2017 dan Hal-hal Berarti di Dalamnya

2017-11-02-11-39-23-02[1]

Alhamdulillah penghujung tahun ini bisa libur cukup panjang. Alhamdulillah juga tulisan ini diawali dengan ‘Alhamdulillah’, muahahaha. Tujuan saya membuat tulisan ini, selain untuk membuat catatan kecil seperti tahun-tahun sebelumnya, memang untuk membuat pengingat agar saya selalu bersyukur.

Alhamdulillah~

Sedikit flashback ke penghujung tahun sebelumnya

Di ujung 2016 lalu saya baru kembali menulis catatan seperti ini setelah absen satu tahun karena kondisi yang terlalu buruk. Syukurnya, saya nggak berlama-lama stuck dalam keterpurukan itu. Pertengahan tahun 2016 saya kembali ke rumah, lalu mulai bekerja di satu tempat yang bikin saya ngerasain punya kartu pers. :)))

Itu salah satu rencana saya sepulangnya dari Jogja dan resign jadi anak ahensi, sih. Berhubung kuliah lanjutan saya di jurusan jurnalistik, rasanya belum afdol kalau belum ngerasain kerja di media. Eh, kesampaian. Hehe. Sejujurnya itupun belum cukup memulihkan optimisme hidup saya ketika itu, sampai akhirnya di penghujung tahun, saya officially berkesempatan untuk nonton konser Coldplay.

Sebagai rakyat jelita yang baru merintis karier di ibukota, saya nggak memaksakan diri untuk ngikutin #AHFODTour di Eropa, Amerika, atau Australia. Eh entah gimana ceritanya tahu-tahu band kesayangan saya mengumumkan bahwa mereka akan memperluas turnya sampai ke Asia.

Tahu nggak sih, rasanya tuh kayak lagi naksir kakak kelas terus ternyata kakak kelasnya juga naksir kita! Beda level tapi ya gitu deh euforianya. Saya pun tergerak untuk mengupayakan segala cara supaya saya bisa nonton.

Saat menulis ini saya baru sadar, sepertinya momen itu yang membangkitkan gairah hidup saya setelah ditinggal bapak. DAN YAAMPUN PAS BANGET INI PLAYLISTNYA LAGI MUTERIN UP&UP! We’re goin to get it, get it together i know~

Karena Coldplay konser di Asia saya jadi punya sesuatu untuk dikejar dengan semangat. Lagi. Konser Coldplay di awal tahun 2017 jadi bahan bakar saya untuk kembali melaju dan mengejar ketertinggalan oleh sekitar selama saya menangisi kehilangan yang saya rasa.

So, highlight tahun ini pastilah NONTON KONSER COLDPLAY. Yeay!

IMG_6729[1]
A Head Full Of Dreams Tour, Singapore 2017.
2017 juga tahunnya drama tentang karier. Profesionalitas sungguh diuji sepanjang tahun sampai berdampak ke ranah pribadi. Berkali-kali saya jadi seperti anak kecil yang pulang ke rumah nangis-nangis karena di luar dijahili temannya saat main. Minta piknik ke Jogja dialemin. Ah, ya! Pertengahan tahun ini juga rasa kangen ke kota itu mulai nggak terbendung! Sudah berusaha nahan untuk nggak ke Jogja karena lagi nabung untuk sesuatu *uhuk*, tapi akhirnya ke Jogja juga. Alhamduuuu? Lillah. Harus nangis-nangis sepulang kerja dulu, harus mutung dulu, biar punya alasan kuat untuk impulsif. Thanks to partner keimpulsifanku yang sudah acc proposal piknik singkat ke Jogjanya. Percaya nggak percaya, piknik singkat ke Jogja itu sungguh memulihkan mood kerja. *fiuuh*

Last quarter tahun ini juga dimeriahkan oleh pertanyaan Cami pada suatu malam, “kalo aku mau ngelamar kamu, aku bawa uang berapa ya?”

EAAAAAAA.

Yhaa, nggak usah banyak-banyak, bae. Sejumlah 20% dari seluruh saham Tony Stark aja akumah.

Pengin sok kaget, tapi ya gimana. Udah ngarep banget ditanyain begitu jadinya nggak kaget, malah rasanya pengin jawab “YAUDALAH DI KANTONG KAMU SEKARANG ADA BERAPA AYOK KITA NIKAH SEKARANG JUGA!” *mureeee*

>>>> SKIP <<<<

Pelajaran yang perlu saya garis bawahi di 2017 ini adalah tentang focus on what’s matter. Setiap orang punya lika-liku dan euforianya sendiri dalam hidup, begitu juga dengan teman-teman kita. Kita nggak bisa maksa mereka untuk terlibat dalam euforia kehidupan kita kalau mereka nggak ingin.

Kita punya mimpi, orang yang paling bertanggung jawab untuk menghidupi mimpi tersebut ya kita sendiri. Orang lain nggak harus ikut bersusah-susah mewujudkannya. Saat kita sudah berhasil mewujudkannya pun, belum tentu mereka bakal sama bersukacitanya dengan kita. Jadi ya sebisa mungkin nikmatin aja sendiri. Kalau ada yang mau ‘terlibat’ dengan suka rela, tanpa diminta, hargai dia. Jaga baik-baik. Kepadanya lah kita perlu mencurahkan perhatian lebih.

Bukan berarti harus mengurangi perhatian ke yang lain sih, cuma yang begitu-begitu nggak usah terlalu dipikirin. *ngomong sama diri sendiri*

Kalo kata @soyidiyos di twitter; “Ada kalanya kita hilang kontak dengan teman dan sahabat. Bukan karena sombong, tapi karena kita sedang sibuk dengan peperangan kita masing-masing.” Sungguh sebuah petuah yang bijaque.

Saya paham banget tumbuh dewasa itu menumbuhkan tanggung jawab yang lebih banyak pula. Banyak yang harus dipikirin. Meski hanya kecil-kecil, tapi banyak. Mungkin hal itu yang kadang, bikin kita abai dengan orang-orang terdekat kita.

Kita sibuk dengan peperangan kita masing-masing.

And it’s all fine! Mungkin itu salah satu bagian dari kehidupan orang dewasa, dan saya belajar menerimanya sebagai perubahan yang dibawa hidup. Perubahan yang pasti ada dan terjadi setiap waktu bergulir.

***

2017 adalah tentang menguatkan kaki untuk berdiri tegap dan berlari lagi, tentang self confidence, juga tentang mencintai dengan tidak egois–baik ke pasangan, keluarga, maupun teman-teman.

Saya nggak tahu apa yang akan terjadi di 2017 nanti, tentu saja. Saya cuma berharap apa yang saya dapat di 2017 ini bisa jadi perbekalan cukup untuk menjalani tahun 2018 dengan dagu kembali terangkat dan senyum yang mengembang.

Kecup saya untuk kita semua yang berhasil meniti tiap langkah di 2017 dengan berani.

 

Cheers, to survive 2017 and the years to come!

 

 

***

Depok, Desember 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s