24:61

Belakangan jemariku lebih banyak berkisah tentang kehilangan yang menyakitkan, tentang rindu yang menggunung, tentang sedih yang membuncah.

Kebiasaan itu mungkin belum terhenti karena lukanya masih kunikmati. Tapi hari ini, aku ingin mengeja namamu lagi, untuk kembali merekam canda, tawa, tangis, dan harap kita berdua dalam kata-kata.

Sebab kelak mungkin ingatan kita tak mampu lagi berjalan mundur sampai hari ini, karena itu aku menuliskannya, agar ketika kita mulai merasa kesulitan saat sedang berusaha mengingat-ingat tentang apa, kapan, di mana dan bagaimana, kita bisa menemukannya dalam laman-laman ini.

 

Tulisan ini ada sebagai sebuah pengingat,

bahwa tubuhmu adalah tempat terbaik untukku merebahkan lelah di penghujung hari. Bahwa pelukmu adalah yang selalu kucari, bahwa aku begitu menggilai segala bentuk cumbu mesramu.

Bahwa aku adalah rumah yang seringkali kau tinggalkan, namun pada akhirnya rumah ini pula yang menjadi alasanmu untuk selalu pulang.

 

Tulisan ini adalah pengingat,

Bahwa aku bahagia mencintaimu, bahwa aku bahagia kau cintai, bahwa aku bahagia kita dimampukanNya untuk berjuang bersama sejauh ini. Bahwa di atas segala luka, kecewa, amarah dan air mata yang kita ciptakan, bahagia itu juga selalu ada, entah bagaimanapun rupanya.

 

Aku menulis ini, sebab ketika segala anugerah yang berada bersama kita hari ini satu persatu kembali kepada pemiliknya, aku ingin kita tetap mengingat bahwa kita memiliki alasan yang tak terhingga untuk terus bersyukur, aku tak ingin kita menjadi manusia yang kufur.

 

***

 

Aku menyukai segala tentang kita.

Dulu aku membentuk kalimat tersebut dari ingatan-ingatan bahagia tentang betapa kamu memperlakukanku seperti putri, selalu membuatku merasa dihargai. Juga tentang cerita-cerita manis yang kita rangkai bersama, tentang perasaan berbunga-bunga tiap kali aku ingat-ingat setelahnya, tentang khayal yang sepenuhnya indah.

 

Lalu kita jatuh,

terpuruk,

dan putus asa;

berkali-kali.

 

Kita sedang menempuh perjalanan yang amat panjang. Kita telah menempuh jalan yang cukup panjang. Kita telah menghadapi berbagai situasi yang menghambat, mengacaukan, bahkan memunculkan niatan untuk berhenti. Berkali-kali kita mengumpat, mencaci dan memaki—meski sepertinya kita hanya melakukannya dalam hati.

Yang luar biasa dari itu semua adalah, seluruh kebencian yang kita temukan kembali mati di dalam pikiran, dan kita selalu kembali dengan ketenangan, dengan kekuatan baru untuk melanjutkan perjalanan.

Dari dulu, hingga kini.

 

***

 

Selamat merayakan hari kita yang ke puluhan-kalinya, sayang.

Semoga kita selalu dicukupkan olehNya, semoga kita selalu merasa cukup, semoga kita lekas menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada, semoga kita menemukan keyakinan yang kita cari, dan semoga Tuhan membukakan mata kita untuk melihat jalannya.

 

Selamat melanjutkan perjalanan.

 

Kecup,

Aku

 

 

***

Jogjakarta, Februari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s