Fitri Andiani Naik Ambulance! Anomali atau Pencapaian?

20151219_063448[1]
Sabtu, 19 Desember 2015
Iya, ini Bapak. Saya rekam sewaktu kami di perjalanan menuju rumah barunya waktu itu.

Bagi teman-teman yang sudah mengenal saya lama, mungkin akan merasa aneh melihat postingan ini. “Mpit bukannya takut ambulance, ya?”, saya tebak-tebak pasti begitu yang mereka pertanyakan. Saya memang takut ambulance, entah sejak kapan, saya lupa.

Setiap ketemu ambulance di perjalanan, saya selalu buang muka. Kalau dengar sirine-nya bunyi, saya heboh. Kalau lagi dibonceng temen naik motor terus papasan sama ambulance yang lagi buru-buru, saya marahanin temen saya, pukul-pukul helmnya dan nyuruh dia minggir biar ambulance itu pergi jauh-jauh dulu baru kami lanjutin perjalanan lagi. Pokoknya dengar suara sirine aja bawaannya suudzon itu ambulance. Jadi misalkan saya lagi di dalam gedung, terus di luar ada bunyi sirine (entah itu ambulance atau bukan) lewat, ya saya tetap tutup kuping.

Waktu sekolah dulu, pernah ada kejadian yang lumayan bikin gempar. Pemukiman di dekat sekolah saya kebakaran, dan tentu, ada banyak mobil damkar di situ. Sedihnya, selama memadamkan api, mobil damkar itu juga nyalain sirinenya, terdengar lah sampai ruang kelas saya. Keras banget. Meski saya tahu kemungkinan besar itu adalah sirine dari mobil damkar, saya tetap bergidik takut dari kursi saya. Mencoba nahan, sok kalem, sok tenang, tapi akhirnya tangis itu pecah juga. Intensitas tangisannya pun meningkat, dari yang bisa ditahan-tahan, sampe gelisah nggak karuan. Akhirnya, karena dirasa meresahkan warga sekitar yang lagi belajar, saya dipersilahkan untuk keluar kelas dan cari ruangan yang lebih tenang dari suara-suara menakutkan itu. (Ending dari cerita ini, saya makan piscok di kantin. Ehe)

Masih banyak lagi kejadian-kejadian lebay lain yang didasari oleh ketakutan saya sama ambulance. Bapak sama Ibu tahu itu. Tapi, waktu kami mau bawa jenazah Bapak pulang dari rumah sakit, saya minta ikut di dalam ambulance. Begitu saja.

Sempat diingetin sama Ceceu (read: kakak perempuan dalam bahasa sunda), nggak usah naik ambulance karena kebetulan ada saudara lain yang bawa mobil di situ, tapi saya nggak mau. Saya mau naik ambulance. Di pikiran saya, sesisa umur saya, nggak akan ada lagi momen-momen di mobil sama Bapak, membelah jalanan Jakarta, atau ke manapun sama-sama. Itu kesempatan terakhir saya.

Saya naik ambulance sama Bapak dari rumah sakit ke rumah, dari rumah ke makam. Barangkali itu sebuah pencapaian, atau barangkali lebih cocok disebut anomali? Nggak tahu. Yang jelas, sih, kalau sekarang saya disuruh naik ambulance lagi, saya ogah. Kebetulan papasan sama ambulance di jalan pun saya minggir, mempersilahkan dia lewat dulu.

Di sisi lain, sebenarnya saya masih merasa heran momen saya naik ambulance itu bisa ada. Seumur-umur saya takut ambulance. Bahkan saya mikir, kalau saya mati, kayaknya saya nggak mau dibawa naik ambulance deh. Nggg, ya gitu lah.

Tapi saya juga punya jawaban sih atas keanomalian saya naik ambulance. Begini, katakanlah level ketakutan saya kehilangan Bapak itu ada di angka 10, dan ketakutan saya sama ambulance itu ada di angka 5. Nah, kalau yang di level 10 lagi saya jalanin saat itu, ya apalah arti yang di level 5? Iya, kan?

Kadang kita suka terlalu takut sama sesuatu, terlalu risau perihal bagaimana jika ketakutan itu terjadi. Padahal jika itu benar terjadi, ya terjadi aja. Maksud saya, ya ketakutan kita nggak akan mengubah apa-apa, cuma akan menggerogoti ketenangan. Sampai akhirnya ketika apa yang kita takutkan ada di depan mata, kita baru tersadar bahwa sebenarnya, kita punya kemampuan untuk melewatinya. Meski payah, tapi ada. Kita bisa.

 

 

***

Jogjakarta, Maret 2016

Friday, 18th. It’s been three months, Dad.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s