It’s Another Level of Us

Huah! Lama banget nggak curhat di sini. Hahahaha. Kayaknya banyak banget hal yang terjadi since my last post yang ngomongin nikah itu. Hmmmm. Itu di bulan Agustus, sekarang udah masuk Oktober. Post terakhir ditulis di sela-sela waktu nganggur, post ini ditulis di sela-sela waktu istirahat karena sakit setelah kecapekan kerja. Well, mungkin pembeda yang gamblang antara post terakhir dan post ini memang masa nganggur dan masa kerja, sih. :)))

I’ve spent two months being unemployee sejak balik dari tanah rantau kecintaan; Jogjakarta, sampai akhirnya bekerja di tempat yang sekarang. Dua bulan yang sungguh seperti lagi naik roller coaster. Meskipun pada dasarnya ini adalah tentang “pulang ke rumah”, tapi nggak bisa dipungkiri, proses menyesuaikan diri dengan rumah sekembalinya dari Jogja beberapa waktu lalu malah lebih sulit dibanding penyesuaian diri dengan kehidupan di Jogja waktu awal-awal ninggalin rumah. Nah, dari berbagai aspek yang terasa, yang mau saya curhatin kali ini adalah soal kebiasaan saya dan Cami yang kembali berbeda.

It’s just another level” sih, kata dia. Setelah kami LDR 4 tahun, lalu hidup bareng 1,5 tahun, sekarang kami kembali ke rumah masing-masing; nggak LDR, tapi nggak sedekat 1,5 tahun kemarin. Tahu nggak gimana rasanya?

Tahu nggak?

Ha?

Nggak usah tahu, deh. NYEBELIN POKOKNYA! :(((

Di Jogja kemarin, kami memang punya rutinitas masing-masing. Tapi di luar itu, kami “hanya” memiliki satu sama lain, jadi kami hampir selalu bersama. Setiap pagi, saya dijemput dan diantar ke kantor, kami sarapan bareng. Lalu saya kerja, dia juga. Sorenya saya dijemput lagi untuk pulang, lalu kami makan malam, atau pergi ke mana, nongkrong-nongkrong, main-main, berdua aja atau bareng-bareng sama teman yang lain. Nggak jarang juga langsung pulang ke tempatnya atau tempat saya. Leyeh-leyeh, melepas mumet karena kerjaan di kantor, memperbaiki mood dengan pelukan dan ciuman sambil nonton film-film unduhan di laptop. Lalu baru berpisah lagi menjelang tidur. Malah kadang, saya nginep di tempatnya. Nggak pulang. Jadi kami nggak pisah sampai besok paginya berangkat kantor lagi, dan mengulang aktivitas itu lagi.

20160616_094650-01
yaelah, makan di burjo aja selfie.

Sepulangnya ke rumah, pertama-tama kami harus menyesuaikan diri dengan realita bahwa jarak antara rumah kami itu sekitar 22 KM, atau yaaa.. 1 jam perjalanan jika ditempuh dengan motor. Lha, waktu di Jogja, nggak tinggal bareng juga jarak kos saya dan rumah kontrakannya kayaknya nggak sampai 1 KM, naik motor paling 5 menit. Nggak pake macet, paling antre jalan di perempatan selokan, itu juga sedikit. Ini… huft. Jarak puluhan kilometer itu tentu jadi pertimbangan; nggak bisa kayak di Jogja, dia jemput saya cuma buat makan siang bareng, habis itu balik ke rumahnya, terus balikin saya ke rumah lagi waktu malam. Nggg, bisa aja sih sebenernya, tapi kami mencoba realistis; capek. :))) Jadi kami mencoba menjalaninya seperti orang-orang pacaran pada umumnya, yang tinggal di rumah masing-masing, ketemu untuk kentjan, lalu berpisah lagi untuk pulang ke rumah masing-masing.

2016-08-14 01.17.56 1.jpg
Udah cakep-cakep, udah mesra-mesra gini, tapi pulangnya ke rumah sendiri-sendiri. 😦

To be honest, untuk kami yang sebelumnya pernah sebegitu dekat, penyesuaian diri di fase ini jadi agak berat. Hahahahaha. Tapi kami terus berusaha, berjuang menyesuaikan diri dengan keadaan, berdua. Kami berkompromi, kami bertoleransi. Sesekali juga kami mengalah pada keadaan; mengesampingkan hasrat-hasrat untuk bercumbu. Hish, menyebalkan! :)))

Dua bulan kami menganggur di rumah, petantang-petenteng, cari kerja, interview sana-sini, memenuhi undangan main dari teman-teman, plus cari wifi yang seringnya memilih numpang di rumah orang biar gratis, sampai kami bosan dan mulai krisis kepercayaan diri. Ayolah, pengin kerja.

Kami berharap, berdoa, memohon agar kami diberikan jalan untuk mendapatkan apa yang kami butuhkan. Sebuah pekerjaan. Pekerjaan yang kami inginkan. Pekerjaan yang kami senangi. Pekerjaan yang Tuhan ridhoi. Pekerjaan yang baik bagi kami dan bagi keluarga kami. Pekerjaan yang cukup untuk membiayai kehidupan kami sekarang ini serta menghidupi mimpi-mimpi kami nanti. Dua bulan semenjak kami kembali, kami nggak putus berusaha dan berdoa untuk itu. Saling mendampingi dan men-support.

Jawaban dari doa kami menghampiri saya terlebih dahulu. Saya mendapatkan pekerjaan. Kami senang! Alhamdulillah. Tapi di balik kesenangan tersebut, ada lagi sedikit kekhawatiran; nanti ketemunya gimana kalau udah kerja? Makin susah dong?

Realitanya memang terlalu berat dihadapi kalau kami masih ingin meneruskan kebiasaan antar-jemput dan sarapan-makan malam bareng. Well, seperti kata Cami, “it’s just another level”. Coba jalanin aja dulu. Dua minggu awal saya kerja, masih sempat sih beberapa kali dijemput dan diantar pulang, walau nggak di kantor banget, tapi at least bisa lah, makan malam bareng.

Cami juga sempat bilang, “yah, makin bingung deh aku nganggurnya sendirian”. Hahahaha. Ya memang, sepertinya setelah saya resmi mendapat pekerjaan, saya jadi melimpahkan seluruh beban dari predikat “pengangguran” ke pundaknya. Karena itu kami berdoa lebih keras lagi untuknya, agar doa-doa tersebut segera menghampiri jawaban.

Alhamdulillah, kami nggak perlu waktu lama untuk menunggu doa itu terjawab. Cami dapet kerja. :’))

Beriringan dengan itu, kekhawatiran akan semakin sulitnya kami mencari waktu untuk ketemu makin menjadi-jadi. Kami sama-sama kerja, kantor beda arah, rumah jauh, saya kadang harus kerja di weekend. Terus ketemunya kapan, nih? Lalu, kekhawatiran itu diperparah lagi karena di hari keduanya kerja—yang mana saat itu kami juga belum ketemu lagi sejak weekend terakhir—Cami ngabarin kalau dia akan berangakat kerja keluar kota, 10 hari. Damn! Jadi ajalah kami, nggg… saya maksudnya, drama luar biasa. Sad.

Waktu kami di Jogja juga kami cukup sering sih, terpisah beberapa hari karena saya ada kerjaan ke Jakarta atau dia ada suting di luar kota. Tapi setelah selesai, kami bisa langsung berhambur ke pelukan satu sama lain. Di sini nggak. Dia pulang dari luar kota kemarin pun keinginan untuk ketemu masih harus terhalang satu-dua urusan. Sebagai perempuan, ego saya merasa terkalahkan. Huft.

Tapi, seperti yang udah-udah. Pelukan pertama kami setelah terpisah sekian lama itu selalu terasa menenangkan. Selalu menjadi alasan bersyukur yang besar; bahwa kami punya tempat senyaman itu untuk pulang. Sayangnya, di sini, dengan keadaan begini, kami masih belum bisa mendapatkannya setiap hari. Tapi sementara ini, kami berjanji untuk selalu meluangkan waktu di tengah himpitan beban pekerjaan, demi bisa sekadar bersama, duduk bersisian dan berbagi peluk untuk me-recharge tenaga. Sementara waktu, kami berdoa semoga apa yang kami upayakan dicukupkan.

Sekali lagi, it’s just another level of us. Sambil berjuang supaya bisa segera pulang ke rumah yang sama tiap pulang kentjan, dan berhambur mengadu ke peluk satu sama lain kalau badan dan pikiran sudah terlalu lelah karena rutinitas di luar, atau sekadar berbagi cerita di ranjang kami menjelang tidur, kami berdoa; semoga kami senantiasa dicukupkan atas segala yang kami perjuangkan. Semoga perpisahan kami di tiap penghujung hari sekarang-sekarang ini akan segera terbayar dengan peluk dan kecup selamat tidur tiap malam, di dalam perwujudan doa-doa dan kebaikan lain yang bernama rumah tangga. Aamiin.

Fyuuuhhhhh , ternyata begini ya susahnya jadi pasangan pekerja di ibukota. :)))) Di luar segala keruwetannya, entah kenapa, saya percaya semuanya akan terasa lebih ringan dijalani ketika saya dan Cami bisa pulang ke rumah yang sama tiap hari. DUUUUH JADI NGGAK SABAR! DOAIN YA!

 

 

***

Depok, Oktober 2016

Curhatan pasangan sekaligus pekerja ibukota newbie.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s