My Version of ‘Relationship in Adult Life’

sleep2

Makin dewasa, rasanya hidup semakin kompleks. That’s why kita dituntut untuk berkembang, untuk tambah pintar. Supaya kita bisa menyesuaikan diri dengan perubahan, supaya kita bisa menyederhanakan segala kerumitan.

Perihal relationship pun nggak terlepas dari kerumitan tersebut. Hubungan saya sama Cami (FYI, Cami adalah panggilan asal-asalan dari nama pacar saya “Ami”, bukan singkatan dari calon suami. Tapi iya, dia calon suami saya. HEHEHEHEHEAMINHEHEHE) juga sepertinya termasuk. Kami sudah melewati beberapa fase hidup duniawi bersama. Mulai SMA (2007), kuliah, sampai sekarang kami mulai meraba-raba soal karier. Sewaktu SMA, kerumitan kami nggak jauh dari soal pacaran, pacaran, pacaran, maunya ketemu terus, harus ketemu. Waktu kuliah, kerumitannya adalah gimana caranya membuat hubungannya tetap berjalan dengan baik meski kami terpisah jarak. Lulus kuliah, udah nggak dirumitin jarak, tapi rumit sama persoalan hidup, menghidupi hidup, dan membiayai hidup. Kompleksitasnya meningkat, kan, tuh?

Saya dan Cami tinggal jauh dari rumah. Di sini saya kerja, di kantor. Dia merintis bisnis di bidang yang dia tekuni, bekerja dari rumah yang dia tinggali. Setiap pagi, dia samper saya ke kos, kami sarapan bareng sambil mengantar saya ke kantor. Lalu kami berpisah sekian jam; saya mengerjakan pekerjaan saya, dia mengerjakan pekerjaannya. Selesai saya kerja, dia jemput lagi, kami makan malam. Lalu kembali ke rumahnya. Kadang di rumahnya, saya melanjutkan beberapa pekerjaan yang belum selesai, dia juga melanjutkan urusan pekerjaannya. Kadang pula, kerjaan kami cuma geletakkan di kasur sambil nonton film dari laptopnya.

Itu normalnya.

Kalau saya nggak lembur.

Kalau dia lagi nggak ngurus syuting.

Ada hari-hari di mana saya harus pulang lebih malam dari biasanya karena brief klien tiba-tiba turun dari langit, meminta dieksekusi saat itu juga. Kalau itu terjadi, ya dia menunggu lebih lama untuk menjemput saya, dan tentunya menahan lapar lebih lama biar kami tetap makan malam bareng. Nyebelin. Tapi, kalau itu terjadi, ada sesuatu yang berbeda ketika kami pulang. Pelukan-pelukannya, bisa sampai bikin saya menitikkan air mata saking saya bersyukurnya; saya punya pelukan senyaman itu sebagai tempat pulang.

Ada pula hari-hari di mana dia sibuk ini itu mengurus projectnya, mulai dari pra produksi, produksi, sampai pasca produksi. Masa-masa itu tentu lebih menyita waktu dan pikirannya, juga sedikit mengubah kebiasaan dan mengurangi frekuensi kebersamaan kami. Saat saya nulis ini, kami lagi dalam keadaan tersebut. Dia lagi sibuk mempersiapkan produksi. Beberapa hari terakhir dia berangkat subuh-subuh dan pulang saat hari sudah malam. Nggak ada antar-jemput, nggak ada jarang makan bareng. Kami cuma ketemu saat makan malam. Tapi, makan malam bareng kami rasanya jadi lebih berarti. Saat makan malam itu saya bisa mendengar dia bercerita tentang aktivitasnya seharian tadi, tentang kejadian-kejadian seru yang dia alami. Rasanya…. bahagia bisa membingkai momen itu di penglihatan saya. Bahagia memori saya bisa merekam suaranya yang bercerita dengan nada antusias meski wajahnya jelas kelelahan. Ada kebanggaan tersendiri yang saya simpan dalam hati. Ada doa terpanjat tiap saya lihat binar di matanya. “Go on, baby. Do it. You can..”

Momen-momen semacam itu, sangat cukup untuk mengganti waktu yang sebelumnya tersita. Bahkan lebih. Hidup kami, dalam hal ini terkhusus pada soal relationship in adult life, memang semakin kompleks, tapi kami—kita—sebagai manusia yang berkembang memang harus bisa menyederhanakan segala kerumitan, kan? Nah, kalau ada yang baca ini, coba dipetakan, kamu dan pasanganmu sekarang sedang berada di fase yang mana? Di manapun itu, ingat satu hal; kerumitan yang kita alami saat ini nggak akan lebih rumit dari yang mungkin akan terjadi di fase selanjutnya. Jadi, sebaiknya, pintar-pintarlah cari sesuatu untuk disyukuri dan sederhanakanlah kerumitan yang ada, agar bisa menikmati.

Buat saya dan Cami, sekarang ini sudah bukan masanya untuk mengeluhkan soal frekuensi kebersamaan yang minim. Toh saya dan dia sedang berjuang untuk kami. Ya sudah, intinya, saya nggak akan mengeluhkan kerumitan ini. Selamat berjuang, temans!

 

 

***

Jogjakarta, April 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s