Jogja Life

20160313_175242 (1)

Udah lebih dari setahun saya nggak menginjakkan kaki di tanah kota kesayangan, Jogjakarta. Rekor terlama nggak berkunjung dalam 7 tahun terakhir, karena sejak 2011 setiap beberapa bulan sekali pasti ke sana untuk kunjungan kenegaraan (baca; nengokin pacar). Ini uring-uringannya sama kayak seminggu full nggak ketemu Cami! *gaya banget, waktu LDR juga ketemunya bisa 3 bulan sekali*

Satu part dalam perjalanan hidup saya terjadi di sana, dan itu adalah part penting. Gimana caranya saya nggak kangen kota itu?

Selama lima tahun, dari kuliah semester dua, sampai lulus, sampai memutuskan untuk mencari pengalaman kerja pertama di sana, mendampingi Cami wisuda dan benar-benar “belajar hidup” berdua, bagi saya Jogja bukan sekadar kota.

Dalam rangka mengungkapkan rindu, saya ingin mengenang setiap jejak yang pernah saya—dan Cami di sisi lain—tinggalkan di Jogja. WARNING!!! it’s gonna be a long story!

Part I: Bolak-balik kunjungan negara                                                                  

Kunjungan rutin ini dimulai karena saya (((( berani-beraninya )))) memutuskan untuk pacaran sama mas-mas Jogja. Nggak deng, mas-mas Depok sebenarnya, tapi waktu itu dia kuliah di Jogja. Pertama kali ke sana dan ngerasain indah-indahnya Jogja pas liburan sama dua orang teman cewek. Berangkatnya pake bohong sama ibu bapak (please, please bukan cuma saya mahasiswa yang begini demi bisa liburan sama teman-teman, kan?). Waktu itu bulan Januari, Merapi belum terlalu pulih pascaerupsi. Saat dikunjungi, hutan-hutan di sekitar masih banyak yang mati karena terkena awan panas. Beberapa aliran sungai masih tampak atap-atap rumah nongol dari timbunan pasir, jembatan belum tersambung lagi. Masih banyak juga rumah-rumah yang hangus dan dibiarkan begitu saja oleh para pemiliknya. Senyap, tapi indah.

Keadaan di kota jelas jauh berbeda dari kaki Merapi yang tersapu awan panas. Seingat saya, semuanya tampak normal. Tentu saja efeknya nggak separah di atas sana, ya. Saya menginap di kamar kosan teman, tidur di double bed bertiga dengan posisi selang seling kepala-kaki. Setiap hari main-main tanpa intinerary, mengandalkan teman yang berbaik hati ngantar ke sana kemari, dan baru pulang menjelang pagi. Bangun tengah hari lalu pergi lagi. Begitu terus aktivitasnya selama seminggu lebih di sana. Well, pergi sama teman itu memang paling berkesan, kan? Apalagi pulang-pulang dapet pacar baru. Eaaa. Itu sih alasan utama sering bolak balik ke Jogja. Sebagai pejuang jarak, 300an KM doang mah kecil. Hazek!

Awalnya kalo pamit nggak pernah bilang mau ke Jogja nyamperin pacar, sih. Tapi yaa, lama-lama seperti udah biasa aja. Mungkin ibu sama bapak udah paham juga. Bhahahak. Selama kunjungan itu saya nggak bohong lagi supaya dapet uang, saya nabung. Luar biasa, the power of LDR, saya bisa nabung. :)))

Meski tabungannya nggak seberapa tapi yang penting saya bisa ke sana sesering mungkin. Biasanya sekitar 4 harian, naik kereta yang murah, nginepnya juga di hotel murah (kalau mau tanya hotel murah, boleh lho. Murah versi saya itu < 150k! Murah beneran kan?) Namanya juga mahasiswa, yang penting punya tempat buat tidur aja selama di sana, lagian kalau siang juga pasti ke mana-mana. Ngikutin Cami beraktivitas seperti biasa sih, lebih tepatnya. Iya, kalau saya di Jogja, hari-harinya Cami tetap berjalan seperti biasa, bedanya cuma ada saya aja di dekat dia. Nggak pake libur-libur atau bolos-bolos, justru saya yang ngikutin dia ke mana-mana. Muehehe. I’m so glad we did it, itu jadi semacam ‘membayar hutang’ karena kemarin-kemarinnya kami nggak hadir bagi satu sama lain karena LDR.

Dulu itu masih zamannya kuliah, kan, jadi ya seringnya kami nongkrong di kampus. Kalau dia ada kelas, saya di kantin atau di kantor sekret mapalanya sama teman-temannya. Sesekali ikut rapat apalah itu. Kalau ada suting, ya saya ikut ke lokasi. Paling seneng sih waktu ikut suting latihan sampe pertunjukan Surat Ke Langit-nya Papermoon Puppet. Itu bagus banget, pertama kalinya nonton pertunjukkan puppet. Terus ternyata habis itu, Surat ke Langitnya hype. Ku jadi merasa keren karena sudah nonton duluan. HAHAHA.

Meski banyakan nongkrong di kampus, tapi sesekali yaa main ke luar juga lah kami. Itung-itung nge-date. Paling nonton, ngopi, atau dateng ke acara apa kalau ada. Jogja nggak pernah kekurangan acara keren nan gratisan, pasti adaaaa aja. Tinggal pilih deh mana yang disuka. Kalaupun bayar, ya murah. Saya juga sering ngepasin jadwal kedatangan dengan acara-acara yang bakalan berlangsung dan sekiranya mau didatangin. YAAMPUUN KANGEN JOGJA.

Again, namanya mahasiswa. Kami juga bukan mahasiswa banyak uang (baik karena uang jajannya banyak atau pun hasil nilep uang kuliah dari orang tua), uang kami seringnya pas-pasan. Malah beberapa kali, kami kekurangan. Hehe.

Kalau ke sana, biasanya saya ngamanin tiket kereta pergi dan pulang. Urusan hotel, jajan, makan, dsb, ya gimana ntar aja di sana. Biasanya juga ditanggung berdua. Nah, pernah ada satu momen di mana kami benar-benar kehabisan uang, lalu Cami balik ke kosnya untuk ngambil celengan berisi uang logam penuh. Dia nyimpen uang logam sisa jajan/makan sehari-hari di dalam botol air mineral 1 liter, kalau penuh dan ada beberapa botol, isinya lumayan. x))) Waktu itu setelah beres ngitung dan ngelakbanin sejumlah uang berdasar nominal, kami bawa uang itu dalam satu kantong kresek, lalu kami tukar ke minimarket. Kayaknya dapet sekitar 200-250an, lupa. Yang saya ingat, uang itu kami pake buat…. ngopi. Hahahahahaha!

Sungguh Jogja ini, yaaa. Nyaksiin saya jatuh cinta, iya. Nyaksiin saya patah hati, iya juga. Bagi Cami juga sepertinya begitu, meski cerita dari sudut pandang dia tentu saja berbeda. Yang jelas, kami berdua sama-sama punya ikatan emosional sama kota yang satu ini. In our speech at our wedding day, we definitely will mention this lovely town as a part of our love story.

 

 

***

Depok, Juli 2017

Kangen Jogja dan bawaannya mau nginget-nginget kehidupan di sana terus, akhirnya memutuskan untuk nulis ini. Tanpa rencana, sepertinya tulisan ini bakal jadi beberapa bagian. Hihi, terima kasih buat yang udah baca. ❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s