Hujan di Kotamu

Langit abu-abu sepanjang hari bisa jadi adalah pertanda bahwa musim panas telah berlalu

Segerombolan hujan siap-siap menyergap

Sebagian orang senang hati sekali menyambut kedatangannya, sebagian lainnya terus menerus mendengus kesal

Entah mereka mau apa, yang jelas aku, tidak termasuk keduanya, panas maupun hujan aku tertawa-tertawa saja

Bagi mereka ini musim hujan, tapi bagiku ini musim rindu.

Di kepalaku mulai sering muncul ingatan-ingatan kala aku mendapati hujan di kotamu

Ketika ia beramai-ramai membentuk tirai di luar jendela, sedangkan di dalam kita berpeluk mesra

Terkungkung dalam dua tubuh yang berbahagia merayakan pertemuannya

Mengecup tiap jengkal diriku-kamu-kita, menghapus sisa-sisa dingin yang diciptakan jarak kemarin-kemarin

Bersembunyi di balik selimut yang cemberut sebab kita memilih untuk tetap berada dekat-dekat—sangat lekat. Dipikirnya ia tak cukup memberi kita hangat.

Hujan yang sedang turun di teras rumahku mungkin hujan yang sama dengan hujan waktu itu. Bedanya kali ini tidak ada kamu, sebab itu aku merindu.

***

Depok, November 2014

Sumpah, aku tidak sedang membicarakan rindu, ini tentang hujan di kotamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s