Menanggapi Sinisnya Orang yang Pernah Pacaran Lama Tapi Gagal

matt-popovich-66522
Ilustrasi pasangan pacaran. (Foto: unsplash.com/Matt Popovich)

Suatu sore, saat lagi jalan-jalan di home facebook saya nggak sengaja nemu video ini. Judul dari yang nge-share pertama di timeline saya, “ALASAN MENIKAH MUDA”, lalu dishare oleh pihak kedua dengan komentar, “Setuju banget! Ga perlu “PACARAN” untuk saling mengenal. Hanya perlu berdoa sama Allah untuk memantapkan hati.” Ya, reaksi semacam ini sih udah ketaker buat segala jenis konten yang bau-baunya pro nikah muda. Biasanya juga, konten yang begini-gini adalah bahan kode para cewek untuk disebar ke pacar mereka.

Tapi saya nggak termasuk, kok, sumpah.

Waktu lihat tambahan komentar dari orang kedua yang nges-hare, mata saya otomatis menggarisbawahi “Ga perlu pacaran untuk saling mengenal. Hanya perlu berdoa sama Allah untuk memantapkan hati,” sambil mengerutkan dahi. Like, whaaat? Karena itu, saya memutuskan untuk menyimak videonya sampai habis. Penasaran, video ini ada apanya sih sampai bikin orang seyakin ini kalau Allah bakal ngasih sesuatu hanya dengan doa tanpa usaha?

Silahkan klik link ini untuk menonton videonya.

Tentang pemilik video dan isi videonya

Si pemilik video ini rupanya tergolong aktif di youtube. Namanya Ema. Dia merupakan seorang (calon) dokter kelahiran tahun 1994, status sudah menikah, dan saat saya kepoin akun youtubenya dia punya 28,142 subscriber di youtube. Sebelum saya “kuliti” isi videonya, saya mau buat sedikit resumenya.

***

Katanya, banyak yang curhat sama Ema tentang masalah percintaan, dan juga bertanya kenapa dia memutuskan menikah muda. Selanjutnya dia menyangkal, “sebetulnya nggak muda juga ya, aku kelahiran ’94, usiaku udah termasuk legal dalam UU Pernikahan. Cuma masalahnya karena aku tinggal di lingkungan yang temen-temenku nikah di atas usia 25 tahun, jadi mereka menganggap keputusanku itu agak aneh,” katanya dalam video.

Dulu, Ema pernah pacaran 5 tahun tapi diputusin. Beberapa bulan kemudian mantannya itu nikah sama cewek lain. On the other hand, sama suaminya ini dia baru kenal 3 bulan saat memutuskan menikah. Ema pun mulai menjabarkan beberapa respon orang yang ia terima seiring dengan keputusannya menikah tempo hari, di antaranya: “Kamu kok mau diajak nikah? Kan belum kenal?” dan juga dikira depresi karena pacaran 5 tahun, putus, lalu beberapa bulan setelahnya si mantan nikah duluan.

Terus katanya, sebenarnya bukan gitu. Dia melanjutkannya dengan pertanyaan, “sebenarnya tujuan kalian pacaran dari awal itu apa sih?” yang diikuti dengan jawaban, “untuk mengenal satu sama lain, dan saling mengisi kekurangan masing-masing, kan? Kalimat selanjutnya dilontarkan dengan menggebu-gebu. Entah semangat, entah emosi.

Kata dia, intinya kalau dari awal pacaran sudah berpikir nggak cocok dan nggak mau berubah buat pasangannya, ya nggak usah pacaran. Jadi kalau ada yang nanya (mengenai pernikahannya dengan cowok yang baru dikenal tiga bulan ini) “kan belum saling kenal?” dia ngebalikin, buktinya kemarin pacaran 5 tahun, ujung-ujungnya diputusin juga. Yang penting bukan tentang berapa lama pasangan saling kenal, tapi seberapa keras pasangan itu memperjuangkan hubungannya. Banyak yang pacaran bertahun-tahun terus diputusin begitu aja, terus kenapa kalau ada laki-laki yang berniat baik dalam waktu singkat malah ditolak? Begitulah kira-kira.

Poin selanjutnya mengenai restu orang tua. Sejujurnya saya nggak paham kenapa pembahasan ini ada. Dia bilang sih, based on true story, banyak teman-temannya yang nggak kunjung nikah karena nggak direstui orang tua. Tapi apa hubungannya sama Ema? Apakah dia pernah nggak direstui orang tuanya? Hmm. Nggak ada penjelasan tentang direstui atau nggaknya dia sama pacarnya (yang mutusin dia itu) dulu direstuin atau nggak.

Tentang restu orang tua ini dia bilang, banyak teman-temannya yang begitu. Belum memutuskan menikah karena nggak direstui orang tua. Alasan utamanya karena beda agama. Terus ketika si cewek sudah cinta mati, rela belajar agamanya si cowok, eh si cowok ketemu cewek lain yang seagama dan jelas direstui, cowok itu punya hak untuk putusin si cewek. Again, Ema bilang kalau cowok itu adalah cowok yang baik, dia pasti akan perjuangkan ceweknya sekuat tenaga di hadapan orang tua sampai dapat restu. Kalau nggak direstui karena belum kerja, dia bakalan berusaha supaya cepat dapat kerja. Kalau nggak direstui karena belum lulus, dia bakalan berusaha cepat lulus. Jadi kalau ada alasan, “belum nikah karena belum direstui,” Ema menyarankan untuk tanyakan lagi pada hati kecil masing-masing, berapa besar kemungkinan kalian untuk putus.

Next, menurut Ema, pacaran adalah pemborosan. Di sini, dia menghitung kerugian yang dideritanya selama pacaran 5 tahun dulu. Ada self disclaimer; dia bukan cewek yang maunya dibayarin terus-terusan. Ema dan si pacar-lima-tahun-lalu-putus-nya itu menerapkan sistim 50:50 dalam menanggung biaya pacarannya. Begini gambarannya; biaya sekali nonton = 100,000. Lalu setelah nonton dilanjut makan = 200,000. Nah, dalam sebulan kegiatan itu dilakukan dua kali, jadi untuk nonton dan makan = 300,000 dikali 2 = 600,000. Belum lagi bensin = 200,000. Pulsa perbulan bagi dia dan pacarnya = 200,000. Total biaya pacaran mereka sebulan 1,000,000. Dikalikan 12 = 12,000,000. Ditambah lagi kalau ada yang ulang tahun, 1,000,000 dikalikan 2 (untuk dia dan pacarnya) = 2,000,000. Belum lagi yang lain-lain seperti anniversary, monthyversarry, kado buat anggota keluarganya yang ulang tahun, nikahan temannya, itu 1,000,000. Keseluruhannya 15,000,000 menurut perhitungan Ema. Dikalikan waktu pacarannya 5 tahun, kerugian yang dia derita mencapai 75,000,000. “Kalau dari awal ditabung buat nikah, udah lebih dari cukup,” tutupnya di sesi ini.

Poin selanjutnya; belum punya biaya. Kata Ema, kalau sejak awal kalian sudah memutuskan untuk menikah, dengan sendirinya pola pikir akan berubah. Dari yang tadinya bersenang-senang, jadi nabung biaya nikah. Si abang–suaminya Ema–sendiri langsung menyisihkan 40% gajinya untuk disimpan Ema sebagai biaya nikah mereka, sejak mereka memutuskan untuk nikah. “Ketika cewek lain dikasih uang sama pacarnya dihabisin buat nonton, belanja baju, foya-foya, saat kalian memutuskan nikah, pikiran itu nggak ada sama sekali.”

Poin terakhir, kata Ema, cewek mudah percaya.

Kalimat pembuka di poin ini, “cewek adalah makhluk yang lemah. Ketika dia jatuh cinta, apapun pasti akan dia berikan. Apapun. Dan ini akan dimanfaatkan oleh si cowok untuk dapatin apa yang dia mau. You know what i mean lah, ya.”

Dia bilang sih, teman-temannya kebanyakan cowok. Terus dia pernah nanya sama teman-teman cowoknya itu, “kenapa sih cowok itu gampang banget merayu cewek cuma buat memuaskan hasrat mereka?” lalu jawaban teman cowoknya Ema adalah, “Rayuan dan kado kan tiket masuk di awal doang. Kalau udah dapet tiket masuk, selebihnya gratis. Buat apa dong kita susah-susah dapat yang bayar tiap saat kalau bisa dapat yang sekali bayar doang, selanjutnya gratis?”

Nggak lupa, Ema juga menjelaskan tentang “test drive” yang katanya sering dipakai para cowok. “Test drive” ini menurut Ema, kalau ceweknya udah hamil, baru bakalan dinikahi. Dia nggak habis pikir soal ide ini. Katanya, “Ya kalau ceweknya hamil, sukur. Kalau nggak hamil? Yang rugi cewek, bro”

Kata Ema, cowok ini hobi cerita. Setelah putus dia bakalan cerita semua hal yang dia lakukan sama pacarnya ini ke temen-temennya

Dia pun menerima lamaran si abang dengan pertimbangan mumpung belum dimabuk cinta dan sebelum si abangnya punya pemikiran soal test drive. Kebahagiaan nggak boleh ditunda, kata Ema mengutip ceritanya Najwa Shihab. Ironinya, dari nadanya, konteks bicara Ema dan Najwa soal ini terlihat berbeda.

***

AKHIRNYA SELESAI JUGA VIDEONYA.

Capek banget dengerin dia ngomong sejak awal. Menggebu-gebu banget tapi yang diomongin, hhhh, ya gitulah.

***

“Orang-orang yang pernah pacaran lama-lama terus gagal, kenapa jadi bitter dan cenderung meng-underestimate hubungan pasangan lain yang udah lama pacaran, ya?” Itulah yang ada di benak saya begitu videonya si Ema ini selesai.

Iya, Ema ini bukan orang pertama yang punya pendapat sinis mengenai pasangan yang pacaran lama-lama. Saya udah bertemu Ema Ema yang lain sebelumnya, dan kebanyakan alasan mereka jadi se-bitter itu adalah; karena sudah pacaran lama, tapi gagal ke pelaminan bersama. Selanjutnya mereka jadi berpikir jelek tentang “pacaran lama-lama”. Parahnya lagi, pikiran jelek itu seakan berusaha mereka tularkan ke orang.

Saya yang pacarannya sudah hampir memasuki tahun ke-7 ini sering banget jadi korbannya. Dua dari tiga orang yang-pernah-pacaran-lama-tapi-ujungnya-nggak-nikah-juga, kalau ketemu saya dan ngomongin soal relationship pasti nadanya negatif. “Buruan nikah, ngapain sih pacaran lama-lama?” “Pacaran jangan lama-lama, ntar keburu putus lho.” Ya, kurang lebih sama lah dengan si Ema ini. Tapi, bedanya dengan orang-orang sejenis lainnya yang saya temuin adalah, Ema ini muncul sebagai “publik figur”, dia punya pengikut lumayan banyak di instagram dan di channel youtubenya, dan bagi saya itu meresahkan. Kenapa meresahkan? Karena omongan-omongan si Ema dalam video ini, menurut saya, menggebu-gebu karena dorongan dendam, sakit hati, atau apalah yang tersisa dari masa lalunya. Sepenangkapan saya, di video itu dia nggak sedang berusaha membagikan pandangan positif tentang menikah muda.

Dari sisi yang bersebrangan, saya mau membagi pandangan dari kacamata yang berbeda tentang pacaran lama. Tapi supaya apa yang saya sampaikan ini nggak ngalor ngidul kayak omongannya Ema di video tadi, opini yang saya tuliskan di sini akan mengacu pada poin-poin yang disampaikan si Ema.

Kenapa sih saya mau repot-repot menanggapi? Merasa tersindir atau gimana?

Nggak, saya nggak merasa tersindir. Saya berusaha mengimbangi opininya Ema dengan fakta-fakta lain dari sisi yang berbeda aja. Biar orang-orang yang nonton videonya nggak menelan mentah-mentah dan mempercayai kalau pacaran lama-lama tuh pasti akan seperti yang dia bilang. Jangan cuma karena dia pernah pacaran lama dan terbukti gagal, lantas yang lain juga pasti begitu, dan pada akhirnya membenarkan nikah muda *cuma* karena takut merasakan patah hati. Cemen.

Tentang “pacaran lama” dari sudut pandang yang bersebrangan dengan Ema

Poin pertama, tentang pacaran dan saling mengenal.

Iya, pacaran memang untuk saling mengenal. Tapi sejauh yang saya jalani ini, proses mengenal nggak bisa dikasih patokan waktu. Sekarang, tentu saja saya mengenal pacar saya jauh lebih baik dari pertama kali kami pacaran dulu. Dia pun sebaliknya. Tapi apakah itu cukup? Apakah proses mengenal itu sudah bisa diselesaikan? Belum. Selalu ada celah yang membuat saya merasa perlu terus mempelajari pasangan saya dari waktu ke waktu, dan mengingat proses ini sudah berlangsung hampir 7 tahun, which is selama kami pacaran, saya yakin sih ke depannya setelah kami menikah pun proses itu masih akan terus terjadi. Masih perlu terjadi.

Kalau mau mengaitkan antara pacaran, saling mengenal, dan menikah, saya rasa itu tentang pilihan dan kemampuan. Kalau kamu memilih mengenal pasangan kamu lebih jauh dalam kondisi sudah jadi suami istri, dan kebetulan masalah keluarga, biaya, kesiapan mental dan lain-lain sebagainya juga memungkinkan, ya why not? Tapi kalaupun harus pacaran lama dulu, nabung biaya nikah dulu, belajar saling mengenal dalam waktu yang lama pula, apa salahnya?

Keyakinan untuk menikah juga nggak bisa timbul begitu saja di hati semua orang. Ada yang harus mencari, memperjuangkan, bahkan membentuknya sendiri seiring berjalannya waktu. Jadi menurut saya, “nggak perlu pacaran lama-lama buat saling mengenal” itu nggak bisa diterima mentah-mentah. Ada banyak pertimbangan, dan setiap pasangan perlu menyesuaikan “proses mengenal” ini dengan kondisi mereka sendiri. Menjadikan hubungan nya Ema orang lain sebagai acuan murni itu malah bisa bikin kacau.

 

Poin kedua, tentang pacaran lama nggak nikah-nikah karena nggak direstui orang tua.

Kalau udah bicara soal restu memang agak susah. Balik ke hati masing-masing, kamu rela mengabaikan perasaan orang tua, nggak? Mau mengabaikan dari awal sampai seterusnya, atau mau coba abaikan dulu sampai batas waktu tertentu sambil berusaha merebut restunya? Itu sepenuhnya pilihanmu.

Saran saya sih, berjuang itu perlu. Tapi realistis juga harus. It’s fine kalau dari awal udah nggak direstui tapi mau berusaha dulu. Kalau nantinya menyerah karena restu nggak cair-cair, nggak apa-apa juga. Manusiawi. Sebagai anak, perasaan orang tua pasti jadi bahan pertimbangan berat, kan? Yang penting tahu dan pahami risikonya sejak awal. Kedua belah pihak yang menjalani sama-sama punya pilihan untuk pergi kok. Kalau akhirnya salah satunya menyerah lebih dulu, ya berarti dia yang lebih dulu realistis mengambil keputusan. Gitu aja sih. Harus diingat bahwa antara pihak cowok dan pihak cewek punya hak yang sama besarnya untuk mengambil keputusan berhenti atau lanjut, tinggal siapa yang berani mengambil keputusan lebih dulu aja. Jadi kalau yang satu terus pilih lanjut dan ternyata yang satunya pilih berhenti, nggak perlu playing victim.

 

Poin ketiga, tentang hitung-hitungan materi saat pacaran.

Duh rasanya mau skip aja deh soal ini. Saya sama pacar juga gitu kok, nanggung keperluan senang-senang atau apapun berkaitan dengan materi sama-sama. Masa pacaran saya lebih lama, pernah LDR pula 4 tahun. Tapi saya malas ngitung-ngitung. Nggak mau saya perhitungkan juga sih. Biasa aja. Keluar uang buat biaya senang-senang selama pacaran itu bukan sesuatu hal yang aneh. Bagi saya yang aneh itu, kalau ada yang perhitungan sampai segitunya selama pacaran ngeluarin biaya berapa.

 

Poin keempat, belum punya biaya nikah.

Nggak semua orang ketemu jodohnya dalam keadaan udah mapan. Kalau ketemunya dari SMA, yaelah, anak SMA yang punya uang kalau dikasih orang tua doang, itu juga dipake buat jajan sama teman-teman atau pacaran ke mall sesekali, bisa punya uang berapa sih buat nabung? Sampai bisa punya penghasilan sendiri–katakanlah, saat sudah lulus dan dapat pekerjaan tetap–wajar aja kalau belum punya biaya nikah. Setelah punya pekerjaan tetap, perlu nabung setahun sampai tiga tahun lagi buat ngumpulin biaya nikah. Itu juga biasanya kebagi sama jatah nyenengin orang tua dan keluarga. Jadi, belum punya modal nikah itu bukan semata uangnya dipakai foya-foya, tapi karena memang uangnya belum ada, karena ada kebutuhan lain, atau simply belum cukup aja.

 

Poin kelima, tentang cewek yang mudah terpedaya.

Let me make it clear. Maksud Ema, cewek gampang dibodohi buat ngasih keperawanannya, gitu? Hmmm, soal ini, saya menyerahkan ke individu masing-masing. Ema sendiri harusnya nggak memiliki kapasitas buat ngomongin begini soal cewek. Ya ngasih keperawanan lah, ya test drive lah, untung rugi lah. Apaan, sih? Most of all, kayaknya Ema salah gaul deh. Teman-teman cowoknya kok pikirannya gitu banget soal cewek? Ema sendiri juga kok sampai hati banget buat ngomongin soal begini di media sosialnya, tanpa ada poin edukasi atau dorongan positifnya. Sigh.

 

Poin keenam, soal menunda kebahagiaan.

Siapa sih yang mau nunda-nunda pernikahan sama orang yang diyakininya tepat, kalau dia emang udah siap di segala aspek? Saya tau kok, menikah itu niat baik. Saya sama pacar juga punya niat itu. Tapi kami juga mengukur kemampuan kami, menyesuaikan waktu sampai kami benar-benar siap, memperhitungkan langkah untuk menuju ke sana. Nggak semata karena kami ingin, karena ada niat baik, lalu segera mewujudkannya. Lalu, selama kami mempersiapkan diri, kami berusaha melakukan apapun yang menurut kami baik untuk kami, yang bisa terus menjaga perasaan kami terhadap satu sama lain, yang bisa membuat kami terus saling mengenal, yang bisa membuat komitmen serta keyakinan kami semakin kuat untuk melanjutkan hidup bersama seterusnya. Jadi kelak, ketika kami benar-benar sudah terikat dalam pernikahan, kamu bisa memastikan bahwa kami memiliki fondasi yang kuat untuk membangun sebuah rumah tangga, karena kami sudah melatih kekuatan kami dalam waktu pacaran yang panjang itu.

Kami kuat karena kami terbukti bertahan menghadapi berbagai ujian yang datang seiring berjalannya waktu, bukan karena hubungan kami baru lantas kami menyegerakan menikah sebelum ujian itu datang dan berusaha menjegal langkah kami menuju ke sana. Lagipula, menikah itu bukan penyelesaian atas semua masalah.

***

Dalam konteks pacaran lama-lama ini, khususnya dalam hubungan saya dan pasangan saya sendiri, saya nggak membicarakan soal cinta, tapi kemampuan kami dalam saling mendampingi, mendukung, membahagiakan, menjadi tempat ‘pulang’ yang nyaman bagi satu sama lain, juga bagaimana kami punya ruang gerak yang cukup untuk mengembangkan diri kami masing-masing di dalam kebersamaan kami. Bagi saya, pacaran makin lama tuh bukan makin dimabuk cinta, tapi justru makin realistis soal cinta. That’s the best kind of love, for me. Cinta yang bertahan dengan segala kurang lebih dan baik buruk yang ada dan pernah menempanya. Bukan cinta yang belum pernah menghadapi ujian apa-apa.

Yang baru kenal pasangannya sebentar lalu memutuskan untuk menikah, pasti masih butuh banyak waktu untuk belajar hingga mencapai level ini. Beda pasangan yang sudah pacaran bertahun-tahun seperti kami yang sudah menari-nari di titik ini dan bersiap menyambut yang lain lagi.

***

Saya pribadi, turut berduka cita atas luka orang-orang yang sudah menjalin hubungan bertahun-tahun tapi akhirnya gagal. Saya turut senang buat orang-orang yang sudah menjalin hubungan bertahun-tahun tapi gagal namun akhirnya menemukan kisah cinta ala fairytale-nya setelah melewati masa-masa patah hati yang luar biasa tersebut.

Silahkan berbahagia dengan kisah cinta barunya, nggak perlu memandang rendah kami, para pasangan yang sudah pacaran lama ini, cuma karena kalian pernah ada di posisi yang serupa tapi gagal mempertahankannya.

 

 

Salam,

Dari kami yang berbahagia dengan kisah cinta ala negeri dongeng yang kami ciptakan sendiri. :p

 

 

 

***

Depok, Oktober 2017

Semoga bisa mewakili para pasangan yang sudah pacaran lama. Cheers!

Advertisements

6 thoughts on “Menanggapi Sinisnya Orang yang Pernah Pacaran Lama Tapi Gagal

  1. Aku adalah pelaku pacaran lama dan gagal. Puji Tuhan Alhamdulillah aku sama sekali nggk kepikiran sama apa yg diomongin Ema. Skg ini malah lagi seneng2nya belajar mencintai diri sendiri. Mengabaikan omongan orang yg menyesalkan hubungan aku n mantan yg akhirnya kandas. Buatku menikah bukan tujuan sih. Klo memang niat sama2 jalan dgn pasangan ya cukup nikmati itu aja. Menurutku menikah itu cuma meresmikan secara agama n negara aja. Selamat menikmati hubungan cinta kalian berdua ya Kak. Semoga selalu berbahagia. Makasih untuk energinya. Salam. 😊

    1. duh seneng banget bacanya jadi ketularan energi positifnya gini!! kalo kamu bisa mencintai diri sendiri, pasangan kamu nanti pasti nggak cuma akan jadi pasangan, tapi juga jadi partner dalam berbagai hal dalam hidup. karena kamu ga akan habisin energi buat ngurusin hal sepele semacam nuntut dia untuk nunjukkin cinta sama kamu. ketimbang cari pelarian, seindah apapun kisah pelariannya dan sesingkat apapun kamu menemukannya, menurutku mencintai diri sendiri tetep modal paling baikkkk bgt buat mutusin hidup bersama seterusnya. selamat belajar mencintai diri sendiri yaaaa. makasih udah komen ❤❤

  2. sebagai pelaku pacaran lama tp belum nikah2, selama nonton video aku banyak geleng2nya haha. nah giliran baca tulisanmu ini rasanya aku mau bikin video bacain tulisanmu dg ekspresi atau reaksi menggebugebu seperti si dokter super itu.
    Setiap kalimat2 sesedokter pengen aku timpali dengan kalimat2mu 😂😂😂
    Intinya aku lebih sepemikiran sama km ketimbang sama sesedokter deh wkwk

    1. hahahaha, ya gapapa. aku bikin tulisan ini emang buat menyeimbangkan opininya yang menurutku terlalu negatif tentang pasangan yang pacaran lama-lama, cuma karena dia pernah pacaran lama terus gagal. biar yang baca (khususnya dede-dede galau) nggak langsung percaya gitu aja. ya mudah-mudahan tulisan ini makin banyak yang baca. makasih udah mampir dan komen yaa. 🙂

  3. Hai, aku baru nonton videonya sama baca tulisan kamu nih. Aku ngga ada pengalaman banyak tentang pacaran. Tulisan kamu santai kaya anak SD ngga kenal deadline, ngga kaya gaya bicara Ema yang menggebu seperti ibu-ibu lagi gebuk-gebuk kasur di bawah terik matahari.

    Mau ngobrol langsung sama kamu boleh ngga? Sambil ngopi di kedai kopi kesayanganmu gitu kayanya enak.

    1. hai, makasih udah baca & komen di sini while you have a free pass to directly contact me and ask me for some afternoon coffee. 😂 masih berlaku nggak tawarannya? yuk!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s