Halo, 2017..

a2colourfulhotairballoon17
2017. (Minjem gambarnya Coldplay)

Saya sedang mencoba mengingat lagi, rasanya menyambut pergantian tahun dengan rasa syukur serta optimisme akan mimpi-mimpi dan harapan baru. Sulit, entah di bagian mananya.

Beberapa tahun belakangan, saya punya keisengan yang cukup konsisten tiap akhir tahun, yakni menuliskan perjalanan saya setahun ke belakang dan doa-doa untuk tahun berikutnya. Bukan apa-apa, di tengah berbagai kebrengsekan hidup yang saya lalui, saya hanya berusaha untuk selalu menemukan alasan-alasan untuk bersyukur. Buat saya, menuliskannya adalah salah satu cara saya untuk menemukan alasan itu sekaligus menemukan harapan baru akan hari esok.

Sedikit ulasan, ini beberapa personal notes yang pernah saya tulis di akhir tahun;

2012: Tentang Seseorang — 2012 itu tahun yang berat banget buat saya. Tahunnya kekuatan hati saya diuji habis-habisan. Sekarang ketika masanya sudah lewat dan kembali baca itu, saya masih merasakan sisa-sisa perihnya. Tapi lebih dari itu semua; saya bersyukur saya berhasil melewatinya, dan seperti apa yang saya bilang di akhir tulisan; hasil perjuangan ketika itu sudah menanti. Alhamdulillah.

2013: 2013’s Best Achievement — kalau 2012 itu tahunnya konflik, tahun 2013 Alhamdulillah ketemu titik terang. Masalah terbesar yang membebani di tahun sebelumnya terselesaikan di tahun ini. Alhamdulillah, ini pencapaian yang jadi salah satu dari nggak banyak hal yang bikin saya bangga sama diri sendiri.

2014: Gimana, 2014-nya? — standar, lah. Skripsi, lulus kuliah, stres jadi pengangguran tapi kemudian dapat kerja, dapat kerjanya di Jogja pula. Setelah melewati 2012 yang berat dan 2013 sebagai tahun solusi, catatan akhir tahun ini auranya lumayan positif dan penuh optimisme.

2015: Nggak ada catatan akhir tahun.

Lho, kok nggak ada catatan akhir tahun?

***

Tuhan Mahabercanda. Akhir tahun 2014 nulis dengan bahagia dan optimisme yang luar biasa karena dapat kerja di Jogja. Itu combo; 1) dapat kerja, 2) di Jogja which means; bye LDR! Tapi… semalam menjelang keberangkatan saya ke Jogja, Bapak dibawa ke Rumah Sakit karena bengkak di kaki yang udah nggak bisa ditahan. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, selang sebulan kemudian ketahuan penyebabnya; beliau mengidap kanker kandung kemih stadium IV.

20150419_084013
Bapak di bulan ke sekian setelah diketahui sakit.

Hati saya hancur, sehancur-hancurnya.

Sempat ada kebimbangan dalam hati, apa saya harus kembali ke rumah dan menemani Bapak melawan penyakitnya? Akhirnya saya memutuskan untuk menetap di Jogja, dan pulang sesering yang saya bisa untuk menjenguknya. Bukan karena saya lebih sayang Cami daripada Bapak. Tapi karena saya sadar bahwa saya nggak sekuat itu untuk terus menerus melihat Bapak sakit, kesakitan, berteriak, dan saya nggak bisa melakukan apa-apa selain menangis dan mengusap kakinya.

Di rumah atau di Jogja, Bapak tetap sakit, saya tetap hancur. Tapi saya memilih untuk tidak memperlihatkan kehancuran saya di hadapan Bapak. Sebab Bapak butuh dukungan, butuh doa, butuh kekuatan tambahan dari orang-orang terkasihnya; bukan air mata.

Insya Allah saya nggak menyesali keputusan itu. Saya bersyukur bisa mengungkapkan perasaan saya ke Bapak, memberinya perhatian, doa dan dukungan meski hanya lewat ponsel. Itu yang saya ingin, saya ingin mengatakannya, saya ingin mengucapkannya. Saya ingin bilang langsung agar dia tahu. Karena selama 22 tahun kami bersama, mungkin nggak sampai habis jari tangan saya dipakai menghitung berapa banyak saya bilang sayang ke Bapak.

Tahun 2015 memiliki kebrengsekannya sendiri di beberapa hal lain, tentu. Tapi nggak ada yang lebih menyakitkan dibanding fakta bahwa Bapak sedang berjuang antara hidup dan mati. Jadi saya anggap yang lain nggak ada apa-apanya.

Belum sempat tahun berganti, rupanya Bapak sudah kehabisan tenaga untuk melawan penyakitnya. Akhirnya tubuhnya menyerah, meski segenap jiwanya, saya yakin dia masih sangat ingin di sini. Bersama saya, ibu, dan yang lainnya.

(Baca juga: Kehilangan yang Menyakitkan)

Dunia saya seketika runtuh seperti Bapak lah yang selama ini jadi penyangganya. Saya merasa nggak berdaya, kehilangan seluruh tenaga, bahkan merasa nggak berharga. Saya kehilangan kepercayaan diri. Saya menangis karena hal-hal kecil, marah pada hal-hal kecil, kecewa terhadap hal-hal kecil. Terombang-ambing.

Hampir seluruh kekuatan dan kepercayaan diri yang saya punya asalnya dari Bapak. Dulu saya bisa pede-pede aja putus cinta dan patah hati sama pacar, karena saya tahu akan selalu ada orang yang mencintai saya lebih dari laki-laki manapun di dunia ini; Bapak. Saya pede-pede aja menghadapi kegagalan, karena seberapapun saya merasa bodoh akan selalu ada satu orang yang percaya sepenuhnya pada saya, bahkan menganggap saya ini jagoan; Bapak.

Ketika dia pergi, saya nggak punya apa-apa lagi. Saya nggak bisa apa-apa.

Tahun 2016 adalah perpanjangan kesedihan dari tahun 2015. Di pergantian tahun, saya masih nggak kuasa untuk menuliskan kesedihan setahun belakangan karena Bapak sakit, dan juga nggak punya doa-doa serta harapan untuk dicapai di tahun berikutnya karena pada saat itu, saya pun nggak tahu harus bagaimana memijakkan kaki agar bisa kembali berdiri tegak.

Sepanjang tahun 2016 banyak dihiasi tangisan kehilangan.

Tapi Allah nggak pernah ingkar. Inna ma’al usri yusra’, Sesudah kesulitan ada kemudahan. Saya mengartikan kalimat ini sebagai perputaran roda kehidupan, bahwa saat kita sedih, ya kita nggak akan selalu sedih. Sama halnya dengan kesedihan saya.

Dari kehancuran dan kerapuhan saya, saya bisa melihat siapa orang yang benar-benar peduli. Saya bisa melihat betapa mereka mencurahkan perhatian, waktu dan tenaganya untuk membantu saya bangkit. Saya merasakan genggaman tangannya, pelukannya. Cintanya.

img-20161113-wa0008-01
Salah satunya. Hai, makasih ya, kamu.

Langkah saya mungkin terseok-seok, tapi setidaknya, saya mampu bertahan.

Sekarang tahun sudah berganti, saya masih belum menemukan semangat dan optimisme seperti yang berhasil saya pancarkan di catatan akhir tahun 2014 setelah saya berhasil melewati 2012 dan 2013, untuk menyambut hari-hari berikutnya sampai nanti bertemu penghujung tahun lagi. Tapi setidaknya ada yang bisa disyukuri. Selalu ada alasan untuk bersyukur.

Kemarin saya menyambut 2016 dengan pikiran-pikiran pengin ikut mati, tapi sampai 2016 berakhir lagi, ternyata saya masih hidup.

Kemarin saya berpikir masih butuh 5-10 tahun lagi agar bisa mewujudkan salah satu impiran besar dalam hidup saya untuk nonton konser Coldplay, eh ternyata tahun 2017 ini udah bisa. Alhamdulillah.

Nggak tau mau menaruh harapan di mana lagi. Pandangan jarak jauh saya masih dibayang-bayangi kesedihan akibat kepergian Bapak. Saya belum sepulih itu. Entahlah, mungkin saya hanya berharap perlindungan dan kekuatan dari Dia, agar apapun yang ditakdirkan untuk saya bisa saya hadapi dengan ikhlas, semata karena ridhanya yang Mahapenting. Insya Allah. Bismillahirrahmanirrahim. :’)

***

Depok, Januari 2017

Bismillahi tawakkaltu alallah, la hawla wala quwwata illa billah.

In the name of Allah, I place my trust on Allah, there is no power (to do good) and no might (to abstain from evil) except with the assistance of Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s