Film Posesif dan Pelajaran Tentang Toxic Relationship

Disclaimer: Saya nggak punya kapasitas untuk mereview sebuah film. Kalau saya menuliskannya di blog ini, kemungkinan besar karena film itu bagus banget dan/atau berkesan banget. Bagi saya film Posesif memenuhi keduanya; bagus dan berkesan.

film posesif halompito
film posesif.

Sejak awal gembar-gembor filmnya, sejujurnya saya nggak terlalu berharap banyak apalagi punya niatan menggebu-gebu untuk nonton. Saya pikir film ini film cinta-cintaan biasa yang cheesy banget gitu, apalagi karakternya dua anak SMA. Yah, kalau mau nonton film cinta-cintaan anak SMA mah, saya nonton FTV aja. Kemudian saya lupa siapa yang pertama kali “teriak” di timeline twitter saya kalau Posesif ini film bagus, layak ditonton, super keren, dan lain-lainnya yang kemudian mengundang rasa penasaran saya. Puncaknya, kata ‘toxic relationship’ mulai berdengung dari review-review yang seliweran. Baiklah.

Selain karena review yang bagus dari orang-orang, saya pengin nonton film ini karena keyword ‘toxic relationship’ relate ke diri saya. Saya pernah terlibat dalam toxic relationship. Di masa SMA juga. Terus bilang ke Cami mau nonton, dia juga senapsarman. Baiklah! Lesgow~

***

Dua tokoh utama yang digambarkan terlibat dalam film ini adalah Yudhis dan Lala, anak SMA kelas 3, Yudhis anak baru di sekolah Lala yang nggak tahu apa kelebihannya selain ganteng dan tajir, sementara Lala adalah seorang atlet loncat indah. Dua-duanya digambarkan hidup dengan orang tua tunggal. Lala bersama ayahnya yang juga merupakan pelatihnya, ibunya diceritakan udah meninggal kalau nggak salah. Yudhis tinggal bersama ibunya, kedua orang tuanya berpisah dengan nggak baik-baik. Lala punya dua sahabat di sekolah, Ega dan Rino. Sementara Yudhis, di hari pertamanya masuk sekolah, langsung ketemu Lala karena sebuah insiden.

Sepatunya Yudhis disita guru karena berwarna putih, saat dia mau ngambil ke tempat penyimpanannya di perpustakaan, dia ketemu Lala yang lagi ikut ujian susulan. >> forward >> forward >>forward >> Yudhis pun mengajak Lala kencan dan Lala mengiyakan.

Yudhis ini manis. Manis banget buat seukuran anak SMA. Gombal-gombalnya, sepik-sepiknya, penampilannya juga sik. Pokoknya kalau saya masih SMA terus di sekolah saya ketemu cowok kayak Yudhis, saya juga pasti naksir! Naksir aja dulu, ditaksir balik apa nggak mah liat gimana ntar aja.

Mereka pun jadian. Semua terasa indah. Yudhis adalah cowok ideal yang bisa ngasih perhatian, cinta, dan “perlindungan” seperti yang dibutuhin cewek-cewek pada umumnya Lala. Antar jemput sekolah, nemenin latihan, kencan; sempurna. Ngeliat sikapnya Yudhis ke Lala di film itu, saya senyam-senyum sendiri. Tapi berhubung umur saya sekarang 24 tahun, udah bekerja, punya tanggungan ini itu, lagi menjalin hubungan yang serius, dan udah lumayan banyak menghadapi pait-paitnya idup, selain senyum-senyum, ngeliat sikapnya Yudhis saya juga mau noyor terus nyorakin; WOELAH, DEEEEK. :)))

Konflik dimulai ketika Yudhis mulai menunjukkan sikap posesifnya. Pertama, ngelarang Lala main sama teman-temannya—terutama kalau ada Rino. Ha. Ha. Ha. *ketawa pedih*

Lalu berikutnya, ketika Lala merasa dianaktirikan sama ayahnya sendiri yang lebih mementingkan atlet lain. Di situ, Yudhis mulai tampil sebagai superhero bagi Lala. Dia berusaha melindungi Lala, meyakinkan Lala kalau dia bisa memilih jalan hidupnya sendiri, bukan jadi atlet karena obsesi ayahnya ini. Dia juga seperti ingin meyakinkan Lala bahwa dia bisa memberikan Lala segalanya, dan bersama-sama, mereka bisa menaklukan dunia.

*Me, dalam hati: halah, dek, segala pengin menaklukan dunia bersama, ngerasain nabung buat membangun rumah tangga bersama juga empot-empotan lu palingan*

Awalnya, Lala percaya, meski dia juga belum bisa menerima sepenuhnya. Terbukti dengan satu adegan di mana Lala main bareng Ega dan satu teman cewek lainnya, tapi bilang ke Yudhis kalau di situ nggak ada Rino padahal ada. Barangkali itu adalah reaksi alamiah yang muncul ketika kita dilarang pacar main sama teman dekat kita sendiri; bilang aja iya, kalau mau main jangan bilang-bilang. Pacar aman, main bareng tetap jalan. Meski risikonya kalau ketahuan yaa, gitu deh.

Scene demi scene nunjukkin betapa manipulatifnya mereka ke satu sama lain. Yudhis makin nggak ketolong kasar dan posesifnya, sampai nggak segan nyakitin Lala secara fisik, bahkan ngelibatin orang-orang terdekat Lala yang sebenarnya nggak salah apa-apa.

Belakangan kelihatan, kalau sifat kasarnya Yudhis itu ternyata perpanjangan dari kekerasan yang dilakukan ibunya ke dia di rumah. Lala, dengan naifnya merasa cuma dialah yang bisa menolong Yudhis. Buat berubah, buat lari dari kekerasan yang dia dapat di rumah, buat jadi pacar yang lebih baik. Sementara Yudhis sendiri nggak bisa menjanjikan apa-apa. Dia cuma terus nyakitin Lala, sadar ataupun nggak sadar.

***

film posesif halompito 2
film posesif.

Waktu nonton, saya banyak tercekat, nahan nangis. Adegan-adegan di film Posesif bener-bener sederhana, sangat relatable dengan kehidupan anak SMA. Konfliknya pun. Tapi mungkin itulah yang kemudian menyentil luka lama yang sudah saya tutup rapat-rapat, tentang satu kisah yang bisa saya bilang… persis mereka.

Well, menonton film Posesif ini menyadarkan saya satu hal, kalau toxic relationship itu ternyata meninggalkan jejak yang lebih bahaya dari “cerita masa lalu”, at some point, you never really heal, bahkan bertahun-tahun setelah masa itu berlalu.

Saya suka banget cara film Posesif menunjukkan sisi gelap dari romansa anak SMA. Ketika kita mulai merasa sok dewasa, sok serius soal cinta dan ternyata malah tersesat saking nggak tau apa-apanya. Dipikir cinta itu selalu tentang memiliki. On the other hand, saya suka dengan sisi manis dari hubungan Yudhis dan Lala yang terasa real. Nggak lebay dan menyebabkan kenyinyiran di kepala, “buset, anak SMA bisa ya ngasih begitu ke pacarnya” karena terasa too good to be true. Nggak, manisnya Yudhis dan Lala ini digambarin dengan pas!

Kisah Yudhis dan Lala di film Posesif adalah pelajaran bagus untuk kita semua, tentang memaknai sebuah hubungan dan konsep kepemilikan yang usang.

Memutuskan menjalin sebuah hubungan bukan berarti kita menyerahkan seluruh hidup kita untuk berada dalam kendali mereka. Kita tetap berkuasa atas diri dan hidup kita sendiri. Kita bebas menentukan ke mana kaki kita akan melangkah. Kita yang tahu kapasitas diri kita, kita pula yang bisa mengukurnya. Pasangan kita mungkin bisa mengukur kualitas kita dengan indikator yang dia buat sendiri, tapi kita nggak punya kewajiban untuk memenuhinya apabila itu memang bersebrangan dengan hati nurani kita.

Hubungan seperti Yudhis dan Lala itu hubungan beracun. Toxic relationship.

Saya pernah terlibat dalam toxic relationship. Saya pernah permisif terhadap perlakuan pasangan saya ketika itu, menganggap bahwa dilarang-larang main sama teman, dimaki ketika dia marah meski saya nggak melakukan kesalahan, atau ketika apapun nggak terjadi sesuai maunya, itu adalah hal yang wajar ketika dua orang menjalin sebuah hubungan dan saling mencintai. Padahal itulah yang membuat hubungan saya bukannya makin baik tapi malah makin teracuni oleh konsep kepemilikan yang nggak bisa dicerna akal sehat. Hubungan tersebut bukan cuma menyakiti saya secara psikis, tapi juga, seperti namanya, hubungan itu meracuni saya untuk jadi bersikap dan berpikir seperti cara dia.

Menerima diperlakukan seperti itu artinya saya membiarkan orang lain menilai diri saya serendah itu. Saya berusaha susah payah untuk keluar ketika saya menyadari kekacauan yang terjadi. Saya berhasil menyelamatkan diri.

Kamu juga mungkin pernah, atau sedang, terlibat dalam toxic relationship. Ketahuilah, nggak ada yang bisa menyelamatkan kamu dari hubungan tersebut kalau bukan kamu sendiri yang bertindak. Jangan bertahan karena kamu merasa bisa mengubahnya, sebab nggak ada yang bisa mengubah siapapun kecuali orang itu sendiri punya keinginan dalam hatinya untuk berubah.

Menjadi motivasi, mungkin iya. Tapi ingin mengubah pacar yang posesif jadi nggak posesif itu sama bullshitnya dengan meminta pacar meninggalkan kehidupannya yang lain demi bersama kita.

Jadi, tolong, hargai dirimu sendiri. Cintai dirimu agar kamu bisa belajar mencintai orang lain serta memaknai cinta, hubungan dan komitmen dengan cara yang tepat.

Jangan biarkan pasanganmu mendikte apa yang harus kamu lakukan dan apa yang nggak boleh kamu lakukan. Jangan biarkan dia mengurungmu dari apa-apa yang ingin kamu capai. Jangan biarkan dia menahanmu saat kamu ingin berlari mengejar impianmu, sekecil apapun itu menurutnya. Jangan permisif terhadap sedikit saja tanda keposesifan. Jangan biarkan rasa saling percaya yang seharusnya ada tergantikan oleh konsep kepemilikan yang absurd.

Kamu berkuasa atas dirimu sendiri. Lakukanlah apa yang menurutmu baik. Lakukan meski itu nggak sesuai dengan keinginannya. Kalau dia cinta kamu, dia akan mendukung, he will always have your back. Kalau dia cinta kamu, dia akan membiarkan kamu terbang tinggi-tinggi jika dengan begitu kamu bisa mencapai cita-citamu, dan dia akan setia menunggumu di bawah, atau bahkan ikut terbang.

Don’t let your boyfriend define your own happiness.

Pasangan yang baik akan jadi partner-mu dalam menghadapi apapun yang disediakan semesta di jalan kalian berdua. Bersama orang yang tepat, kamu bisa jadi apapun yang kamu ingin dan dia akan tetap memandangmu seolah-olah kamu adalah hal terbaik yang pernah ditemuinya.

Kalau setelah baca ini kamu jadi sadar bahwa kamu ada dalam toxic relationship, go away, seek for help if it’s needed. Go. Away. And never turn back.

At the end, yes, film Posesif ini bagus banget! Saya kasih rating 90/100, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Tapi plus 20 lagi deh, soalnya ada Sheila On 7 dan Banda Neira di soundtracknya.

Lah, jadi 110/100 dong ya ratingnya?

Yaudah deh, nggak apa-apa jadi 110/100 gitu, anggap aja sisanya bonus buat ending scene-nya yang buaaangcat bener. *elus-elus dada* *dada Adipati Dolken*

 
***

Depok, November 2017

Tulisan saya tentang film Posesif dan toxic relationship juga ada di bintang.com, klik aja untuk baca, ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s