Bukan Surat Cinta; Untuk Bapak

Aku harap kau tak kecewa, Pak. Anak perempuan yang kau sayang-sayang kini tumbuh jadi pengecut yang cuma bisa bicara cinta lewat kata-kata—yang hampir bisa kupastikan,  kau pun tak akan membacanya.

Aku selalu bilang, aku mencintaimu. Aku selalu bilang, kalaupun ada orang yang membuatku rela menukar seluruh hidup dan bahagiaku untuknya, orang itu adalah kau—dan tentu Ibu. Tapi aku tak pernah membiarkanmu mendengarnya langsung dari mulutku.

Aku sepengecut itu.

Aku selalu mengutarakan betapa aku ingin selalu bersamamu, tapi aku memilih untuk jauh darimu ketika kau sedang memerjuangkan sisa umurmu. Aku selalu meyakini bahwa diriku ini kuatmu, tapi aku tak berada di sana untuk menguatkanmu.

Memangnya bagaimana aku bisa menguatkanmu kalau untuk menguatkan diriku saja aku tak mampu?

Aku tak bisa memastikan adakah yang lebih hancur dari aku ketika kami semua menerima kabar buruk itu dan masih harus menyembunyikannya darimu. Aku tak tau adakah yang hatinya lebur dengan sendu tiap membayangkan bagaimana perasaanmu setelah mengetahui tentang sakitmu.

Kau tak perlu mengerti soal pilihanku, aku hanya ingin kau tau bahwa ini semua kulakukan bukan karena aku tak memedulikanmu. Aku di sini karena memang aku pengecut, berusaha menjauhi kesedihan itu padahal di sini pun aku menangis tersedu-sedu tiap waktu mengingatmu.

Pelukan itu, waktu separuh badanmu masih mati rasa, pelukan penuh ketidakberdayaan yang meluluhlantakkan seluruh duniaku. Aku tak sanggup menerimanaya lagi. Belum sanggup.  Aku hancur. Aku hancur melihatmu menderita, Pak.

Suatu saat mungkin aku akan menyesali ini. Menyesali kedunguanku yang memilih untuk tak berada di sampingmu, memertaruhkan begitu banyak waktu dari sisa kebersamaan kita yang tak banyak. Tapi ingatlah satu hal; aku mencintaimu. Yang jauh hanya raga kita, bukan doaku untukmu.

Bayang-bayang perpisahan kita selalu menghantuiku dan aku terlalu takut untuk menghadapi itu. Jangan pergi. Atau jika kelak kau harus pergi, bilang Tuhan kau ingin bawa aku ikut bersamamu. Jangan lupa, atau aku tak akan bicara padamu selama berhari-hari seperti yang terjadi dulu-dulu.

Aku sayang Bapak.

***

Jogjakarta, Februari 2015

“so don’t go away, say what you say, say that you’ll stay forever and a day in the time of my life” – Oasis (Be Here Now, 1997)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s