Sheila On 7, Anak Jogja, dan Cinta kepada yang Itu-itu Saja

Pasti pernah ada masa ketika lagu J.A.P yang dinyanyikan oleh Sheila On 7 jadi modal buat nembak gebetan. Lagu Seandainya dari album 07 Des juga pasti pernah buat galau para calon anak LDR yang mulai ngerasain sedih-sedihnya aroma perpisahan. Sebelum Bruno Mars dengan nada girangnya nyanyiin lagu Marry Me, Hingga Ujung Waktu pasti pernah bikin ge-er orang-orang yang di-“dengerin lagu ini deh”-in sama gebetan atau pacarnya. Dan jauh sebelum John Legend memopulerkan lagu All of Me yang manisnya lumayan bikin giung, kemunculan lagu Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki pasti pernah bikin perempuan-perempuan pada masa itu senyam-senyum ngerasa disayang sewaktu denger lagu itu diputar di radio ataupun siaran MTv. Oh, ya, sebelum ada berbagai macam meme Sakitnya Tuh di Sini, lagu Jalan Keluar juga pasti pernah beneran bikin banyak orang ngerasain sakit di sini *tepuk-tepuk dada* karena dianggap ngorek-ngorek luka di hati mereka yang entah kapan sembuhnya, karena sekian lama sayang-nunggu-dan-dibiarkan-berharap-tanpa-kepastian sama seseorang.

Mungkin Sheila On 7 memang telah banyak menjadi bagian dari kisah hidup para remaja era 90-an. Seperti ketika mereka jatuh cinta diam-diam dengan teman satu kelas dan Sheila On 7 menyanyikan lagu Pemuja Rahasia, ketika mereka nggak terima keadaan saat putus cinta dengan pacar perjuangan dan masih berharap bisa mengembalikan keadaan lalu Sheila On 7 bawain lagu Sekali Lagi, ketika mereka lagi kesel-keselnya (dan pasti juga lagi nyesel-nyeselnya) pas tau mantan yang dulu mereka tinggalin akhirnya nikah dan bahagia sama orang lain terus Sheila On 7 sekonyong-konyong nyanyiin Yang Terlewatkan, atau ketika mereka menyerah mengarungi pahit-pahitnya kisah cinta dengan para pasangannya dan Duta dengan lantang meneriakkan ‘Aaaakuuuu puuuulaaaaangggg…..” di lagu Berhenti Berharap.

Pasti pernah ada masanya, Sheila On 7 nyanyiin lagu-lagu yang bikin kita semua (atau mungkin cuma saya), reflek mengumpat “anjrit!” karena ngerasa kesindir. Di Jogja, kota asalnya, masa-masa kejayaan Sheila On 7 tidak mengenal kata “pernah”. Di sana, Sheila On 7 adalah primadona dari masa-ke-masa. Dari zaman YTH mbak Agnezmo masih bahagia-bahagia aja jadihost Kring-kring Olala sampai kini nampaknya sibuk mewujudkan impiannya sebagai artis Internesyenel di Amerika, anak Jogja masih nggak ada bosan-bosannya nontonin Sheila On 7. Hampir di setiap event besar yang diadakan di sana, Sheila On 7 diusung-usung tampil sebagai pengisi acara. Jarang ada tiket mahal, kadang bayar Rp15.000,- pun sudah bisa ikut nyanyi dan jejingkrakan bareng mereka setidaknya selama sepuluh lagu.

Banyak band baru bermunculan, banyak lagu-lagu hits baru seliweran, tapi anak Jogja seakan nggak pernah kehabisan rasa kagum untuk terus mengidolai Sheila On 7. Ah, saya rasa melihat kecintaan anak Jogja sama band kebanggaan kotanya itu cukup jadi bukti yang membuat kita, atau setidaknya saya, percaya, bahwa jatuh cinta dan bersetia kepada yang itu-itu saja dalam waktu yang lama itu bukan hanya sebuah niscaya, walau perjalanan waktu tak ayal membawa banyak drama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s