Menikah Sebagai Pilihan

Pertanyaan “Kapan nikah?” hampir pasti menghampiri setiap orang di satu fase dalam hidupnya. Saya udah menghadapi fase itu, dan saya punya jawabannya. Jawaban yang kalau boleh saya bilang sebenarnya nggak didasari oleh kedatangan pertanyaan tersebut dalam hidup saya, tapi sepertinya jawaban ini sesuai dengan harapan banyak orang.

Siapa sih yang nggak pengin menikah?

Ada. Ada banyak orang yang bahkan don’t give a single fuck about marriage di luar sana.

Salah satunya, kakak perempuan saya.

***

Kakak perempuan saya ini anak kedua dari 4 bersaudara, saya anak terakhir. Usianya sekitar satu dekade lebih tua dari saya, and she isn’t married, yet. Kakak pertama saya (laki-laki) udah menikah dan punya dua anak. Kakak yang di atas saya (juga laki-laki) udah menikah dan punya dua anak. Itu berarti dia udah ‘dilangkahi’ oleh adiknya satu kali, dan akan segera ‘dilangkahi’ oleh saya sebentar lagi.

Dia seorang perawat berstatus PNS di sebuah RSUD di Jakarta. Melihat langkah-langkah yang dia ambil, saya bisa bilang kalau bidang keperawatan adalah passion-nya. Sejak tingkat menengah, dia ambil sekolah keperawatan—saya lupa namanya, di RSPAD—dan tinggal di asrama. Lulus dari sana, dia lanjut kuliah AKPER, lalu masih lanjut lagi, lanjut lagi, sampai dia ada di posisi sekarang ini.

Dia pernah terpilih jadi petugas Tenaga Kesehatan Haji Indonesia, mendampingi para jamaah yang berangkat ibadah haji ke Tanah Suci. Kalau jadi PNS itu memang salah satu jenjang karier yang ia damba, tentunya juga keinginan Ibu dan Bapak.

Seingat saya dia ikut tes CPNS lebih dari sekali dan sempat gagal. Tapi dia nggak menyerah sampai usahanya berbuah manis. Setelah perjuangan panjang dan proses bertahun-tahun, akhirnya dia mendapat apa yang dicita-citakan.

Ibu saya bangga. Bapak pun pasti bangga di sana.

Ah, ya, waktu Bapak sakit dan saya memilih pergi sembari menyembunyikan kesedihan, di antara kami berempat dia yang paling banyak mencurahkan waktu, tenaga, bahkan materi untuk mendampingi proses penyembuhan Bapak bersama ibu. Sampai saya merasa harus mengucapkan terima kasih saat memeluknya di hari Bapak meninggal, “makasih udah bantu ngerawat Bapak..” kata saya di tengah tangis kami yang pecah.

Di antara semua kehebatannya sebagai individu, masalah kapan nikah dan masalah jodoh nggak absen jadi bumbu-bumbu perjalanannya. Ibu sama Bapak tentu saja jadi yang paling khawatir. Usia mereka semakin tua, anak perempuan tertuanya belum juga menikah. Bapak juga mungkin meninggal dunia dengan sedikit perasaan sedih karena belum mengantarkan anak perempuannya menikah—sama sekali.

Gimana dengan kakak saya sendiri?

Saya nggak tahu apa yang ada dalam hatinya. Kedekatan kami nggak menjangkau masalah percintaan. Paling dia cuma cerita sepintas-sepintas ke Ibu. Ada pacar ke rumah pun *seingat saya* nggak. Atau mungkin pernah, tapi barengan dengan teman-teman lainnya jadi kami nggak sadar. Dia emang nggak se-terbuka itu.

Tapi, saya nggak pernah sekalipun ngeliat dia galau karena nggak ada pacar, karena belum nikah, karena teman-temannya pada menikah, atau karena adiknya menikah. Nggak pernah sekalipun. Nggak tahu gimana isi hatinya, tapi dia nggak menunjukkan kesedihan karena hal itu.

Status Facebooknya? Nggak ada tuh galauin jodoh.

Ibu-Bapak juga udah ikhtiar dengan menjodohkan kakak saya sama kenalan-kenalan dari kerabat mereka, nggak sekali tapi berkali-kali. Nggak ada yang ‘nyantol’. Kalau kata Ibu-Bapak (dan mungkin orang-orang di luar sana) dia banyak memilih soal jodoh. Kalau menurut saya; dia memilih untuk nggak memusingkan apa yang nggak ada.

Pilihan Caranya Merayakan Cinta

Kecemasan Ibu belakangan cuma satu, kalau adik-adiknya udah nikah, Bapak Ibu udah nggak ada, nanti dia sama siapa? Kecemasan itu juga dirasakan kakak saya, tapi sepertinya “suami” tetap bukan solusi utama buat dia.

Sebagai solusi dari kecemasan tadi, dia mengambil sebuah keputusan yang sangat berani. Jujur, sebagai adik dan sebagai perempuan, saya kagum. Instead of memaksakan diri untuk menikah dengan orang yang nggak dia yakini, dia memilih untuk… mengadopsi anak.

Dengan adanya seorang anak, dia berharap bisa berbagi kasih sayang, berbagi waktu-waktu berharga dengan ‘orang spesial’ lainnya, berbagi bahagia, dan mungkin juga berbagi kesedihan. Dengan adanya seorang anak juga dia jadi termotivasi untuk bekerja keras, karena selain Ibu—dan adiknya yang masih suka minta dijajanin ini—ada satu manusia lagi yang bergantung padanya dan menanti dibahagiakan.

Dengan adanya seorang anak, ‘pulang’ baginya jadi lebih berarti. Dengan adanya seorang anak pula dia akan belajar sesuatu yang baru, belajar jadi ibu.

Saya ingat masa-masa ketika wacana adopsi itu didengungkan. Saya malah nggak nyangka kalau rencana itu serius, sampai akhirnya seorang bayi perempuan mungil hadir sebagai kebahagiaan yang lahir di antara kepungan harapan dan keputusasaan.

Somehow saya yakin keinginannya untuk dipertemukan dengan anak ini turut dia bawa saat pergi Umroh sama ibu. Di Jabal Rahma yang kata orang bukit kasih sayang, tempat orang-orang berdoa memohon jodohnya; kakak saya mungkin berdoa meminta teman hidup, maka nggak lama pulang dari Tanah Suci, terjadilah pertemuan yang ditunggu-tunggu. Bukan dengan jodoh yang berupa suami, tapi seorang anak perempuan.

Yes, my sister have an adopted daughter. She choose a baby daughter to be the love of her life.

Anaknya diberi nama seperti sebuah nama yang dia temukan di Jabal Rahma dan begitu meninggalkan kesan di hatinya.

Saya bangga sekali dengan kakak perempuan saya, sungguh. Saya ngomong gini bukan karena saya akan segera menikah dan ‘melangkahi’ dia, saya ngomong gini karena saya yakin menikah itu pilihan, dan saya amat menghormati pilihan setiap orang. Kalaupun bukan kakak saya yang memilih jalan lain selain menikah seperti ini, saya akan tetap menghormatinya. Karena, ya kenapa juga saya nggak hormati? Hidup, hidup dia. Pilihan dia. Dia yang menjalani.

Saya memilih menikah dengan laki-laki yang saya cintai dan saya yakini sebagai partner berjuang nan sepadan. Kakak saya memilih berkarier dan berbagi cinta dengan seorang anak perempuan yang diadopsinya. Nggak ada yang salah dengan itu semua.

Orang-orang di luar sana mungkin akan banyak yang menyayangkan, atau bahkan mengasihani kakak saya ketika saya benar-benar udah menikah nanti. “Yah, dilangkahin lagi..” Tapi saya yakin kakak saya nggak sama sekali menangisi pilihannya. Saya pun.

Saya akan jadi orang pertama yang mengangkat gelas andai kami punya kesempatan untuk bersulang nanti, untuk kakak saya, dan pilihan cara kami yang berbeda dalam merayakan cinta. 🙂

***

Depok, Juli 2018

Menyalurkan energi sendu untuk mengungkapkan kekaguman yang terpendam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s