Tentang Jogja dan Orang-orang yang Jatuh Cinta

Banyak sekali hal-hal sentimentil tentang Jogja untuk selalu dibicarakan. Sebab Jogja lebih tepat dijabarkan sebagai peristiwa, bukan sekadar kota apalagi kata.

Bagi saya pribadi, Jogja ini mendewasakan dan membuat saya menjadi lebih manusia. Berkali-kali dibuat marah, patah hati, cemburu, tapi berkali-kali pula saya dibuat bersimpuh pasrah ketika bersembunyi dari kebrengsekan hidup. Di Jogja juga, saya jatuh cinta.

Setiap akhir pekan tiba, terlebih ketika dibarengi dengan tanggal merah di kanan-kirinya, ruas-ruas jalan protokol di Jogja padatnya 11:12 sama bubaran pensi. Rombongan keluarga, gank anak sekolah, sekelompok mahasiswa, pasangan yang hendak berbulan madu, bahkan para jomblo individu-dengan-kondisi-hati-agak-sepi, berbondong-bondong datang ke sini. Mereka bilang, di sini mereka merasa jatuh cinta.

Jogja memang menawarkan romantisme tak terhingga bagi setiap yang hidup di tanahnya. Kota ini terlanjur diciptakan Tuhan dengan rantai pesona yang memicu produksi serotonin manusia. Kesimpulannya, siapapun bisa jatuh cinta di/dengan Jogja. Iya, siapapun. Masalah jatuh cintanya sama (si)apa itu beda perkara. Dari 2318514276903,1239 orang yang berkunjung ke Jogja (yang terdata sak selowne uripku dhewe) untuk berbagai alasan, tipe orang yang jatuh cinta digolongkan ke dalam tiga bagian sebagai berikut:

1.       Yang Kere

Tipe yang pertama ini, biasanya bolak-balik berkunjung ke Jogja dengan alasan “Gue jatuh cinta sama kotanya, Bro!” Oke. “Jatuh cinta sama kotanya” yang dimaksud di sini mungkin begini. Pertama, bagi penduduk pulau Jawa, Jogja bisa ditempuh dengan kereta api kelas ekonomi yang harganya sangat murah (kalau nggak percaya silahkan cek ke indomaret/alfamart terdekat). Kedua, kalaupun tidak ada kerabat yang menetap di Jogja untuk bisa ditumpangi, banyak hotel kelas melati yang bisa jadi opsi, tinggal menyesuaikan dengan kemampuan finansial. Ketiga, makan sampai kenyang dengan hanya Rp10 ribu masih sangat mungkin terjadi di Jogja. Keempat, Jogja memiliki destinasi wisata yang lengkap. Gunung, laut, bukit, sejarah, ada semua. Jadi, mungkin “jatuh cinta sama kotanya” bisa juga diartikan “ya emang ke mana lagi gue bisa liburan sampe bahagia dengan modal duit seadanya?!”.

2.       Yang Berujung LDR

Pada tipe ini, jatuh cinta bisa terjadi karena datang ke Jogja dengan kondisi hati siap diisi tapi belum nemu yang layak ngisi di kota asal, lalu di sini jadi korban cinlok dengan mas/mbak Jogja yang konon manisnya semacam teh poci dikasih gula batu secukupnya; manis alami dan belum banyak tersentuh modernisasi industri. Atau bisa juga jatuh cintanya sama mahasiswa Jogja. Ya intinya datang, jatuh cinta, tapi cintanya nggak bisa dibawa pulang. Eh, bisa ding, yang dijatuhicintanya yang nggak bisa ikut pulang. Jadi, ya jatuh cinta sih, tapi ujung-ujungnya LDR.

3.       Yang Bertepuk Sebelah Tangan

Ihwal terbentuknya golongan kedua dengan golongan ketiga ini kurang lebih sama; berkunjung ke Jogja lalu jatuh cinta dengan penduduk pribumi. Bedanya adalah, tipe bertepuk sebelah tangan ini biasanya terbentuk karena campur tangan faktor G; ge-er. Seperti yang kita semua tau, penduduk Jogja adalah orang-orang ramah, santun, dan baik hati. Dan pada kasus ini, faktor G menjadi sebab timbulnya kesalahpahaman pada diri si pengunjung. Ngomong aku kamu, disangka PDKT. Dijamu dengan istimewa sebagaimana tuan rumah memerlakukan tamu, dikira cinta. Untuk tipe yang satu ini, sambungan dari risiko bertepuk-sebelah-tangannya adalah gejala-gejala merasa di-PHP-in. Sedih lah kalau diceritain mah.

Demikian hasil analisis sak selowne uripku terhadap orang-orang yang (mengaku) jatuh cinta di/dengan Jogja. Meskipun tidak ada di Undang-undang, tapi saya yakin, jatuh cinta adalah hak asasi manusia. Tapi untuk membalasnya atau tidak juga merupakan bagian dari hak asasi masing-masing kita. Kalau beruntung bisa merasakan jatuh cinta (apalagi kalau cintanya terbalas), ya bersyukur, bilang makasih sama Kanjeng Gusti Allah, lalu jaga selayaknya menjaga (si)apa-(si)apa yang dicinta. Kalau tidak ya, jangan sedih. Percayalah Jogja adalah kota yang penuh cinta meskipun kamu tidak menemukan seseorang untuk dijatuhcintai, karena segala tentang Jogja sudah cukup mendefinisikan arti dari cinta itu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s