Ngomongin Nikah (Part I): Alasan yang Mengada-ada

Why-Love-Is-a-Good-Drug-for-Mind-and-Body-ftr
#lopelopediudara

Di usia 23 tahun ini omongan soal pernikahan udah sama banyaknya dengan kembang api di tahun baru. Entah itu soal pernikahan artis siapa-yang-kita-diundang-aja-nggak, soal pernikahan si ini itu ina anu dari circle luar, sampai soal pernikahan sendiri—baik yang sudah pasti maupun masih dalam angan-angan.

Menikah.

Seberapa banyak orang sih yang nggak mau menikah? Kebanyakan pasti mau. Apalagi cah-cah early twenty macam saya gini. Alasannya beragam, ada yang karena memang sudah yakin satu sama lain dengan pasangannya dan kebetulan rezeki untuk menggelar acara pernikahannya ada, ada yang simply merasa hidup akan lebih mudah jika mereka tinggal bersama menjadi sebuah keluarga, ada juga yang “udah umur segini, mau ngapain lagi?” padahal umurnya masih 23.

Yang terakhir (disarankan) nggak usah dijadikan acuan ya, gaes.

Usia 23 tahun memang bisa dibilang nggak lagi terlalu muda, dari segi fisik mungkin cukup lah untuk memasuki kehidupan pernikahan, urusan mental dan lain-lain ya entah, bisa berbeda di tiap orangnya. Tapi menjadikan “umur udah segini, mau ngapain lagi?” di umur 23 sebagai alasan untuk lekas menikah itu saya kurang setuju. Kok “mau ngapain lagi?” sih? Baru 23, lho. Masih banyak yang bisa dilakuin. Berkarier, misalnya? Membangun sebanyak-banyaknya koneksi dengan orang-orang hebat di luar sana, membuka peluang untuk sukses ke depannya. Pernikahan juga punya rezekinya sendiri sih, memang. Tapi kalau memang pintu untuk ke situ belum terbuka, kenapa harus termangu di depannya seakan nggak ada jalan lain, untuk mengetuk pintu yang lain dulu? Buah pikir orang beda-beda, sih. But, still, kebelet nikah karena alasan “udah umur segini, mau ngapain lagi?” di umur 23 itu menurut saya layak direvisi.

Ada lagi yang mengesampingkan faktor kemapanan demi menikah cepat, dengan bilang, “nikah jangan nunggu kaya, enakan juga membangun semuanya sama-sama, biar nanti anak-anaknya tahu rasanya berjuang seperti apa”. Yes river. Premisnya sih OK, tapi objective di akhir kalimat yang bilang “..biar anak-anaknya tahu rasanya berjuang seperti apa”, aku sih NO, ya, nggak tahu kalau mas Anang. Kenapa harus anak-anak yang dikorbankan atas dasar “biar tahu rasanya berjuang seperti apa” demi mewujudkan keinginan kedua orang tuanya yang kebelet nikah dan mengesampingkan realitas? Kenapa nggak berjuang dulu berdua sampai mapan, biar nanti anak-anaknya bisa berjuang dalam keadaan yang lebih nyaman dari kedua orang tuanya?

Kondisi-kondisi demikian memang nggak bisa disamaratakan pada setiap pasangan. Gimana rezekinya aja, sih. Saya menulis ini tanpa bermaksud menggurui sama sekali, ini semua murni buah pemikiran dari sudut pandang saya mengenai alasan pernikahan yang menurut saya “memaksakan”. Kerabat saya yang sedang menjalani tahun pertama pernikahannya pun membenarkan bahwa ketika menikah, pikiran akan jadi lebih realistis. Penting bagi setiap pasangan yang lagi kebelet nikah untuk mendengarkan kata orang lain, at least sebagai modal buat “mengenal medan”. Karena jalan dari pacaran sampai ke pernikahan mungkin bisa dipersingkat, tapi kehidupan setelah pernikahan adalah jalan panjaaaaaaaaaaaaaaaang yang lain lagi. Ya, kan? 🙂

 

 

***

Depok, Agustus 2016

CIYEEE NGOMONGIN NIKAH!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s