Proses Penyusunan Skripsi dan Segala Kekacauan Juga Hikmah di Baliknya

Judul yang sangat ke-skripsi-skripsi-an sekali.

Kata itu yang banyak dibicarakan tiga bulan belakangan ini. Actually that wasn’t came out from me but others, tapi Fitri Andiani si anak tangguh ini jadi keseret arus sekitarnya yang hampir semuanya musingin skripsi. Sigh.

Bukannya nggak mikirin, gue juga kepikiran. Biar gimana pun, menyelesaikan skripsi adalah juga tanggung jawab gue saat ini. Tapi ya biasa aja. Gue udah nggak nganggap itu sebagai beban. Gue kerjain, karena memang gue harus ngerjain. Gue pusingin, karena memang ngerjainnya bikin pusing. Udah, sebatas itu dan nggak berlebihan ke mana-mana.

Proses baru berjalan hampir setengahnya dan gue ngerasa udah ketemu bagian tersulitnya. Ternyata yang paling nyebelin dari skripsi itu bukan bolak-balik minjem dan baca buku di perpus, bukan begadang-begadang nyelesaiin revisian, bukan bahu pegel-pegel karena tiap hari manggul ransel berat yang isinya peralatan perang buat skripsian. Tekanan terberatnya justru bukan berasal dari skripsi itu sendiri. Tapi dari sekitar, dari lingkungan.

Semester lalu, gue sama yang lain di perpus masih petantang-petenteng main poker, masih ketawa-ketawa ngomongin apaan tau, masih bisa nafas lega karena atmosfernya masih “bagus”. Sekarang, tiap ke perpus ketemunya sama muka-muka serius, sama raut wajah mumet, sama keluhan-keluhan. Obrolan yang muncul juga seringan bahas teori, indikator, konsep dan revisi. Pertanyaan “udah bab berapa lo?” juga makin kedengeran malesin saking seringnya terlontar dari mulut orang-orang di sana.

Dan gue mungkin sedang mengalami semacam culture shock.

Semua orang (termasuk si pacar) di sekitar lagi pusing sama skripsinya. Doesn’t mean I’m not. It’s just me didn’t show it up as much as they did. Sementara yang lain ngerasa dikejar-kejar waktu dan berusaha lari-lari ngikutin iramanya, gue malah bingung ngeliatin mereka. Sikap santai gue ini salah atau gimana? Apa gue harus ngikutin gerak mereka?

Gue ngerasa nggak perlu lari-lari selama gue tau kapan gue harus sampe ke titik satu dan titik lainnya sampe ke titik finish, selama gue tau apa yang mesti gue lakuin untuk itu.

Jadi, bagi gue masalah terberatnnya; gue ngerasa sendirian, saking semuanya sibuk sama urusannya sendiri-sendiri, hahahaha. Ketika gue bertahan dengan irama gerak gue di sekeliling orang yang bergerak tergesa-gesa. They left me with noone but myself.

Belum lagi, kalo udah sensi-sensian sama pacar. Ketika sama-sama berusaha menunjukkan perhatian malah dirasa ribet, ketika berusaha menghibur tapi yang dihibur nggak ngerasa terhibur, ketika butuh kehadiran dan jarak sekaligus di waktu bersamaan, ketika perhatian-perhatian kecil di tengah kesibukan malah diartikan “nggak sama sekali”.

Those shit drives me quietly crazy.

Ternyata skripsian bukan cuma tentang berpikir kritis dalam penelitian yang menyita waktu, energi dan materi. Buat gue, momen skripsian adalah panggung di mana kita melakoni diri masing-masing, di mana gue dipersilakan buat nunjukkin seberapa jauh diri gue bisa berguna buat orang lain, dan buat liat sejauh mana gue sama yang lainnya bisa saling bantu.

Alhamdulillah, di tengah skripsi dan semua kebrengsekannya gue sangat mensyukuri satu hal; Yang Maha Baik bener-bener berbaik hati menempatkan gue di antara orang-orang baik. Keluarga yang menyediakan gue tempat istirahat di antara tumpukan doa dan semangat, juga temen-temen dan pacar yang….luar biasa.

Mereka nggak maksa gue untuk ngikutin irama gerak mereka, gue juga nggak perlu maksain diri buat bergerak secepat mereka atau minta mereka untuk bergerak sama santainya dengan gue. Cara kami beda, tapi tujuan kami sama; selesaiin tanggung jawab ini tepat waktu.

Hai, teman-teman. Apa pun yang kita lakuin sekarang, gimana pun caranya, gue tau kita lagi memerjuangkan sesuatu yang sama, buat mulai satu level baru di hidup kita, buat ganti kebiasaan dari duduk bergerombol di perpus sambil insekyurin bangku masing-masing biar nggak diambil orang, ke nyuri-nyuri waktu di tengah kesibukan berkarir kita buat ngumpul sambil ngopi-ngopi ngomongin peristiwa-peristiwa teraktual dari berbagai bidang yang lagi kita liput, atau sekedar cerita-cerita terus saling ngeledek kayak biasanya, dan pastinya buat bahagiain orang-orang yang kita sayang. Gitu kan? Sedikit lagi. Kita pasti bisa. Doa gue nggak absen ngiringin perjuangan kita. Kita susul temen-temen yang udah S.I.kom duluan sama-sama ya.

Dan hai, kesayangan yang luar biasa hebatnya, baru mau mulai level baru tapi udah punya konsep yang siap dieksekusi nanti. I’m a proud girlfriend. “make your dreams fulfilled, don’t forget to take me with yousomeday.“

Semoga rencana-rencana kita berjalan beriringan dengan restu dari Tuhan.

***

Depok, Mei 2014

curhatan di tengah-tengah ngerjain BAB II.

Aamiin-nya mana Aamiin-nya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s