Mengenang Mimpi

Mimpi bisa menjadi banyak arti, tergantung isi kepala dan suara hati pemiliknya. Mimpi bisa jadi motivasi untuk melaju memperbaiki diri, tapi mimpi juga bisa membawa kita—atau hanya saya—terperosok ke dalam jurang kesedihan. Dalam..

Sejak Bapak pergi, satu-satunya medium yang bisa mempertemukan saya dan beliau hanya mimpi. Saya selalu menanti-nanti beliau datang di mimpi, meski selalu ada perasaan sedih yang menggunung setelah saya terbangun. Memimpikannya.. adalah merasakan perihnya luka yang tak kunjung mengering, tapi saya nikmati.

Bapak tidak datang ketika saya merindukannya, tidak datang di saat saya meminta. Berkali-kali saya memimpikannya sejak ia pergi, Bapak hanya datang ketika saya sedang merasa gagal dan sibuk menyalahkan diri sendiri atas kekacauan yang disebabkan orang lain. Hanya tersenyum.

But i know what it means.

Bapak mau bilang, “Makin dewasa hidup emang makin berat, tanggung jawabnya makin besar. Mpit jagoan Bapak, deh, pokoknya.”

Yaaa, begitu biasanya.

Tapi ada satu mimpi yang berbeda dari biasanya. Di mimpi itu, Bapak menarik saya keluar dari tengah keramaian, lalu kami berada di sebuah ruangan berdinding kaca, atau hanya sisi tempat kami duduk yang berdinding kaca, entahlah. Yang jelas kami duduk di sana, bersisian. Dalam mimpi itu sebenarnya saya sedang bersiap menghadiri sebuah pesta pernikahan sebelum akhirnya ketemu Bapak. Lalu saya cerita sama Bapak, saya lagi siap-siap mau pergi, dan Bapak merespon dengan “nanti kalo Cece sama Mpit nikah, Bapak nggak nganter, ya..”

Kemudian saya patah hati sejadi-jadinya. Saya menangis, sampai bangun pun masih dalam keadaan menangis.

Menikah mungkin ada dalam daftar mimpi setiap anak perempuan, termasuk saya. Tapi mimpi saya sudah nggak sempurna, karena saya nggak akan pernah bisa mencium tangan Bapak untuk meminta restunya. Bukan tangan Bapak yang akan menyerahkan saya ke tangan lelaki saya. Bukan Bapak yang akan mengantarkan saya menuju kehidupan baru saya, nanti.

hug
a kind of hug that i won’t have on my wedding day. (source: cloudfront)

Sekarang, setelah Bapak pergi dan mimpi ini datang menyadarkan saya, saya nggak tahu apakah momen pernikahan di benak saya masih seindah dan semembahagiakan dulu sebelum Bapak pergi. Sekarang, rasanya semua masih tertutup oleh banyak kabut kesedihan. But, hey, i’ll deal with it anyway. Why worry? :’)

Mungkin Bapak sudah terlalu lelah menjadi orang yang selalu saya tinggalkan. Mungkin Bapak akan jauh lebih patah hati dari saya sekarang ini, kalau nanti dia harus melihat saya (lagi-lagi) pergi, makanya kali ini Tuhan menggariskan dia untuk pergi lebih dahulu.

 

 

 

 

 

***

Jogjakarta, Juni 2016

Seharusnya rasa kehilangan itu membuat saya nggak takut akan apapun lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s