Konser Coldplay: My Dreams Do Come True

Wahahaha, makasih lho masih mau bacain curhatan ini. Saya nggak menjanjikan ada nilai informasi yang bermanfaat banget di sini, tapi semoga kalian yang baca ketularan senengnya dan semangatnya, yaa. :’)

Baca juga: Mpit Nonton Coldplay!

Jeda waktu sehari antara kedatangan dengan hari konser nggak terlalu kami isi dengan perintilan liburan. Sebenarnya dari awal pun kamu nggak kepikiran untuk liburan yang benar-benar liburan sih, jadi di hari itu kami sekadar jalan-jalan mengisi waktu luang aja.

Tengah malam waktu Singapore kami kembali ke hostel, menyiapkan tenaga buat keesokan hari. Saya masih biasa aja menyambut hari besar itu. Bukan karena harinya yang biasa aja, sih, tapi lebih ke… saking campur aduknya perasaan sampai nggak tahu harus berekspresi gimana. Jadi malam itu pun tidur biasa aja, bangun di pagi harinya juga masih biasa aja. Sampai akhirnya kami tiba di venue, National Stadium Singapore. Mulai tuh berasa sensasi mau nonton Coldplay. Secara di sana sudah ramai penonton pakai berbagai atribut A Head Full Of Dreams. Di bagian depan juga ada booth official merchandise, saya sama Cami iseng ngintip-ngintip.

Iseng, iseng, tau-tau beli. Impulsif. x)))

Habis impulsif, keluar dari booth kami ketawa-tawa, WAAAH KITA HABIS BELI KAOS HARGANYA SEYUTA! HAHAHAHAHA (kelas menengah tetaplah kelas menengah), tapi nggak disesali kok. Kapan lagi ya kan!

Etapi lucunya setelah dilihat-lihat, ternyata kami pilih kaos yang se-tema. Cami ambil yang gambar monkey-monkey AOAL, saya ambil yang bergambar lirik AOAL tulisan tangan Chris Martin. Dua-duanya warna abu-abu. So, setuju kan kalau saya bilang kaos seharga seyuta ini kaos couple terbaik yang kami punya?

20170331_161603-01[1].jpeg

Antre!

Berhubung tiket kami seated, jadi urusan antre ini kami sangat selow. Sebelum ke venue, kami sempet balik ke Bugis St. lagi untuk belanja oleh-oleh part II, dan baru sampe venue itu sekitar jam 15.00 waktu setempat. Plus, tempat duduk saya dan Cami ada di dua section berbeda, yang mana artinya kamu harus menunggu di dua pintu yang berbeda. Jadi sengaja aja deh ngantrenya nantian aja biar nggak celong. Waktu itu sempat hujan deras lengkap dengan petir menggelegar. Sereeem, tapi untungnya nggak lama. Begitu hujan reda saya langsung minta temenin Cami cari toilet karena daritadi sudah nahan pipis. Di saat bersamaan, di dalam stadium sudah ada musik mengalun dan diiringi teriakan keras, Coldplay sudah sound check, :’) yang teriak itu kayaknya VIP ticket’s holder. Yang masih di depan stadium kebagian senangnya, saya pun! Pas lagi jalan ke toilet, ada intro Paradise menggema. Ya Tuhaaaan. Paradise itu didengerin secara digital aja bikin halu! Ini saya dengar langsung. Spontan saya narik Cami untuk melipir sebentar, saya merekam suara itu sambil gemeteran, dan akhirnya air mata jatuh juga. :’)))) Di situ kayak udah berasa banget mau nonton Coldplay-nya. :’)

Kami mengantre cukup lama, ya sekitar 3 jam lah sampai pintu akhirnya dibuka. Tapi nggak berasa nggak nyaman atau gimana, sih. Di sana banyak orang Indonesia. Di lini antrean saya juga depan belakang saya orang Indonesia–yang masih ngebawa kebiasaan nyelak antrean sampai ke Singapore. Pffft! Ini nyebelin banget. Beruntung nggak tambah dibuat sebal dengan sistem di venue karena memang sangat tertata, rapi. Begitu pintu dibuka, kami semua di barisan ngecek tiket dengan scan barcode, lalu setelahnya ada petugas yang ngasihin Xyloband sama pin bertuliskan ‘Love’. :’)

AAAAAAAKKKKKKKK AKU PUNYA XYLOBAAAAANDDDDDD *menangis haru*

Oh, Gini Rasanya Mau Nonton Coldplay?

Di pintu masuk lainnya di dalam, ada petugas lagi yang standby untuk ngasih arahan di mana nomor kursi para penonton yang berdatangan. Begitu saya sampai di kursi saya, saya duduk, bengong, memandang sekeliling. Itu air mata kayaknya udah di ujung siap jatuh tapi entah tertahan apa. Terharu banget. Saya bertanya-tanya sama diri saya, emang apa yang udah saya lakuin sampe saya bisa dapetin ini, duduk di tempat ini dan mewujudkan mimpi saya?

20170331_180743-01[1]

Saya duduk di category 4 (tribun), section 638, row E, seat 47. Jadi, di 3 layer tribun di National Stadium Singapore itu, saya di layer kedua, dan kebetulan banget dapetnya di bagian tengah lapangan, barisan bangkunya pun masih di depan. Walau nggak di depan panggung tapi masih cukup nyaman. Nah, Cami malah jauh banget di layer ketiga dan baris akhir-akhir which is atas banget dan agak jauh ke ujung. Kami memang berencana untuk pindah biar duduknya barengan, entah saya yang permisi-permisi pindah ke tempatnya atau sebaliknya. Tapi melihat tempat duduk saya lebih PW, ya pindahnya ke tempat saya dong. Hahaha.

Btw saya beli tiket ini, ngebayarin punya orang yang berhasil dapat tiket dan dijual-jual lagi. Harga aslinya 82 SGD, saya bayarin 1,5 juta per satu tiket. Sebenarnya rencana awal saya mau duduk di cat 3, di tribun bawah tapi di sisi berlawanan dengan panggung. Tetep nyari yang duduk karena selain itu tiketnya lebih murah daripada festival, saya khawatir malah nggak nyaman nontonnya karena kebagian liatin punggung orang. Sayangnya nggak dapat tiket resmi. Waktu itu panik dan sedih banget takut nggak bisa nonton, jadi ngebayarin yang ada aja, deh. Untung dapet tempatnya enak. Malah lebih enak dari tempat duduk yang saya incar di awal sih kayaknya. Itu jauh banget, shaaayyyy. :)))

Then, Mpit dan Ami being Indonesian. Di bagian depan barisan saya ada teras yang kosong. Saya dan Cami ke sana nyari space untuk foto-foto, terus duduk dikit lah, ngaso. Terus haus, beli minum ke depan. Terus balik lagi, duduk di situ lagi. Kami pun berpikir, “wah, enak juga nih duduk sini kalau nggak ada yang ngusir.” Ya sempat takut diusir petugas atau gimana-gimana nantinya, tapi kami nekat duduk di situ sampai acara berlangsung. Nanti aja pindahnya kalau diusir. Hihi.

20170331_215939-01[1]

Opening performance diisi sama Jess Kent, musisi dari Australia (katanya). Mbuh, saya nggak cari tahu banyak tentang si mbak ini. Lumayan lah ada yang nyanyi-nyanyi sambil nunggu stadium penuh.

Saya nggak ngitungin si mbak Jess Kent nyanyi berapa lagu. Tahu-tahu dia menyudahi performance-nya saja. Kami semua di sana memberinya tepuk tangan meriah. Saya yakin, selain untuk mengapresiasinya, tepuk tangan itu juga berarti, “YEESSS! COLDPLAY BENTAR LAGI!” karena saya pun demikian. Bhahahak. Show dijadwalkan mulai jam 20.00 waktu Singapore, dan semuanya tepat waktu.

Lampu stadium tiba-tiba padam. Disusul dengan lighting panggung menyala merah. Speech Mohammad Ali si legenda tinju dunia mengisi suara di intro, lalu seketika seisi stadium berkelap-kelip warna merah. Xyloband kami menyala. :’)

That was magical moment. So beautiful i can’t move on.

coldplay singapore-fitri andiani

IT’S OFFICIAL! MY DREAMS COME TRUE!

Saya, sama seperti puluhan ribu orang lainnya di sana, berteriak nggak karuan. Saya ngeluarin hp lalu merekamnya. Tangan saya gemetar, saya berteriak dan menangis. Lalu mereka muncul. Chris, Will, Jonny, Guy, diikuti dengan lagu A Head Full Of Dreams sebagai pembuka. Lighting mulai menyorot sana-sini, confetti berhamburan, xyloband pun berwarna-warni. Semua menyanyi, semua bersorak. And that’s how i know, my dreams do come true.

Selesai heboh menyambut kedatangan mereka ke panggung, selesai peluk mengharu biru, saya, Cami, juga semua yang ada di sana mulai ikut menyanyi, melompat bahagia, bergoyang mengangkat tangan kami ke udara. :’)

A Head Full Of Dreams selesai. Lighting padam sejenak, lalu kembali menyala serba kuning. Saya tahu banget ini pasti mau bawain Yellow. One of my favourite! By the way, dengerin Yellow ini nyenengin meski katanya lagunya tentang cinta yang nggak terbalas. Interpretasi saya akan lagu ini nggak pernah sejauh itu, tapi cuma sampai di “ini lagu menggambarkan cinta ke seseorang” aja and it’s sweet i can’t help. Malah saya menyetarakan “Yellow” dengan kalimat “Aku cinta kamu”. Hehe. Auk ah gombal banget!

IMG_6728[1]

Waktu nonton Coldplay Live 2012 dulu, lagu ini tuh ya, bikin pengin nonton Coldplay langsung sama Cami karena ngeliat para pasangan di tengah kerumunan penonton peluk-pelukan cium-ciuman pas lagu ini. Nggak tahu kenapa bikin senyum-senyum sendiri. Terus saya kepikiran, “pokoknya suatu saat harus nonton Coldplay langsung sama Cami, terus mau cium dia pas lagu Yellow.” Alhamdulillah, terwujud di National Stadium Singapore, 31 Maret 2017. Nodong ciuman di tengah lagu. Keren juga dipikir-pikir, ciuman dengan backsound lagu Yellow yang dinyanyiin langsung sama Coldplay. Muahahaha. :))))

Oh iya, di beberapa postingan lalu saya sempat menyinggung soal dokumentasi. Akhirnya Cami bawa dslr dengan lensa fix, berhasil lolos masuk, tapi tetep nggak banyak mendokumentasikan karena nggak fokus motret atau merekam, kami fokusnya nonton. Alhasil dokumentasi yang dibawa pulang cuma seadanya. Saya sendiri cuma megang kamera ponsel yang nggak seberapa. Sebelum berangkat memori udah dikosongin, instagram stories udah diatur menyimpan otomatis. Jadi saat konser, saya cuma buka aplikasi kamera sama instagram. Memotret atau merekam seadanya. Yang di instagram nggak langsung kepost karena kendala sinyal, tapi begitu sampe hostel dipost dengan sinyal wifi hostel dan kesimpan deh rekamannya, yay! Itu juga cuma intens di beberapa lagu pertama.

Saya nggak inget urutan lagu yang mereka bawain. Saya sibuk menikmati momen. Udah kepo setlist pun jadi percuma. Tiap satu lagu habis, bersorak, lalu denger intro lagu berikutnya tetap bersorak menyambut kayak surprise padahal nggak. :’))) Emosi campur aduuuuuk sepanjang nonton. Nyanyi girang, joget-joget nggak karuan, nangis, teriak, nyanyi lagi, joget lagi, nangis lagi, gitu aja terus selama dua jam. Tapi, dari total 23 lagu (saya coba googling beberapa hari setelah selesai konser, untuk membantu mengingat lagu apa aja yang mereka bawain), yang paling membekas di hati saya itu saat mereka bawain Everglow dan Fix You.

Chris duduk dengan organnya di ujung panggung, lampu stadium padam menyisakan satu sorot ke arah dia. Lalu seperti biasa, dia bercerita a-i-u-e-o ke audiens. Waktu pianonya berdenting, saya yang tadinya nyimak dengan ekspresi happy because HELLAAAWW IT’S CHRIS MARTIN THE HUMOROUS GUY. Langsung nangis begitu ngeh dia akan membawakan Everglow. Tangisan itu juga disponsori ucapannya. Dia bilang, bayangkan sesuatu atau seseorang yang kamu cinta, di manapun adanya. Kirimkan energi positif biar dia merasakan cinta dari kamu dari lagu ini. And suddenly i remember my dad. Saya nangis, meluk Cami. Lalu ikut nyanyi sambil berderai air mata sepanjang lagu.

Pernah berasa sedih pas dengerin Everglow? Nah, didengerin live tuh bikin sakit hatinya berlipat-lipat ganda! Parah!

Kemudian, Fix You. Nggak cuma saya lah, ya. Ini mah lagu galau semua orang. Sepanjang masa. Mau Coldplay punya lagu baru kayak apa juga, kalau galau pasti tetep ada Fix You di playlistnya, nggak ditinggalin.

Fix You ini didedikasikan Chris buat Gwyneth yang sedang bersedih karena baru aja kehilangan ayahnya. And then again, lagu ini mengingatkan saya sama bapak. Waktu bapak masih ada, saya sedih denger lagu ini tapi nggak ada objek kesedihannya. Begitu bapak pergi, kesedihan saya jadi punya alasan.

Lagi-lagi air mata saya mengalir deras sepanjang lagu. Saya dan semua yang di sana menyanyi, melambaikan tangan, menikmati Coldplay dan suasana yang tambah syahdu karena kelap-kelip xyloband serta permainan lighting. Semua perasaan sedih saya yang muncul tiap dengar lagu ini akhirnya tersalurkan. Tersalurkan dengan cara yang keren; SING ALONG SAMA COLDPLAY!

“tears stream down your face, when you lose something you cannot replace,

Tears stream down your face, i promise you i will learn from my mistakes..”

Saya teriak sekencang-kencangnya. Air mata saya mengalir sederas-derasnya. Sampai di akhir lagu udah nggak sanggup lagi nyanyi dan malah sesenggukan di pelukan Cami. :’))))

SAYANGNYA SAMA NGGAK NGEREKAM DUA MOMEN ITU SAMA SEKALI.

Tapi saya ingat betul gimana kedua lagu itu benar-benar melibatkan emosi saya di sana, saat mendengar mereka membawakannya langsung.

Masih banyak lagu lain yang mereka bawain setelah itu, ditutup dengan Up&Up. Lagu penyemangat! Ah, mereka punya lagu untuk setiap mood. Mereka punya lagu untuk suasana hati yang sedih. Mereka punya lagu untuk suasana hati gembira. Mereka punya lagu untuk yang jatuh cinta, mereka punya lagu untuk yang kehilangan. Mereka punya lagu untuk mengingatkan tentang bersyukur, mereka punya lagu untuk menguatkan siapapun yang sedang terpuruk. They have everything we need.

That concert, was the best 2 hours in my entire life. The best birthday gift i’ve ever had.

IMG_6729[1]

Saya keluar stadium masih mengawang-awang. Oh gini ya rasanya menghidupi mimpi… :’))

Hahaha. Coldplay sadar nggak sih kalau mereka itu bukan sekadar band? Apa yang mereka lakukan itu bukan sekadar menyanyi dan bermusik. Mereka itu mimpi banyak orang. Ya, kan? Saya yakin banyak yang meng-Aamini ini.

Saya yakin National Stadium Singapore waktu itu dipenuhi dengan orang-orang yang datang membawa mimpi di dalam kepalanya, and one of their dreams is them; Coldplay. Mereka datang untuk mewujudkannya, menyaksikan Coldplay.

Nggak tahu harus bersyukur kayak apa lagi karena saya dikasih kesempatan untuk mewujudkan mimpi tersebut secepat ini. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah ya Allah. Terima kasih.

Dua jam bersama Coldplay di National Singapore waktu itu bukan sekadar konser, tapi juga mimpi yang jadi nyata. I’m soooooooo emotional but i swear it’s true. The concert change my life. Change my perspective of life and it’s all getting better.

I’ll tell you how it change me in the next post. Thank you for reading. :’)

 

 

***

Depok, April 2017

Mengabadikan mimpi yang jadi nyata. Wohooo!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s