisa dimanfaatkan buat ngakalin tantangan-tantangan itu biar cepat selesai, misalnya permen yang didapat dari menggabungkan lima permen digabungkan dengan stripes candy, maka semua permen yang berwarna sama dengan stripes candy akan berubah jadistripes candy. Selain itu ada wrapped candy yang juga bisa berubah ukuran jadi lebih besar dan juga ada dua super candy (yang didapat dari menggabungkan lima permen berwarna sama tadi), dengan memanfaatkan keistimewaan-keistimewaan itu maka kita dapat menghancurkan permen, besi atau cokelat dengan lebih banyak dan lebih cepat. Tapi, untuk mengombinasikan permen-permen itu juga tentu merupakan tantangan tersendiri.

Sekarang Candy Crush saya lagi di level dua ratus sekian. Dari level yang sekarang ini, mandang level-level terdahulu dengan rintangannya yang dulu–waktu pertama kali sampai ke level itu–sempet bikin saya kesal, putus asa dan hampir nyerah, saya suka bergumam, “ih level itu dulu ngeselin banget ya tantangannya”, “ih gue sampe males mainin tau mau uninstall aja rasanya” dan semacamnya. But here I am, udah berhasil ngelewatin level yang dulu dibilang sulit sampai sempat kepikiran buat nyerah, udah berhasil berpijak di level yang lebih tinggi. Sedang menghadapi tantangan di level baru ternyata bikin tantangan di level sebelumnya terasa tidak ada apa-apanya. Itu jadi kepuasan tersendiri.

Saya menilai hidup juga kurang lebih seperti itu. Sesusah-susahnya cobaan yang lagi dihadapi saat ini, toh ini akan jadi cobaan yang “biasa aja” kalau kita udah sampai ke tingkat yang lebih tinggi dengan cobaan yang lebih berat. Semua cobaan terasa berat dan ringan pada masanya masing-masing.

Life goes on. We should’ve keep on moving forward. Let yourself stuck in one level of difficulty isn’t a good idea. Tapi kita selalu punya pilihan, sesimpel terus berjuang atau menghentikan perjalanan lalu mencari permainan baru. Yang pasti, Tuhan selalu menyiapkan keistimewaan-keistimewaan yang bisa membantu kita untuk menyelesaikan semua tantanganNya. Tergantung kita mau tekun dan jeli melihat serta memanfaatkan peluang atau tidak.

Sampai saat ini Candy Crush saya masih dimainin, pastinya juga masih sering gemas kalau lagi kesusahan buat naik level karena tantangannya menyusahkan. Saya juga masih di sini, masih ketemu bulan Februari dan ikutan 30 Hari Menulis Surat Cinta. Saya masih mau terus merasa menang tiap berhasil nyelesain satu persatu rintangan di tiap levelnya. Saya masih mau maju sambil sesekali nengok-nengok apa yang udah berhasil dilewatin di belakang dengan perasaan puas karena saya masih baik-baik aja.

Seperti saat ini.

Dan terakhir, sekadar mengingatkan; no matter how sucks the obstacle is, we always have a friend to help us through it all. Aren’t we?

***

Ditulis untuk mengikuti gerakan #30HariMenulisSuratCinta di twitter.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s