Suka Duka Mempersiapkan Pernikahan Tanpa Bantuan Wedding Organizer

arm-desk-hand-58457
Suka duka mempersiapkan pernikahan tanpa bantuan wedding organizer. (Foto: pexels.com)

Disclaimer: postingan ini mungkin akan berbau curhat dan ditujukan untuk sharing pengalaman baik sama yang sedang merasakan, baru akan merasakan, atau sudah merasakan

YA AMPUUUUN, TERAKHIR UPDATE BLOG 3 BULAN YANG LALU, COBA! HUHUHU.

Ya, dari selesai acara lamaran sampai ke sini agenda kegiatan memang padat sih. Kerjaan lagi heboh-hebohnya, belum lagi jadwal kondangan yang ada aja tiap bulan, plus menyiapkan keperluan atau mengunjungi vendor sana sini semacam udah jadi rutinitas akhir pekan.

PLEASE WELCOME ME TO THE BRIDEZILLA CLUB.

Kami memulai persiapan pernikahan setelah acara lamaran selesai. Hal yang pertama dilakukan adalah merinci pernikahan impian dalam angan-angan ke dalam rencana yang serealistis mungkin. Indikator realistis atau nggaknya cukup dua aja; 1) kemampuan membiayai, 2) approval keluarga.

Sejauh ini, saya dan Cami merasa masih berada dalam batas realistis. Soal keinginan, kami cukup vokal memperjuangkannya di hadapan keluarga—dengan syarat; dari segi apapun nggak menyusahkan.

Well, ngomongin persiapan pernikahan tuh nggak akan jauh-jauh dari soal biaya. Itu juga sebabnya sejak awal kami mutusin untuk nggak pakai jasa wedding organizer, in the name of menghemat biaya. Beberapa teman sih menganjurkan untuk pakai, karena ngurus pernikahan sendiri itu ribet. Pakai jasa WO bisa mengurangi sampai 50% keribetan karena kita bisa menyerahkan hampir seluruhnya ke mereka, dan kita tinggal ribet ke mereka. Bagian ribet ke vendor dan segala perintilannya, biar urusan WO. Tapi ya balik lagi, kami mau mewujudkan pernikahan kami dengan biaya sehemat mungkin. Jadi, bismillah aja dari awal; semuanya diurus berdua, tanpa bantuan WO.

Susah?

Jangan ditanya! Susah banget. Saking banyak yang harus diurus, sampe nggak kerasa itu tenaga dan waktu segitu banyak tuh habisnya ke mana. Mana yang paling bikin pusing, mana yang paling ngeribetin. Hhhh. Mungkin ini yang bikin banyak pasangan akhirnya jadi cranky. Sejujurnya saya juga, apalagi waktu sekitar 2 bulan pertama setelah lamaran, Cami tiap weekend ada kerjaan ke luar kota, ke luar negeri, ndilalah, KAPAN MAU SIAP-SIAPNYAAAAA. Tapi ya tapi, alhamdulillah dia nggak ngelepas saya untuk pusing sendiri. Saya juga nggak terlalu memforsir diri untuk pusingin persiapan pernikahan ini saat dia lagi benar-benar nggak bisa bantu, jadi saya nggak pernah ngerasa “dia mah enak-enak aja, gue yang pusing!” sama sekali. Alhamdulillah kami bener-bener nyiapin semuanya bareng, daaaan… ini penting banget terutama buat calon pengantin yang milih untuk nggak pakai jasa WO kayak kami.

Modal penting selain uang harus dipunya pasangan dalam masa persiapan pernikahan adalah dukungan bagi satu sama lain. Jangan biarin pasangannya ngerasa sendiri. Selalu luangkan waktu saat ada yang membuka diskusi, saling ngingetin apa yang perlu dikejar, apa yang belum, apa yang udah. Pastikan juga kamu dan pasangan sudah satu suara, jadi ketika presentasi di depan keluarga lalu diperdebatkan; kalian bisa saling bela.

Nggak Pakai WO? Gimana Cara Ngurus Vendornya?

black-and-white-computer-connection-877699
Suka duka mempersiapkan pernikahan tanpa bantuan wedding organizer. (Foto: pexels.com)

Karena kami sama-sama kerja, otomatis kami cuma punya waktu saat weekend dan hari libur untuk ngunjungin vendor-vendor itu. ITU JUGA KALAU PAS WEEKENDNYA NGGAK KERJA. Huft. Ya sudah lah. Tapi.. nggak terlalu jadi masalah. Sebagai awalan, cari vendor itu bisa dari internet. Coba googling, buka instagram, atau minta rekomendasi teman. Buanyaaakkk banget vendor yang udah pamerin diri mereka di internet. Tinggal filter berdasar; lokasi-selera-harga-orangnya enak diajak ngobrol. :)))

Tiga bulanan berjalan nyari vendor sendiri, sungguh kategori yang terakhir disebut di atas itu penting banget. Kami sendiri mengalami, pada akhirnya kami cari vendor bukan cuma yang sesuai dengan selera dan kemampuan, tapi juga enak diajak ngobrol. Nah, ini bisa terasa sejak awal. Vendor tersebut nyambung nggak sih sama kita? Bisa nerjemahin apa yang kita mau, nggak? Bahkan lebih bagus lagi kalau ternyata mereka bisa membantu mengarahkan. Soalnya kan kita belum berpengalaman mempersiapkan pernikahan nih, ya, jadi mereka lebih paham. So, buka kuping lebar-lebar juga buat denger rekomendasi mereka. Kalaupun nggak jadi kerja sama bareng mereka, “ilmu”-nya bisa tetap diterapkan bareng vendor yang lain.

Cobaan mencari vendor sendiri juga bisa muncul dari banyaknya pilihan yang tersedia, apalagi di media sosial. Di instagram tuh gampang banget memang nyari vendor-vendoro buat team up di nikahan kita. Tapi sepengalaman saya, instagram itu sering jadi “racun”. Semakin banyak pilihan yang didapat dari instagram, range harga yang dipegang pasti jadi makin lebar. Semakin dia punya “nama”, harganya pasti makin mahal, meski di sisi lain kualitas pun tentu mengikuti mahalnya harga yang dipatok para vendor tersebut.

Kalau kami, biar kami tetap pada niat awal ingin menekan biaya pernikahan, kami nggak banyak “main-main” di instagram buat nyari vendor. Kami lebih banyak memakai kekuatan pikiran buat mengingat-ingat, teman mana saja yang sekiranya bisa bantu karena dia punya usaha di bidang per-weddingan, atau dia bekerja pada vendor terkait, atau dia pernah pakai vendor tertentu yang tentu sudah dia tahu range harga dan kualitasnya. Haha.

Kuat-kuatin aja nahan godaan dan menolak rekomendasi dari orang yang nggak se-visi misi sama kamu dari segi biaya, konsep maupun selera. Kesampingin semua gengsi, fokus pada tujuan awal, dan yang penting terus diskusi aja sama pasangan sampai nemu vendor yang paling klik!

Extra note: ingat, “enak diajak komunikasi” itu penting banget dilihat kalau milih vendor. Gaya vendor yang beda dikit sama selera tuh gapapa banget selama harganya cocok. Selama enak diajak komunikasinya, selebihnya bisa dikasih arahan dan diskusikan bareng sambil jalan.

 

 

***

Depok, Mei 2018

*Saya nulis ini dengan sepenuhnya sadar, bahwa tiap pasangan yang mau ataupun sudah menikah pasti punya pertimbangan yang beda-beda dalam merealisasikan pernikahannya.

**Saya hargai itu, makanya saya nggak bilang kalau apa yang dituliskan di sini benar dan harus diikuti.

***Faktanya, yang saya tulis di sini berdasar pada pengalaman pribadi. Kalau mau diskusi atau berbagi cerita, dengan senang hati saya tanggapi.

****BRIDEZILLA TIDAK MENERIMA CERAMAH DARI SIAPAPUN YANG MENJADIKAN DIRINYA SEBAGAI TOLAK UKUR, APALAGI CUMA KARENA MERASA UDAH BERPENGALAMAN (read: udah nikah duluan).

*****Maaf, maaf.. calon pengantin lagi pusing mikirin persiapan pernikahannya, jadi agak emosian nih anaknya.

Advertisements

4 thoughts on “Suka Duka Mempersiapkan Pernikahan Tanpa Bantuan Wedding Organizer

    1. HEH! HAHAHAHAHAHAHAHA. udah baca versi live-nya di whatsapp, masih baca di blog. luv deh aq ma qm. jadi pengin kondangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s