Personal Insight: Keistimewaan Seorang Bride-to-be

Di postingan sebelumnya, saya sudah menuliskan opini tentang trend bridal shower yang justru malah banyak menjadikan sang calon pengantin sebagai badut. Saya share dan sedikit bahas postingan tersebut di twitter dan dapat tanggapan yang lumayan banyak, jadi bener-bener bisa diskusi! Hihi.

clem-onojeghuo-73769
(Foto: unsplash.com/Clem Onojeghuo)

Kalau saya sarikan jawaban-jawaban itu, kira-kira jawabannya begini;

  1. Mereka yang sudah mengalami (baik sebagai bridesmaid maupun sebagai bride-to-be) sebenarnya juga heran kenapa trendnya jadi bikin si calon pengantin kayak badut, mereka ikut-ikutan aja.
  2. Nggak semua bridesmaid bikin bridal shower dengan cara itu, ada juga yang memang menjadikan si calon pengantinnya paling cantik sehari!
  3. Sebenarnya nggak pengin, tapi kalau iya jadi begitu yaudah gapapa. Anggap aja seseruan bareng sahabat.
  4. Buat lucu-lucuan aja.
  5. Esensi dari ngejelek-jelekin bride to be ini, mungkin sekarang jelek-jelekin dulu nanti pas nikah kan jadi yang paling cantik.
  6. Nggak tau, gue juga nggak setuju, gue nggak mau kayak gitu.
  7. Nggak mau, too old for doing that (padahal yang ngomong bahkan belum berusia kepala 3, lho).

Intinya, walau nggak ngerti apa tujuan ngedandanin bride to be tersebut jadi badut, namun masih dalam batas fine-fine aja nerima trend tersebut di lingkungannya.

So, mau bikin bridal shower kayak apa itu tergantung bagaimana cara masing-masing memandang momen tersebut. Hehe.

Ada satu hal lagi yang mengganjal, dan nggak terjawab dalam diskusi tersebut padahal poinnya ada di blog post yang sama, yakni tentang bagaimana batas keistimewaan bride to be. Sejauh mana bride-to-be boleh merasa dirinya istimewa dibanding yang lainnya?

Saya mempertanyakan itu karena jelas ini berseberangan dengan pendapat tentang bridal shower, bahwa seharusnya calon pengantin dibuat merasa cantik, bukan dibuat jadi badut jelek cemong. Harusnya calon pengantin itu diistimewakan.

Kenapa saya nanya?

Karena, saya ngerasa seorang teman dekat saya yang mana sedang menyandang gelar bride-to-be karena sedang menghitung hari menuju pernikahannya ini, jadi orang yang berbeda. Untuk mendeskripsikan bedanya seperti apa sih agak susah, ya. Intinya gini, selama kami berteman, saya sama dia itu biasa banget mendiskusikan hal-hal sampai yang ter-nggak penting. Nah, sejak dia merencanakan pernikahannya, kebiasaan itu menghilang. Jangankan mendiskusikan hal-hal kecil, sama momen besar, penting nan bahagia dalam hidup saya aja, dia abai. Sejak itu saya merasa ada yang salah, dan sejujurnya itu mengganggu. Tapi saya mencoba memahami, karena mungkin memang dia lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan pernikahan, lagi lengket-lengketnya sama pasangan, atau lagi sibuk kerja juga, atau apapun lah yang peringkatnya berlayer-layer di atas saya dalam skala prioritasnya.

Tapi kalau itu bukan dia, saya pasti udah memilih cuek dan mundur teratur.

Sayangnya nggak ada yang jawab di postingan kemarin, tapi, saya memang sengaja menanyakan pendapat ke dia juga, dan dia jawab.

“Buat self oriented, kok iyaaaaa sihhhhhhh hahahahaha. Gue pikir gue doang yg ngerasa di masa2 menjelang pernikahan gini kalo ngeliat orang lain bahagia, terlebih sama pasangannya, suka ngebatin “yaelaaaah” hahahaha. Gak bermaksud sirik, gak seneng atau apa, Tapi yagituuuw~”

Itu plek-plekan jawaban dia, yang saya salin bener-bener. SEE? :))))

Dia ada disclaimer sih bahwa dia nggak begitu ke saya, tapi… yaaa, hahahaha.

Jawaban lain dari seorang teman yang juga sedang mempersiapkan pernikahannya adalah, bahwa dia nggak merasa punya keinginan untuk menjadi “lebih” dari pasangan lain. Ketika mengambil contoh pada temannya yang lain yang sedang mempersiapkan pernikahan barengan sama dia, dia lebih senang menganggap itu sebagai sebuah keuntungan karena bisa bertukar informasi mengenai vendor-vendor yang dibutuhkan. Dia mengaku akan ikut senang kalau ada orang lain senang, simply karena nggak merasa perlu ribetin hidup orang lain. Hihi.

***

Sungguh postingan soal ini dan respon dari teman-teman sekalian jadi insight tersendiri buat saya. Sebelumnya, opini saya terhenti di “calon pengantin harus merasa dirinya istimewa, harus dibuat merasa istimewa sama teman-temannya, teman-temannya harus mengerti,” karena saya memperkirakan beban yang cukup berat di pundak mereka-mereka yang lagi mempersiapkan pernikahannya. Ya soal teknis, soal finansial, juga manajemen emosi terhadap pasangannya. Jadi untuk teman-teman saya yang sedang dalam masa itu, saya mencoba mengerti. Saya mencoba memberi keistimewaan itu; dengan harapan saya juga akan dipahami sedemikian saat saya berada di posisi mereka.

Kemudian “sentilan” ini datang dari sahabat saya. Bahwa ternyata, mengistimewakan diri berlebihan menjelang pernikahan itu nggak baik, untuk orang-orang di sekitar. Membulatkan kebahagiaan yang dimiliki nggak perlu dengan cara tutup mata dari kebahagiaan orang lain kok.

Selama ini saya selalu meyakini bahwa kita bisa bahagia hanya dengan melihat orang lain bahagia. Harusnya, itu akan tetap saya pegang saat saya benar-benar sudah berada di masa menjelang pernikahan nanti. Iya, saya istimewa, saya calon pengantin yang berbahagia, tapi yang bahagia di dunia ini bukan cuma saya. Keistimewaan saya nggak akan hilang meski saya melihat mereka berbahagia, jadi untuk apa saya menutup mata? Malah, melihat orang lain bahagia akan membuat kebahagiaan saya bertambah. Jadi, apa yang ditakutkan?

Berbahagialah untuk orang-orang yang sedang berbahagia selain kamu, dear future me.

 

 

***

Depok, September 2017

Asik deh ngerjain blog post ini karena melibatkan orang-orang yang benar-benar sedang berada di posisi berkaitan. 😀

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s