Obat Patah Hati

Processed with VSCO with m3 preset
Kalau patah hati bisa sembuh dengan lari ke pantai terus teriak-teriak ga sih kayak puisi yang dibacain Cinta? Oh, nggak, ya. OK.

Ada nggak, sih, di dunia ini orang yang nggak pernah patah hati? Dari sekian banyak hal yang bisa bikin patah hati, mulai dari skala kecil sampai skala besar, masa bisa ada orang yang nggak pernah patah hati? Kalau saya sih, terus terang; sering. Tapi memang nggak semuanya bikin nangis, murung, dan nggak nafsu makan. Hehe. Contoh, patah hati yang terbaru nih, ya. Ketinggalan premiere Game of Thrones jam 08.00 WIB, karena baru bangun jam 08.52 WIB. Padahal udah lenjeh banget pasang TV di kamar, langganan TV kabel, demi bisa nonton serial (yang sejujurnya baru saya kebut nonton di bulan Ramadan tahun lalu dari season 1 sampe season 6-nya) ini tepat waktu. Ya nggak kenapa-kenapa juga sih walau ketinggalan, cuma kan yaa, kzl aja. Beon banget. :)))

Kisah patah hati lainnya juga banyak. Banyak banget! Tapi kalau berbicara soal patah hati, yang terlintas di pikiran saya, yang tiba-tiba bikin dada nyut-nyutan (halah) itu ya apa lagi kalau bukan ditinggal Bapak untuk selamanya. Itu patah hati terhebat saya seumur hidup sih kayaknya.

Nggak terhitung berapa kali air mata saya jatuh tiap mengingat hal itu. Nggak terhitung berapa kali saya nangis di balik masker dan kaca helm saat naik ojek, cuma karena saya mikir, “kalau ada Bapak, pasti Bapak yang anter jemput..” Yang bikin perih dari patah hati ini bukan kehilangannya, tapi himpunan hal-hal kecil yang terjadi setelahnya, yang bikin saya sadar bahwa saya kehilangan sosoknya.

Apakah sekarang saya sudah sembuh dari patah hati itu? Belum. Saya cuma lebih piawai untuk menerima kenyataan, dan berdamai sama keadaan. Patah hati itu masih terasa tapi saya menganggapnya sebagai bagian dari diri saya. Everyone has a baggage, right?

***

Pagi ini, saya nemu sebuah quote di instagram stories teman yang lagi patah hati karena putus cinta, dari hubungan yang dia perjuangin selama 9 tahun belakangan. Iya, 9 tahun. Bunyinya begini:

Maybe somethings don’t get better, but we do. We get stronger. We learn to live with our situations as messy and ugly as they are. We fix what we can and we adapt to what we can’t. Maybe some of us will never be fully okay, but at least we are here. We’re still trying. We’re doing the best we can. That’s worth celebrating too. If you’re reading this, congratulations, you made it today. You made it.

Saya merasa terpanggil untuk me-reply postingan itu dengan emoticon love. Saya teringat diri sendiri, ingat patah hati terhebat yang saya rasain itu. Takdir tetap terjadi sesuai dengan apa yang digariskan Tuhan, kematian nggak bisa ditawar. Bapak nggak bisa kembali untuk membuat keadaan saya lebih baik. Saya yang berlatih jadi lebih kuat. Saya belajar, saya beradaptasi sama semua hal menyedihkan yang terjadi dan akan terjadi setelah ketiadaan Bapak. Sulit? Ya emang. Tapi setidaknya, saya masih di sini. Saya masih bertahan hidup di tengah keinginan untuk ikut Bapak mati. Saya masih bisa menciptakan kebahagiaan lainnya meski tetap ada satu sisi dalam diri saya yang terasa hampa. Saya masih berusaha, dan itu patut dirayakan.

Mungkin, kamu yang lagi patah hati karena putus cinta juga begitu.

Membiasakan diri menjalani hidup tanpa seseorang yang biasa ada di hari-harimu itu nggak mudah. Nggak akan pernah mudah. Tapi ‘melawan’ juga nggak ada gunanya, apalagi kalau kamu tahu, melawan keadaan pun nggak akan membuat semuanya jadi lebih baik. Dari pada buang-buang energi untuk suatu hal yang sia-sia, bukan kah lebih baik kalau energinya dipakai untuk belajar berdamai dengan kenyataan?

Kalau patah hati, ya patah hati lah. Kalau mau nangis, ya nangis lah. Mau curhat, silahkan cari teman yang bisa dipercaya. Terima keadaan itu sebagai bagian dari ‘ujian’ yang harus kamu jalani. Harus kamu jalani kalau mau lulus dan naik level, jangan cuma dihindari. Menghindari ujian itu cuma akan membuat kamu aman sementara waktu, toh nantinya kamu akan tetap menghadapi ujian yang sama. Di level yang sama pula!

Nggak usah repot-repot bikin target harus begini, begitu, begina, begino untuk sembuh dari patah hati. Sesungguhnya patah hati itu cuma bisa diatasi dengan sikap nrimo. Dalam kasus ini, biar lah kamu seperti ikan mati yang hanya bisa mengikuti arus. Patah hati itu memang bikin hilang kendali kok. Just enjoy the ride. Nanti juga kalau nemuin sesuatu yang menarik di tengah arus, kamu pasti tergerak dengan sendirinya. Itu naluri.

Hal yang bikin kamu patah hati banget saat ini, mungkin akan jadi bahan ketawaanmu nanti-nanti. Mungkin juga kamu akan biasa aja saat mengingatnya, atau malah jadi bersyukur banget karena kamu pernah melewati hal tersebut. Kamu akan terbiasa dengan semuanya. Kamu akan tetap hidup dengan kisah barumu.

Jadi, kalau kamu lagi patah hati, saran saya cuma satu; lemesin aja, jangan dilawan. :))))

 

 

***

Depok, Juli 2017

Waktu nggak selalu menyembuhkan sakitnya patah hati yang dirasa, kadang cuma bikin kita bebal aja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s