Membicarakan Bapak di Belakangnya

Pagi ini di sebuah bank, saya melihat sesosok bapak dengan rambut yang sudah didominasi warna putih dalam antrean. Saya terhanyut jauh. Dulu, saya pernah membayangkan suatu saat saya akan melihat Bapak dengan kulit hitamnya yang mengeriput, juga rambut—yang jumlahnya nggak banyak—di kepalanya beruban. Lalu dia malas mengenakan gigi palsu seperti biasa dan hanya membiarkan mulutnya kosong begitu saja.

Bayangan itu pernah nampak begitu jenaka di ingatan sebelum akhirnya semesta ngajak bercanda. Bapak divonis mengidap kanker kandung kemih stadium IV, hari demi hari kondisinya menurun digerogoti sakit dan obat-obatan dosis tinggi. Kulit hitamnya sekarang semakin hitam, bukan karena ia banyak berpanas-panasan tengah hari nemenin cucunya main, tapi hangus karena serangkaian radioterapi dan kemoterapi yang dijalani. Badannya kurus dan keriput karena penyakit, dan dia kehilangan seluruh rambutnya sebelum rambut-rambut itu memutih.

Subuh tadi Bapak terpaksa dibawa ke IGD untuk jalani perawatan karena kondisinya drop. Nggak apa-apa. Saya tau Allah Mahabaik. Dia gariskan yang terbaik sebagai takdir kami. Dia juga pasti akan kasih yang terbaik bagi Bapak. Aamiin.

***

Jogjakarta, Oktober 2015

“Bila nanti aku kehilangan, mungkin itu hanya sesaat karena kuyakin kita kan bertemu lagi..”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s