Sampah Pikiran di Tengah Tumpukan Pekerjaan

Barusan aja saya ngepost di twitter, “tuhan, aku mau bahagia yang ga pake bikin sedih siapa-siapa dong, han,” lalu sepersekian detik kemudian menyadari betapa muluk-muluknya permintaan saya tersebut. Kenapa saya bilang muluk-muluk? Ya karena memang, hampir mustahil. Menurut saya.

Pemikiran ini didasari dengan perasaan bersalah saya dengan salah seorang teman. Sedikit penjelasan tentang latar belakang kejadian, sejujurnya teman saya ini bisa dibilang memang salah satu masalah yang ngikutin saya selama beberapa tahun belakangan. Masalah yang sempat buat saya kehilangan kendali diri, masalah yang sempat buat saya jadi seorang pembenci. Saya nggak menyukai keberadaannya di hidup saya, karena sejak awal dia hadir, dia nggak sedikitpun menunjukkan itikad baik terhadap saya, sedikitpun saya nggak merasa kehadiran saya dihargai olehnya. Keberadaannya pernah sangat mengganggu kenyamanan saya.

Syukurnya, keadaan itu nggak berlangsung lama. Saya menyadari, bagaimana dia bersikap terhadap saya itu pilihannya, dan bagaimana saya menempatkan dia dalam hidup saya itu sepenuhnya berada dalam kewenangan saya.

Saya sadar bahwa sumber segala ketidaknyamanan yang saya rasa itu justru berasal dari diri saya sendiri. Dari hati saya yang “berpenyakit”. Kenapa saya bilang hati saya berpenyakit? Karena ketika dia merasa bahagia dengan apa yang dia lakukan, walaupun katakanlah, bahagia itu dia nikmati dengan cara menyerap kebahagiaan saya, saya justru merasa sedih. Kenapa saya harus bersedih ketika orang lain bisa berbahagia karena saya?

Pemikiran yang akhirnya menyembuhkan hati saya dari penyakit itu sesimpel ini: kebahagiaan itu ibarat harta benda, 2,5% dari harta tersebut adalah milik orang lain. Kesimpulannya; anggap aja bahagia yang dirasa teman saya adalah 2,5% jatahnya dari kebahagiaan saya. Sepanjang saya mengikhlaskannya, nggak akan ada masalah. Dan terbukti, ketidakikhlasan saya kemarin-kemarin lah yang menjadi sumber masalah.

Sejak saya mengubah sudut pandang akan masalah “berbagi kebahagiaan” itu, banyak yang berubah. Memang bukan sama sekali hal yang mudah dilakukan, terlebih ini bukan soal harta benda dan pembayaran zakat sebanyak 2,5% seperti yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan, tapi ketika saya mencobanya, banyak sekali yang terasa lebih baik, terutama untuk diri saya sendiri. Hati saya tidak lagi dipenuhi rasa iri dan dengki atas bahagia yang didapat teman saya. Satu hal yang saya sadari dan saya simpan baik-baik dalam hati,

Setiap orang punya jatah bahagianya sendiri-sendiri.

Entah saya harus bilang ini kabar baik atau buruk; belum lama ini teman saya menyadari ketidaknyamanan yang saya rasa karena sikapnya. Dia menawarkan kepada saya permintaan maafnya yang saya yakin itu tulus, karena pada akhirnya, dia bisa memandang persoalan ini dari kacamata saya.

Mungkin ini kabar baik bagi egoisme saya sebagai manusia, tapi di sisi lain saya juga merasakan kesedihan. Saya merasa seperti seorang debt collector yang merampas paksa harta seseorang karena benda yang dipinjam dari saya tak kunjung dikembalikan, dan telah melewati batas waktu toleransi pembayaran, meski untuk kasus ini, dia sendiri yang berbesar hati mengembalikan ‘pinjaman’-nya ke saya, pada akhirnya, sebagaimana mestinya. Namun kembali lagi ke pernyataan awal saya tadi, berbahagia tanpa membuat sedih siapa-siapa itu hampir mustahil. Seperti halnya saya yang merasa sedih ketika dia berbahagia, sekarang dengan kabar baik yang saya terima, sayapun merasakan kesedihannya.

Kami yang sejak awal mempermainkan kebahagiaan itu. Sekarang setelah menyadari bahwa kebahagiaan bukanlah mainan, setelah mendapatkan pelajaran dari permainan kami, saya rasa ini adalah cara kami bertanggung jawab untuk mengembalikannya seperti semula. Kami bermain dengan sengaja, tapi luka itu ada tanpa kami sadari. Sekarang, setelah kami menyelesaikan permainan ini, kami harus berjuang lagi agar luka itu lekas terobati, kami harus melanjutkan perjalanan kami sendiri-sendiri. Jalan yang tak lagi bersinggungan.

***

Jogjakarta, Juni 2015

Semoga kamu tetap bahagia meski dengan cara yang jauh berbeda dari ini, teman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s