Kehilangan yang Menyakitkan

“Bapak nungguin Mpit dateng..”

 

Begitu kata orang-orang saat mengucapkan turut berbela sungkawa dan memberi pelukan di hari kepergian Bapak. Terlepas dari benar atau nggaknya, saya percaya. Semasa hidupnya, banyak waktu yang dihabiskan Bapak untuk menunggu putri bungsunya ini. Malam-malam saat saya pamit pergi dengan pacar atau teman-teman, Bapak pasti nunggu saya pulang. Saat saya pergi ke acara musik untuk melihat penampilan band kesukaan saya, Bapak juga nunggu. Selarut apapun saya pulang—walaupun nunggu di dalam rumah dalam keadaan pagar dan pintu depan terkunci karena dia marah dan akhirnya saya harus manjat pagar sekaligus gedor-gedor pintu supaya bisa masuk—dia akan selalu ada di meja makan, duduk menghadap tv sambil menikmati kopi dan rokoknya, menonton siaran seadanya.

 

Bapak adalah orang yang merelakan waktu dan tenaganya setiap pagi untuk mengantar saya dengan mobilnya ke sekolah semasa SMA, dari rumah kami di timur, ke sekolah saya di barat, kemudian kembali ke stasiun di pusat, baru melanjutkan perjalanan ke kantor dengan kereta. Semasa kuliah, Bapak selalu mengantar saya ke tempat yang strategis dan aman untuk saya melanjutkan perjalanan ke kampus dengan angkutan umum. Dia akan menurunkan saya, menyaksikan saya menyebrang jalan, dan baru akan melajukan mobilnya lagi saat angkutan umum yang saya tumpangi berangkat.

 

Bapak selalu menunggu saya.

 

Pun di penghujung hidupnya, Bapak ‘menunggu’ kedatangan saya sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan kami.

 

***

 

Malam sebelum kepergiannya, Ibu mengabari bahwa Bapak sudah dalam kondisi anfal di RS. Penyakit di dalam tubuhnya semakin membabibuta sementara daya tahannya semakin lemah. Nggak banyak yang Ibu bicarakan, hanya meminta saya pulang, kalau saya bisa..

 

Keesokan paginya saya sudah tiba di Jakarta, di rumah sakit, melihat Bapak terbaring dan benar-benar nggak berdaya, dengan selang-selang menempel di hidung, dengan napas tersengal, dan sekujur badan yang dingin. Saya ciumi pipinya, saya peluk, saya berbisik dan menangis di telinganya memohon agar dia bangun tapi dia nggak bergeming. Saya genggam dan ciumi tangannya tapi dia nggak membalas genggaman saya. Saat itu saya tahu, masa-masa yang saya takutkan akan segera datang. Saya tahu masa itu akan datang, dan meskipun saya tahu, saya nggak pernah merasa siap.

 

Saya tertidur di sisinya beberapa saat, sebelum akhirnya terbangun karena alat medis di sana memberi tanda sudah ada yang ‘salah’ pada sistem di tubuh Bapak. Everything is getting worse. Until the time came, Innalillahi wainnalillai rojiuun, Jumat, 18 Desember 2015 pukul 13.10 WIB Bapak dinyatakan meninggal dunia.

 

Demi Tuhan, saya nggak pernah merasa sesakit hati seperti saat saya tahu bahwa Bapak, laki-laki yang paling saya cintai dan paling mencintai saya di dunia ini, laki-laki yang menjadikan saya pusat semestanya, yang rela memberikan dunianya untuk saya, pergi.. selamanya. Saya nggak pernah merasa sehancur seperti ketika saya tahu, saya nggak akan pernah bisa menemuinya lagi, menatap wajahnya, mencium tangannya, bercanda, berantem karena rebutan megang remot tv, denger suaranya, nggak bisa. Saya nggak akan bisa kayak gitu lagi. Dan saya hancur. Hancur.

 

Kehilangan Bapak membuat saya hancur. Saya kehilangan arah, dan saat ini, sebelas hari setelah kepergiannya, saat saya menulis ini, saya masih belum bisa membayangkan bahwa saya akan bisa kembali merasakan kebahagiaan yang utuh seperti ketika Bapak ada. Saya patah hati ketika menyadari, saya nggak akan pernah lagi merasa dicintai sebesar cinta Bapak ke saya. Separuh dari diri saya ikut pergi dan terkubur bersama Bapak di sana.

 

Tapi…

 

Semua kesedihan saya terasa lebih ringan kalau saya ingat, “sekarang Bapak udah nggak sakit lagi..”

Bapak pergi ke tempat paling baik di seluruh alam. Di sana Bapak bisa dapetin semua yang nggak bisa saya dan kami semua kasih di sini. Segala upaya dan perjuangan kami nggak cukup untuk memulihkan kondisinya, nggak bisa menghilangkan sakitnya, nggak bisa membuat dia kembali nyaman beraktivitas seperti saat dia sehat dulu, tanpa keluhan, tanpa obat-obatan. Makanya, mengingat Bapak akan jauh lebih tenang dan bahagia di sana jadi kekuatan saya untuk merelakan kepergiannya dari sisi kami. Saya memang masih terus menangisi, tapi masih menangisi bukan bukan berarti belum mengikhlaskan, kan?

 

Saya hanya ingin menikmati kesedihan ini. Saya mau nangis sampe saya capek, sampe saya puas, sampe saya bosan, sampe saya sadar bahwa selama saya menangis dan meratapi nasib sendiri, semesta terus bergerak maju, dan saya sudah tertinggal jauh. Tapi saat saya sadar bahwa saya sudah tertinggal jauh, saya sudah merasa cukup bosan untuk merayakan kesedihan ini dengan tangisan, saya sudah puas menangis, dan saya sudah capek menangis, dan saat itu, ketika saya sudah nggak memiliki pilihan untuk terus menangis, saya akan mulai bangkit, berjalan, bahkan berlari untuk mengejar semua ketertinggalan. Saya akan menyeiramakan langkah saya dengan semesta, dan saya akan kembali memulai perjuangan saya. Meski susah, meski harus dari titik terendah, tapi saya pasti akan bangun dari mimpi buruk ini. Saya akan ‘lahir’ lagi sebagai seseorang yang jauh lebih kuat, karena ketika saya bangkit, artinya saya telah berhasil membuktikan bahwa saya bisa bertahan hidup meski hanya dengan separuh nyawa.

 

Satu hal, satu pelajaran yang paling penting yang bisa saya tanam kuat-kuat di hati dan pikiran saya di tengah kesedihan ini.. adalah bahwa cinta berada di derajat tertingginya ketika kita berani membebaskan, berani melepaskan.

 

 

 

***

Depok, Desember 2015

Terima kasih, Pak. Aku cinta Bapak. Selamanya.

Advertisements

4 thoughts on “Kehilangan yang Menyakitkan

  1. Pingback: 24:61 |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s