Ngomongin Nikah (Part II): Menjawab Pertanyaan “Kapan Nikah?” dengan Cool

5d72c470-eb1d-418e-82f8-b0800d661224
kapan?

Pada postingan sebelumnya saya menuliskan sedikit opini berdasarkan fakta-fakta yang terjadi di sekitar saya sendiri, tentang apa saja yang menjadi alasan orang-orang di sekitar saya memutuskan untuk menikah, atau kebelet menikah. Ada yang demikian beruntungnya dipertemukan semesta dengan pasangannya di saat keduanya telah ‘siap’, ada yang ‘nekat’, and sadly, ada yang pengin nikah karena alasan-alasan yang (menurut saya) mengada-ada. (baca Ngomongin Nikah Part I: Alasan yang Mengada-ada di sini).

 

Bagi saya yang belum menikah ini, jelas saya dan pacar saya tidak dipertemukan saat kami sudah siap untuk menikah, kami perlu berjuang bersama dalam waktu yang lumayan lama untuk sampai ke jenjang pernikahan. Mungkin nekat itu perlu, tapi membuat alasan yang mengada-ada sebagai pembenaran untuk kebelet nikah, mungkin nggak. Nekat juga harus diperhitungkan. Dalam urusan pernikahan, nekat bukan berarti mengabaikan keterbatasan yang dimiliki saat mengambil keputusan, karena efek dari kenekatan tersebut tidak akan terhenti di hari pernikahan, tapi juga akan mempengaruhi hari-hari saya sesisa hidup setelahnya. Jadi, menurut saya, sebaiknya nekat dengan penuh perhitungan.

 

Saya pribadi sudah sering dinasehati Ibu, “nikah, mpit. Rezeki mah ada aja, nggak usah nunggu kaya dulu baru nikah”, lalu saya menjawab dengan desperate, YA BUKANNYA NUNGGU KAYA, BU, TAPI INI MAU NONTON KONSER COLDPLAY AJA NGGAK PUNYA UIK” *cry* HEHEHEHE nggak ding. Yes river. Tanpa mengurangi rasa hormat maupun niat untuk membantah Ibu, tapi, saya punya alasan yang membuat saya nggak bisa mengAmin-kan nasehat Ibu begitu saja. Jadi, paling saya jawab, “Iya, doain aja”. The power of; IyaAjaDulu™.

PS: berdasarkan pengalaman pribadi, kalimat semacam gini paling susah ditepis kalau keluarnya dari mulut Ibu/orang tua sendiri. Kalau dari orang lain, mah, ditanggapin sambil cengengesan terus melengos pergi juga jadi.

 

Kayak gini, nih, jawaban yang biasa saya pakai kalau ditanya orang “kapan nikah?”.

Rekomendasi jawaban yang membantu kamu tetap tampak cool saat menanggapi pertanyaan KAPAN NIKAH?

  1. KAPAN NIKAH? – ditanyakan oleh orang nggak penting (1). Jawab: “Nanti deh, kalau udah gajian”. Sewaktu jawab dengan kalimat ini, saya mah bermaksud untuk membalas ke-basa-basian-yang-basi tersebut dengan jawaban yang sama basinya. Orang nanya “kapan nikah?”, nikah, sesuatu hal penting yang dilakukan sekali seumur hidup, tapi cuma untuk berbasa-basi. HELLAW. Ya jawab aja dengan jawaban yang setara dengan keputusan untuk membeli sepatu atau baju baru; nanti deh, kalau udah gajian. Impas.
  2. KAPAN NIKAH? – ditanyakan oleh orang nggak penting (2). Jawab: “Ini ntar abis maghrib kalau nggak ujan”. Hahahahahahahaha. Brainless. Nggak ada pengaruhnya hujan sama keputusan menikah, sama kayak nggak ada urusannya mereka nanyain saya kapan saya menikah. Nanya doang, ngebiayain enggak.
  3. Kapan Nikah? – ditanyakan oleh orang nggak penting (3). “Udah kaleeeeee minggu kemarin, emang lo aja yang nggak diundang”. Ucapkan lah dengan ekspresi yang paling mendukung yang bisa kamu pajang di muka, gaes. Tunjukkan ke mereka yang pake pertanyaan “kapan nikah?” buat basa-basi itu, bahwa mereka nggak segitu pentingnya untuk dikasih tahu soal kabar bahagia tentang pernikahan kamu. Seriously, you must try!
  4. Kapan Nikah? – ditanyakan oleh teman akrab. Jawab: “Nanti deeeeh, sengaja nih gue ngebiarin lo duluan biar jadwalnya nggak bentrok, kasian ntar anak-anak bingung kondangannya ke mana dulu”, atau seserius-seriusnya jawaban, “insya Allah secepatnya, doain yaa. Ini lagi diperjuangin kok..” bagi saya, seorang teman berhak mendapatkan jawaban yang lebih baik, karena saya percaya mereka benar-benar ingin menanyakan kapan kabar bahagia itu sampai kepadanya. 🙂 KECUALIIIIIII….. kalau setelah jawaban itu mereka melanjutkan dengan kalimat, “buruan nikah, ngapain pacaran lama-lama nanti nggak jadi, lho”. Itu mah, terserah kalian deh mau jawab apa. Jawab dengan apa yang terlintas di kepala saat pertama kali mendengar perkataan tersebut juga boleh, nggak pake mikir juga nggak apa-apa. Soalnya, kalau yang ngomong kayak gitu ‘mikir’, dia nggak akan sampai hati mengucap kalimat tersebut ke kalian. :)))))

 

Dari keempat macam jawaban berbeda yang saya rekomendasikan, persamaan di antaranya adalah; pertanyaan itu datang, dan jawaban-jawaban itu ditujukan kepada mereka, yang nggak punya peran besar-besar banget dalam hidup kita—saya. Mungkin cuma teman di circle luar yang lumayan jauh sehingga nothing common to talk about saat ketemu, mungkin cuma orang asing yang merasa punya andil dalam hidup kita padahal nggak, cuma orang jauh yang kebetulan beririsan dengan circle pertemanan kita, atau cuma teman yang lagi dibutakan dengan kebahagiaan bahwa pernikahannya sudah di depan mata—atau sudah terlaksana, sehingga dia punya excuse untuk merasa dirinya ‘lebih’ dari teman-temannya yang masih berjuang. Persamaan lainnya adalah; mereka sama-sama nggak penting untuk dijawab dengan serius, apalagi dijadiin bahan baper. Serius, deh, mereka nggak serius nanya kapan kamu nikah. (tetooot! Mengulang kata ‘serius’!)

 

Orang yang tulus bertanya mengenai kapan kamu menikah itu, nggak akan bertanya saat kebetulan papasan di jalan, atau saat ngasihin undangan pernikahannya, atau saat ngobrolin undangan pernikahan dari pihak ketiga. Mereka cuma akan jadi partner kamu menjalani hari-hari melajang, offline maupun online, jadi partner cerita tentang kisah percintaan masing-masing, dan turut bahagia ketika kamu akhirnya benar-benar memberikan kabar itu ke mereka. Tapi, kadang juga bahagianya berbentuk respon “anying, beneran lo nikah?”, sih. :)))

 

At the end, ketika kamu akhirnya jadi orang yang berbahagia karena pernikahanmu sudah di depan mata, nggak perlu merasa menang dan membuat orang lain merasa kalah hanya karena kamu akan menikah atau sudah menikah sementara mereka belum, karena pernikahan ini bukan lomba 17-an. Nggak perlu dulu-duluan. Apalagi sampai ngucap, “buruan nikah, ngapain pacaran lama-lama, ntar nggak jadi, lho” ke teman, walaupun faktanya memang usia hubungannya dengan pacarnya sudah jauh lebih lama, tapi belum juga menutuskan menikah, dibanding kamu dan pacarmu (calon) suamimu yang baru kenal nggak sampai separuh usia hubungan mereka tapi sudah diberikan rezeki untuk menikah.

 

Be happy and enjoy the journey, baby!

 

 

***

Depok, Agustus 2016

 

Advertisements

2 thoughts on “Ngomongin Nikah (Part II): Menjawab Pertanyaan “Kapan Nikah?” dengan Cool

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s