Dariku, Perihal Segala Kita

Tentang Cinta Monyet dan Alur Hidup yang Ternyata Tak ke Mana

“Kenalin gue sama temen lo yang itu!”, paksaku ke seorang teman sekitar 7 tahun yang lalu. Lalu terjadilah perkenalan itu, dengan laki-laki bertubuh kurus yang berpenampilan—entah apa bedanya dengan yang lain—aku lupa.

Aku lupa bagaimana prosesnya, yang kuingat malam itu, aku sedang menonton Lord of The Ring, lalu kamu (katakanlah) menyatakan cinta. Cinta monyet. Seingatku, itu tanggal 23 Januari dan kalau tidak salah tahun 2008.

Tak banyak yang terjadi dalam kisah cinta monyet yang tak berumur panjang. Hanya beberapa kali datang ke gigs, ulang tahunku yang ke-15, jalan-jalan ke pantai, pacaran di rumah teman,

and (y)our first kisses.

Semua berjalan baik-baik saja sampai aku mengakhirinya. Tak ada yang bisa kujadikan alasan selain “Kamu pindah, rumahmu jauh. Nanti kita jarang ketemu”, kemudian belakangan kamu tau apa alasan sebenarnya.

***

Tahun berganti. Di sini, selagi aku mengisahkan perjalanan kita dalam sebuah tulisan panjang, aku ingin mengakui sesuatu yang mungkin belum kamu tau, bahwa kamu tak pernah benar-benar pergi. Aku sering membicarakanmu dengan temanku—yang juga temanmu—menanyakan kabarmu lewat dia, bilang aku kangen, walaupun semua itu hanya terhenti di dirinya. Sampai pada suatu malam, entah kenapa, aku meminta nomor ponselmu dan kemudian menghubungimu, sekadar menyapa, bercanda, basa-basi.

Sekali lagi kubilang, kamu tak pernah benar-benar pergi. Buktinya, komunikasi kita tak intens tapi bisa tiba-tiba bertemu di salah satu lokasi tes masuk PTN. Sekian banyak lokasi, sekian banyak orang, dan kita dipertemukan.

Di acara ulang tahunku yang ke-17 aku mengundangmu.

Lalu kamu hadir,

lalu komunikasi kita semakin sering,

lalu aku jatuh cinta padamu lagi.

Tentang Berbagai Bentuk dan Cara Berbahagia

“Dia itu Cappucino Ice Blended di saat gue bosen minum obat batuk yang pait. Dia itu Gula di saat gue terus terusan dikasih makan pedes yang ngebuat gue sakit perut. Dia itu Kasur yang gue idam-idamkan setelah gue menempuh perjalanan jauh dan duduk selama belasan jam. Dia ngasih gue indah ketika seharusnya cuma ruangan kosong yang gelap, penuh debu, dan bikin gue sesek nafas, yang gue liat.”

Tulisku di sebuah jejaring sosial.

Seingatku, dulu aku sangat bahagia. Aku pernah begitu memujamu. Aku mencintaimu seakan di dunia ini tak ada lagi orang yang layak diberikan cinta selain kamu. Aku mencintai kesempurnaanmu sampai keadaan yang kamu buat memaksaku untuk menerima kenyataan bahwa kamu tak sesempurna itu, bahwa kamu adalah manusia yang sama brengseknya dengan manusia lain.

Dan aku tetap mencintaimu apa-brengseknya.

Nyatanya mencintaimu dengan sebegininya tak butuh kesempurnaan, bahagia luar biasa juga bukan berarti tak sedikitpun merasa kesedihan. Aku bahagia.

Nakhoda yang hebat tak terlihat dari pelayaran yang tanpa badai, bukan?

Tentang Igauan yang Ingin Kudapati di Setiap Hari yang Kupunya

Sekali waktu, kita mengarungi perjalanan pulang dengan bus. Kamu tertidur lebih dulu padahal perjalanan kita belum ada setengahnya. Ketika aku mulai lelah dan melandaikan kepalaku untuk rebah di bahumu, kamu terbangun, kaget lalu reflek tanganmu mendarat di wajahku. Baiklah.

Hari-hari berikutnya, ketika kamu tak jadi yang lebih dulu bangun di antara kita, aku mencoba membangunkanmu dengan segala cara. Tepuk-tepuk pipi, kecup-kecup bibir, kelitik-kelitik perut, dan responmu selalu sama; kaget—walaupun pukulan-tak-sengaja itu tidak belum terulang.

Semacam ada faktor traumatis untuk sok romantis saat membangunkanmu, tapi tak apalah, kamupun kadang lebih memilih menyemprotkan parfum ruangan ke kakiku ketika memaksaku bangun ketimbang memeluk atau mengecup bibirku.

Tapi aku tak berkeberatan untuk mengulanginya sampai waktu yang tak terhingga.

Tentang Hati yang Hancur dan Serpihan yang Melukai

Bad life change good people.

Mungkin itu benar adanya. Mungkin baik buruk hanya soal perspektif. Mungkin bagimu ini hanya alasan.

Dari segala kekacauan yang terjadi, aku memang masih tegak berdiri; padahal hatiku mungkin sudah tak berbentuk lagi.

Perjalanan hidupku sepertinya hanya rangkaian dari kehancuran satu menuju kehancuran lainnya. Seperti gelas kaca yang terbentur jatuh dan berubah menjadi serpihan; kamu, sebagai salah satu orang terdekatku adalah yang paling sering tergores oleh beling-beling kehancuran.

Maaf, sayang.

Tentang Kaki Rapuhku dan Punggungmu yang Selalu Siap Menopang

Aku butuh kamu, tapi kadang terpikir untuk memersilakanmu pergi. Beban hidupku memang terlalu berat untuk ditopang seorang diri, tapi sungguh aku tak sampai hati untuk menarikmu masuk ke pusaran masalahku ini.

Adaku, semestinya menceriakan hari-harimu. Adaku semestinya meringankan setumpuk bebanmu. Bukan sebaliknya, bukan memerlihatkan wajah-wajah terjelekku saat aku menumpahkan tangisku di pelukmu, bukan membagi sedihku untuk ikut kau pikirkan.

Tapi kau ada saat aku terduduk lemas karena kaki-kakiku sudah terlalu rapuh untuk melangkah.  Kau di sini saat nyawaku terpenggal di kerongkongan, tercekik kesedihan.

You’re on your knees, staring at me, hold my hands while I sit down crying.

Tentang Kamu dengan Kesabaran Panjang yang Segudang

Sampai saat ini aku masih suka bertanya—entah ditujukan ke siapa, bagaimana seorang aku bisa dicintai sebegininya olehmu?

Pasti bukan hal mudah untuk menjalani hari-hari dengan keberadaan orang sepertiku. Belum lama ini bahkan kamu—dengan nada bergurau—menyampaikan keluhanmu menghadapiku yang banyak cemberut dan mudah berganti suasana hati bahkan karena hal-hal sepele.

Kita tertawa.

Walau sebenarnya akupun ingin bertanya, kenapa kamu bisa-bisanya menyayangiku seperti itu?

Namun aku memilih diam dan bersyukur.

Tentang Impian-impian yang Dipertaruhkan di Atas Waktu yang Diperjudikan

Aku bermimpi memiliki saat-saat di mana aku mengintip dari balik jendela; menyaksikan kamu datang ke hadapan Ayahku, meminta restunya untuk mengajakku menghabiskan sisa hidup bersamamu dan memberitahukan kesediaanmu untuk mengambil alih seluruh tanggung jawab atasku. Hingga saatnya tiba, dalam jabatan tanganmu dengannya—cinta pertamaku, kau mensucikan segala kita di hadapan Tuhan. Dan aku terduduk di sampingmu, menunduk, menangis. Dengan setengah perasaan bahagia dan setengah lagi perasaan berat hati karena aku harus memindahkan baktiku dari kakinya ke kakimu.

Saat itu mungkin masih terlalu jauh untuk kita. Ayahku mungkin tak lagi punya daya untuk menunggu waktu itu tiba.

Kini jelas-jelas impianku sedang diperjudikan.

Tapi hidup memang penuh dengan perjudian, kan?

Tentang Kita di Masa Depan yang Dirancang dari Sekarang

Telah banyak tentang kita yang kuceritakan. Sebagian tersimpan di lembaran memori di otakku, sebagian kuabadikan lewat tulisan-tulisan, sebagian lagi kubagi dalam bentuk cerita kepada teman-teman, ada juga yang disaksikan dan terekam oleh apa-apa yang ada di jalanan.

Masih banyak yang ingin kuketahui. Padamu, aku seperti pelajar yang selalu haus ilmu pengetahuan, seperti penyair yang selalu butuh inspirasi demi sebuah puisi.

***

Membicarakan masa depan kadang menjadi hal yang menyenangkan sekaligus menakutkan. Kita bukan pasangan yang senang mengkhayal tentang masa depan, mengenai itu mungkin masih banyak kita simpan di masing-masing angan. Kita hanya berusaha menghargai waktu dan menghormati takdir yang belum kita tau. Tapi tentu, hidup kita terus melaju. Apa yang kita buat di masa sekarang adalah apa yang akan ada di masa mendatang.

Dengkuran tidurmu, sikap cuek, ocehan-ocehan absurd di sepanjang jalan, kelakuan konyol, perhatian dan cinta yang entah seberapa kadarnya, adalah sebagian kecil hal yang kuharap akan selalu ada di setiap hari yang kupunya, dulu dan sekarang, kini dan nanti.

Kelak kisah ini tak hanya jadi milik kita. Akan ada kaki-kaki kecil menggantung dari atas kursi, duduk mendengarkan dengan binar mata yang menyala, dan kita berdua ada di hadapannya; mengisahkannya bersama.

Semoga.

***

Depok, Februari 2015

Ditulis untuk sebuah perayaan; Empat Tahun Dalam Empat Tulisan Panjang. (3)

bagian ke dua ditulis oleh aimiami di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s