Menyurati Kawan Lama

Kepada Tuan Jarak Yang Terhormat
di tempat

Salam,
Apa kabarmu, Tuan? Semoga kau bahagia-bahagia saja. Jangan tersinggung, surat ini bukan untuk menertawakan kepergianmu dari kami, bukan pula maksudku untuk bertinggi hati.
Tuan, apa kau tersenyum melihat kami? Kini tak ada lagi sesak yang tertahan karena kami saling merindu di tengah penantian sementara temu masih jauh di ujung jalan.
Apa kau ikut merasakan kesenangan dari rutinitas baru kami? Tiap pagi, kami pergi menghampiri matahari. Kadang dengan canda, kadang dengan kantuk, kadang dengan lapar dan kadang sambil bingung menentukan mau sarapan apa. Tiap sore, kami juga berjalan menujunya. Kadang dengan gumaman kekaguman atas indahnya senja yang menyala, kadang dengan perut keroncongan, kadang dengan sedikit gigil jika hari itu hujan. Yang pasti, kami berdua, kami bersama.
Aku bahagia, Tuan.
Seperti layaknya orang yang berkawan lama lainnya, sesekali aku teringat masa-masa ketika kau ada. Ketika aku dengan segenap hati menyisihkan uang sakuku demi sebuah temu, ketika peluk pertama kami memancing tangis haruku; begitu syahdu.
Perpisahan pernah terasa begitu menakutkan sebab aku tau, ada ruang dan waktu yang panjang di antaranya dan temu yang lain. Ada rindu yang seringkali tak mau diajak berkompromi. Ada iri pada (si)apapun yang di dekatnya sementara kau membuat ragaku bisu. Ada perasaan bersalah ketika ia membutuhkanku di dekatnya, sementara yang kubisa hanya memeluknya dengan doa.
Tapi kini tidak, Tuan.
Kini perpisahan hanya sejauh perjalanan matahari menelusuri langit di atas kami.

Jangan khawatir, aku tidak membencimu–mungkin sempat iya, tapi sudah tidak. Surat ini kutuliskan bukan untuk menyombongkan kebersamaan ini. Lagipula mengapa aku harus sombong? Tanpa bermaksud menggombal, peranmu juga lumayan besar dalam membuat kami seperti sekarang ini.

Ah, sudah, ya. Aku kehabisan kata, tapi tidak kehabisan cinta untuknya.

Terima kasih atas segala pelajaran yang kau bawa, Tuan Jarak Yang Terhormat.

Salam hangat,

kawan lamamu.

***

Jogjakarta, Januari 2015

Ditulis untuk sebuah perayaan; Empat Tahun dalam Empat Tulisan Panjang (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s