How Coldplay’s Concert Change Me and Why I Love Them

IMG_6729[1]
Coldplay Singapore. Dok. pribadi
Di cerita terakhir tentang bagaimana saya menghidupi mimpi saya nonton Coldplay, saya menutupnya dengan sebuah pernyataan bahwa konser itu mengubah hidup saya, mengubah pandangan saya tentang hidup dan itu semua jadi lebih baik. Sekarang, di sini, saya akan menceritakan bagaimana itu semua bisa terjadi, apa alasan yang melatarbelakangi, dan bagaimana perubahannya.

Firstly, this is how i see myself

Saya, perempuan yang sekarang sudah genap berusia 24 tahun, anak keempat dari empat bersaudara, punya 5 keponakan, punya pacar yang pacarannya udah lama, nggak punya bapak, dan cuma punya sedikit teman.

Entah sejak kapan saya merasa hidup saya berat. Berkali-kali ‘dipaksa’ menghadapi situasi yang nggak saya sukai. Saya patah hati, saya sedih, saya kecewa. Saya jadi penuh kecurigaan pada semesta, juga orang-orang di sekitar saya.

Kenapa sih kok kalian nggak ada pas aku butuh? Kenapa sih kalian kok giniin aku? Emang aku salah apa?

Rasanya setiap saya memberi kepercayaan pada seseorang, maka orang itu akan segera menunjukkan bahwa mereka nggak peduli dengan kepercayaan saya. Setiap saya merasa seseorang berharga, nggak butuh waktu lama bagi mereka untuk membuat saya merasa nggak dihargai.

Dan semua diperparah ketika bapak meninggal.

Tangisan yang dilihat orang-orang itu tidak banyak merepresentasikan betapa hancurnya hati saya, diri saya, jiwa saya. Sebagai manusia, saya merasa nggak berharga, saya merasa nggak bisa apa-apa. Saat bapak pergi, rasanya dunia saya runtuh. Sebagian besar kekuatan dalam diri saya hilang seperti bapak lah yang selama ini memberinya.

Iya, memang semua itu banyak berasal dari bapak. Kalau saya patah hati sama pacar, saya cuma perlu ada deket-deket sama bapak buat kembali ngerasa disayang. Bapak adalah laki-laki yang begitu mencintai saya tanpa mengenal kecuali. Kalau saya sedang merasa gagal akan sesuatu, bapak yang selalu mengingatkan bahwa saya akan selalu jadi anak yang hebat, setidaknya bagi dia.

Saya menulis tentang bapak ini sambil nangis, dan tangisan ini mengingatkan betapa rapuhnya saya. Hhhhh.

How that concert change me

Buat orang lain, cerita-cerita dan kehebohan saya nonton konser Coldplay ini mungkin biasa aja since there’s a million people love them dan sama bahagianya bisa nonton konsernya. But to me, ini agak lebih spesial karena…

Lihat apa yang saya jabarkan tentang bagaimana saya melihat diri saya? Nggak ada sesuatu yang positif. Saya melihat diri saya sebagai himpunan kekurangan, kelemahan, dan ketidakberdayaan meski nyatanya, di atas segala sakit yang saya rasa; saya mampu bertahan sampai sekarang.

Nonton konser Coldplay adalah salah satu impian besar saya, dan buat saya itu nggak sekadar ‘bisa nonton ya sukur, nggak ya udah.” Nonton konser Coldplay adalah cita-cita serius yang harus saya wujudkan walau nggak tahu kapan.

Bisa mewujudkan impian tersebut adalah suatu pencapaian berarti.

I see myself better.

Saya bisa mewujudkan apa yang saya impikan. Saya bisa menghidupi mimpi saya.

Saya bisa.

Saya merasa kekuatan saya bertambah, kepercayaan diri saya pun menguat. Because i can.

Saya yakin bapak senang melihat saya bahagia bisa mewujudkan mimpi itu dari tempatnya. Saya yakin ibu pun tahu betapa perjalanan ini berarti, dan dia senang. Karena sedikit teman yang saya punya, saya jadi dengan mudah mengetahui siapa yang benar-benar peduli.

Saya punya kekuatan untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang lain lagi. I am stronger than i think i am. Dan yang paling penting, I am loved. 🙂

Berhasil mewujudkan mimpi itu juga membuat saya ingin lebih banyak bersyukur. Misal, kalau jam 9 malam saya udah ngantuk, males ngapa-ngapain, pengin tidur, eh inget belum solat, malesnya langsung ketepis “UDAH DIKASIH NONTON COLDPLAY JUGA! MASIH AJA MALES SOLAT!” gitu.

Intinya, saya jadi memandang diri saya sendiri, juga hidup saya, dengan lebih baik dari sebelumnya. Saya jadi sedikit lebih percaya diri. Saya juga jadi lebih banyak bersyukur, termasuk dengan semakin sempitnya circle pertemanan saya. Dan bukan kah itu sangat baik?

Why i love them?

Like another million people, it’s a simple reason. Lagu-lagu mereka dan enerjiknya penampilan mereka di atas panggung. Itu adalah alasan yang mendasar. Tapi bagi saya pribadi ada yang lebih. Hmmm.

Coldplay, personilnya, sepengamatan saya selama ini, jauh banget dari isu-isu bersifat pribadi. It’s like people love Chris, Jonny, Will and Guy as Coldplay itself. Saya sih sebagai fans, merasa disibukkan dengan kisah perjalanan karier mereka dari album ke album, dari show ke show, dari tur di satu negara ke negara lainnya, sampai lupa mencari tahu “GUY UDAH NIKAH ATAU BELUM SIH?”, “JONNY UDAH PUNYA ANAK APA GIMANA?”, “ISTRINYA WILL YANG MANA?”, dll. Nggak ada sama sekali. Sampai sekarang saya nggak tahu. :))) Cuma tahu Chris itu nikah sama Gwyneth (yang merupakan aktris hollywood jadi nggak heran kalau banyak yang tahu) dan bercerai, punya anak dua namanya Apple sama Moses. Guy waktu itu pernah diberitakan tunangan apa gimana tapi lupa who’s that lucky lady…. Keluarganya Will dan Jonny siapa, saya nggak tahu dan nggak nyari tahu. Saya menyenangi mereka sebagai Coldplay. And they’re more than enough. Mereka berempat sebagai band selalu punya cerita yang menyenangkan.

Satu lagi, yang buat saya tergila-gila sama mereka adalah, karena mereka melakukan hal-hal yang saya harap bisa saya lakukan kalau saya punya power sebesar mereka. To help people, menyemangati orang-orang yang sedih atau terpuruk dengan caranya sendiri; lewat lagu, menghibur orang-orang yang mencintai mereka dengan tulus (oh yea now i act like i can read their soul). Tapi kalau memang benar apa yang disampaikan lewat hati pasti sampai ke hati, maka benar; mereka melakukan semuanya dengan tulus. Hehehe

Pernah denger nggak sih, Coldplay secara personal menemui fansnya untuk memberi ‘sesuatu’ entah apa itu. Seperti waktu di Manilla kemarin. Ada salah satu fansnya yang sangat menanti-nanti kedatangan mereka, dan ketika saat itu akhirnya datang, dia malah divonis sakit kanker dua bulan menjelang konser dan seketika semuanya berubah. Kondisinya nggak memungkinkan untuk datang, padahal tiketnya sudah dibeli. Lalu Chris mau-maunya diajak ke rumah sakit tempat fansnya itu dirawat. Bahkan Chris nanya apa lagu kesukaannya, setelah dijawab lalu menghubungi Will, Guy, Jonny, memintanya latihan untuk membawakan lagu kesukaan fansnya itu di panggung malamnya saat konser. Keren, ya?

Coldplay banyak terlibat dalam campaign sosial. Mereka juga selalu menyumbangkan sekian persen pendapatan mereka dalam setahun untuk beramal. Hal-hal semacam itu diketahui para fans tanpa pemberitahuan dari pihak mereka sendiri, kecuali untuk campaign di mana mereka jadi ambassadornya.

They’re too good to be true.

That was the story that i’ll cherish forever.

***

Karena sudah menulis cerita sepanjang ini, mungkin saya akan sedikit menggarisbawahi inti dari semuanya. Siapa tahu bisa jadi penyemangat buat siapapun yang baca ini. Jadi gini:

Memiliki impian besar dalam hidup won’t kill you. Kalau kamu pastikan bahwa kamu berjalan on the right track, kamu akan sampai ke sana. Dan momen saat kamu sadar bahwa kamu sedang menghidupi mimpimu, kenang itu baik-baik. Kelak saat kamu merasa gagal, merasa payah, merasa nggak berguna, ingat pencapaian itu. Then you’ll be alright. Saya baru merasakannya selama *ngitung-ngitung* sebulan, tapi untuk saat ini sampai beberapa waktu ke depan, saya jadi punya ‘amunisi’ yang cukup untuk melindungi diri dari keterpurukan. Sampai nanti saya wujudkan impian yang lain lagi. 🙂

IMG_6716-01[1]
That happy-yet-speechless smiley!

 

Depok, April 2017

Cheers from me! Go get your dream! xoxo

Advertisements

3 thoughts on “How Coldplay’s Concert Change Me and Why I Love Them

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s