Gimana, 2014-nya?

Mine is… owsom! Alhamdulillahi Rabbil Aalamin. Tuhan Maha Baik.

Banyak hal luar biasa yang saya hadapi di tahun 2014. Prestasi pertama di awal tahun lalu adalah; nggak mandi selama empat hari. Percayalah semua itu terjadi karena dukungan semesta. Waktu itu cuaca lagi kayak sekarang ini nih, hujan terus, dingin, libur kuliah dan nggak ke mana-mana. Aku bisa apa?

Hal lain yang terjadi di 2014 adalah SAYA SKRIPSIAN! Sungguh pilihan yang berat kala itu. Nilai dan jumlah SKS pas-pasan, tapi keadaan udah nggak bisa nunggu saya untuk nambahin semua nilai-nilai yang masih kurang, akhirnya ya skripsian lah dengan modal niat dan janji sama diri sendiri akan membayar apa yang udah saya sepelein sebelumnya dengan kerja keras sampai berhasil, gimana pun sulitnya. Well, berhasil. Skripsi selesai tepat waktu dengan nilai mendekati sempurna. A+ cooooy. Keren ya? Iya. 19 Oktober 2014 lalu, resmi sudah gelar S.I.Kom di belakang nama. Saya diwisuda. Alhamdulillah.

Lalu… nggg, ada apa lagi ya. Oh iya, setelah dinyatakan lulus Agustus lalu, sebagai fresh graduates tentu hari-hari menganggur banyak diisi dengan petantang-petenteng sambil nelusurin linimasa akun penginformasi lowongan kerjaan di sosial media, kirim-kirim surat lamaran dan interview sana-sini. Beberapa terkirim tanpa ada timbal balik apapun dari yang dikirimin, beberapa dapat balasan terima kasih dan panggilan interview yang nggak berlanjut ke mana-mana lagi, ada juga yang kepanggil tapi kesempatan itu saya lewatin. Begitu aja terus berbulan-bulan. Physically tiring.

Menghabiskan sebagian besar waktu di rumah juga “membuka” mata saya buat lebih peka melihat kondisi sekeliling. Masalah orang-orang terdekat yang tadinya tersembunyi rapi bermunculan satu persatu, sedikit demi sedikit. Kepercayaan yang mereka berikan ke saya lewat bercerita, karena anggapan saya udah cukup dewasa buat ngerti dan menyikapinya dengan bijak, tanpa sadar menarik saya masuk ke dalam pusaran masalah itu. Rasanya kayak lagi lari-lari lucu ngejar capung sendirian di lapangan, terus tiba-tiba ada angin gede. Sempoyongan ketiup angin, iya. Kelilipan, iya. Takut, iya. Gelagapan, iya banget. Bingung harus gimana. Tuhan bercandanya suka ada-ada aja. Selesai dikasih uji kekuatan buat diri sendiri, diuji lagi deh tuh sejauh mana kekuatannya bisa bermanfaat buat menguatkan orang lain. Saya berusaha melakukan yang paling baik yang saya bisa lakukan dari posisi saya; menjadi pendengar yang tak memihak, menjadi penengah, menjadi penetral tiap emosi yang membuncah.

Lama kelamaan perasaan jadi beban di keluarga muncul saking lamanya (sekitar tiga bulan) diem di rumah tanpa menghasilkan apa-apa. Di sisi lain, ada keinginan buat lari dari perasaan-perasaan tertekan-yang-padahal-nggak-ada-juga-yang-menekan. Pengin ngumpet. Sempat juga mikir, sejauh ini saya udah ngelakuin apa sih? Ada pencapaian riil apa yang udah saya raih, buat diri saya dan buat orang lain? Kayaknya nggak ada. Makin aja deh ngerasa “apa siiiiih, waktu hidup gue kok nggak dimanfaatin gini?”. Dari situ saya mulai menggambarkan dan menyusun rencana-rencana hidup yang baru dalam imaji, dan saya putuskan untuk memulai langkah menuju ke sana dengan satu hal; mendapatkan pekerjaan.

Enaknya jadi manusia, kita tinggal berencana, tinggal minta sama siap-siap nerima, terus Tuhan ngabulin. Di penghujung tahun ini, petunjuk-petunjuk berdatangan, pintu-pintu terbuka, jalan mulai terang. Saya diterima kerja, di tempat yang sangat mendukung buat mewujudkan keinginan-keinginan lain, dapet temen kerja yang satu ritme dalam ngejokesnya, plus pekerjaan yang sesuai sama hobi. Alhamdulillah.

Andai Tuhan berwujud dan bisa dipeluk, saya mau meluk yang kenceng sambil bilang terima kasih bertubi-tubi. Saya seneng banget, Dia baik banget.

2014 ini luar biasa. I’m highly happy, highly fall in love and highly depressed. But what matters most is I’m highly grateful. Banyak pelajaran lain yang didapet tahun ini, mulai dari pelajaran bikin skripsi sampe pelajaran hidup yang nggak pernah kebayang sebelumnya. Huaaah.

Nulis kayak gini seperti udah jadi ritual dalam beberapa tahun belakangan. Saya menuliskan apa yang terjadi sepanjang tahun untuk mengingat, untuk mensyukuri kesedihan yang akhirnya terlewat, untuk mengabadikan kebahagiaan dan bersyukur atas segalanya. Kali ini ada yang sedikit beda. Tahun-tahun lalu, saya menyambut pergantian tahun dengan rencana dan doa-doa, kali ini doa-doa itu udah lebih dulu terkabul, rencana udah berjalan satu langkah ke depan, udah dipersiapankan, tinggal dijalanin. Hihi. Alhamdulillah ya Rahman ya Rahiim. Di tulisan ini, saya mau mengingatkan diri sendiri agar ke depannya terus mengerahkan segala yang terbaik yang saya bisa, untuk manfaatkan semua kesempatan yang udah dipercayain sama Tuhan dengan maksimal, supaya apa yang sama rencanain bisa tercapai, dan bermanfaat buat orang lain. Amin? Amin? AAMIIIIIINNNN!

Bersyukur, kerja keras, telusuri jalan-jalan yang disediakan Tuhan buat mewujudkan segala rencana dengan cara yang baik. Sebaik-baiknya hidup adalah yang nggak cuma bermanfaat buat diri sendiri tapi juga buat orang lain.

Terakhir, terima kasih, kamu. Mau aku nyanyiin lagunya Tulus yang Teman Tidur, ealah, maksudnya Teman Hidup, mau nggak? Mau yaaaa. Nanti deh. Muah. Thank you for loving me even when I’m difficult to love.

Alhamdulillah atas semua yang telah lewat, Bismillah untuk yang segera datang.

***

Depok, Desember 2014

I’m ready, let’s do it!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s