Ikut Keriaan Waisak di Borobudur, Apa yang Perlu Diperhatikan?

20160521_232210
persiapan acara puncak Waisak 2560 BE; pelepasan lampion

 

Setelah bertahun-tahun, finally kesampean juga lihat pelepasan lampion di Borobudur. Sebenarnya dulu sempat pernah ke sana, tapi karena pengetahuan tentang acara tersebut belum banyak, persiapan pun belum lengkap, akhirnya batal lah nonton. Singkat cerita, di kesempatan pertama itu saya yang datang sejak siang memutuskan pulang lebih cepat karena hujan deras mengguyur daerah candi Borobudur. Belakangan saya tahu ternyata acara pelepasan lampion ditiadakan malam itu, dan diganti ke esok harinya, lalu entah bagaimana kelanjutannya.

 

Pro-kontra Keberadaan Wisatawan di Perayaan Waisak

Sempat ada kehebohan di dunia maya setelah beredar viralnya foto salah satu turis yang mengabadikan gambar biksu sedang melakukan ritual, dari jarak sangat dekat. Muncul berbagai kecaman dari netizen saat itu, kebanyakan suara berbau keagamaan. I mean, tindakan turis tersebut dianggap tidak menghormati seseroang yang sedang menjalankan ibadahnya. Acara pelepasan lampion itu memang bikin perayaan Waisak di Borobudur jadi hype banget, sih, sepenglihatan saya. Terlebih setelah acara itu tampil dalam satu scene di salah satu film nasional. Nggak heran, peminatnya jadi makin banyak.

Saya juga punya pertentangan batin tersendiri, sih, tentang hype-nya acara perayaan Waisak ini. Jujur, yang paling menarik minat saya dari perayaan itu adalah pelepasan lampionnya. Tapi di satu sisi, saya kepikiran, mungkin mereka yang merayakannya malah merasa risih atau hilang kekhusyukannya beribadah saking banyaknya orang-orang nggak berkepentingan ibadah yang datang. Atau ritual yang dijalankan jadi kurang kesakralannya karena mereka “dipertontonkan” ke wisatawan, maybe? Entahlah. Saya nggak mau berkomentar banyak soal itu. Tapi ramainya kontra soal itu, membuat saya enggan ke sana lagi sampai beberapa kali perayaan berikutnya. Terus kenapa nih kemarin saya mau ke sana lagi? Ya buat lihat pesta lampion terbangnya lah.  :)))

Kalau kalian berminat untuk datang ke sana tahun depan, saya punya beberapa tips yang sebenernya basic banget, tapi penting buat diingat-ingat dan diterapkan.

 

Menghadiri tanpa mengganggu

Konsep “mengganggu” di sini bisa begitu luas. Cuma mungkin bisa diartikan begini; candi Borobudur itu rumah, umat Buddha yang berada di sana untuk merayakan hari raya keagamaannya itu tuan rumah. Nah, orang-orang seperti saya  dan kalian yang nggak punya kepentingan apa-apa di acara itu kecuali berwisata adalah tamu. Di mana-mana, yang namanya tamu ya menghormati tuan rumah, lah. Show your good attitude. Kalau saya nggak salah, beberapa dari rangkaian ritual mereka memang tertutup, atau wilayah tempat mereka melakukan ritual itu yang disterilkan dari wisatawan, lupa. Yang jelas, ingat, hormati tuan rumah, jaga sikap, jangan melakukan hal-hal yang mengganggu kenyamanan tuan rumah. Satu lagi, yang bertamu bukan kamu doang, jadiii… selain tidak mengganggu yang lain, alangkah baiknya kalau menjaga tata krama demi kenyamanan sesama pengunjung.

 

Datang lebih awal

Sebenarnya, rangkaian acara perayaan Waisak ini berlangsung sejak pagi di Candi Mendut, baru kemudian para peserta melanjutkan rangkaian acaranya ke candi Borobudur dengan berjalan kaki. Banyak banget wisatawan yang mau mengabadikan momen ini, serius deh. Silahkan aja, nggak bisa dipungkiri ritual ini memang memiliki daya tarik tersendiri kok. Tapi, mohon diingat untuk nggak mengganggu tuan rumah. Sebab bagaimanapun, kita adalah tamu di “rumah” mereka.

Untuk pelepasan lampionnya sendiri berlangsung menjelang tengah malam. Pintu masuk area Candi Borobudur akan ditutup (entah jam berapa, maaf nggak bisa konfirmasi waktu tepatnya) dan dibuka lagi jam 21.00 WIB. Nah, untuk yang cuma mengincar puncak acara ini kayak saya, FYI; pintu masuk area candi yang dibuka lagi jam 21.00 itu gratis. Sebagaimana acara gratisan lainnya, peminat acara puncak ini pun banyak banget. Antrean di depan pintu sangat padat, dan lumayan harus pasang badan untuk berdesakkan saat melewati pintu masuk. Jangan dorong-dorong, ya.

Acara pelepasan lampion ini dibuka untuk umum, wisatawan diperbolehkan untuk ikut dengan membeli lampion seharga 100K, uang tersebut nantinya akan didonasikan. Saat acara pelepasan lampion, para peserta berada di dalam lapangan yang dikelilingi oleh pembatas tali plastik, nah, untuk mereka yang tidak membeli lampion, berada di luar pagar pembatas. Banyak banget orang yang mau nyaksiin pelepasan lampion ini, banyak pula yang ingin mengabadikan momennya, termasuk mereka yang membawa kamera lengkap dengan lensa segala macam dan lampu flash a la fotografer di resepsi nikahan. Bayangin kalau mereka yang berperalatan lengkap itu datang hanya untuk mengabadikan momen pelepasan lampion, lalu datangnya jam 21.00 yang mana itu gratisan dan berbarengan dengan banyaaaaaaak banget orang-orang dengan minat serupa. Nah mereka yang datangnya belakangan dan berperalatan “perang” lengkap ini cukup berpotensi mengganggu pengunjung lain. Berebutan tempat pewe buat ngambil gambar, pasti. Dapet tempatnya? Belum tentu. Coba aja mereka nggak dapet tempat di depan, alias berada di barisan tengah, peralatan yang dibawa itu cukup mengganggu pandangan pengunjung lain di belakang atau samping kanan kirinya, lho. So, kalau kamu akan datang dengan peralatan lengkap untuk mengambil gambar, sebaiknya datang lebih awal agar dapat posisi yang enak, juga nggak mengganggu yang lainnya kalau-kalau kamu nggak dapet tempat paling depan.

20160521_232314
di acara pelepasan lampion, yang kayak mas-mas dangak megang kamera itu banyak!

 

Hal-hal yang penting untuk dipersiapkan

Dua kali saya berniat hadir, dua-duanya dibarengi dengan drama hujan deras. So, persiapan matang dan menyeluruh itu penting. Nih, saya coba list beberapa kebutuhan yang menunjang keamanan dan kenyamanan kamu di sana ya:

  1. Bawa ransel. Tas jinjing atau tas kecil oke sih buat tampil gaya saat berwisata, tapi mengingat akan ada beberapa benda “besar” yang dibutuhkan, bawa ransel akan lebih nyaman.
  2. Jas hujan. Kenapa nggak payung? Karena kemungkinan di sana akan berbaur dengan ribuan pengunjung lain, kalau kamu pake payung dan ribuan pengunjung lainnya juga pake payung, ya nanti beradu payungnya yang ada basah semua. Lagi pula, dengan jas hujan kamu akan lebih fleksibel bergerak. Di sana biasanya ada pedagang yang jualin jas hujan plastik, harganya 10-15K. Praktis.
  3. Pakai sandal atau sepatu anti air. Ini penting mengingat kemungkinan hujan yang cukup besar. Kalau pakai sepatu dan sepatumu basah, kan nggak nyaman. Kalau pakai sandal juga sebenarnya nggak nyaman sih misalkan kamu adalah orang yang risih kakinya kena becekan air. Jadi ya, silahkan dikondisikan senyamannya. Yang penting nggak pakai heels, deh.
  4. Bawa minum. Kalau sudah masuk area candi dan ngikutin rangkaian acaranya, akan susah untuk keluar-luar cari minum. Area para pedagang berjualan sama area acara berlangsung juga lumayan jauh, jadi daripada kamu mondar-mandir nyari air, lebih baik sedia minum banyak sejak awal, bawa botol sendiri lebih bagus lagi.
  5. Kantong plastik. Yang satu ini untuk apa? Ya untuk ngeletakkin barang-barang yang basah nantinya, kalau hujan atau kalau hujannya sudah selesai dan kamu masih mau melanjutkan acara. Plastik juga berfungsi untuk naruh sampah jika kamu belum ketemu tempat pembuangannya.
  6. Baju ganti. Ini dipake conditionally aja, sih. Kalau tasmu masih cukup ruang untuk nyimpan baju salin, nggak ada salahnya dibawa. Kalau kamu ikut acara Waisak di Borobudur ini dari pagi, pasti sampai malam badanmu sudah lengket nggak karuan. Belum lagi, kalau hujan mengguyur area candi Borobudur dan kamu terlambat menyelamatkan diri. Daripada kamu bertahan dengan baju lembap, kan?

Itu sih, yang saya ingat sekiranya diperlukan untuk kamu yang mau berburu momen di acara perayaan hari Waisak di Borobudur. Semoga cukup menggambarkan kondisi di sana dan jadi bahan perhitungan kalau kamu berencana hadir juga, ya!

 

 

20160521_233827
“and at last i see the light, and it’s like the sky is new” – Mandy Moore, I See the Light (Ost Rapunzel Tangled, 2011)

 

***

Jogjakarta, Mei 2016

Menghadiri Perayaan Waisak di Candi Borobudur

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s