LDR itu Biasa Aja

HAHAHAHA *ketawain diri sendiri*

Pasti ada beberapa orang yang merasa LDR itu semacam simulasi neraka.

Analogi barusan (sebenarnya terlihat) cukup berlebihan, tapi bukan berarti nggak benar. Saya belum pernah ngerasain neraka kayak gimana, tapi ngerasa butuh sesuatu dan di saat yang bersamaan sesuatu itu nggak bisa didapatin memang brengseeeegggggggggggg rasanya. Apa lagi main issue-nya kalau bukan ketidakhadiran fisik. Setiap hari, pasti ada aja moment di mana kalian sengaja/nggak merhatiin pasangan yang sedang “berekspresi”. I mean, mereka bersama, duduk bersisian, jalan bergandengan, bicara dengan saling tatap, dan sebagainya lah. Sedangkan kebersamaan kalian sebagai pelaku LDR hanya sebatas layar ponsel; nggak ada tubuh yang bersisian, nggak bisa jalan bergandengan, nggak bisa ngobrol sambil tatap matanya langsung. Sedih? Ya iyalah, banget. Sampai kapan pun, adanya jarak dalam satuan angka terbilang banyak yang menyulitkan kalian untuk bisa merasakan kehadiran (fisik) satu sama lain itu menyedihkan.

Kabar baiknya adalah, selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari setiap hal. Untuk yang satu ini, saya pribadi menganggap jarak sebagai ujian. Memang ujian. Lagi pula, bukankah di dunia ini, kita semua adalah pelajar yang abadi? Setidaknya hingga kita nggak lagi dapat jatah “ngontrak” di bumi. Kita semua adalah murid. Di kelas semesta, Sang Maha Guru nggak ngasih kita silabus terkait aktivitas belajar yang akan kita jalanin. Kita hanya perlu menjaga pikiran kita tetap terbuka untuk melihat suatu hal dari banyak sisi dalam rangka mengambil sebanyak-banyaknya pelajaran sebagai modal menjalani kehidupan yang setiap harinya adalah kelas belajar mengajar. It’s hard but really help us. Kita nggak tahu kapan jadwalnya kita ujian, nggak tahu besok gimana, apa lagi yang akan kita pelajarin. Semuanya terjadi gitu aja. Sang Maha Guru mengajarkan kita dengan cara yang berbeda antara satu murid dan yang lainnya. Kita dituntut untuk siap. Untuk segala hal yang mungkin terjadi setiap harinya, untuk setiap pelajaran yang mungkin kita terima, untuk ujian yang mungkin kedatangannya bikin kita kaget. Tapi, kita juga selalu punya pilihan untuk nggak ikut belajar, bahkan nggak ikut ujian. Maha Guru kita Maha Baik. Kita semua tetap akan lulus. Perihal bagaimana caranya dan seperti apa kita saat lulus sepenuhnya bisa kita tentukan sendiri. Dalam keadaan taat pada tata tertibNya atau nggak, dalam keadaan berilmu karena banyak menyimak pelajaran di dalam kelas atau sekedar lulus tanpa menyoalkan pelajaran-pelajarannya karena tahu kelulusan sudah mutlak terjadi kelak. Dan, satu hal yang sama mutlaknya, sebagai murid, kita pasti mengalami kenaikan kelas. Lagi-lagi, perihal bagaimana caranya dan seperti apa kita saat naik kelas sepenuhnya bisa kita tentukan sendiri. Saran saya, pilih lah untuk menjadi murid yang berilmu, yang lebih mengedepankan cara dibanding hasil.

Soal LDR, jarak adalah ujian kenaikan kelas bagi hati. Anggap lah rasa-rasa yang kalian punya adalah tumbuhan. Memang nggak terus-terusan berbuah dan/atau berbunga, tapi kalian bisa merawatnya agar tetap hidup. Akan ada musim di mana kalian bisa puas memetik buah-buahan yang dihasilkannya, atau senyam-senyum mandangin kuncup-kuncupnya yang mulai bermekaran. Semua ada waktunya, begitu juga dengan pertemuan. Berjalannya suatu hubungan pada dasarnya adalah kesediaan untuk saling menjaga, dan itu berlaku secara umum, bukan hanya pada hubungan jarak jauh. Kalian pernah dengar “Tuhan nggak akan ngebebanin suatu masalah pada manusia di luar batas kemampuannya”? Pernah dengar “apa yang kalian dapat akan sebanding dengan yang kalian perbuat” juga nggak? Ingat aja dua kalimat barusan tiap kalian yang sedang menjalani hubungan jarak jauh merasa ngejalanin hubungan jarak jauh itu susah. Artinya, Tuhan sepercaya itu sama kalian. Kalian mungkin iri sama pasangan lain yang nggak perlu segini susahnya nahan kangen karena butuh perjuangan yang beberapa kali lebih keras dibanding mereka untuk bisa ketemu sama pasangan kalian. Kalian mungkin iri sama pasangan yang bisa lebih sering ngerasain kehadiran satu sama lain di dekatnya. Silahkan, iri itu manusiawi. Asal jangan lupa bersyukur sama apa yang kalian punya. Kehadiran nggak cuma soal fisik. Percaya adalah modal utama. Pasangan kalian yang jauh itu mungkin akan curangin kalian, tapi Tuhan nggak. Yang kalian dapat akan sesuai dengan apa yang kalian usahakan.

Selain keberadaan fisik pasangan, kalian juga pasti punya tanggung jawab yang harus dilaksanain kan? Sekolah yang harus dijalanin, kuliah yang harus diurusin, pekerjaan yang harus diselesain, dan cita-cita yang ingin kalian kejar. Selesaiin lah segala tanggung jawabnya, kejar cita-citanya. Kalian bisa tetap saling dukung walaupun nggak selalu berdekatan, kalian bisa tetap saling sayang walaupun nggak selalu bersisian. Percaya deh, LDR nggak seburuk itu kalau kalian bisa menyikapinya dengan santai dan kalau kalian pasangan keren; bisa bikin tetap saling jatuh cinta walaupun dipisahin sama jarak.

Tanaman kalian bisa tumbuh melewati semua musim kalau kalian merawatnya, rindu-rindu akan tertunduk malu pada perjuangan kalian selama menuju temu. Semua ada waktunya. Kata salah seorang teman baik saya yang baik sekali, “Jarak itu cuma pohon”. Muahahahahk.

Selamat berjuang untuk kenaikan kelas, temans. Jangan lupa jadi murid yang pandai. 😉

Regards,

Anak LDR yang baru bisa menganggap LDR itu biasa aja setelah lebih dari 44 bulan jatuh bangun terbang tenggelam berlari merangkak merana tapi bahagia-bahagia aja selama menjalani LDR.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s